nyleneh. Bayangkan saja. ada orang yang kebal senjata. Kulitnya tak mampu ditembus senjata jenis apa saja. Mu-lai dari keris buatan empu gandring sampai samurai dari Negara jepang tak mampu menggores kulitnya. Ada lagi orang dalam kurun waktu 40 hari tak makan apa-apa, nyat-anya masih bisa hidup menikmati indah ciptaan tuhannya. Bahkan yang super aneh lagi, ada orang yang sudah mati bisa hidup kembali bilamana jasadnya menyentuh tanah. Orang-orang menyebutnya dengan ilmu rawarontek. Satu lagi kehebatan lainnya. Yaitu weruh sakdurunge
wina-rah (mengetahui suatu hal yang akan terjadi dimasa yang
akan datang). Tidak rasionalkah semua hal itu..??.kakek ku adalah salah satunya. Nama asli beliau marsidi. tapi orang-orang menyebutnya dengan nama laqob mbah geng. di juluki begitu, konon dulu kakekku adalah mantan ketua brandal yang sangat disegani banyak orang karena yang di satroni adalah para tikus berdasi yang tak tahu diri. tapi sayang, seminggu yang lalu, tepat diusianya ke-105. kakek meninggal dunia.anda pasti bertanya-tanya mengapa usia kakekku begitu panjang. beliau tidak minum obat apa-apa. Makan pun tidak teratur. jika ada makanan, ya makan. kalau tidak,..? ya puasa. tapi beliau sangat bersyukur ter-hadap rizki yang dimilikinya. beliau tak pernah mengeluh. orang desa ku menyebutya” nrima ing pamdume gusti”.ya mungkin itu resep atau amalan tersirat orang jawa untuk masalah panjang umur. beliau sempat berwasiat kepadaku sebelum wafat bahwa ada tiga hal penting yang harus di-jaga.aku masih ingat ingat betul nada bicaranya. “jagalah tiga perkara ini. niscaya akan tetap aman. yang pertama,
jagalah silaturahmi dengan sang khailik. Ke-dua, jagalah silaturahmi dengan sang pembawa risalah. Ke-tiga, jaga-lah silaturahmi dengan negara”. masih teringat aku ekpresi kakek saat mengucapkan wasiat itu. aku tak tahu tafsir dari perkataannya .entahlah. biarlah waktu yang menyingkap tabir wasiat kakek.
*********
Angin sepoi-sepoi berhembus lambat dari kaki gu-nung sembung. menyapa pepohonan yang rindang. aku berjalan menyusuri jalan setapak desa seusai pulang seko-lah. terlihat bayanganku condong ketimur berbalik arah dengan sang surya. kulihat jam tangan tua warisan dari kakek yang penuh dengan nilai historis dan filosofis bagi ku. Sial..!!! jam 12.30 WIB. aku harus membeli beras ditoko Bang Badrul. kalau tidak wanita yang paling kucinta pasti akan mengomel tiada henti layaknya penyiar radio. apa mungkin dulu ibuku mantan penyiar radio...? lah malah mengayal yang tidak-tidak saja.kupercepat langkah kaki ini agar segara sampai ketoko. ah..syukurlah tokonya belum tutup. terlihat suasana toko sepi. hanya terlihat dua orang. Bang badrul dan Isnaini, anak perawan satu-satunya.
“eh juki. Mau beli apa”. sapa Bang badrul setelah meli-hat kedatanganku.
”ini pak.disuruh ibu buat beli beras sekilo aja”. ucap ku pelan.
“Oh.beras nya masih didalam rumah.tunggu bentar biar diambilkan isnaini”. sambil memanggil anak nya yang
lagi di depan rumah.tapi tak ada respon. tak lama berse-lang terdengar suara keras Bang badrul memarahi isnaini.
“ healah nduk-nduk ditimbali ket mau ra semaur
jeb-ule musikan karo ketap ketip ngguyu dewe. Ojo koyo wong gendeng anyaran ngono low. penggaeyan kok tiktok.an gak jelas nguno”. spontan isnaini ngeloyor sambil cemberut
mengambil beras dan membawanya ketoko. kutatap wa-jahnya merah seperti udang rebus, mungkin dia tahu kalau aku mendengar saat ia dimarahi.
”maaf mas nunggu lama, ini berasnya”. ucap isnaini sambil menyodorkan buntalan berisi beras.
