• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KASUS KONFLIK ANTARA DESA DEPOK

5.2 Gambaran Lokasi Konflik

5.3.2 Perbedaan Pemahaman Mengenai Konflik diantara

5.3.2.1 Pemahaman Konflik Menurut Kelompok

Konflik yang terjadi antara pemuda Desa Depok dengan pemuda Desa Blacanan pada tahun 2007 awalnya disebabkan oleh pemukulan yang dilakukan salah satu pemuda Desa Depok terhadap salah satu pemuda Desa Blacanan yang sedang melewati Desa Depok pada saat itu. Alasannya adalah pemuda Blacanan tersebut dianggap sombong. Karena merasa terhina, pemuda Desa Blacanan tersebut melapor pada pemuda-pemuda lain di desanya. Satu hari setelah kejadian pemukulan itu, kemudian terjadi aksi balas dendam yang sangat brutal. Aksi ini dilakukan sekelompok pemuda Desa Blacanan yang tidak diketahui pasti

jumlahnya karena sangat banyak yang mencari pelaku pemukulan. Namun, karena yang bersangkutan tidak ditemukan, maka pemuda yang kebetulan sedang lewat di salah satu jalan di Desa Depok langsung dianiaya hingga tewas, padahal dia tidak mengetahui masalah sebelumnya. Selain itu, beberapa rumah warga juga menjadi sasaran amukan mereka. Masalah pemukulan tersebut adalah akumulasi dari konflik laten yang telah terjadi dalam waktu lama antara Desa Depok dan Desa Blacanan. Konflik laten tersebut memiliki akar permasalahan yang non realistik, sehingga sulit untuk dipecahkan. Hal ini dikemukakan oleh salah satu pemuda Desa Depok sebagai berikut :

“dek mbiyen emang cah Blacanan ki senenge nggolek masalah karo cah Depok, mereka iri ngerti cah Depok akeh sing wis sukses ning kota,nek bali neng desa mesti penampilane nguto, tapi cah Depok rak pernah ngolek masalah moso dione’ke sombong” (SGD,26 tahun).

(Sejak dulu anak Blacanan suka mencari masalah dengan anak Depok, mereka iri melihat anak Depok banyak yang sudah sukses di kota, jika pulang ke desa penampilannya seperti orang kota, tetapi anak Depok tidak pernah mencari masalah, tetapi diejek sombong).

Konflik yang terjadi berakar dari isu non realistik mengenai identitas dan harga diri yang sangat dipentingkan oleh kedua aktor konflik. Akibat konflik laten yang telah terjadi dalam waktu yang tidak teridentifikasi, konflik manifest yang brutal muncul sebagai suatu akumulasi dari kebencian di antara kedua belah pihak. Aksi brutal yang dilakukan sekelompok pemuda Desa Blacanan terhadap warga Desa Depok terjadi pada tanggal 20 Oktober 2007 sekitar pukul 23.30 di Desa Depok, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan. Pada saat itu, terjadi penyerangan yang brutal yang dilakukan oleh sekitar 30 orang dari Desa Blacanan. Kekerasan konflik berwujud pada aksi perusakan rumah warga Desa Depok secara bersama-sama oleh sekelompok pemuda Desa Blacanan tersebut dan penganiayaan salah satu warga Desa Depok hingga korban meninggal dunia. Aksi penganiayaan dan perusakan rumah tersebut diduga karena kemarahan pemuda Desa Blacanan karena tidak dapat menemukan “musuhnya” pada saat melakukan aksi penyerbuan, akibatnya kemarahan dan dendam mereka tujukan pada warga Desa Depok yang tidak mereka kenal.

