• Tidak ada hasil yang ditemukan

AJARI AKU TENTANG CINTA

Hilya menoleh. Lalu ia kembali menunduk. Ia beru-saha menyembunyikan kesedihan yang tergurat begitu jelas pada wajahnya. Namun sepertinya usaha Hilya sia-sia. Naluri seorang ibu tak bisa dibohongi. Fatimah sadar jika permata kecilnya sedang bersedih. “mengapa kamu berse-dih Hilya?”. Tanya Fatimah pada putri semata wayangnya itu. Hilya masih saja diam, berusaha memendam rasa pe-dih yang ada dalam hatinya. Namun akhirnya ia menyerah. “Bunda, apakah Allah masih sayang pada Hilya?”. Jawaban yang merupakan sebuah pertanyaan bagi Fatimah. “tentu saja. Allah sangat mencintaimu sayang...”. Jawab Fatimah dengan halus. “Lalu, mengapa Hilya dilahirkan dengan ke-adaan buta?” tanya Hilya lagi. Fatimah terdiam sejenak. Menghela nafas sembari mengusap kerudung putrinya. “mungkin seperti itulah cara Allah mengajarkan pada ham-banya arti cinta yang sesungguhnya”. Jawab Fatimah sem-bari tersenyum.

*****

“Wa min aayaatihii an khalaqa lakum min anfusikum

azwaajan litaskunuu ilaihaa wa ja’ala bainakum mawad-datan wa rahmah. Inna fii dzalika la’ayaatin liqaumin

yata-fakkaruun (1)”. Senandung suara merdu Fatimah menyibak

tabir malam. Menyingkap setiap rahasia yang sengaja ia simpan rapat-rapat dalam hatinya. Malam itu hatinya begitu pilu. Sepenggal ayat yang baru saja ia baca mengingatkan-nya pada seseorang. Seseorang yang telah mengajarimengingatkan-nya arti cinta yang sesungguhnya. Sekaligus orang yang telah membuatnya harus merasakan sayatan luka rindu yang

begitu memilukan. Fatimah teringat almarhum suaminya. Sekarang, ia tak lagi sanggup melanjutkan tadarus-nya. Su-aranya terhalang oleh rasa sesak yang membelenggu hat-inya. Ia hanya bisa menangis seraya bermunajat dalam hati kecilnya dan berharap semoga duka rindu itu bisa lekas sirna dari hatinya.

Fa kaifa tunkiru hubban ba’da maa syahidat * Bihi ‘alai-ka ‘udulu ad-dam’i was saqamiy

Wa atsbata al-wajdu khattaa ‘abratin wadlana * Mitslu al-bahari ‘ala Khaddaika wal ‘anami(2)

Tangis Fatimah begitu keras hingga tanpa sadar suaranya telah membuat putrinya terjaga. Hilya mencoba bangkit dari tempat tidurnya dan mencoba mencari bun-danya berbekal suara tangis yang ia dengar. Ia berjalan sambil sesekali meraba tembok yang merupakan jalan pe-tunjuk baginya. Hilya berjalan dengan hati-hati. Karena jika ia sampai jatuh tersungkur, tentu bundanya akan semakin sedih.

Suara tangis Fatimah terdengar semakin jelas di telinga Hilya. Itu berarti Hilya sudah semakin dekat den-gan bundanya. Hilya langsung memeluk bundanya begitu ia menemukannya. Pelukan Hilya spontan membuat Fati-mah terkejut. Namun FatiFati-mah menikmati kehangatan yang putrinya berikan. Saat itu Fatimah sadar, penawar rindu yang selama ini ia cari sudah ada di depannya. Ada dalam pelukannya. Tiba-tiba saja Hilya mengusap peluh air mata yang masih tergaris di pipi bundanya dengan kedua tangan

