Indonesia: Membangun Studi Kasus
4. Studi Kasus 1: Pelabelan Fatal terhadap Ahmadiyah
4.3. Ahmadiyah di dalam Media
Sangatlah kentara terlihat bahwa media memainkan peran yang sangat fundamental dalam penyam- paian berita, fakta, dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Peran macam ini bertalian sangat erat dengan kepemilikan kontrol atas apa yang dapat dilihat, dibaca, atau didengar oleh anggota ma- syarakat (dalam hal ini, warga negara). Salah satu dari sekian isu utama yang perlu disinggung adalah apakah kepentingan publik terpenuhi atau tidak. Dalam kebanyakan kasus, jawaban atas pertanyaan ini adalah tidak. Hal ini terjadi karena media mengendalikan kebanyakan isi berita. Secara singkat, apa yang disampaikan kepada publik sangat tergantung pada apa yang media anggap relevan dan penting.
Centre for Innovation Policy and Governance Media dan Kelompok Rentan di Indonesia: Empat Kisah 45 Kendali kuat media atas konten ini terjadi pula dalam kasus Ahmadiyah. Sebagian besar materi yang dilaporkan mengenai Ahmadiyah, jika tidak selalu terjadi, condong ke arah kepentingan dan agenda mayoritas. Hal ini terlihat dari apa yang disampaikan oleh media yang tampaknya menggunakan pers- pektif yang agak sempit.
Lha iya kalau diberitakan menurut fakta yang sebenarnya. Berita macam itu mencuat kan karena media itu dipegang oleh massa. Jadi, media juga takut kehilangan pemirsa. Lalu, jemaat [Ahmadi- yah] sangat sedikit bila dibandingkan dengan pemirsa yang banyak. Berita itu kan diusahakan untuk memuaskan yang banyak. Ya kan? Untuk jemaat, ada semacam keyakinan kalau beritanya itu tidak benar. Kalau misalnya ada pengaduan [permohonan ralat ke media], tapi biasanya itu juga kurang efektif. Yang selama ini terjadi kurang efektif. Kalau pemberitaan itu tidak betul, dan jemaat mau meluruskan, mungkin diterima. Tapi penayangan untuk ralat mungkin juga tidak leluasa [tidak dalam waktu yang tepat dan durasi yang cukup] (Anonim, Wawancara, 2012).
Konten telah menjadi isu yang sangat penting dalam banyak aspek media, mulai dari proses produksi hingga distribusi. Kendati demikian, inti dari isu konten barangkali berkaitan dengan alasan utama adanya media, yaitu untuk menyediakan ruang bagi warga untuk terlibat dalam masyarakat yang de- mokratis dan rasional (Habermas, 1984, Habermas 1989). Namun saat ini, alih-alih menyediakan aneka ruang keterlibatan publik maupun ruang untuk mendidik dan “memberadabkan publik” melalui kon- tennya, konten media menjadi sangat tergantung terhadap “rating.”
Dalam produksi konten, media rupanya cenderung merujuk pada mekanisme rating. Kondisi ini berim- plikasi pada praktik duplikasi konten dalam media yang berorientasi laba. Sebagai akibatnya, warga diarahkan pada keterbatasan ragam informasi. Dari sini kentara bahwa media cenderung beroperasi menggunakan logika rekayasa hasrat manusia dan kemudian mengklaim hal tersebut sebagai yang dibutuhkan oleh publik. Mekanisme semacam ini tentunya juga berdampak pada pembentukan opini publik.
Menilik kembali pada kasus Ahmadiyah, kami meminta tanggapan mereka atas cara Ahmadiyah digam- barkan di dalam media. Sebagian besar pengikut Ahmadiyah menjawab bahwa stigma “sesat” telah ditempatkan di atas hal-hal yang lain.
Menurutku media-media ini terjebak. Mereka ini terjebak dengan isu besarnya. Kelompok-ke- lompok syiar kebencian ini kan men-drive isu Ahmadiyah sebagai isu sesat. Agama ini sesat, Ahmadiyah kafir, memiliki insititusi yang berbeda, ajarannya seperti ini, dan seterusnya. Dan ternyata, media terdorong untuk mengikuti saja. Mereka gagal melihat sisi lain, dari perspektif korban. Itu dia masalahnya. Jadi, pertama perspektif media sudah salah ketika memandang per- soalan itu secara global. Lantas, dalam praktiknya mereka juga salah menugaskan reporter. Nah, reporternya sendiri tidak membangun akses yang cukup baik [dengan pihak korban]. Kemudian setelah selesai liputan, [reporter] balik ke meja redaksi dan redaksinya juga tidak punya perspe- ktif yang baik. Siklusnya terus begitu. Selama perspektifnya tetap semacam ini, Ahmadiyah akan terus dibilang melulu sesat (Firdaus Mubarik, 6211, Juru Bicara JAI, Wawancara, 02/02/2012).
