• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKU BUKAN MANUSIA YANG TAK BERTUHAN

buku yang menurutku menarik hingga pada akhirnya mataku tertuju pada salah satu buku tentang sastra. Entah mengapa ! akupun juga tak tahu, berbalik dengan keadaan Rifa yang suka membaca aku lebih menyukai menuangkan imajinasiku melalui karya-karya seperti tulisan .

***** “Ray, karyamu bagus juga !“.

Kata-kata dari Rifa membuatku semakin yakin bahwa sastra adalah duniaku yang selama ini aku cari, ku kem-bangkan perlahan-lahan dengan modal seadanya seperti kertas dan bolpoin kata per kata aku sambungkan hingga membentuk runtutan cerita yang menarik.

“inilah aku yang sebenarnya dengan duniaku “ gu-mamku dalam hati, tetapi disisi lain aku juga memendam takut yang amat dalam pada ayah.Jika ayah tidak meny-etujuinya, pasti semua akan sia-sia.

*****

Hidup dimana aku harus mempertimbangkan pilihan, yang teramat sulit dalam kehidupan bukanlah masalah tetapi setiap proses yang dialami ketika menuju kesuksesan begitu juga aku, ayahku yang seorang pemuka agama ter-kenal menutup kemungkinan untuk menjalankan hobbiku ini sedangkan ibuku yang bersifat fleksibel hanya mampu menuruti kata ayah, lalu bagaimana dengan aku ? tiba-tiba ibu membangunkan lamunanku “Raya”

“kamu kenapa ? akhir-akhir ini katanya Rifa kamu sering melamun “.

“enggak papa kok bu “.

“ayolah nak, cerita sama ibu “.

“bu, Raya ingin kuliah Sastra di Jogjakarta, tapi ...”. “sudah bisa ibu tebak, maafin ibu ya nak.Ibu nggak bisa nuruti keinginan kamu.Kamu kan tau sendiri ayahmu seperti apa.”

“iya b, Raya faham Raya akan coba bujuk ayah”. Ibu hanya mampu menenangkan kacaunya fikiranku.

*****

Benda berlayar kotak sudah dihadapanku, aku sangat bahagia dapat memilik nya tanpa harus meminta kepada ayah.

“hey nak, apa gunanya kamu setiap hari di depan layar laptopmu itu! Nggak ada gunanya mendingan kamu bantu-bantu ibu di dapur atau mengaji di mushola “.

Itulah kata-kata ayah yang selalu di lontarkan kepada-ku setiap akepada-ku memulai mengetik imajinasikepada-ku.Hal itu sangat biasa ku dengar meskipun begitu, aku tetap yakin aku bisa menghasilkan karya yang bermanfaat untuk banyak orang. Aku berkuliah di Jurusan Agama tapi dibalik itu semua aku bangkit lagi, aku akan tunjukkan pada ayah dan ibu bahwa, aku bisa mencapai kata sukses dengan caraku.Diam-diam

sepulang sekolah aku selalu menyetorkan hasil imajinasiku pada prosedur melalui warnet, alhasil selalu gagal hingga pada akhirnya aku mempunyai sebuah ide untuk menulis-kan sebuah cerita yang yang berjudul “ Aku Bumenulis-kan Manusia Yang Bertuhan “ dan cerita tersebut akhirnya aku kirimkan ke prosedur dan hasilnya bagus, diterima.Begitu baha-gianya rasanya, bahkan ceritaku menjadi best seller dan mengalami penjualan terbanyak, dan kini aku telah men-jadi penulis yang popu;ler di kalangan Remaja.

*****

“Ray, maafkan ayah, ayah menyesal sekarang “.

“nggak ada yang perlu di sesali yah ! Raya bahagia, sekarang Raya sudah bisa mengembangkan potensi Raya “.

“apakah kamu masih mau bersekolah ke Jurusan SAS-TRA, jika kamu mau, ayah akan daftarkan kamu “ tanya ayahku.

“enggak yah !Menulis adalah hobbyku sedangkan kemauan ayah adalah nomor satu bagiku, aku tidak ingin menjadi anak durhaka tetapi , aku harus menjadi anak yang berbakti pada ayah dan ibu sampai akhir hayatku.