Menurut informasi dari responden di Desa Depok, aksi balasan sudah mereka persiapkan untuk membalas perlakuan pemuda Desa Blacanan, tetapi sebelum aksi balas dendam tersebut terlaksana, aparat kepolisian telah bertindak dan berupaya mencagah terjadinya serangan balasan. Hal ini diungkapkan responden dari Desa Depok sebagai berikut:

“nek misale polisi rung teko, mesti wis babak belur cah Blacanan, wong pas kuwi cah Depok wis nyiapke pentungan nggo tawuran karo cah Blacanan, bejone ora kelakon, lha nek kelakon opo rak tambah rusuh” (SGD,26 tahun). (Seandainya saja polisi belum datang, pasti anak Blacanan sudak terluka parah karena pada waktu itu anak Depok sudah menyiapkan pemukul untuk tawuran dengan anak Blacanan, untung saja tidak terjadi, kalau saja sampai terjadi pasti lah akan bertambah kacau).

Konflik antara pemuda Desa Blacanan dan pemuda Desa Depok menyebabkan retaknya hubungan antar kedua desa karena perasaan takut dan enggan untuk berkomunikasi. Konflik yang terjadi pada bulan Oktober 2007 ini merupakan konflik terparah dalam konflik Depok-Blacanan. Konflik yang sering terjadi sebelumnya tidak sampai melibatkan puluhan orang dan tidak menyebabkan korban tewas. “Keparahan” konflik yang terjadi antara pemuda Desa Depok dan pemuda Desa Blacanan diungkapkan oleh responden sebagai berikut :

“…. pas kuwi polisine sing teko yo akeh, dek polwil mbarang teko sa’ kompi, sampe nggawe tendo-tendo neng perbatasan Depok-Blacanan, sa’minggunan polisi jogo neng kono” (SGD,26 tahun).

(Pada saat itu polisi yang datang banyak, dari Polwil juga datang satu kompi, sampai membuat tenda-tenda di perbatasan Depok-Blacanan, selama satu minggu polisi berjaga di sana).

Ungkapan SGD tersebut menandakan bahwa konflik yang terjadi sangat keras hingga melibatkan banyak aparat kepolisian turun tangan karena konflik ini tidak dapat diselesaikan secara “damai” melalui mediasi dengan tokoh masyarakat dan aparat desa terkait. Secara analitis, pemahaman mengenai kronologis konflik menurut pemuda Desa Depok dapat digambarkan dalam bentuk skema kronologis konflik (Gambar 10).

Pemukulan yang dilakukan salah seorang pemuda Depok terhadap Pemuda Blacanan

Segerombolan pemuda Desa Blacanan menyerang Desa Depok, melakukan perusakan rumah, dan menganiaya salah satu warga Desa Depok hingga tewas.

Pemuda Desa Depok mempersiapkan aksi balasan kepada pemuda Desa Blacanan Sabtu, 20 Oktober 2007 Siang Hari Sabtu, 20 Oktober 2007 pukul 23.30 Minggu, 21 Oktober 2007 Minggu, 20 oktober 2007- 28 Oktober 2007

Masih terdapat upaya-upaya untuk aksi pembalasan ke Desa Blacanan namun telah ada penjagaan ketat oleh aparat kepolisian terhadap kedua desa Gambar 10. Skema Kronologi Konflik Berdasarkan Pandangan Kelompok

Pemuda Desa Depok.

Kronologi konflik di atas menggambarkan peristiwa-peristiwa yang terjadi berdasarkan urutan waktu yang diungkapkan oleh responden dari Desa Depok. Konflik terbuka masih dapat dilihat dalam kurun waktu satu minggu setelah terjadi kekerasan konflik karena masih terdapat upaya-upaya untuk melakukan aksi pembalasan. Konflik yang terjadi hingga memicu aksi kekerasan bermula pada isu-isu pokok yang tidak dapat mencapai kompromi.

