OLEH : SUFIYANA NUR M. XI MIA 2
eka kembali ke rumah dan telah menjadi lelaki yang gagah dan tampan. Aku senang berada didikatnya. Selain banyak bercerita, mereka selalu mengajariku banyak hal mulai dari membaca, menulis dan mengaji. Katanya, aku harus tum-buh menjadi seorang kebanggaan bangsa dan agama.
Tak hanya diriku, kedatangan kakakku membawa keuntungan bagi teman-temanku. Dengan keikhlasan, ka-kakku selalu mengajari mereka apapun yang belum mer-eka bisa. Mulai dari mengenal huruf, membaca dan menge-nal agama. Sebelumnya, yang kami tau hanyalah bermain di hutan, membakar ikan di sungai dan berburu. Tetapi sekarang, kami mempunyai banyak pengetahuan walau tak seberapa.
Lama-kelamaan aku tumbuh dewasa, aku tahu tu-hanku Allah, utusannya Nabi Muhammad, dan kitab suciku Al-Qur’an. Berkat kakakku, aku mengenal agama dan aja-ranku. Namun, saat umurku 17 tahun, ibu menyusul bapak menghadap sang Ilahi. Tetapi tak lama setelahnya, kedua kakakku menikah dengan gadis Jawa yang dulu disukainya.
Setahun berlalu, aku mulai bosan karena harus se-tiap hari membantu kakak bekerja di ladang dan di sungai. Setelah menimbang keinginanku, aku memilih untuk men-gadu nasib di tanah rantau dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Karena aku juga ingin hidup bahagia seperti kedua kakakku dan tentunya membahagiakan bapak dan ibu.
Selama tujuh tahun aku menimba ilmu di pesantren, selama itu pula aku menghidupi kebutuhanku sendiri den-gan bekerja sampinden-gan. Setelah khatam, tak disangka aku diangkat menjadi menantu dari kyaiku sendiri. Meski berat, tapi aku tau ini hasil dan jerih payahku sendiri. Setelah me-nikah, aku tak lagi bekerja di luar karena di utus untuk ikut mengajar di pesantren. Kuserahkan diriku sepenuhnya un-tuk mengabdi pada agamaku.
Tiga tahun bersama istriku, aku berniat mengajaknya pulang ke kampung halamanku, bertemu dengan keluarga kakakku. Selama ini, aku tak pernah tau kabar darinya se-hingga aku begitu merindukannya. Setelah izin pada abah, akhirnya aku pun berangkat menaiki bis dan angkutan umum yang kira-kira akan memakan waktu lima hari per-jalanan.
Sebelum berangkat, abah juga berpesan kepadaku untuk menjaga istriku, menjaga ilmu dan agama yang telah kupelajari dan bagaimana pun keadaanya jangan pernah lupa beribadah pada Allah. Tepat setelah sarapan, aku pun berangkat.
Pagi hari, aku pun tiba di desa, tempat yang kurindu-kan dan menyimpan kenangan. Aku disambut para tetang-gaku yang berhamburan keluar rumah untuk berjabat tan-gan dentan-ganku dan istriku. Aku begitu senang bisa bertemu dengan semuanya kembali meski telah begitu banyak pe-rubahan. Kini desku telah dipasang jaringan listrik mema-dai, sehingga terpasang antena disetiap rumah warga. Aku begitu dibuat kagum dengan perubahan yang begitu cepat.
Sampai dirumah, aku langsung memeluk kedua ka-kakku untuk melepas rindu. Tak lupa kukenalkan istriku pada mereka dan kaget melihat anak-anak dari kakakku yang sudah dewasa. Malam harinya kami berkumpul di ru-ang tengah berbagi cerita dan bercanda tawa bersama. Ka-kakku juga bercerita tentang kemajuan di desaku.
Hingga larut malam, meskipun semua sudah terti-dur, aku belum juga tertidur. Entah menagapa ada sesuatu yang membuat perasaanku tidak enak. Kuputuskan untuk berwudhu dan melaksanakan sholat, mengadu pada Allah agar diberi ketenangan. Usai berdoa, aku mendengar sa-yup-sayup orang beramai-ramai teriak menyebut sesuatu, disertai lolongan anjing yang nyaring. Rasanya suara itu tak jauh dari rumahku. Akhirnya kuberanikan diri untuk keluar, berjalan diantara pohon lebat untuk mencari sumber suara itu.