”Iya.gpp.terima kasih”. balasku singkat. aku juga tidak habis pikir kenapa demam virus tersenyum sendiri didepan handpone sambil menggerakkan tangannya itu sangat
nge-trend di kalangan anak remaja. Katanya biar dianggap “kids zaman now”.beginilah pola pikir generasi micin. Tak punya
ekspektasi untuk melangkah ke depan. Hanya mengikuti arus tanpa bisa memfilter dampak baik dan buruknya. Ter-lena sosial media sehingga membuat dirinya sibuk sendiri didunia maya sampai tak tau keadaan dunia aslinya. ah bi-arlah, yang setres dirinya kok aku yang ikut memikirkanya. Ku percepat langkah ku karena tersadar bahwa matahari semakin condong kebarat.
*********
Ana kidung akadang premati Amung tuwuh ing kuwasanira
Kakang kawah puniko kang rumekso ing awak mami
Samar-samar kudengar suara nenek Ella Kharisma se-dang menyanyi dibawah pohon mangga samping rumah sambil merajut kain. Beliau mantan biduan papan atas dizamannya. Nenek tersenyum melihat kedatangan ku.
“assalamu’alaikum”. ucapku sambil mencium pung-gung tangan nenek.
“Wa’alaikum salam. berasnya sudah dikasihkan ibu nak”
“Sudah nek”. Jawab ku singkat. terjadilah pembicara-an hpembicara-angat pembicara-antara kami.maklum nenekku spembicara-angat senpembicara-ang kalau soal ngrumpi, apalagi kalau aku yang jadi lawan bi-caranya. Mulai dari topik yang ringan. Seperti kegiatan di sekolah, Ngrumpiin tetangga sebelah, mengkoreksi ma-salah ekonomi keluarga. bahkan Sampai ke level politik. maklum sekarang hawanya sedang panas-panasnya. mu-lai dari pemilihan gubernur hingga presiden.banyak calon berorasi menjanjikan kemanisan hidup bagi rakyat.tapi entah setelah duduk dikursi DPR.apakah masih ingat den-gan janji-janjinya.atau mungkin hanya semanis tebu.manis dirasa sepah dibuang.banyak partai saling adu kekuatan. mengklaim dirinya sendiri sebagai yang paling jujur, adil, dan sebagainya.sehingga percikan perebutan kursi kekua-san antar partai tak dapat di elakkan.
” Ah.biarlah nek. Itu memang kerjaannya orang pintar
tapi tak kenal aturan”.ucapku begitu saja.disambut dengan kekehan tawa sang nenek.disaat sedang asyik mengobrol dengan nenek, tiba-tiba terdengar teriakan seseorang. Sumber suaranya berasal dari ujung jalan depan rumah ku. tak lama berselang muncullah orang dengan menggunak-an pakaimenggunak-an layaknya bupati berjalmenggunak-an sambil mengacung acungkan tongkat yang digenggam tangan kanannya.ia berteriak teriak layaknya caleg sedang berorasi.
“Itu siapa sih nek”.tanyaku penuh selidik.
“Cak gareng tetangga desa sebelah. dia itu kemarin ngotot ikut mencalonkan diri jadi bupati, tapi gak kepilih. SMP aja gak lulus kok ngotot jadi bupati. tanahnya semua dijual demi memuluskan mimpinya. namun sayang eks-pektasinya terlampau tinggi untuk diraih.dia jatuh dan tak mampu bangun lagi.dan sekarang begitulah kondisinya. gila hanya karena mengejar dunia semata.mungkin itu tafsir wasiat perrtama dari almarhum kakekmu”.
“Loh..nenek tau wasiat kakek”. tanyaku kebingungan. “Apa yang tidak kuketahui dari kakekmu”.jawab nenek singkat.nenek pun menjelaskan padaku akan maksud dari tafsir wasiat kakek yang pertama. Bahwasaannya kita seb-agai makhluk harus tetap ingat pada sang khalik.sesung-guhnya semua yang berada didunia fana ini hanya titipan dari nya dan akan kembali padanya.orang jawa menyebut-nya dengan sangkan paraning dumadi. Orang islam islam menyebutnya inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.maka dari itu kita sebagai makhluk harus senantiasa mendekatkan
diri dengan sang khalik. hari semakin sore. sang mentari hendak berotasi bergeser menuju planet yang lain. Burung-burung berterbangan kembali kesarangnya. senja disore itu menjadi saksi bisu terbongkarnya wasiat kakek yang pertama.
