• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelompok Perempuan dan Marginal di Desa Gumelem Kulon

Tidak ada definisi tunggal tentang siapa kelompok yang ter- pinggir kan. Lazim diasumsikan bahwa mereka yang tergolong kelom-

pok terpinggirkan (marginal) adalah mereka yang miskin. Namun, terpinggirkan dan miskin tidak serta merta sama. Orang miskin biasanya masuk dalam kelompok terpinggirkan, tetapi orang yang terpinggirkan tidak selalu bisa disebut miskin. Bagi mereka, kelompok terpinggirkan mencakup orang yang mengalami satu atau lebih dimensi penyingkiran, diskriminasi atau eksploitasi dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik kota. Sekalipun banyak yang mengalami kesulitan ekonomi dan hidup dalam gaya hidup yang paling sederhana, kelompok-kelompok terpinggirkan senantiasa menolak istilah “miskin” atau “kemiskinan”.

Ada kondisi struktural dari marginalisasi multisisi misalnya karakter kebijakan pemerintah desa yang memprioritaskan pembangu- nan desa pada aspek tertentu; sedikitnya akses kelompok perempuan dan marginal tertentu terhadap proses pengambilan keputusan; dan kurangnya transparansi dan keterbukaan dalam membuat dan meng- implemen tasikan kebijakan-kebijakan. Nasib kelompok-kelompok marginal ini dipengaruhi oleh sikap pejabat pemerintah, serta kebija- kan dan program pembangunan di desa yang dinilai belum mampu menggapai kelompok “paling marginal”.

Dalam UU Desa, masyarakat miskin dan perempuan ada lah dua kelompok marginal yang penyebutannya eksplisit.Masya ra kat miskin mendapat perhatian karena diutamakan sebagai pene rima bantuan yang berasal dari hasil Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) (Pasal 97 huruf b). UU Desa juga memperhatikan masya rakat miskin dengan menentukan kelompok ini sebagai salah satu unsur yang harus ada dalam Musyawarah Desa (Penjelasan Pasal 54). Adapun golongan perempuan diperhatikan dalam hal penentuan anggota BPD (Pasal 58), sebagai unsur dalam Musyawarah Desa (Penjelasan Pasal 54), harus diperhatikan oleh kepala desa dan anggota BPD dalam menjalan- kan tugasnya (Pasal 26 Ayat 4 huruf e dan Pasal 63 huruf b), dan anti diskriminasi gender sebagai nilai yang tidak boleh dilanggar oleh muatan peraturan desa (Penjelasan Umum).

Selain perempuan dan orang miskin, masyarakat hukum adat adalah kelompok marginal yang paling mendapat perhatian dari UU Desa. Hal tersebut tidak lepas dari penerapan asas rekognisi. Sekalipun hanya menyinggung perempuan, orang miskin, dan masyarakat hukum adat, tidak berarti UU Desa tidak menghitung atau memperhatikan kelompok marginal lainnya seperti penyandang disabilitas dan pemeluk kepercayaan. Dengan menyamakannya dengan warga negara yang lain, UU Desa memperhatikan kelompok marginal sebagai subyek yang; (a) harus dipertimbangkan dan dilibatkan dalam penyelenggaraan pemerintahan desa dan (b) memiliki hak yang harus diakui dan dihargai. Dalam konsep negara hukum (rule of law), pengakuan atas hak-hak kelompok marginal tersebut menimbulkan kewajiban bagi pemerintah dan warga negara lain untuk menghormatinya (Brian Z., 2004).

Hasil penelitian Infest Yogyakarta di 46 desa tentang akses perempuan dalam perencanaan dan pembangunan desa (2015) menun juk kan partisipasi perempuan di desa khususnya pembangunan hanya diukur oleh kehadirannya dalam forum desa. Akibatnya hanya 10 persen desa yang memiliki program khusus untuk perem- puan. Minimnya partisipasi perempuan dalam perencanaan dan pembangunan juga disebabkan oleh beberapa faktor, yakni ter- batasnya kapasitas perempuan dalam pendidikan, budaya partriarki yang menghambat perempuan aktif di ranah publik, tingginya biaya politik dalam pemilihan kepala desa serta tidak adanya kerangka aksi afir masi dalam regulasi dan kebijakan (bukan hanya di desa).