Menurut pemuda Desa Depok, masalah inti yang mendorong terjadinya konflik adalah pelecehan dan kekerasan yang “diterima” oleh pemuda Desa Blacanan yang selanjutnya mendorong terjadinya aksi pembalasan yang brutal. Akar dari konflik adalah isu non realistik yang diduga berupa kecemburuan sosial, perubahan gaya hidup, dan kesalahpahaman. Perubahan gaya hidup dan kecemburuan sosial yang diperlihatkan oleh pemuda-pemuda dari kedua desa memunculkan sikap yang “menantang” dari kedua belah pihak, sehingga keterlibatan emosi dan ketegangan antar kedua pihak semakin meningkat dengan

menunjukkan sikap-sikap yang tidak menyenangkan yang berujung pada aksi kekerasan. Efek konflik yang telah mencapai tahap kekerasan hingga menelan korban diidentifikasi bersifat positif dan negatif. Kekerasan/kebrutalan diartikan oleh kelompok pemuda Desa Depok sebagai tindakan yang menghancurkan, merusak, menghilangkan nyawa seseorang dan menyebabkan ketakutan. Salah seorang responden mengungkapkan sebagai berikut :

“sing jenenge kekerasan yo mesti wis ono ngerusak, ngancuri, menganiaya sampai meninggal, yo semuane yang bikin takut orang” (MHA, 28 tahun).

Efek negatif yang dirasakan kelompok pemuda Desa Depok diantaranya adalah dendam, ketakutan, dan kebencian yang berwujud laten. Sedangkan efek konflik yang bersifat positif diperlihatkan pada keeratan kelompok pemuda Desa Depok. Isu-isu konflik menurut pemahaman pemuda Desa Depok dapat digambarkan secara grafis dalam bentuk pohon konflik (Gambar 11).

Ketakutan (-) Dendam (-) Kebencian(-) Keeratan kelompok (+)

EFEK

MASALAH INTI

kecemburuan sosial

AKAR perubahan gaya hidup kesalahpahaman

Gambar 11. Pohon Konflik (Isu Konflik) Berdasarkan Pemahaman Pemuda Desa Depok.

 

Pelecehan dan kekerasan

5.3.2.2 Pemahaman Konflik Menurut Kelompok Pemuda Desa Blacanan Berdasarkan sudut pandang pemuda dari Desa Blacanan, konflik awalnya dipicu oleh perusakan rumah dan pemukulan salah satu warga Desa Blacanan yang dilakukan oleh warga Desa Depok. Hal ini menyebabkan rasa benci dan dendam warga Desa Blacanan, terutama kelompok pemuda. Penyebab dari perusakan rumah dan pemukulan yang dilakukan salah satu warga Desa Depok tidak diketahui secara pasti, namun telah dinilai oleh pemuda Desa Blacanan sebagai aksi “cari perkara”.

Konflik berawal dari perusakan rumah yang dilakukan warga Desa Depok (tidak diketahui jumlahnya) terhadap rumah salah satu warga desa Blacanan pada hari Sabtu, tanggal 20 Oktober 2007 pukul 04.00 pagi. Perlakuan yang tidak menyenangkan ini mendorong pemuda Desa Blacanan untuk melakukan pembalasan. Aksi pembalasan yang dilakukan kelompok pemuda Desa Blacanan direncanakan oleh satu orang yang kemudian mempengaruhi pemuda-pemuda lainnya untuk menyerang pemuda Desa Depok. Salah satu pemuda Desa Blacanan yang terlibat dalam aksi penyerangan mengungkapkan sebagai berikut:

“…. dong kae sing ngajak ke ANT, aku karo sing liyane sek ngumpul ning pinggir ndalan, lha terus dijak karo ANT, nyerang ning Depok, aku karo sing liyane yo manut bae, wong kuwi ke kan pak mbeloni koncone dhewe” (SRT,29 tahun).

(pada waktu itu yang mengajak adalah ANT, saya dan yang lainnya sedang berkumpul di jalan, kemudian diajak ANT menyerang ke Depok, aku dan yang lainnya menurut saja, karena itu untuk membela kawan sendiri).