*****

Hidup bukan untuk mengejar apa yang di cita-citakan melainkan mengikuti alur yang sudah ditentukan oleh tuhan, berusahalah niscaya tuhan akan membantumu dalam segala hal tetapi, tetaplah ingat kita boleh berencana tetapi tetap saja tuhan yang menentukan dan aku juga tidak pernah menyalah

kan siapapun.Hingga pada saatnya aku telah lulus SMA dan datanglah masa dimana aku harus belajar menekuni hobby-ku sebagai seorang penulis (haraphobby-ku).Kuberanikan bertanya pada ayah yang sedang duduk di kursi di ruang tamu

“ayah, Raya mau meminta izin ! Raya ingin meneruskan sekolah sekolah yang lebih tinggi yaitu dibangku perkulia-han “ dengan tutur kata yang lembut ayah mendengarkan keluhku”mau ambil jurusan apa nak ? “ “Raya ingin men-gambil jurusan sastra dan berkuliah di Jogjakarta “ “Raya, dengarkanlah ayah ! Agama itu penting nak,amal penting apa kamu tidak melihat sekarang banyak orang-orang yang tidak mempunyai agama bahkan menyembah selain alloh” “ tutur ayahku” Tapi yah, Agama bisa belajar dengan ayah sedangkan sastra memperdalamnya aku harus berseko-lah tinggi-tinggi “ ayah hanya diam saja mendengar penu-turanku dengan penuh kekecewaan yang amat dalam, aku langsung menuju kamar.Tangisku seakan tak bisa aku pen-dam lagi.tepat didepanku benda kotak berlayar itu aku raih dan kuhempaskan ke lantai, aku buang semua kertas-kertas yang pernah menjadi kiasan imajinasiku.Aku tak tahu lagi ha-rus berbuat apa kesal, kecewa, sakit sudah bersatu menjadi satu.Lalu ibu masuk ke kamar”Astaghfirullohhaladzim nak, sabar, istighfar “ “bu, Raya ingin sendiri ,Raya mohon jangan ganggu Raya “.Ibu menuruti kemauanku dan pergi.Teringat penuturan ibu aku langsung mengingat sesuatu “aku masih punya tuhan “,”aku manusia yang masih mempunyai kesem-patan untuk memperbaiki semua dan memulainya dari awal.

*****

Tuhan mendengarkan semua do’aku akupun tersadar agama juga penting dalam kehidupan.Akhirnya aku mengi-kuti kata-kata ayah tanda juangku ini, mungkin mereka hanya inginkan yang terbaik untukku, namun inilah aku dengan segala asaku, jatidiriku dan cita-citaku.Dengan tun-tunan-tuntunan itu aku bisa belajar mana yang harus aku pilih untuk menjadi lebih baik.Tuhan tidak pernah melu-pakan segala keluh kesahku melainkan membangunkanku untuk terus bangkit dari segala keterpurukan hidupku.

_Naraya_ Selesai

Pagi ini ialah pagi yang cerah nan paling mendebarkan bagi kami, bagaimana tidak, ujian nasional SMA/MA se In-donesia di mulai hari ini.”sungguh hari begitu cepat” bat-inku. Namun hakikatnya”waktu itu tidak semakin cepat dan

tidak pula semakin lambat, namun kitalah yang sebenarnya terlena oleh dunia.”

Pagi ini ialah ujian yang terakhir bagi kami, suka dan duka meyelimuti kami semua. Di saat teman-temanku asyik mencoret-coret baju mereka sili berganti, aku hanya duduk melihatnya dari kejahuan, bukan ku tak mau untuk bergabung dengan mereka, namun ku sudah muak den-gan tradisi-tradisi mereka yang kuno itu. Ku tatap awan biru yang indah nan cantik itu dan tiba-tiba “zall…rizalll” teriakan itu bersumber dari salah satu teman sebayaku yang entah mulai kapan ia duduk di sampingku “Astagh-firulloh……Ada apa lo teriak-teriak jarak segini dekatnya ?” tanyaku agak kaget, “hehehe….soryyy zall.” Jawabnya dengan enteng, “gini zalll…” berhenti sejenak “gini gimana ?, cepet kalau mau ngomong” sahutku “hehehe……sabar-sabar, gini zall tadi kan guwe mau ke kantin trus guwe li-hat bidadari yang cuuuantikk banget dari sekolah tetangga

BISAKAH ENGKAU