Aku begitu kaget melihat ada rumah mewah di tengah hutan dengan lapangan luas ynag dipenuhi banyak orang. Mereka duduk melingkar mengahadap seorang lelaki bule yang duduk diatas kursi tinggi. Ada seekor anjing yang dipangkunya. Sebelum mereka tau, aku segera kembali kerumah dan menanyakan perihal ini pada kedua kakakku besok pagi.
Beberapa tahun lalu ada seorang lelaki asing dengan sepuluh anak buahnya datang ke desaku, mereka begitu kaya raya dan mencukupi seluruh kebutuhan penduduk, termasuk jaringan listrik, minyak tanah dan sembako yang cukup banyak. Namun ternyata kedatangan mereka tidak
berniat baik. Penduduk akan mendapatkan semua keingi-nannya asal mereka mau menyembah dan memuji lelaki tersebut.
Karena rata-rata penduduk desaku adalah orang awam yang tak tau tentang agama, dengan senang hati mereka menuruti permintaan lelaki tersebut dan setiap malam mereka berkumpul untuk menyembahnya. Kakakku yang tau itu adalah sebuah kemusyrikan pada tuhan, tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana pun caranya mereka akan tetap tidak percaya dan tak akan menghiraukan omongan kakak karena mereka tidak tau jika itu salah.
Aku begitu prihatin dengan keadaan kampungku, kuu-rungkan dulu niatku untuk mengajari mereka agama islam. Anak-anak tidak diperbolehkan belajar mengaji lagi, tidak boleh bersekolah dengan kakak lagi dan harus mengikuti perintah lelaki itu. Nahasnya lagi lelaki itu dengan seena-knya mempermainkan gadis-gadis di desaku. Sebagai orang tua yang masih mengharap bantuan lelaki itu, mer-eka dengan murah hati memberikan gadis mermer-eka walau hanya untuk ditiduri semalam. Para penduduk senang ber-judi, minuman keras dan melakukan tindakan yang meru-sak moral dan pola pikir mereka.
Bagiku dia begitu kejam sehingga merenggut masa depan kampungku. Mereka ingin menguasai kampungku dengan segala kekayaan yang mereka punya. Siang dan malam aku berdoa, meminta tolong pada Allah agar pen-duduk kampung segera diberikan jalan hidayah dan sela-mat dari kubangan dosa dan tidak mendapat laknat Allah.
Sebulan sudah aku berada disini, entah mengapa aku tak mendapat ketenangan saat beribadah setiap hari. Malam ini aku mengantar kepergian kedua kakakku dan kakak berpesan agar aku tetap menjadi adik yang memba-hagiakan bapak dan ibu di akhirat kelak dan tidak menukar agamaku dengan dunia seisinya. Aku paham betul maksud mereka dan aku akan menjaga amanahnya.
Besok pagi aku juga berencana untuk kembali ke rumah abah karena abah dikabarkan sedang sakit dan me-rindukan anaknya, istriku. Kami pun bersiap mengemasi apa yang akan dibawa dan melaksanakan sholat agar per-jalanku dan perjalanan kakakku diberi kelancaran hingga tiba di tujuan.
Larut malam saat aku membaca Al-Qur’an dan istriku tidur pulas, aku mendengar suara penduduk berteriak me-nyebut namaku yang semakin lama semakin mendekat. Aku segera menyelesaikan bacaanku dan melihat ada apa diluar rumah. seluruh penduduk berkumpul di depan rumahku, membawa obor dan terus meneriaki namaku dan berkata kotor. Di depan sendiri ada lelaki asing itu dan dibelakangnya ada sepuluh orang yang kukira adalah anak buahnya.