mungilnya. Fatimah hanya terdiam heran melihat tingkah putrinya. “Bunda jangan menangis, Hilya tak ingin Bunda bersedih”. Ucap Hilya. Fatimah terkesiap mendengar per-kataan putrinya. Ia tak menduga jika kata-kata manis itu akan keluar dari bibir mungil putrinya. Fatimah tak bisa lagi mengelak. Yang bisa ia lakukan hanyalah menjelaskan apa yang terjadi padanya sekarang. “Bunda tadi teringat almarhum ayahmu, Nak”. Ujar Fatimah. “ayah juga pasti se-dih jika melihat bunda sese-dih”. Ucap Hilya. Fatimah tak bisa berkata apa-apa lagi. Apa yang dikatakan malaikat kecilnya ternyata telah membasahi hatinya yang telah lama kering kerontang. Mungkin yang harus ia lakukan sekarang adalah bersyukur.

*****

Fatimah masih sibuk dengan mushafnya melan-tunkan ayat demi ayat untuk me-muroja’ah(3)

hafalan-nya. ”afalam yasiiruu fil ardlhi fatakuuna lahum quluubun

ya’qiluuna bihaa, aw aadzaanun yasma’una bihaa, fainna-haa laa ta’mal absfainna-haaru wa laakin ta’mal quluubul latii fis

shuduur(4)”. Hilya yang tertidur di pangkuan bundanya

be-gitu menikmati saat-saat seperti itu. Suara merdu bundan-ya adalah sebuah hiburan baginbundan-ya dan mungkin tiada lagi kata bosan untuk mendengarkan lantunan ayat suci itu. Tiba-tiba saja Hilya terjaga dari tidurnya. Lantas ia duduk menghadap bundanya seraya memanggilnya. Fatimah lan-tas menghentikan bacaan Al-Qur’annya tatkala mengetahui jika putrinya telah bangun. Ia lalu meletakkan mushafnya di meja kecil yang tak jauh darinya.

“ada apa sayang?” tanya Fatimah. “bacaan bunda indah sekali”. Puji Hilya. Fatimah hanya bisa menyungging-kan senyuman ketika mendengar perkataan putrinya. “itu adalah anugerah dari Allah sayang...” ujar Fatimah menjelas-kan. “Bunda, Hilya ingin sekali menghafal Al-Qur’an seperti bunda. Tapi untuk sekedar melihat tulisannya saja Hilya tak bisa”. Keluh Hilya yang seketika itu pula membuat hati bun-danya merasa iba. Fatimah terdiam sejenak, menyiapkan jawaban terbaik untuk putrinya. “Sayang..., menghafal ti-dak harus melihat”. Hibur Fatimah. “maksud Bunda?” tanya Hilya bingung. “kamu bisa menghafal sesuatu dengan cara mendengar, Sayang...” jelas Fatimah sembari mengusap rambut putrinya yang terurai. Perlahan senyum Hilya mer-ekah. Masih ada harapan untuk mewujudkan impiannya.

Tiba-tiba saja Fatimah menangis. Mungkin saja ia terharu. Ia tak menyangka bila putrinya mempunyai cita-cita yang begitu mulia. Tanpa perlu waktu yang lama, Hilya mengetahui jika mata bundanya telah basah. “mengapa Bunda menangis?” tanya Hilya polos. “Bunda menangis karena Bunda bangga denganmu, Sayang...” ucap Fatimah seraya memberikan pelukan untuk putrinya. Hilya begitu menikmati kehangatan yang diberikan Bundanya. Lantas ia berkata “Hilya sayang Bunda...”

*****

Hari demi hari berlalu bersama detik waktu yang tan-pa lelah terus berjalan karena bumi terus saja berputar sesuai kodrat yang telah digariskan penciptanya. Satu ta-hun sudah Fatimah mengajari Hilya untuk menulis dan

matri indahnya ayat suci pada hati putrinya itu. Dan dengan mengesankan, dengan kurun waktu itu, Hilya telah mampu menghafal empat belas juz.

