• Tidak ada hasil yang ditemukan

MISI II: PENGUATAN PASAR DALAM NEGERI

Sasaran 11 Akumulasi Jumlah BPSK Yang Dibentuk

Sasaran 11 Akumulasi Jumlah BPSK Yang Dibentuk

“Terbentuknya lembaga yang dapat melindungi konsumen dari praktek

perdagangan yang merugikan konsumen”

Tabel 32

Capaian Indikator Kinerja Sasaran 11

No Indikator Kinerja Rencana Tingkat Capaian Realisasi Capaian (%)

53 Jumlah BPSK yang berfungsi 50 BPSK 50 BPSK 100%

54 Fasilitasi pembentukan BPSK 5 BPSK 9 BPSK 100,%

55 Jumlah rumusan kebijakan dan standar, norma, kriteria dan prosedur

di bidang perlindungan konsumen 5 rumusan 5 Rumusan 100%

IK-53

Jumlah BPSK yang Berfungsi

Upaya perlindungan konsumen yang semakin baik dapat dicerminkan adanya lembaga yang dapat melindungi konsumen dari praktek perdagangan yang merugikan konsumen. Oleh karena itu, salah satu indikator yang dapat digunakan sebagai ukuran kinerja peningkatan perlindungan konsumen adalah akumulasi jumlah Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) yang terbentuk setiap tahunnya.

Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, BPSK mempunyai tugas utama untuk menyelesaikan persengketaan konsumen di luar lembaga pengadilan umum. BPSK beranggotakan unsur perwakilan aparatur pemerintah, konsumen dan pelaku usaha atau produsen yang diangkat atau diberhentikan oleh Menteri. BPSK memiliki kewenangan untuk melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan dan keterangan dari para pihak yang bersengketa, melihat atau meminta tanda bayar, tagihan atau kuitansi, hasil test lab atau bukti-bukti lain. Keputusan BPSK bersifat mengikat dan penyelesaian akhir bagi para pihak

BPSK yang semula berjumlah 23 (tahun 2004) meningkat menjadi 45 (tahun 2010) yang tersebar di Kabupaten/Kota. Apabila dikaitkan dengan jumlah Kabupaten/Kota yang ada di Indonesia, maka jumlah BPSK yang ada masih sangat minim yaitu hampir 10 % dari 470 Kabupaten/Kota. Padahal jika melihat peranan dan fungsi BPSK sebagai sarana yang sangat penting bagi konsumen dalam memperoleh haknya, maka jumlah tersebut masih sangat minim.

Target peningkatan perlindungan konsumen pada periode 2010−2014

adalah pembentukan 5 BPSK setiap tahun. Tahun 2010, jumlah BPSK yang terbentuk telah melebih target yaitu mencapai 9 (sembilan) BPSK. Sehingga realisasi pada tahun 2010 akumulasi jumlah BPSK yang terbentuk menjadi 54 BPSK, yang pada tahun 2009 telah terbentuk 45

 

BPSK di berbagai Kabupaten dan Kota.

Peranan yang diharapkan dilakukan oleh Pemerintah Daerah dalam peningkatan BPSK yaitu memberikan dukungan baik dalam bentuk dana operasional yang dialokasikan dari APBD setempat, maupun fasilitasi sarana dan prasarana penunjang.

Indikator kinerja ini baru di terapkan pada 2010 sesuai amanat Renstra Kemendag Tahun 2010 – 2014.

Selama tahun 2009-2010, BPSK tercatat telah menyelesaikan kasus sengketa konsumen sebanyak 268 kasus, yang terdiri atas 183 kasus di tahun 2009 dan 85 kasus hingga Agustus 2010. Dari sejumlah kasus tersebut, penyelesaian terbanyak dilakukan melalui mediasi.

