• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Kasus 3: Stereotipisasi dan Diskriminasi Difabel

Secara ringkas

6. Studi Kasus 3: Stereotipisasi dan Diskriminasi Difabel

Centre for Innovation Policy and Governance Media dan Kelompok Rentan di Indonesia: Empat Kisah 85 Bab ini dimulai dengan menghadirkan latar belakang sejarah pergerakan difabel di Indonesia untuk kemudian bergerak ke dalam diskusi mengenai hubungan antara difabel dan media di Indonesia: bagaimana mereka dikenal dan ditampilkan. Bagian selanjutnya lantas membangun diskusi seputar penekanan peran media dalam menjaga dan menilai pemenuhan hak-hak kelompok minoritas seperti difabel. Sebuah ringkasan dan kesimpulan akan menutup bab ini.

6.1. Difabilitas di Indonesia: Sejarah dan Latar Belakang

Istilah “disabilitas” kerapkali bersanding dengan istilah “cacat” (disabled).81 PBB dan negara-negara

berbahasa Inggris menggunakan kata “disabilitas” untuk menyebut mereka yang berkebutuhan dan berkemampuan berbeda. Hal ini tercermin dalam berbagai dokumen: UU Warga Amerika Serikat den- gan Disabilitas (American with Disabilities Act, 1990); UU Diskriminasi Disabilitas di Inggris (Disability Dis- crimination Act, 1995); UU Warga Ontario dengan Disabilitas di Canada (Ontarians with Disabilities Act, 2002); Kebijakan Nasional untuk Orang dengan Disabilitas di Pakistan (National Policy for Persons with Disabilites, 2002); serta Konvensi tentang Hak Orang dengan Disabilitas dari PBB (Convention on Rights of Person with Disabilites, 2006). Akan tetapi, dalam konteks Indonesia, para penyandang cacat – teru- tama para aktivis – cenderung menggunakan istilah diffability atau different ability (kemampuan ber- beda) dan diffable (difabel) alih-alih “disabilitas”; untuk menghentikan stigma dan konotasi negatif yang menempel pada istilah “orang/penyandang cacat”.

Gerakan difabilitas di Indonesia memiliki sejarah sangat panjang yang dapat dilacak dengan mengikuti perubahan penggunaan istilah “difabel” itu sendiri. Jauh sebelum istilah “difabel” digunakan, “disabili- tas” adalah istilah yang digunakan untuk menyebut orang-orang dengan kebutuhan berbeda. Istilah “disabilitas” pertama kali digunakan oleh dokter Soeharso ketika ia membangun Pusat Rehabilitasi di Solo tahun 1946. Saat itu, “disabilitas” merujuk pada “penderita cacat” (orang yang memiliki penyakit fisik) menurut pendekatan medis dr. Soeharso.

Pada tahun 1970-an, beberapa aktivis mengajukan istilah “penyandang cacat” (penyandang: orang dengan atribusi/gelar, berkonotasi netral) sebagai istilah baru untuk menggantikan “penderita ca- cat”. Alasannya adalah “penderita” merujuk pada penyakit, sementara beberapa dari mereka merasa bahwa “ketidaksempurnaan” yang mereka rasakan bukanlah sebuah penderitaan, apalagi beban. Na- mun, pada pertengahan 1990-an, istilah ini berubah kembali. Dalam refleksi para aktivis difabilitas ini, mereka merasa bahwa “penyandang cacat” tidak lagi cocok karena kontradiksi makna dalam kombi- nasi “penyandang” dan “cacat”. Dalam bahasa Indonesia, “penyandang” menunjuk pada mereka yang mencapai prestasi dalam bidang tertentu. Sementara, “cacat” merujuk pada kelainan bentuk. Dengan menerima kedua alasan tersebut, mereka memutuskan untuk mencari istilah baru. Atas saran dari almarhum Mansour Fakih, istilah pengganti itu adalah “diffable, people with different ability” (orang den- gan kemampuan berbeda). Istilah ini kemudian dirumuskan ulang ke dalam bahasa Indonesia menjadi “difabel”. Sejak saat itu, istilah baru “difabel” yang lebih humanis dan tidak merendahkan ini lantas dipopulerkan.