“Wallahu akhrajakum min buthuuni ummahaatikum

laa ta’lamuuna syai’an wa ja’ala lakum as-sam’a wal

ab-shaara wal af’idata, la’allakum tasykurun(5)” suara Hilya

mulai terdengar merdu seperti suara bundanya. Harinya-harinya berhias dengan lantunan ayat-ayat suci yang kein-dahan mukjizat senantiasa tersimpan rapat bagai permata. Hilya terus saja menghafal tanpa menghiraukan keadaan-nya yang tidak bisa dibilang baik. Hilya buta. Namun, itu bu-kan alasan baginya untuk menanggalbu-kan impian mulianya. “Shadaqallahu al-adzim”. Hilya menutup bacaannya. Fati-mah pun turut menutup mushafnya yang ia gunakan untuk menyimak hafalan putrinya. Fatimah menyunggingkan se-nyum. Senyum kebanggaan untuk malaikat kecilnya.

*****

Malam berselimut tabir gelap, sebagaimana ia me-nyimpan rahasia-rahasia takdir tuhan pada dirinya. Malam itu rembulan tak ingin bergeming, ia memalingkan wajah dari bumi karena takut akan apa yang bakal disaksikannya. Kemilau bintang pun juga turut menahan diri. Namun tak-dir berkehendak lain. mereka terpaksa harus menjadi saksi bisu atas kejadian malam itu.

Dengan perlahan, rumah yang ditempati Fatimah berubah menjadi arang dan abu. Hembusan angin malam membuat api semakin besar dan semakin cepat merambat.

Namun, Fatimah dan Hilya masih terbuai dalam mimpi-mimpi mereka tanpa sadar malapetaka yang begitu besar telah menjemput mereka. Entah takdir tuhan seperti apak-ah yang akan menimpa mereka.

Hilya mulai terjaga. Meski tiada yang bisa dilihatnya. Namun, ia tahu pasti bahwa ada bahaya besar yang sedang mengacancam nyawanya dan nyawa bundanya. “Bunda, bangun!” teriak Hilya sambil menggoncang tubuh bun-danya. Fatimah membuka mata perlahan. Apa yang ia lihat sontak membuatnya kaget. Api yang begitu besar ada di-mana-mana. Tiada waktu untuk berfikir bagi Fatimah. Den-gan cekatan ia menggendong Hilya lalu berlari menuju luar rumah untuk menyelamatkan diri. Namun, manusia hanya bisa berkehendak. Disaat Fatimah sibuk melindungi pu-trinya dari jilatan api. Sebongkah kayu besar menimpanya. Dan dengan cepat Fatimah mendorong tubuh Hilya hingga ia jatuh tersungkur. Suara kayu yang menggempur tubuh Fatimah terdengar begitu mengerikan di telinga Hilya. Meski tak tahu dengan pasti apa yang terjadi, Hilya sadar, sesuatu yang buruk telah menimpa bundanya. “Bunda...” teriak Hilya sekuat tenaga. Suara itu membuat Fatimah yang telah kehilangan kesadaran kembali terbangun. “Lari Hilya!” perintah Fatimah. Namun, Hilya tak ingin berpin-dah dari tempatnya kecuali ia bersama bundanya. “Cepat lari Hilya!” bentak Fatimah lebih keras. “Tidak!, Hilya ingin selalu bersama Bunda”. Ujar Hilya yang masih teguh me-megang pendiriannya. Lari pun terlalu beresiko baginya. Fatimah hanya bisa meronta dalam hati. Seluruh persend-ian Fatimah sudah tak bisa digerakkan lagi. Tapi ia tak mau

pasrah. Tidak akan ada yang bisa merubah nasibnya kecu-ali dirinya sendiri. Innallaha laa yughayyiruu maa bi qaumin

hattaa yughayiruu maa bi anfusuhim.