 

Gambar 25

Penyelesaian Kasus yang Ditangani BPSK Tahun 2009 - 2010 (September)

Sumber: Kementerian Perdagangan

IK-54

Fasilitasi Pembentukan BPSK

Pada tahun 2009, melalui Keputusan Presiden Nomor 23 Tahun 2009, telah terbentuk 3 (tiga) BPSK di kota Tebing Tinggi dan Binjai, serta Kabupaten Bogor. Sehingga total BPSK yang terbentuk sampai dengan akhir tahun 2009, sebanyak 45 BPSK. Sementara pada tahun 2010, melalui Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 2010 tentang Pembentukan BPSK, terdapat 9 (sembilan) BPSK yang terbentuk di 9 (sembilan) Kabupaten/Kota yakni Kota Serang, Kota Kendari, Kota Bukittinggi, Kota Singkawang, Kota Pontianak, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Karawang, dan Kabupaten Batu Bara. Sehingga sampai tahun 2010, telah terbentuk tambahan 9 (Sembilan) BPSK. Dengan demikian total BPSK yang terbentuk mencapai 54 BPSK di seluruh Indonesia.

Indikator kinerja ini baru di terapkan pada 2010 sesuai amanat Renstra Kemendag Tahun 2010 – 2014.

 

Disamping target pembentukan BPSK dapat terpenuhi, diharapkan rasio jumlah BPSK yang telah memiliki anggota dan sekretariat akan meningkat. Pendidikan serta pelatihan teknis baik untuk anggota maupun sekretariat BPSK perlu ditingkatkan, agar kasus yang ditangani lebih cepat terselesaikan sehingga upaya untuk meningkatkan perlindungan konsumen dapat terpenuhi.

IK-55

Jumlah Rumusan Kebijakan dan Standar, Norma, Kriteria dan Prosedur di Bidang Perlindungan Konsumen

Dalam upaya pengembangan perlindungan konsumen, sebagaimana diamanatkan oleh Undang-undang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan Peraturan Pemerintah No. 57 Tahun 2001 tentang Badan Perlindungan Konsumen Nasional maka dibentuklah Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN). Namun demikian, operasional lembaga ini baru terlaksana pada 5 Oktober 2004, sesuai Keppres Nomor 150 Tahun 2004.

BPKN yang dibentuk Pemerintah merupakan lembaga independen yang berfungsi memberikan saran dan pertimbangan kepada Pemerintah dalam upaya mengembangkan perlindungan konsumen di Indonesia

Aktivitas BPKN yang menonjol saat ini adalah penyusunan grand scenario kebijakan perlindungan untuk memastikan kecenderungan dan prioritas penanganan perlindungan konsumen yang efektif di masa datang, serta peningkatan dan perumusan amandemen Undang-undang Perlindungan Konsumen, sebagai pertimbangan bagi pemerintah untuk penyempurnaan Undang-undang Perlindungan Konsumen. Hingga Oktober 2010, BPKN telah mengeluarkan 5 (lima) rekomendasi kepada Pemerintah terkait perlindungan konsumen, yaitu:

1. Saran dan rekomendasi perihal pelabelan tabung gas rumah tangga 3

kg dan 12 kg yang ditujukan kepada Menteri Perdagangan

2. Saran dan rekomendasi kepada Menteri Negara Badan Usaha Milik

Negara dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral perihal kebijakan PT. PLN dan sistem Payment Point Online Bank.

3. Saran dan rekomendasi kepada Presiden dan kepada Kepala Eksekutif

Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) perihal rekomendasi permasalahan nasabah Bank IFI dengan LPS.

4. Saran dan rekomendasasi perihal pengunaan tabung gas 3 kg yang

ditujukan kepada Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat. Jumlah Produk ber-SNI

wajib yang diawasi Dalam Tahun 2010 ini, Kementerian Perdagangan menargetkan

pengawasan terhadap 14 Produk SNI Wajib. Ke-14 Produk SNI Wajib ini telah mendapatkan notifikasi dari World Trade Organization (WTO). Terjadi peningkatan jumlah Produk ber-SNI wajib yang diawasi, dari 9 Produk SNI wajib pada Tahun 2009 menjadi 14 Produk SNI wajib pada Tahun 2010 atau naik 150% terhadap Produk SNI wajib yang diawasi.