UU pertama di Indonesia yang mengatur perihal difabilitas adalah UU no. 4/1997. UU ini masih meng- gunakan istilah “penyandang cacat”. Penggunaan istilah ini, baik sengaja atau tidak sengaja, telah membentuk sebuah opini bahwa difabel adalah orang-orang yang selalu membutuhkan bantuan, tidak mampu melakukan kegiatan-kegiatan “normal” sebagaimana dilakukan orang lain (non-difabel), serta

81 Dalam Klasifi kasi Internasional mengenai Pelemahan dan Perusakan Fungsi Fisik, Disabilitas, dan Keca-Dalam Klasifikasi Internasional mengenai Pelemahan dan Perusakan Fungsi Fisik, Disabilitas, dan Keca- catan, WHO (1980) mendefinisikan tiga aspek kecacatan: berkurangnya fungsi, disabilitas, dan kecacatan. Pelema- han fungsi adalah hilang dan ketidaknormalan struktur atau fungsi psikologis, fisiologis atau anatomis. Disabilitas adalah keterbatasan atau kekurangan (hasil dari berkurangnya fungsi) kemampuan untuk melakukan sebuah aktivi- tas dalam cara atau dalam jangkauan yang dianggap normal bagi insan manusia. Kecacatan adalah sebuah kelema- han, bagi individu tertentu, hasil dari sebuah kekurangan fungsi atau disabilitas, yang membatasi atau menghalangi pemenuhan sebuah peran yang normal, tergantung dari faktor usia, jenis kelamin, maupun kebudayaan.

Centre for Innovation Policy and Governance

Media dan Kelompok Rentan di Indonesia: Empat Kisah 86

layak dikasihani. Ketika PBB mengeluarkan resolusi no. A/61/106 tentang Konvensi Hak Orang-orang dengan Disabilitas tanggal 13 Desember 2006, kondisi pun mulai berubah. Konvensi ini kemudian di- tandatangani oleh Pemerintah Indonesia pada tanggal 30 Maret 2007 dan diratifikasi pada hari Rabu, 19 Oktober 2011. Regulasi yang melegitimasi konvensi ini adalah UU no. 19/2011. Berdasarkan UU tersebut, istilah “disabilitas” dipergunakan sebagai pengganti penggunaan kata “penyandang cacat”. Kendati masih terdapat beberapa perselisihan mengenai penggunaan istilah “disabilitas” dan “difabili- tas”, namun saat ini kebanyakan gerakan memilih memakai “difabilitas” daripada “disabilitas” karena penggunaan istilah ini lebih berkonotasi positif. Istilah “difabel” berangkat dari persepsi bahwa seorang individu adalah sungguh manusia dalam kodrat terdalamnya. Maka, atribut lain yang dimiliki oleh ses- eorang adalah pelengkap dari kemanusiaannya. Pendeknya, “difabel” melihat seseorang sebagai insan manusia yang utuh, tanpa memandang atribut lain yang ia miliki. Sebaliknya, “cacat” terkesan meli- hat seseorang dari fungsi (fisik) yang dimiliki, apakah dapat berfungsi baik atau tidak. Pertimbangan yang sama diterapkan pada studi ini. Riset ini menggunakan istilah “difabel” sebagai pengganti “cacat” karena istilah ini memberikan nuansa dan penghargaan yang jauh lebih tinggi bagi mereka yang berke- mampuan berbeda.

Pemberdayaan difabel adalah isu abadi dalam gerakan difabilitas. Jauh sebelum dr. Soeharso82

mendirikan Pusat Rehabilitasi di Solo, upaya serius untuk meningkatkan martabat difabel, dengan me- ningkatkan kemandirian mereka, telah dimulai. Terdapat sejumlah layanan medis yang disediakan un- tuk “mengobati” para difabel. Kendati demikian, berdasarkan pengalaman dr. Soeharso, menyediakan pertolongan medis saja tidak cukup untuk membantu difabel menjadi mandiri. Atas dasar itu, Pusat Re- habilitasi didirikan untuk membantu mencapai tujuan mandiri tersebut. Dengan menyediakan alat-alat dan pelatihan keterampilan, para difabel dibantu untuk mengatasi kekurangan yang ada dan dilatih menjadi mandiri. Pelatihan untuk mengasah keterampilan disediakan sebagai pintu untuk mengem- bangkan kemampuan bekerja yang lebih luas. Namun sayangnya, pemerintah dan penyelenggara insti- tusi ini masih sering terjebak dalam pola pikir yang sempit dalam praktik sehari-hari.