*********
Zaman iki
Aku urip ing wolak-walik.e zaman Rahwana nyamar dadi arjuno Maling nyamar dadi wong penting
Negoro digawe rugi
Amergo ndoro bei wes gak duwe aji
bait demi bait puisi karya pujangga terkenal sedang dibacakan di salah satu siaran radio swasta, dengan nada yang sangat menyayat hati .dimalam yang tengah dirund-ung menddirund-ung nestapa tanpa indah sinar rembulan .di-warung cak gareng malam itu. Aku, paidi, kajar, dan tejo sedang menjalani rutinitas kami, “ngopi Bareng ben gak
sepaneng” kami menyebutnya.kami berempat Tergabung
dalam”respect crew”.Yakni cangkruk bareng sambil ngalor ngidul membicarakan masalah ter-update disekitar kami. apalagi setelah kedatangan kami disambut dengan puisi dari radio tua barusan. Pecah sudah suasana di warung cak gareng.
”pancen jamane saiki hukum akeh seng ditawar karo
bondo dunyo. Mosok bupati kesandung masalah korupsi iseh kepileh. opo ora lucu?”.kelakar paidi, anak paling tua
usiannya diantara kami berempat.
”ketika ada uang, hutan belantara sekalipun bisa di-jadikan laut olehnya.ancen dunyone wes nyidek.i kiamat”. Imbuh tejo.tiba-tiba setelah perbincangan itu. aku teringat akan wasiat kakek.
”bro.aku kok teringat wasiat kakek setelah pembicara-an kita baruspembicara-an “.
“Maksudmu masalah tiga silaturahmi??”.tebak kajar seolah dia tau apa yang sedang aku maksud. Maklum dia masih punya jalur nasab dengan roy kiyoshi, paranormal yang sedang naik daun di acara TV swasta itu.
”oke. itu bisa jadi deskripsi masalah untuk semalam suntuk kali ini”.sahut tejo.
”seperti pagelaran wayang kulit saja pakai bahasa se-malam suntuk”.sanggah ku.
” Eits.... jangan salah, fa’ fu ‘anhum was taghfirlahum
wa syawirhum fil amr”.entah.jin apa yang telah merasuki
temanku tejo sehingga dia dengan fasih nya ndalil bak kyai khos. Tak menunggu lama. Warung cak gareng seketika berubah menjadi forum debat respect crew. Aku. Tejo. Dan yang lain saling beradu argumen. Pada wasiat yang keduay-ang berbunyi “silaturahmi dengan skeduay-ang pembawa risalah”. kami punya tafsiran sendiri-sendiri soal hal ini.ada yang mengkaitkanya dengan kurang ziarah kubur ke makam ra-sulullah. Ada yang nylonong mengambil makolah dari mbah mahatma gandhi, seorang tokoh nasionalis india. Ada yang
mencuplik dawuhnya gus dur. Ya beginilah kerjaan kami, Berfikir kritis dan logis di setiap sendi masalah yang diha-dapi.maklum, pemuda calon intelek masa depan(khayalan yang ingin jadi kenyataan). Biarlah kami menghayal seting-gi lanseting-git. Jika kami tak mampu meraih sinarnya rembulan. Setidaknya kami masih berada di sekitar gemerlap bintang yang berpijar.dan akhirnya kamipun dapat menarik benang merah dari wasiat kedua kakekku. bahwa makna tersirat dari wasiat tersebut adalah dimana selama manusia ma-sih menjalani apa yang diperintahkan sang pembawa ri-salah (rasulullah) dengan cara mengamalkan baik dari segi tutur kata.tingkah laku. Dan semua akhlakul karimahnya. maka negara ini masih aman. Tapi sayang, Manusia zaman modern tak pernah bersilaturrahmi kepada sang pembawa risalah. Otak mereka telah tercuci dengan pemikiran kapi-talisme liberalis. Berfikir rasionalis tanpa melihat hati nura-ninya.jika kholifah di bumi ini terus dihuni orang semacam itu. Kiamat tidak akan lama lagi kawan. Janji allah pasti ter-jadi, tinggal tunggu schedulenya.
