• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyederhanaan Perizinan Perdagangan Luar Negeri

MISI I: PENINGKATAN KINERJA EKSPOR NONMIGAS BERKUALITAS

Sasaran 4 Penyederhanaan Perizinan Perdagangan Luar Negeri

Sasaran 4 Penyederhanaan Perizinan Perdagangan Luar Negeri

“Membaiknya layanan perizinan dan non-perizinan sektor perdagangan luar

negeri, baik dalam hal jumlah perizinan online maupun dalam hal minimasi

waktu layanan”

Tabel 10

Capaian Indikator Kinerja Sasaran 4

No Indikator Kinerja Rencana Tingkat Capaian Realisasi Capaian (%)

15 Jumlah perizinan online 40 jenis 53 jenis 132,50%

16 Jumlah hari waktu pelayanan 4 hari 4 hari 100%

17 Jumlah penerbitan kebijakan fasilitasi ekspor dan impor 4 kebijakan 4 kebijakan 100% 18 Jumlah sistem elektronik bidang fasilitasi pelayanan publik 2 sistem 2 sistem 100% 19 Jumlah pengguna (hak akses) perijinan ekspor/impor online yang

dilayani melalui INATRADE

1500 pengguna pengguna 1536 102%

20 Jumlah bimbingan teknis bidang fasilitasi perdagangan 5 bimbingan teknis 5 bimtek 100%

IK-15

Jumlah Perizinan Online

Guna menciptakan iklim usaha yang kondusif maka peningkatan kualitas pelayanan perijinan kepada pelaku usaha di bidang perdagangan luar negeri menjadi perhatian serius Kementerian Perdagangan. Oleh karena itu, Kementerian Perdagangan telah membangun pelayanan perijinan ekspor dan

impor secara elektronik (e-licensing) yang disebut dengan “INATRADE” dan

telah beroperasi sejak tanggal 17 Desember 2008, yang waktunya

bersamaan dengan peluncuran National Single Window (NSW) tahap

pertama. Sistem INATRADE merupakan bentuk dukungan Kemententerian Perdagangan terhadap NSW.

TUJUAN 2:   Perbaikan Iklim Usaha Perdagangan Luar Negeri Agar Menjadi 

 

Presiden RI pada saat peluncuran Sistem NSW

Launching pelayanan perijinan perdagangan baik perijinan luar negeri maupun perijinan dalam negeri secara online dengan sistem elektronik melalui website INATRADE dilakukan oleh Menteri Perdagangan pada tanggal 10 Agustus 2010.

 

Pembangunan sistem perijinan secara elektronik (e-licensing) dimaksud

adalah sejalan dengan Inpres Nomor 5 tahun 2008 tentang Fokus Program Ekonomi Tahun 2008-2009, serta ketentuan Pasal (16) Perpres Nomor 10

tahun 2008 tentang Penggunaan Sistem Elektronik Dalam Kerangka National

Single Window (NSW).

Beberapa pejabat dari kementerian terkait dalam launching INATRADE

Sampai dengan akhir tahun 2010, sistem perijinan ekspor dan impor secara elektronik (e-licensing) telah dapat melayani permohonan sebanyak 53 jenis perijinan impor termasuk pengiriman Surat Pendaftaran Barang (SPB) secara

online dan selebihnya sebanyak 36 perijinan ekspor (28 jenis perijinan ekspor yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan, 7 berupa Laporan Surveyor (LS) dan 1 Laporan BRIK (Badan Revitalisasi Industri Kehutanan)),

proses permohonan perijinannya belum dapat dilaksanakan secara online.

Namun demikian, seluruh perijinan tersebut (89 perijinan ekspor dan impor) sudah dapat disampaikan secara elektronik ke Ditjen Bea dan Cukai, untuk selanjutnya diteruskan ke portal NSW.

Hal tersebut tentu sangat membantu dalam kelancaran flow of documents

dalam proses customs clearance sehingga sangat membantu pelaku usaha

ekspor dan impor. Hal ini juga sangat mendukung tujuan terwujudnya perbaikan iklim usaha perdagangan luar negeri sehingga menjadi lebih kondusif bagi sektor perdagangan. Pada tahun 2010, dari 40 jenis perijinan

impor yang ditargetkan dapat dilakukan secara online, realisasi perijinan

adalah sebanyak 53 perijinan impor telah dilakukan secara online. Dengan

demikian capaian tahun ini adalah sebesar 132,5% yang menunjukkan keberhasilan yang cukup baik. Keberhasilan ini tentu saja merupakan hasil kerja keras seluruh unit kementerian Perdagangan cq. Ditjen Perdagangan Luar Negeri dan tentu saja komitmen yang kuat dari pimpinan beserta jajarannya.

