• Tidak ada hasil yang ditemukan

Akhir Pertempuran Tiga Hari

BAB V POLISI ISTIMEWA MELAWAN SEKUTU

B. Pertempuran Tiga Hari di Surabaya

3. Akhir Pertempuran Tiga Hari

Pada hari pertama pertempuran, pihak Sekutu ternyata menyadari bahwa mereka tidak akan bisa menahan gempuran yang dilakukan oleh pejuang Indonesia di Surabaya terhadap

193

Aminuddin Kasdi, Suparto Brata dan Soedjijo, Pertempuran 10

November 1945: Citra Kepahlawanan Bangsa Indonesia di Surabaya, 210.

194 Barlan Setiadijaya, 10 november ‟45: Gelora Kepahlawanan

pos pertahanan tentara Sekutu.195 Perkiraan tersebut pun ternyata benar, tentara-tentara Sekutu pun terpecah-pecah dan bahkan ada terkepung oleh pejuang Indonesia. tentara Sekutu sudah kehabisan amunisi dan bahan makanan. Markas Brigjen Mallaby

dengan stafnya pun sudah mulai diserang.196 Keadaan yang

semakin kritis membuat Mallaby meminta bantuan dengan mengirim pesan kepada pimpinan pasukan Inggris di Jakarta yaitu Mayjen Hawthorn. Setelah menerima pesan tersebut, Hawthorn menghubungin pimpinan Indonesia yang dianggap bisa menenangkan kemarahan pejuang di Surabaya yaitu Presiden

Soekarno untuk datang ke Surabaya.197

Tanggal 29 Oktober 1945, sekitar pukul 11.30, mendarat pesawat Royal Air Force (RAF) dan mendarat di Pangkalan Udara Morokrembangan, yang keluar dari pesawat tersebut ternyata benar-benar Presiden Indonesia. Selain Soekarno yang datang, Wakil Presiden Bung Hatta dan Menteri Penerangan

Amir Syarifuddin pun menemani Soekarno ke Surabaya.198 Pada

saat rombongan Pesiden tiba disambut dengan tembakan-tembakan yang sangat hebat. Tembakan-tembakan-tembakan yang diarahkan ke pesawat yang ditumpangin Soekarno karena masyarakat ada yang belum mengetahui kedatangan Soekarno ke

195 Batara R. Hutagalung, 10 November ‟45: Mengapa Inggris

Membom Surabaya?, 239.

196 Achmad Tahir, Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB), 194.

197 Nugroho Notosusanto, Pertempuran Surabaya, 58.

198 Alwi, Pertempuran Surabaya November 1945: Catatan Julius

Surabaya. Walaupun yang menjaga rombongan Soekarno hanya

sedikit dari Sekutu, tetapi Soekarno tiba merasa takut199

Soekarno dan rombongannya langsung dibawa menuju kantor Gubernur untuk bertemu dengan Mallaby membicarakan tentang keadaan yang ada di Surabaya. Pertemuan antara Soekarno dengan Mallaby pada hakikatnya untuk memenuhi permintaan dari pihak Sekutu untuk segera diadakan gencatan

senjata. Pertemuan ini pun berlangsung hingga malam hari.200

Hasil pertemuan tersebut sebagai berikut:

1. Perjanjian yang dibuat untuk menjaga ketentraman kota Surabaya.

2. Supaya tercipta ketentraman dan keamanan, maka kontak tembak harus dihentikan.

3. Untuk keselamatan semua orang termasuk orang-orang interniran akan dijamin oleh kedua belah pihak (Sekutu dan Indonesia).

4. Persyaratan-persyaratan di famlet yang disebarkan melalu pesawat akan diperundingkan antara Presiden Soekarno dengan Panglima Tentara Pendudukan Jawa (Mayor Jenderal Hawthorn) pada tanggal 30 Oktober 1945.

5. Semua orang bebas keluar pada malam hari, termasuk orang Indonesia dan Sekutu.

6. Semua pasukan harus kembali ke tangsinya

masing-masing dan yang luka-luka dibawa ke rumah sakit.201

199 Merdeka, edisi 31 Oktober 1945.

200 Nugroho Notosusanto, Pertempuran Surabaya, 59-60.

Keesokan harinya, pada tanggal 30 Oktober 1945, Mayjen Hawthorn sebagai Panglima Divisi ke-23 Inggris dan Panglima Tentara Pendudukan Jawa datang ke Surabaya, mendarat di Pangkalan Udara Morokrembangan sekitar pukul 09.15. Brigjen Mallaby yang datang menjemput menyampaikan laporan tentang situasi di Surabaya yang disampaikan di ruang darurat pinggir landasan. Dua jam kemudian, Mayjen Hawthorn dan Brigjen Mallaby yang didampingi oleh Kolonel Pugh mendatangi kantor Gubernur untuk melakukan perundingan dengan Presiden