 

Tabel 33

14 Produk SNI Wajib yang diawasi tahun 2010

Produk SNI Wajib yang diawasi

1 Ban 8 Baja Tulangan Beton

2 Lampu Hemat Energi 9 Semen

3 Tabung Elpiji 10 Air Minum Dalam Kemasan

4 Regulator Gas Elpiji 11 Garam Beryodium

5 Selang Gas Elpiji 12 Baja Lapis Seng

6 MCB / Saklar 13 Kipas Angin

7 Terigu 14 Kompor Gas Satu Tungku

Jumlah Rumusan Kebijakan, Standar, Norma dan Pedoman Pengawasan Barang dan Jasa

Hingga Desember 2010, Kementerian Perdagangan telah mengeluarkan 11 kebijakan terkait Kebijakan, Standar, Norma dan Pedoman Pengawasan Barang dan Jasa, yaitu:

1. Keputusan Menteri Perdagangan tentang Tim Terpadu Pengawasan

Barang Beredar.

2. Petunjuk Teknis Pengawasan Produk hasil industri logam.

3. Petunjuk Teknis Pengawasan Produk hasil industri mesin.

4. Petunjuk Teknis Pengawasan Produk hasil industri elektronika dan

aneka.

5. Petunjuk Teknis Pengawasan Produk hasil industri kimia.

6. Petunjuk Teknis Pengawasan Produk hasil agro.

7. Petunjuk Teknis Pengawasan Produk hasil hutan.

8. Petunjuk Teknis Pengawasan Jasa Pelayanan Purna Jual Telepon

Seluler.

9. Petunjuk Teknis Pengawasan Jasa Perparkiran.

10.Petunjuk Teknis Pengawasan Jasa Periklanan.

11. Petunjuk Teknis Pengawasan Cara Menjual Alat Listrik Rumah Tangga. Jumlah Kegiatan

Pengawasan Barang dan Jasa

Untuk mencegah kerugian yang dialami konsumen dari produk-produk yang tidak dibawah standar mutu serta produk dan jasa yang tidak sesuai ketentuan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, maka Kementerian Perdagangan telah mengadakan beberapa kegiatan yang terkait pengawasan barang dan jasa, antara lainnya:

Meningkatkan efektifitas pengawasan barang beredar, dengan dibentuknya Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar (TPBB) melalui Keputusan Menteri Perdagangan No. 732.1/M-DAG/KEP/5/2010 tentang Pembentukan Tim TPBB sudah ditandatangani tanggal 14 Mei 2010. Untuk meningkatkan koordinasi antar instansi dalam Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar, telah dilakukan rapat koordinasi perencanaan pelaksanaan Pengawasan Terpadu

 

Wujud dari koordinasi pengawasan adalah antara lain telah dilaksanakannya Pengawasan terpadu dengan melibatkan Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Koordinator Perekonomian Kesra dan Badan POM.

Telah dilaksanakan Pengawasan Berkala pada beberapa daerah untuk produk yang telah diterapkan SNI Wajib yaitu Lampu Swaballast, Regulator, Tabung Baja, Baja Tulangan Beton, Baja Lapis Seng, Kotak Kontak, Tusuk Kontak, Kipas Angin, Kompor Gas Satu Tungku, Selang Karet, Ban Mobil, Ban Sepedamotor, Air Minum Dalam Kemasan, Tepung Terigu, Semen, dan Garam Beryodium.

Pengawasan berdasarkan Permendag No. 19/M-DAG/PER/5/2009 tentang Pendaftaran Petunjuk Penggunaan (Manual) dan Kartu Jaminan/Garansi pada produk: Televisi, Mesin Cuci, Mesin Multifungsi Berwarna, AC, Telepon Seluler, dan Seterika

Pengawasan terhadap Jasa diantaranya: Pelayanan Purna Jual Telepon Seluler, Perparkiran, Periklanan, Cara Menjual Alat Listrik Rumah Tangga, dan Pasar Moderen.