Dengan tenaga yang tersisa, ia memaksa tubuhnya untuk bergerak. Menggerakkan tulang dan sendinya yang terasa remuk. Setidaknya untuk menjaga permata kecil-nya tetap berkilau. Dengan mengejutkan, Fatimah bangkit. Ia lalu berjalan mendekati Hilya yang menangis. Fatimah memegang tangan Hilya lalu menuntunnya untuk meny-elamatkan diri karena sudah tidak cukup tenaga untuk menggendong putrinya itu.

Hilya dan Fatimah akhirnya bisa selamat dari kepun-gan api. Namun, tiba-tiba saja Fatimah jatuh terhuyung. Fatimah sudah ada di ambang batas kemampuannya. Se-bagian tulang belulang Fatimah sudah remuk. Ia mera-sakan rasa sakit yang luar biasa. Hilya hanya bisa menan-gisi keadaan bundanya. Ditengah keadaannya yang begitu memerihatinkan, Fatimah mencoba menggerakkan tan-gannya. Mengusap air mata yang tergaris di pipi putrinya. “Hilya sayang..., jangan bersedih”. Ucap Fatimah dengan suara parau. “Bagaimana Hilya tidak sedih jika keadaan Bunda seperti ini”. Keluh Hilya. “Bunda baik-baik saja say-ang”. Jawab Fatimah. “Bunda bohong!” Hilya masih tak percaya atas perkataan bundanya. “Sayang..., Bunda baik-baik saja. Meski tubuh bunda terasa sakit, tapi hati bunda merasa senang. Karena jika kita mencintai sesuatu karena Allah, semuanya akan terasa indah”. Ucap Fatimah dengan suara yang semakin habis. “Hilya..., Bunda mencintaimu”.

Ujar Fatimah sembari mengusap rambut Hilya.

Keadaan Fatimah semakin melamah. Kesadarannya mulai hilang. Matanya memejam perlahan hingga akhirnya ia benar-benar tak sadarkan diri. “Bunda, bangun!” teriak Hilya. Hilya menangis hebat. Hati kecilnya sudah tak mam-pu lagi menanggung beban kepedihan. Beban perasaan yang ia alami begitu berat, hingga akhirnya ia pun juga ke-hilangan kesadaran. Hilya pingsan, lalu tergeletak di samp-ing bundanya.

Malam hanya bisa terdiam merenung menyaksikan bagaimana kejamnya guratan takdir menguji cinta kasih suci mereka. –Hilya dan Fatimah-

*****

Hilya terbaring lemas di atas tempat tidur dengan tangan yang terhubung dengan selang infus. Ia ditemani oleh bermacam-macam alat kedokteran modern serta bau khas obat-obatan, juga bibinya yang sedang tertidur di se-belahnya.

Kesadaran Hilya lekas kembali. Namun ia masih enggan membuka matanya. Hilya merasa seluruh persen-diannya sulit digerakkan. Mungkin karena seminggu sudah ia terbaring dan tak pernah menggerakkan anggota tubuh-nya.

Hilya perlahan membuka kelopak matanya. Namun betapa terkejutnya ia ketika kegalapan yang biasa men-emaninya telah terusir dari pandangan matanya. Lampu

neon yang bertengger di plafon menyilaukan pandangan-nya dan sesaat membuatpandangan-nya terkejut. Sekarang ia sudah bisa melihat. Sesuatu pasti telah terjadi pada matanya.

Hilya mengedarkan pandangannya menyusuri seisi ruangan. Semua terlihat aneh dan asing baginya termasuk orang yang sedang tertidur di sebelahnya. Saat itu pula ia teringat Bundanya. Ia sudah tak sabar melihat melihat wa-jah cantik bundanya. Lantas Hilya berusaha untuk duduk. Suara gerak tubuh Hilya membuat bibinya terbangun. Me-lihat kemenakannya terbangun, Fatma begitu bahagia. “Al-hamdulillah..., akhirnya kamu siuman”. Ujar Fatma yang su-aranya seakan tak asing bagi Hilya. “Ibu siapa?” tanya Hilya bingung. “Saya Bibi Fatma. Hilya tidak ingat?” tanya Fatma terheran. Hilya berpikir sejenak. Benarkah orang yang ada di depannya adalah bibinya. “Maaf, Hilya hanya ingat su-ara Bibi”. Tutur Hilya. Fatma baru ingat, kemenakannya itu pasti merasa asing dengan dirinya karena baru kali ini Hilya melihatnya.