Soekarno.202 Dipihak Indonesia yang hadir dalam perundingan

tersebut antara lain: Soekarno, Moh. Hatta, Amir Syarifuddin, Atmadji, Mohammad Mangoenprodjo, Soengkono, Gubernur Soeryo, Residen Soedirman, Doel Arnowo, Soemarsono (Ketua PRI), Bung Tomo (Ketua BPRI), Roeslan Abdulghani, Kundan

(penerjemah), Koesnandar, Inspektur Polisi Soejono

Prawirabisma. Komandan Polisi Istimewa Karesidenan Surabaya Moehammad Jasin tidak diikutsertakan Soekarno karena Moehammad Jasin orang yang paling dibenci Sekutu, sehingga

harus dihindarkan oleh Soekarno.203

Ketika sedang berlangsungnya perundingan, para pejuang dari TKR dan Polisi Istimewa selalu bersiaga. Siaga yang dilakukan oleh TKR dan Polisi Istimewa karena kapal perang Sekutu masih menembakkan dengan suara yang begitu keras, walaupun tidak ada yang mengetahui ke arah mana tembakan itu

202

Alwi, Pertempuran Surabaya November 1945: Catatan Julius

Pour. Mallaby dibunuh atau Terbunuh?, 285.

203 Barlan Setiadijaya, 10 november ‟45: Gelora Kepahlawanan

diarahkan. Suara tembakan dari kapal perang Sekutu dianggap sebagai gertakan kepada pihak Indonesia, akhirnya Komandan TKR dan Polisi Istimewa pun memerintahkan supaya gedung Gubernuran dikepung dengan tank dan panser. Kendaran tempur

tersebut pun berputar-putar mengelilingi gedung untuk

menjaganya.204

Dalam perundingan tersebut, pihak Indonesia memberikan konsepsi kepada pihak Sekutu, yaitu:

1. Surat-surat (pamflet) yang disebarluaskan di kota Surabaya tidak berlaku, sehingga TKR dan para pejuang tidak boleh dilucuti senjatanya.

2. Tentara Sekutu tidak boleh menjaga seluruh kota Surabaya, hanya ditempatkan dekat Darmo untuk menjaga para tawanan dan pejuang Indonesia pun ikut menjaga.

3. Pelabuhan Tanjung Perak harus dijaga bersama antara

tentara Sekutu dan TKR.205

Selain itu dibentuk kontak biro untuk memudahkan komunikasi antara Sekutu dan Indonesia. Anggota kontak biro antara lain, Brigjen Mallaby, Kapten Shaw, Mayor Husson, Kolonel Pugh, Wing Atmaji, Mochamad, Sungkono, Suyono,

Kusnandar, Kundan, dan Roeslan Abdulghani.206

204 Sutjipto Danukusumo, Hari-hari Bahagia Bersama Rakyat:

Catatan Perjuangan Sutjipto Danukusumo, 118.

205 Kedaulatan Rakyat, edisi 30 Oktober 1945.

206 Sutomo, Pertempuran 10 November 1945: Kesaksian dan

Perundingan antara pihak Indonesia dan pihak Sekutu ternyata tercatat sebagai sejarah yang sangat penting, hal tersebut karena: Pertama, keberadaan Tentara Keamanan Rakyat (TKR)

diakui secara de facto207 oleh Sekutu sebagai angkatan bersenjata

Republik Indonesia. Kedua, uniform tentara Indonesia di Surabaya menjadi identifikasi dari pihak Sekutu sebagai angkatan perang Indonesia, supaya dapat diketahui dan tidak dilucuti. Perundingan pun berakhir sekitar pukul 13.00, setelah perundingan berakhir pimpinan dari kedua pihak yaitu Soekarno

dan Mayjen Hawthorn pun kembali ke Jakarta.208

Setelah perjanjian disepakati, wartawan luar negeri dari Amerika, Australia, dan India yang berjumlah 11 orang yang ditangkap di Hotel Liberty, awalnya ditahan bersama

tentara-tentara Sekutu, kemudian dibebaskan dan diizinkan

meninggalkan Surabaya ke Jakarta karena tugas mereka bukan sebagai tentara. Mereka diizinkan meninggalkan Surabaya pada tanggal 31 Oktober 1945. Pada saat wartawan-wartawan tersebut kembali ke Jakarta, mereka mendapat perlindungan dari Polisi

Istimewa dan TKR.209

207

De facto adalah pengakuan yang didasari atas fakta-fakta adanya negara. Pengakuan tersebut karena memenuhi tiga unsur utama negara yaitu, adanya wilayah, rakyat, dan pemeritahan yang berdaulat. Lihat, A. Ubaedillah dan Abdul Rozak, Pendidikan Kewarga[negara]an (Civic Education):

Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat Madani, (Jakarta : Indonesia

Center For Civic Education (ICCE) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2014), 122.

208 Barlan Setiadijaya, 10 november ‟45: Gelora Kepahlawanan

Indonesia, 385.