Program-program pembangunan baik dari desa maupun yang selama ini masuk ke desa belum semuanya mampu menggapai kelompok paling marginal. Kelompok perempuan dan marginal di desa merupakan bagian dari struktur masyarakat desa yang seringkali tidak mendapatkan akses dan manfaat pembangunan di desa. Bahkan dengan alasan minimnya alokasi yang dimiliki desa, seringkali masyarakat miskin dan kelompok perempuan difabel dan anak-anak menjadi

korbannya. Seperti keterbatasan akses pendidikan, akses sumber daya ekonomi, akses kesehatan perempuan, ketersediaan air bersih, serta terbatasnya peran perempuan dalam forum-forum publik seperti Musyawarah Desa (Musdes) dan musyawarah rencana pembangunan jangka menengah di tingkat desa (Musrenbangdes). Posisi perempuan dan marginal selama ini masih sebagai objek pembangunan, bukan subjek pembangunan yang secara partisipatif dilibatkan dalam setiap tahapan pembangunan desa, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, evaluasi, hingga pertanggungjawaban.

Kondisi perempuan dan marginal di desa secara umum juga terjadi di Desa Gumelem Kulon. Gumelem Kulon adalah satu desa di Banjarnegara yang berpenduduk 10.414 orang dengan sebagian warganya berprofesi sebagai petani penderes. Gumelem Kulon juga merupakan desa yang masih kuat memper- tahankan nilai-nilai budaya lokalnya. Salah satunya adalah upacara

Unjungan yang dilakukan tiap tahun secara besar-besaran dan melibatkan seluruh warga, baik Gumelem Kulon maupun Gumelem Wetan. Sebagai tradisi, Unjungan turun temurun mengangkat kisah nyata di tahun 1680-an ketika Gumelem Kulon dan Wetan masih menjadi satu wilayah Padukuhan Karangtritis atau Kedemangan di bawah kekuasaan Raja Mataram Panembahan Senopati.

Budaya lokal yang masih melekat kuat di Gumelem Kulon juga memiliki pengaruh kuat dalam proses pemilihan kepala desa (Kades). Termasuk Kades Gumelem Kulon saat ini, Arif Machbub. Selain memiliki peran sebagai kiai di desanya, Arif Machbub juga dinilai warga memiliki garis keturunan (trah) Raja Mataram. Kuatnya nilai-nilai budaya lokal ini juga berpengaruh pada kebijakan- kebijakan dan program pembangunan di desanya. Contohnya seperti program-program yang bertujuan membangun moral warganya, serta pembangunan insfratruktural seperti tempat ibadah dan madrasah, kegiatan ceramah agama, pembinaan, dan lain-lain. Meskipun kepeduliannya cenderung pada perbaikan moral warga

namun seiring berjalannya waktu selama pengorganisasian, karakter kepemimpinannya sudah mulai responsif menangkap isu publik dan melahirkan kebijakan yang inklusif. Ia juga mulai bersedia membuka peluang dan ruang partisipasi, transparansi, dan mendorong akunta- bilitas sosial, serta mampu menggerakkan dan meningkatkan kapasitas birokrasi dalam melayani publik.

Desa Gumelem Kulon terbagi menjadi dua, yaitu wilayah atas dan bawah. Hampir 3/2 jumlah penduduk tinggal di bagian atas dengan bukit-bukit yang curam. Adapun bagian bawah terletak di kaki bukit. Untuk dapat sampai ke bagian atas, perlu melewati jalan berbatu yang cukup terjal selama kurang lebih 60 menit berkendara motor. Bagian atas unggul dengan lingkungannya yang masih sangat hijau dan asri. Sedangkan di bagian bawah terdapat sentra batik tulis, kerajinan kerang, dan pemandian air panas.

Berdasarkan data hasil pemetaan aset Sumber Daya Manusia (SDM) yang dilakukan kelompok perempuan Desa Gumelem Kulon (2015), jumlah penderes mendominasi. Tapi ada juga warga yang bekerja sebagai petani, pengajar Pos PAUD, perajin batik, perajin kerang, perajin kayu, pande besi, dan perajin bambu. Namun di balik kekayaan aset SDM dan industri rumahan yang menampung mereka, ternyata tidak menjamin kesejahteraan warganya serta terpenuhinya pelayanan dasar misalnya dalam pelayanan kesehatan.

Berdasarkan data aset dan potensi yang disusun kelompok perempuan di Gumelem Kulon (2015), terungkap beberapa persoalan mendasar terkait dengan pelayanan dasar terhadap masyarakat miskin, antara lain fasilitas kesehatan yang masih minim. Pusat kesehatan hanya terdapat di bagian bawah sehingga jika ada penduduk atas yang sakit atau akan melahirkan warga harus turun terlebih dahulu. Apotek juga belum tersedia di wilayah atas. Yang ada obat-obatan warung yang kualitasnya kurang baik sehingga mengharuskan mereka turun ke bawah dengan medan yang ekstrim.