“Bibi..., Bunda ada dimana?” tanya Hilya. Menden-gar pertanyaan itu, Fatma hanya terdiam. “Bunda dimana?, Hilya ingin sekali melihat wajah cantik Bunda.” Ujar Hilya. Fatimah semakin bingung. Akankah dia harus mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Berbohong pun mungkin akan menimbulkan dampak yang lebih buruk di kemudian hari.

Akhirnya tekad Fatma sudah bulat. Ia harus jujur ke-pada kemenakannya meski pahit dan getir kepedihan ha-rus ditanggungnya. Fatma sudah siap menanggung segala

konsekuensi atas tindakannya ini. Fatma perlahan menge-lus rambut Hilya sembari berkata “Sayang..., Bundamu su-dah dimakamkan lima hari yang lalu”. Mendengar itu, kes-adaran Hilya menghilang kembali. Tubuhnya terhuyung. Ia tak sadarkan diri.

*****

Seminggu sudah Hilya tinggal di Rumah Hasan dan Fatma –paman dan bibinya- sepulang dari rumah sakit. Dan semenjak itu pula, ia tak pernah tersenyum. Dia selalu men-gurung diri di kamar. Bahkan untuk sekedar makan saja, Hasan dan Fatma harus sedikit memaksanya. Keadaan Hi-lya membuat Paman dan Bibinya merasa iba.

Fatma membuka pintu kamar Hilya dan didapatinya kemenakannya itu sedang duduk di atas tempat tidurnya dengan wajah murung. Fatma masuk disusul Hasan. Mer-eka lantas duduk di samping Hilya. “Hilya, Bibi tahu saat ini kamu sedang sedih. Tapi jangan sampai kesedihan ini menjadi terlarut-larut, Sayang”. Hibur Fatma. “Benar Hilya, tidak ada gunanya kamu seperti ini terus”. Sambung Hasan. Ia lalu mengeluarkan Handphone dari sakunya. “Hilya, se-belum meninggal, Bundamu sempat menitipkan pesan ke-pada Paman. Dengarkan Nak!” ujar Hasan sembari memu-tar rekaman suara. Terdengar suara parau...

Assalamu’alaikum Hilya...

Kamu masih ingat dengan suara Bunda kan?, Hilya, mungkin di saat kamu mendengar rekaman suara ini, Bunda sudah tidak lagi bersamamu. Dan tak akan pernah bisa

samamu lagi. Tapi itu bukan alasan untuk bersedih, Nak. Meski Bunda sudah tak lagi ada, tapi Bunda akan se-lalu bersamamu. Dalam setiap pandanganmu. Dalam setiap rasa syukur pada Rabb-mu. Bunda titipkan mata ini. Bunda harap kamu bisa lebih bahagia. Setidaknya kamu bisa untuk melihat betapa indahnya ciptaan tuhanmu.

Sayang..., Bunda harap, kamu bersedia mengenyam pendidikan di pesantren. Di sana kamu akan mempelajari banyak ilmu, melanjutkan hafalanmu Al-Qur’anmu, berke-nalan dengan teman baru, dan masih banyak lagi.

Sayang..., cintailah Al-Qur’anmu!, cintailah paman dan bibimu!, cintailah orang disekelilingmu!, cintailah semua yang baik untukmu!. Karena, jika kita mencitai ses-uatu karena Allah, semuanya pasti akan terasa indah.