Tanggapan dari Firdaus sekilas menunjukkan bahwa penggambaran Ahmadiyah di media boleh jadi sangat dipengaruhi oleh asumsi umum mengenai mereka. Mengingat perspektif awam ini dan kenyata- an bahwa jurnalis memiliki waktu sangat terbatas untuk mengumpulkan data di lapangan, penggam- baran mengenai Ahmadiyah kerapkali menjadi kurang tepat. Namun, sebenarnya bagaimana pengikut Ahmadiyah melihat diri mereka sebagaimana ditampilkan dalam media? Kutipan berikut menyodorkan jawaban atas pertanyaan ini:
Centre for Innovation Policy and Governance
Media dan Kelompok Rentan di Indonesia: Empat Kisah 46
Jadi kalau dinilai secara umum, baik di pemberitaan elektronik maupun di media cetak, pemberi- taan yang dimuat itu tidak berimbang. Artinya tidak berimbang adalah mereka mengedepankan pendapat publik yang banyak sementara dari sumbernya sendiri tidak digali. Jadi kalau mem- buat pemberitaan itu, terutama kalau sering kami baca di koran, kasus Ahmadiyah itu ujungnya mendiskreditkan. Jadi banyak fakta yang tidak benar atau bahkan seolah-olah data itu bukan dari sumber utama, kebanyakan ya hanya pendapat-pendapat umum saja. Contohnya, saya pernah membaca di koran; ada kegiatan bupati Cianjur sedang berdiskusi dengan tokoh-tokoh ormas Islam; katanya “Kita harus bisa menyadarkan Ahmadiyah karena kegiatannya menyim- pang…” dan sebagainya. Padahal kalau dikatakan menyimpang harus jelas bagaimana meny- impangnya atau di mana salahnya? Tidak hanya itu, juga banyak di antaranya tokoh-tokoh kita ataupun termasuk dari polisi sendiri yang tanya. Mengapa sekarang itu banyak terjadi istilahnya kerusuhan tentang Ahmadiyah. Banyak yang bilang katanya Ahmadiyah tidak bisa atau tidak melaksanakan SKB. Padahal, kalau dikatakan tidak melaksanakan SKB ya sebutkan butir berapa yang tidak dilaksanakan oleh Ahmadiyah itu. Atau mana yang dilanggarnya? Kebanyakan orang itu, termasuk media juga ya, menyimpulkan tentang Ahmadiyah itu atas pendapat sendiri, atau mengikuti pendapat awam itu sangat mungkin (Anonim, Wawancara, 2012).
Kutipan di atas mewakili respon umum dari para pengikut Ahmadiyah: bahwa mereka mengalami stigmatisasi dengan pemberian label tertentu. Para pengikut Ahmadiyah ini menyadari bahwa peng- gambaran di dalam media tidak selalu lengkap dan menyeluruh. Alih-alih memberikan sebuah peng- gambaran yang utuh mengenai Ahmadiyah, media malah menyajikan versi lain yang penuh dengan prasangka dan asumsi. Kondisi semacam ini mendiskreditkan Ahmadiyah sebagai sebuah kelompok dan menjadikan kelompok ini tetap tidak memiliki suara. Representasi media yang cenderung timpang ini tentu menghasilkan dampak langsung ke hidup jemaah. Para penganut Ahmadiyah dipaksa untuk selalu waspada dalam bersosialisasi dengan yang lain. Bahkan, kerapkali harus menerima pihak asing (dalam hal ini adalah para aktivis HAM, peneliti, maupun jurnalis yang hendak mewawancarai mereka) secara sembunyi-sembunyi sehingga tidak menarik kecurigaan dari para tetangga.
Kisah mengenai Ahmadiyah sangat didominasi oleh pemberian label kepada grup ini sebagai “sesat”. Tampaknya “kesesatan” dan “penistaan” merupakan topik-topik yang berpotensi untuk dijual. Pembe- rian stereotip “menyimpang” kepada Ahmadiyah oleh media ini hampir ada di seluruh media. Peng- gambaran umum semacam ini telah memberi dampak yang cukup signifikan bagi kehidupan para pengikut Ahmadiyah. Penggambaran yang sama juga cenderung untuk mengundang banyak orang untuk “menyetujui” aksi kekerasan terhadap kelompok ini, sebagai imbalan atas “kesesatan”. Sebagai tambahan pula, gambaran umum perihal Ahmadiyah yang “menyimpang” ini sangat jarang ditindak- lanjuti dengan kisah lain dengan memakai perspektif yang berbeda. Oleh karena itu, adalah logis untuk mengatakan bahwa pemberian label tidak berimbang semacam ini memberi keuntungan bagi media, mengingat pemberitaan semacam inilah yang cenderung dilihat oleh mayoritas publik – atau dalam gagasan Herman dan Chomsky – melayani opini elit di masyarakat (Herman and Chomsky, 1988).
Terkait dengan insiden Cikeusik, lima surat kabar terbesar – Jawa Pos, Kompas, Republika, Suara Merde- ka, Pikiran Rakyat – di Pulau Jawa dan dua stasiun berita nasional menyajikan laporan mendalam atas kejadian tersebut. Secara umum, kelima media cetak tersebut menggunakan istilah “bentrokan” alih- alih “serangan” dalam memberitakan peristiwa ini (Harsono, 2011). Penggunaan istilah tersebut mem- beri kesan bahwa yang terjadi adalah sebuah perkelahian yang adil, sesuatu yang sangat bertentan- gan dengan kejadian sebenarnya. Hal yang sama pun terjadi dengan media penyiaran – menunjukkan kerumunan sedang berkelahi dan melempar batu – namun tidak menunjukkan (upaya) pembunuhan yang terjadi (Harsono, 2011). Di sisi lain, media internasional, semisal BBC, CNN, Al Jazeera, dan ABC Australia menggunakan istilah “serangan” dalam sejumlah pemberitaan dan menampilkan adegan pe- nyerangan dalam liputan mereka – dengan tetap menyamarkan bagian-bagian yang keji.
Dengan melakukan analisis atas beberapa tipe penggambaran Ahmadiyah yang berbeda-beda, media massa di Indonesia tampaknya belum berhasil menyajikan sebuah tinjauan kasus yang menyeluruh dan terperinci. Dalam tragedi Cikeusik, apa yang ditampilkan oleh media merupakan sebuah “model”
Centre for Innovation Policy and Governance Media dan Kelompok Rentan di Indonesia: Empat Kisah 47