*********
Lingsir wengi Lingsir wengi Sepi durung biso nedro Kagodo mreng wewayang
Kang ngreridhu ati
Dinginnya semilir angin malam begitu menusuk se-tiap insan yang masih berihtiar, menguak tabir ilahi akan
kedahsyatan al-lail.malam ini cuaca sedang tidak bersa-habat, rembulan tertutup gumpalan awan tanpa ditemani bintang-bintang.ditambah lagi nyanyian si-jangkrik mem-buat malam ini semakin mencekam. Malam ini Bertepatan dengan malam jum’at kliwon. Konon jum’at kliwon identik dengan hal-hal berbau mistik.dan sial nya lagi. Aku harus pulang kerumah sendirian dengan rute yang terkenal horor, sebut saja tikungan dekat rumah pak kades yang rumornya bersemayam pocong. Kuntilanak penunggu Jalan beringin kembar wa akhowatuhuma. Tak sadar bulu kudukku me-rinding. Dengan hati yang berdebar-debar.kaki yang tak bisa tenang.mulutku tak henti-hentinya membaca shola-wat. Ku susuri jalanan desa yang minim penerangan.tepat didepan jalan yang terdapat beringin kembar. Nyaliku yang semula ciut semakin menyusut karena aura berbeda mu-lai menyelimuti tubuh kurusku. Rimbunan pohon beringin menari pelan setelah terhempas udara malam.ditambah banyaknya akar beringin yang menjuntai bergelayutan kebawah menambah aura negatif sehingga aku terhipno-tis olehnya.tiba-tiba dari arah belakangku ada sekelebat bayangan putih.entah mengapa, seketika itu juga, kakiku tak dapat digerakkan, seperti ada tangan yang menceng-kram. Tidak disangka, dari atas pohon beringin bermuncu-lan sosok abstral beraneka macam bentuk. Pocong. Kunti. Tuyul. Wewe. Dan masih banyak lagi yang lain.semuanya terbang megitariku. Posisiku sekarang ditengah mereka. Takut, bingung, meluap menjadi satu. Cucuran keringat mulai membasahi tubuhku. Untuglah aku ter ingat dawuh dari pak yai bahwa makhluk halus harus di lawan dengan
keberanian, karena mereka hanya mengganggu orang yang takut padanya. GAWAT!! Mereka menatapku tajam setajam tatapan singa ketika sedang mencari mangsa. Kuberanikan membalas balik tatapan tejam mereka sambil tersenyum mengejek.
“ hey anak ingusan, tak takut kau atas kehadiranku disini”. Seru tuyul, hantu menakutkan tapi juga mengge-maskan. Tak ku gubris omongannya dan kutambah lagi intensitas ketajaman indraku ke arah mereka. Merekapun tak berkutik sebab tatapanku tadi. Seperti mendapat an-gin segar. Ku permainkan mereka sehingga ia pun meny-erah tanpa syarat. Tapi anehnya mereka tidak segera per-gi. Malah mengajakku sharing layaknya teman lama yang baru bertemu setelah sekian lama tak berjumpa. Seperti halnya tuyul. Ia bercerita padaku bahwa ia sudah lama ingin pensiun dini walaupun sebenarnya usia nya masih tergolong anak kecil. Karena ia tak kuat menahan fitnah terus menerus. Ia selalu dituduh biang pencurian. Pada-hal ia hanya menginginkan kebahagiaan bermain layaknya anak kecil lainnya. Tapi karena otak jahat manusia tak be-radab mempolitiki tuyul dengan menyuruhnya mencuri uang dengan imbalan kepiting yang menurut tuyul adalah mainan termewah bagi rasnya. Yang lebih ngenes lagi, ma-nusia menemukan cara yang super bodoh lagi. Dengan cara menyamar jadi orang sok penting, rapat sana-sini, duduk di singgasana pemerintahan dengan niat yang picik. Meng-gondol dana pembangunan negri demi keuntungan kan-tong pribadi. Jadi sekarang siapa dalang dibalik nama “ syetan” sesungguhnya. Jin atau Manusia..??. Ada lagi