melakukan pendataan kesejahteraan lokal, para penderes mengaku sangat membutuhkan jaminan kesehatan terutama ketika terjadi sesuatu yang menimpa mereka saat bekerja. Penderes kelapa merupakan aset sekaligus masalah di Desa Gumelem Kulon. Hasil survei kelompok perempuan mencatat, sekitar 2.800 penderes di desanya memanfaatkan nira dari 60.077 pohon kelapa. Sebanyak 70 persen Gumelem Kulon perbukitan. Migrasi menjadi kuli di Jakarta menjadi alternatif yang dipilih. Semakin tinggi rumah penderes di perbukitan, harga gula semakin murah. Tengkulak sengaja membuat para penderes tergantung dengan pinjaman uang tanpa agunan. Bisa pinjaman untuk pesta pernikahan, beli tanah, beli sepeda motor, dan lainnya (Koran TEMPO, Kamis, 17 Desember 2015). Begitu pun para perajin batik, sebagian besar mengeluh karena penghasilan mereka tak sesuai kerja. Proses membatik cukup lama. Satu kain dengan motif yang rumit bisa selesai dalam waktu satu minggu. Harganya hanya Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu. Kondisi yang juga memprihatinkan adalah pernikahan anak di bawah umur dan banyaknya kaum difabel (warga berkebutuhan khusus) di Desa Gumelem Kulon. Berdasarkan data hasil pemetaan aset sumber daya manusia tahun 2015, kaum difabel telah mencapai sekitar 60 orang. Belum semuanya mendapatkan manfaat dari program pembangunan yang ada di desanya. Sebagian besar mereka juga tak memiliki pekerjaan. Beberapa di antaranya berasal dari keluarga miskin yang tak terdaftar sebagai penerima manfaat program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh pemerintah melalui Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan Sosial (BPJS).

Hal serupa juga dialami para penyelenggara kesehatan dan pendidikan, seperti kader Posyandu dan pengajar Pos PAUD. Sumber daya manusianya terbatas dan penghargaan terhadap mereka minim. Kondisi ini, menurut kader perempuan, akan berdampak pada kualitas layanan.

Yogyakarta selama tahun 2015 memunculkan kesadaran warga tentang pembangunan desa, khususnya bagi kaum perempuan. Proses pengorganisasian juga tidak sekadar memperkuat kapasitas pengetahuan dan keterampilan perempuan, namun juga munculnya kesadaran terhadap pentingnya urun daya dalam pembangunan desa. Mereka menyadari betapa kompleksnya persoalan kemiskinan di desa. Sehingga kemudian menginisiasi para ibu alumni sekolah perempuan dan pembaruan desa untuk Komunitas Perempuan Pembaharu Desa. Selain Gumelem Kulon, istilah komunitas tersebut juga digunakan oleh kelompok perempuan di tiga desa di Kabupaten Banjarnegara; Desa Gentansari Kecamatan Pagedongan, Desa Jatilawang Kecamatan Wanayasa, dan Desa Gumelem Kulon Kecamatan Susukan. Pasca pengorganisasian kelompok perempuan bersama sejumlah warga dan

stakeholder lain yang ada di desa pada 2015, kelompok perempuan desa menginisiasi terbentuknya Komunitas Perempuan Pembaharu Desa. Kelompok perempuan ini terdiri dari perwakilan kader PKK, kelompok wanita tani, pemudi desa, organisasi keagamaan, ibu rumah tangga, pengusaha, dan sejumlah perwakilan kelompok perempuan desa lainnya.

Setiap desa memiliki nama lokalnya sendiri, seperti di Desa Jatilawang bernama “Raga Jambangan”. Komunitas ini tiap tahun memiliki program mengawal pembangunan desa secara aktif dan kritis. Di luar isu pembangunan desa, mereka memiliki satu program mengawal isu penting terkait perempuan dan marginal di desanya.

Komunitas Perempuan Pembaharu Desa bisa disebut sebagai pemersatu seluruh kelompok perempuan yang ada di desa yang memiliki kepentingan mengawal pembangunan secara aktif dan kritis, khususnya dalam memperjuangkan pembangunan di desa yang responsif gender dan inklusi sosial. Masing-masing komunitas di tiap desa memilih sendiri satu isu yang akan mereka kawal selain isu pembangunan. Ada isu pernikahan dini, ada isu lainnnya. Sesuai dengan kondisi masing-masing desa. Komunitas Perempuan

Pembaharu Desa Gumelem Kulon memilih untuk memperjuangkan jaminan kesehatan bagi kelompok marginal. Keputusan komunitas perempuan Gumelem Kulon untuk mengawal isu jaminan kesehatan bagi warga miskin di desanya tidak terlepas dari pemahaman mereka atas kondisi desa Gumelem Kulon saat ini.

Bermula dari Pendidikan Kritis “Sekolah