Hilya..., Bunda mencintaimu. Bunda mencintaimu karena Allah.

Wassalamu’alaikum

Pesan dari bundanya, seakan membangkitkan kem-bali semangat hidupnya. Ia sadar, kesedihannya tak akan mengubah apapun. Dan sampai kapan pun bundanya tak akan pernah kembali. Yang harus ia lakukan sekarang adalah membuka lembaran hari barunya. Memandang masa depannya. Masa depan cerah yang sudah menanti-nya.

Pembawa acara naik keatas panggung megah nan elegan dengan dekorasi yang bertuliskan ‘Wisuda Tahfidz Pondok Pesantren Darunnajah’. Sorot lampu warna-warni membuat seting panggung semakin meriah. Suara berge-muruh. Ada sekitar seribu orang yang hadir untuk menyak-sikan acara akbar ini.

Pembawa acara itu mulai mendekatkan mikrofon ke arah mulutnya. “Para hadirin, saat yang di tunggu-tunggu telah tiba. Akan kami bacakan nama-nama Wisudawan ter-baik pada tahun ini”. Ujar pembawa acara itu dengan se-mangat berapi-api. Audien seketika terdiam. Mungkin saat inilah yang paling mendebarkan bagi mereka. Tentunya mereka berharap putra-putri mereka terpangil namanya. Nama demi nama telah dipanggil. Satu persatu dari mer-eka naik ke atas panggung untuk mendapat penghargaan. Hilya hanya duduk sembari tersenyum turut bahagia atas perstasi sahabat-sahabatnya.

“Para Hadirin..., wisudawan tahfidz terbaik pada tahun ini jatuh pada saudari...” pembawa acara mem-perpanjang nada bicaranya diiringi instrumen musik yang membuat audien lebih tegang. “Hilya Tazkiyatus Shofa”. Ucap pembawa acara itu. Hilya begitu terkejut. Ia tak me-nyangka bahwa namanya akan dipanggil sebagai wisu-dawan terbaik.

Hilya berdiri meninggalkan tempat duduknya. Lan-tas berjalan pelan naik ke aLan-tas panggung. Sebuah piala be-sar dengan tulisa ‘wisudawan tahfidz terbaik’ disodorkan kepadanya. Dan tanpa keberatan, bahkan dengan senang

hati Hilya menerimanya. Semua bersorak. Suara tepuk tan-gan menggema di mana-mana.

Hilya tersenyum begitu manis. Semanis nama yang dimilikinya. Ia sadar, semua ini tidak bisa diraihnya sendiri. Tapi atas bantuan semua orang di sekelilingnya. Semua orang yang dicintainya. Sebagaimana pesan bundanya. “Jika kita mencintai sesuatu karena Allah, semuanya akan menjadi indah”.

Selendang merah menyeruak di atas langit jingga, hem-busan angin membawaku hanyut dalam sebuah rasa yang tak tahu harus memacu.Semilir angin dari ranting-ranting pohon seakan berbisik kepadaku untuk aku yakin akan sebuah tekad dalam dadaku.Narendra namanya gadis yang akrab di pang-gil “Raya” itulah aku begitu banyak hal yang harus aku lewati untuk menggapai siapa aku yang sebenarnya.(!).

“Ray, nglamun aja “.

“Eh, kamu rif. Iya aku lagi bingung.Aku ingin menemu-kan jati diriku yang sebenarnya”..

“Maksutmu ? “.

“Ya, seperti bakat terpendam “.

“Ada-ada saja tingkahmu nih ya, aku kasih tau tim-bang kamu nglamun yang ujung-ujung nya bisa kesambet mendingan kamu ikut aku ke perpustakaan.

“Gimana ya ? ya udah deh, ayo”.

Buku yang tertata rapi sudah tetap didepan mataku, setiap langkah aku sempatkan untuk memilih memilah

AKU BUKAN MANUSIA YANG