Aksi pembalasan pada saat itu sebenarnya ditujukan kepada warga Desa Depok yang telah terlebih dahulu melakukan pemukulan terhadap warga Desa Blacanan, namun pada saat kelompok pemuda Desa Blacanan menyerbu Desa Depok, orang yang bersangkutan tidak dapat ditemukan,sehingga kemarahan mereka kemudian teralih pada siapa saja yang ada di Desa Depok. Akhirnya, para pemuda Desa Blacanan secara tidak sengaja bertemu dengan TRD yang sedang melewati jembatan dengan mengendarai motor. Pada saat ketegangan dan emosi yang tinggi, para pemuda Desa Blacanan kemudian menghentikan TRD dan memukulinya hingga tidak sadarkan diri, kemudian motor yang dikendarai TRD

dirusak. Beberapa jam kemudian TRD dinyatakan tewas, sedangkan pemuda-pemuda lainnya menuju beberapa rumah warga Desa Depok dan melakukan pelemparan dengan batu hingga menyebabkan kerusakan pada beberapa rumah warga tersebut. Beberapa jam kemudian polisi tiba di lokasi kejadian dan meringkus sekitar enam orang yang diduga sebagai tersangka penganiayaan dan perusakan rumah, sedangkan puluhan pemuda lainnya yang terlibat dalam aksi penyerbuan berhasil melarikan diri. Kronologi konflik berdasarkan pandangan kelompok pemuda Desa Blacanan dapat digambarkan dalam skema kronologi konflik (Gambar 12). Sabtu, 20 Oktober 2007 siang hari Sabtu, 20 Oktober 2007 malam hari Oktober 2007-2009

Warga Desa Blacanan melakukan aksi pembalasaan dengan menyerbu Desa Depok. Bentuk aksi pembalasan ini adalah penganiayaan terhadap warga Desa Depok hingga korban tewas dan perusakan rumah. Warga Desa Depok datang ke Desa Blacanan untuk merusak salah satu rumah warga Desa Blacanan

Konflik laten warga Desa Depok-Blacanan

Gambar 12. Skema Kronologi Konflik Berdasarkan Pandangan Pemuda Desa Blacanan.

Pengungkapan Kronologi konflik oleh warga Desa Blacanan menggambarkan skala konflik yang sempit. Pemaparan konflik hanya terfokus pada saat konflik mencapai kekerasan yang terjadi dalam satu konteks waktu. Namun kronologi tersebut mengungkap dampak yang terjadi hingga saat ini (tahun 2009) akibat kerasnya konflik, yaitu konflik laten yang berlanjut.

Berdasarkan sudut pandang pemuda Desa Blacanan, masalah inti konflik sama dengan yang diungkapkan pemuda Desa Depok, yaitu masalah pelecehan

dan kekerasan yang kemudian berdampak negatif dan positif. Dampak positif yang dapat diidentifikasi adalah solidaritas kelompok yang ditunjukkan dari aksi “balas dendam” pemuda Desa Blacanan terhadap Desa Depok sebagai upaya pembelaan bagi salah satu anggotanya yang telah “dilecehkan”. Dampak negatif yang dirasakan oleh pemuda Desa Blacanan, diidentifikasi sama dengan dampak negatif yang dirasakan oleh pemuda Desa Depok, yaitu berupa ketakutan, dendam dan kebencian. Namun jika ditelaah dengan pohon konflik, konflik yang digambarkan oleh pemuda Desa Blacanan adalah konflik di permukaan yang tidak memiliki akar permasalahan. Konflik yang terjadi hanya dikarenakan tindakan yang meremehkan dan menyakiti salah satu anggota kelompok pemuda Desa Blacanan (Gambar 13).

Ketakutan (-) Dendam (-) Kebencian(-) Solidaritas kelompok (+) EFEK MASALAH INTI Pelecehan dan kekerasan  

Gambar 13. Pohon Konflik (Isu Konflik) Isu Konflik Berdasarkan Pemaparan Pemuda Desa Blacanan.