Pak Harso jadi tahu bahwa kaki-tangan palsu belum mampu membuat difabel itu mandiri. Dulu pikiran awalnya, kalau mereka punya kaki-tangan palsu, mereka bisa (punya) mobilitas, mandiri. Ternyata tidak, belum. Muncul ide. Karena masih banyak waktu luang, Pak Harso berpikir bagaimana kalau orang-orang ini diberi keterampilan praktis, yang mudah dipelajari, cepat, dan setelah mereka pulang dapat dikembangkan di lingkungan masing-masing. Dengan harapan keterampilan itu dapat berguna bagi dirinya sendiri. Mandiri. Syukur kalau bisa untuk keluarga, syukur lagi kalau bisa untuk memasyarakat. Nah, kemampuan ini kan hanyalah pintu masuk, tapi kemauan difabel bekerja ini yang harus dimaknai lebih luas. Celakanya bahwa yang seperti ini tidak pernah dipahami oleh pengelola panti. Pemerintah juga nggak ngerti (Sapto Nugroho, Yayasan Talenta Solo, Wawancara, 14/12/2011).

Kutipan di atas seperti menegaskan bahwa difabel kerap mendapati perlakuan yang keliru, sampai hari ini. Alih-alih memberikan peluang seluas mungkin untuk menunjukkan bakat mereka, sebagian besar difabel sengaja diarahkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu yang dipandang cocok untuk mereka. Sempitnya pandangan ini mengarahkan pada opini bahwa difabel hanya cocok untuk beberapa jenis pekerjaan saja. Sebagai contoh, kerapkali kita melihat para tuna netra di Indonesia me- nerima label bahwa mereka hanya pantas menjadi tukang urut atau penjahit; sekaligus menegaskan bahwa seolah-olah mereka dilatih secara khusus untuk keterampilan terbatas itu.

Pak Harso, setelah membuat keterampilan, ia membuat Yayasan Sheltered Workshop. Pada saat itu Pak Harso membuat tempat yang mendapat pesanan membuat helm, baju tentara, yang tenaga kerjanya itu campuran, ada yang difabel dan ada yang non-difabel. Mengapa begitu?

82 Prof. Dr. Soeharso (1912-1971) adalah seorang ahli orthopedi, seorang pahlawan Nasional Indonesia dan pendiri Pusat Rehabilitasi Doktor Soeharso di Surakarta (Solo); yang merupakan tempat untuk merawat orang- orang dengan cacat fisik. à Di atas telah dijelaskan pendirian CIPG untuk menggunakan kata “difabel”, sementara dalam catatan kaki ini masih ada istilah “cacat fisik”. Mohon ini dijadikan bahan pertimbangan, apakah masih akan menggunakan istilah “cacat fisik” atau menggantinya dengan istilah “difabel.

Centre for Innovation Policy and Governance Media dan Kelompok Rentan di Indonesia: Empat Kisah 87 Seperti kritik saya, ini [untuk] membangun interaksi sosial yang wajar. Tapi lambat laun, kalah lagi. Udah. Sekarang peninggalannya malah akan disewa McDonalds untuk bengkel. Celakanya itu yang memprakarsai itu lulusan YSW juga (Sapto Nugroho, Yayasan Talenta Solo, Wawancara, 14/12/2011).

Sebagaimana tampak dalam kutipan di atas, sebagai tambahan pelatihan yang diterima oleh para difa- bel, sebuah upaya untuk menciptakan interaksi sosial sejati antara difabel dan non-difabel juga perlu dilakukan sehingga dikotomi antara “normal” dan “tidak normal” dapat dihapuskan. Kendati setidaknya di Solo – melalui Yayasan Sheltered Workshop milik dr. Soeharso – usaha tersebut gagal karena perbe- daan kepentingan, upaya semacam itu pernah dilakukan.

Centre for Innovation Policy and Governance

Media dan Kelompok Rentan di Indonesia: Empat Kisah 88