Hatiku tak luput untuk terus berdzikir, menyebut nama Allah dan memohon pertolongan dari-Nya. Istriku mendekapku drai belakang, tubuhku dingin dan terasa ber-getar menghadap mereka yang terus mencaciku.
ada seorang pun yang tak memujanya. Ia murka padaku, bertanya padaku apa yang kau sembah, siapa yang mem-berimu pertolongan dan apa yang kau baca. Semua jawa-banku salah sehingga aku mendapat tamparan keras darin-ya darin-yang melukai ujung bibirku.
Ia terus memaksaku menyebutnya tuhan, ia memak-saku menyebutnya tuhan, ia memakmemak-saku menyebutnya pemberi pertolongan dan memaksaku untuk sujud di kak-inya. Namun, dengan keteguhan hati kutolak perintahnya dengan tegas sehingga membuatku tersungkur karena di-tendang. Aku lemas tak berdaya, istriku menangis menco-ba mengangkatku berdiri.
Belum puas dengan penolakanku, ia memberiku buku usang yang dimaksud kitab oleh mereka. Aku menolaknya dan masuk kedalam rumah untuk mengambil Al-qur’an dan berkata pada mereka bahwa ini kitab kita, Allah tuhan kita dan tiada satu pun pertolongan kecuali dari-Nya. Lalu aku diikuti dengan istriku melantunkan syahadat sekeras-ker-asnya di depan mereka, membuat lelaki itu mengatupkan bibirnya dan membuat giginya bergemeletuk. Ia marah.
Dengan tangannya yang terkepal kuat ia meloloskan tinjuan di perutku bertubi-tubi sampai tubuhku tak kuat berdiri. Ia memukul pipiku berkali-kali hingga darah men-galir dari hidung dan mulutku. Istriku menangis sambil terus memelukku. Akupun terus memeluk Al-Qur’an di tan-ganku, mengucap dzikir pada Allah agar diberi kekuatan. Jari jemariku erat memegang jari istriku.
Setelah ia puas melukaiku dengan keras ia berteriak mengomando anak buahnya untuk menembakku. Dengan lancar peluru itu mengenai pelipisku dan sedetik kemudian mengenai perut istriku. Susah payah aku menyebut asma Allah, menatap lekat istriku yang memandangku dengan syahadat dibibirnya, sebelum akhirnya perlahan ia menu-tup mata dengan senyum di wajahnya.
Dengan sisa tenaga yang kupunya, aku mendekati tu-buh istriku yang telah kaku dan berlumur darah bersamaan dengan perginya rombongan itu meninggalkan aku yang terbaring lemah. Adarah terus mengucur dari kepalaku dan perlahan mataku terpejam saat kucium kening istriku.
Seketika itu Allah telah mencabut nyawaku dan istriku dengan kebahagianku yang besar dunia akhirat karena aku telah berhasil memenuhi amanat abah dan kakakku, men-jaga agama Allah bagaimana pun keadaannya hingga akhir hayatku. Jadilah manusia yang menangis ketika dilahirkan
tetapi tersenyum saat nyawa dilepaskan.
Hidup dalam roda ekonomi serba cukup adalah dam-baan setiap insan. Begitu pula yang didamba-dambakan oleh bapakku, dengan menanggung dua anak, yakni aku dan kakakku mereka kerap kali menembel kebolongan ekonominya dengan meminjam materi hidup dari teman karibnya atau tetangga sebelah. Memang dalam keluarga kecil ini hanya kakak lakiku yang mempunyai pekerjaan tetap, bekal skill dan kemahirannya dalam bergaul mem-buat ia mudah mendapat pekerjaan. Sedangkan ayahku telah lama menganggur karena kondisinya yang tak bisa dibilang sehat lagi dan ibuku hanyalah penjual ikan asin di pasar yang upahnya tak seberapa.
Menyaksikan realita tersebut, sering kali muncul dibenakku untuk sedikit membantu meringankan beban mereka. Tapi entahlah, bapakku tak pernah mendukung keinginanku itu. Beliau lebih membanggakan kakakku me-lebihi diriku. Hal itu yang membuatku tak betah tinggal di rumah, aku sudah beberapa kali bilang padanya bahwa aku ingin pergi untuk mencari pekerjaan, namun bapak dan ka-kakku malah meremehkanku dan tak pernah mengizink-anku keluar dari kampung.