han hati dari gendruwo. Makhluk berbadan tinggi besar bercorak hitam. Walaupun ia menyeramkan. Tapi faktanya Ia sangat sayang pada keluarganya. Jika ada tangan-tangan usil berani mengusik ketentraman keluarga. Ia akan maju di garda terdepan demi melindungi keluarganya. Apalagi soal tempat tinggal. Ia sangat menjaga betul wilayah teri-torialnya dari berbagai mara bahaya yang mengancam ke-daulatannya. Beda jauh dengan manusia zaman sekarang. Sudah diberi nikmat keluarga yang harmonis , eh malah diajak bergabung dengan aliran sinting. Mengkoar-koarkan negara ”khilafah” dengann jalan jihad dalam arti sempit, kerena mereka tidak menganalisa lebih jauh tentang ma’na jihad yang sebenarnya. Tergiur hadiah “surga”. Entah surga siapa yang ia maksud. Emang dia panitia calon penghuni surga. Anak kecil juga tahu kalau bunuh diri adalah hal ter-bodoh. Tapi mengapa mereka melakukannya dengan over
confident. Parahnya lagi yang ia rusak adalah tanah
kela-hirannya sendiri, yang telah membesarkan, menghidupi, serta mengajarinya berbagai macam hal. Emang gak tau terima kasih tuh orang. Begitulah type orang bertitle “jahil
murokab”. dari pertemuan singkatku dengan para
makh-luk gaib barusa, wasiat ketiga kakek akhirnya terpecah-kan, bahwasannya kita sebagai manusia yang memiliki tanah kelahiran harus mempertahankan kedaulatan tanah air yang telah banyak berjasa. Seyogyanya sebagai putra bangsa yang baik menjaga dan mengusahakan yang ter-baik untuk tanah kelahirannya. Mempertahankan persatu-an menyisihkpersatu-an problem perbedapersatu-an dari berbagai aspek. Bukan seperti golongan “gak waras kurang sak sendok”,
yang pekerjaannya cuman membuat keonaran. Membuat isu ditengah keramaian. Mengancam dengan rakitan ran-jau yang siap diledakkan. Menodai nama baik ISLAM. Dasar otak udang. Satu lagi moral value yang bisa aku ambil dari makhluk gaib tadi. Mereka mengajarkan kepadaku bahwa orang buta bukanlah orang yang tidak bisa melihat karena kehilangan indra penglihatannya. Orang buta sebenarnya adalah orang yang tidak bisa melihat kemunkaran diseki-tarnya dan acuh tak acuh terhadap kemunkaran tersebut. bisa melihat uang tapi tak bisa membedakan uang pribadi dengan uang untuk kepentingan negri. Tidak bisa membe-dakan istri sendiri dengan istri tetangga.Ahh, istri tetangga. Kali ini aku dapat guru baru. Guru tanpa gelar. Guru yang menyamar sebagai biang kemunkaran. Ialah tuyul dan gen-druwo. Pendidikan bisa kita cari dimana saja dan kapan saja. Bahkan dari syetan.seperti dawuhnya guruku “ am-bil yang baik buang yang buruk “. Sekian cerita pendek ini. Walaupun masih banyak cacat didalamnya. Semoga dapat menjadi bahan renungan kita semua.
Selesai
Langit ufuk pesisir mulai menampakkan keanggu-nannya. Semburat cahaya jingga perlahan menyentuh cakrawala penghujung barat sembari mewarnai awan sore itu, hingga ia nampak seperti selendang merah yang terti-up angin. Angin sore berhembus pelan memainkan ujung kerudung putih yang dipakai gadis kecil itu. Ia duduk meny-endiri di dekat rimbunan pohon jati yang berjarak tak jauh dari rumahnya. Mungkin ia sedang meluangkan waktu un-tuk sekedar menikmati sunrise sore itu. Atau mungkin juga tidak. Karena nampaknya ia tak begitu menyukainya. Raut kesedihan terukir jelas di wajah polosnya.
Hari mulai beranjak gelap. Namun ia tak kunjung in-gin meninggalkan tempat itu. Entah apa yang ada dalam benak gadis kecil itu. Ia masih tetap ingin bersama kesepi-an ykesepi-ang baginya adalah sahabat terbaik. Tkesepi-anpa ia sadari, seseorang telah duduk di sebelahnya. Mencoba mengusir sepi yang sedari tadi menemaninya. “Hilya, kenapa kamu di sini?” tanya orang itu. Gadis kecil itu begitu hafal den-gan suara yang baru saja ia dengar. Suara orang yang selalu mencurahkan cinta kasih untuk dirinya. Suara orang yang ia panggil ‘Bunda’.