BAB VI KASUS KONFLIK TANAH DI DESA LEMAH ABANG,
6.2 Gambaran Umum Desa Lemah Abang
6.3.1 Aktor yang Terlibat dalam Konflik
Keterangan :
Konflik terbuka Hubungan kerja sama
Konflik laten
Gambar 18. Pemetaan Aktor-Aktor Konflik Tanah di Desa Lemah Abang (Kasus 3).
6.3.1 Aktor yang Terlibat dalam Konflik
Dari identifikasi aktor-aktor konflik dengan melihat pada peta konflik, terdapat tiga aktor utama yang terlibat dalam konflik. Aktor-aktor tersebut adalah pemilik sertifikat tanah sengketa, kelompok petani penggarap, dan aparat Desa Lemah Abang. Garis melengkung yang mengubungkan kelompok petani penggarap dengan pemilik sertifikat tanah dan aparat desa menunjukkan konflik yang nyata/terbuka. Garis lurus yang menghubungkan kelompok petani penggarap baru dengan Forum Pejuang Petani Pekalongan (FPPP) dan BPD serta yang menghubungkan BPD dengan FPPP menunjukkan hubungan kerja sama. Dalam kasus ini, FPPP bertindak sebagai mediator yang berupaya menengahi konflik tanah yang terjadi di antara kelompok petani penggarap baru, aparat desa, dan pemilik sertifikat tanah. Dalam konflik yang terjadi di Desa lemah Abang, aktor yang bertindak sebagai aktor utama adalah petani penggarap baru dengan pemilik
sertitfikat tanah. Namun keberadaan petani penggarap lama ini tidak diketahui oleh petani penggarap yang baru, dan hubungan kerja sama yang pernah dilakukan oleh petani penggarap lama dengan pemilik sertifikat tanah tidak pernah diketahui oleh petani penggarap baru. Kerancuan ini kemudian akan dijelaskan pada penggambaran konflik. Konflik laten terjadi antara kelompok petani penggarap dengan BPN Kabupaten Pekalongan dan LKMD serta antara Forum Pejuang Petani Peklaongan dengan Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Pekalongan.
Dari sejumlah aktor yang terlihat dalam peta konflik, dapat digambarkan secara rinci empat profil aktor yang berperan terlibat langsung dalam konflik.
6.3.1.1 Pemilik Sertifikat Tanah Sengketa
Pemilik tanah sengketa adalah H.SHJ dengan 9 orang temannya yang merupakan tuan tanah di Kabupaten Pekalongan. Pada tahun 2005, beliau menunjukkan bukti kepemilikan tanah seluas 5 Ha di Desa Lemah Abang yang sebelumnya tidak jelas statusnya. Beliau mengaku telah memiliki tanah tersebut secara resmi dengan memperlihatkan sertifikat tanah yang dikeluarkan oleh BPN pada tahun 2005. Beliau adalah warga luar Desa Lemah Abang yang telah banyak memiliki tanah pertanian dengan di wilayah Kabupaten Pekalongan. Kemunculan beliau dan teman-temannya yang tiba-tiba mengklaim tanah pertanian di Desa Lemah Abang sangat mengejutkan bagi para petani penggarap yang sebelumnya menganggap tanah tersebut adalah tanah adat.
6.3.1.2 Kelompok Petani Penggarap Baru
Kelompok petani penggarap yang tengah berkonflik dengan H.SHJ, Cs pada awalnya sejumlah 64 orang, namun saat ini jumlah mereka bertambah karena tanah itu biasanya diwariskan secara turun-temurun dari petani yang telah menggarap tanah tersebut sebelumnya. Ke-64 orang petani penggarap tersebut mengaku bahwa mereka telah menggarap tanah tersebut sejak tahun 1960- an dan mereka mendapat penghasilan dari garapan tersebut. Di tanah seluas 5 Ha tersebut, mereka dapat menanam apapun untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, seperti kangkung, pisang dan sebagainya yang hasilnya memungkinkan
untuk dijual sehingga menambah penghasilan mereka. Selain bekerja sebagai petani penggarap, pada umumnya mereka juga bekerja sebagai buruh lepas.
6.3.1.3 Kelompok Petani Penggarap Lama
Petani penggarap lama adalah petani penggarap yang telah terlebih dahulu menggarap tanah seluas 5 Ha di Desa Lemah Abang. Petani penggarap lama ini sesungguhnya adalah pihak yang bekerja sama dengan H.SHJ, Cs dalam pengalihan kepemilikan tanah yang tengah dipermasalahkan. Namun hal ini tidak pernah diketahui oleh petani penggarap yang baru. Petani penggarap lama telah menggarap tanah seluas 5 Ha yang terdapat di Desa lemah Abang dalam kurun waktu 20 tahun. Berdasarkan PP.24/1997 pasal 32 ayat 2 tentang kepemilikan tanah, tanah yang “menganggur” yang terdapat dalam suatu wilayah kemudian tanah tersebut telah dimanfaatkan oleh satu atau beberapa orang dalam jangka waktu minimal 20 tahun, maka tanah itu telah menjadi hak orang-orang tersebut dengan mengajukan permohonan hak kepemilikan tanah kepada negara. Petani penggarap lama yang telah menggarap tanahnya selama 20 tahun hingga tahun 1996 telah menjadi pemilik tanah pada saat itu.
6.3.1.4 Aparat Desa Lemah Abang
Aparat Desa Lemah Abang yang pada saat itu tengah berkonflik dengan para petani penggarap diantaranya adalah Lurah Desa Lemah Abang yang masih menjabat pada tahun 2005, yaitu Bapak KNT, Sekertaris Desa, wakil lurah, serta beberapa ketua RT dan ketua RW. Namun pada saat ini Lurah Desa Lemah Abang telah digantikan oleh dua orang lurah yang baru. Awalnya, aparat Desa Lemah Abang tidak berkonflik dengan masyarakat petani penggarap, namun karena muncul dugaan adanya kerjasama pemalsuan sertifikat jual beli tanah dengan H.SHJ, maka kemarahan petani penggarap juga terjadi pada aparat desa pada saat itu.
6.3.1.5 Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Pekalongan
Badan Pertanahan (BPN) Kabupaten Pekalongan merupakan salah satu pihak yang berperan dalam penanganan perkara sengketa tanah di Desa Lemah
Abang, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan. BPN Kabupaten Pekalongan juga bertindak sebagai peneliti terhadap data-data yang ada di kantor BPN berkaitan dengan status tanah yang tengah menjadi sengketa di Desa lemah Abang. Hasil penelitian dan penyelidikan perkara yang telah dikaji oleh BPN berkaitan dengan data-data mengenai status tanah seluas 5 Ha di Desa Lemah abang mengungkapkan fakta yang berlawanan dengan argumen para petani penggarap yang menuntut pengembalian hak atas tanah tersebut. Selain itu, BPN telah mengeluarkan sertifikat tanah atas nama H.SHJ,Cs sebagai pemilik tanah yang sah. Maka dalam proses terjadinya konflik, pihak BPN merupakan salah satu aktor yang terlibat dalam konflik laten dengan para petani penggarap di Desa Lemah Abang.
6.3.2 Perbedaan Pemahaman Mengenai Konflik diantara Aktor-Aktor