 

Perijinan ekspor dan impor yang telah diterbitkan melalui UPP/Inatrade dari tahun 2007 sampai dengan akhir tahun 2010 menunjukan perkembangan yang cukup baik karena mengalami kenaikan jumah penerbitan setiap tahunnya. Diharapkan dengan adanya ketentuan bahwa perijinan secara online dapat diakses oleh seluruh importir dengan terlebih dahulu harus

memiliki password dan user-name maka dalam tahun tahun mendatang

pengguna sistem Inatrade dan jumlah perijinan melalui INATRADE akan terus meningkat:

IK-16

Jumlah Hari waktu Pelayanan

Pada saat ini, pelayanan perijinan perdagangan luar negeri kepada

pelaku usaha dapat dilakukan melalui sistem INATRADE (on line) dan

melalui Unit Pelayanan Perdagangan (UPP) Luar Negeri. Kementerian Perdagangan dalam hal ini Ditjen Perdagangan Luar Negeri pada Tahun 2010 telah berhasil menerapkan jumlah hari waktu pelayanan perizinan melalui sistem INATRADE dengan rata-rata waktu penyelesaian selama 4 (empat) hari kerja. Hal ini berarti capaian untuk indikator ini mencapai 100%. Hal ini merupakan keberhasilan yang cukup baik bagi Kementerian Perdagangan dalam meningkatkan pelayanan publik.

Dalam rangka memberikan pelayanan perijinan perdagangan luar negeri yang efisien dan efektif kepada pelaku usaha melalui sistem INATRADE (online) Kementerian Perdagangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 40/M-DAG/PER/10/2010 Tentang Jenis Perijinan Ekspor dan Impor, Prosedur Operasi standar (Standard Operating Procedur),

dan Tingkat Layanan (Service Level Arrangement). Di dalam Permendag

tersebut ditetapkan standar pelayanan untuk 53 perijinan yang telah dapat dilakukan secara online. Waktu penyelesaian perijinan berdasarkan Permendag ini dikategorikan kepada proses secara manual dan proses secara elektronik yang dilakukan oleh Importir Jalur Prioritas (IJP), MITA Non-Prioritas, dan Importir Umum. Secara rinci, janji layanan (SLA) ini dapat dilihat pada Lampiran. Perlu diketahui pula bahwa target waktu penyelesaian perizinan dan pendaftaran melalui UPP ataupun secara elektronik melalui website INATRADE sangat tergantung kepada kelengkapan dari keseluruhan syarat dan ketentuan yang disampaikan oleh pelaku usaha. Realisasi pelayanan perijinan ekspor dan impor pada tahun 2010 adalah sebagaimana dilihat pada tabel di bawah ini.

 

Tabel 11

Realisasi Perijinan Impor yang Diterbitkan

Melalui UPP/INATRADE Tahun 2010

Manual/UPP Online

No Jenis Perijinan Rata-Rata Hari

(Pelayanan Perizinan) Total Perijinan Rata-Rata Hari (Pelayanan Perizinan) Total Perijinan

1  Importir Produsen Besi atau 

Baja  1,92  305  ‐‐‐  ‐‐‐ 

2  Importir Produsen Beras  2  44  ‐‐‐  ‐‐‐ 

3  Importir Produsen Gula  2,63  130  ‐‐‐  ‐‐‐ 

4  Importir Produsen Pelumas  3  15  ‐‐‐  ‐‐‐ 

5  Importir Produsen Tekstil   2  557  ‐‐‐  ‐‐‐ 

6  Importir Produsen Etilena  2  13  1  3 

7  Importir Produsen Garam  2,25  48  1  3 

8  Importir Produsen Plastik  2  164  1  5 

9  Importir Produsen Bahan 

Berbahaya  2  95  1  2 

10  Importir Bahan Perusak Ozon  2  5  ‐‐‐  ‐‐‐ 

11  Importir Produsen Limbah 

Non B3  2,08  168  1  3 

12  Importir Produsen 

Nitrocellulose  2  2  ‐‐‐  ‐‐‐ 

13  Importir Produsen Prekursor 

Non Pharmasi  2  46  ‐‐‐  ‐‐‐ 

14  Importir Produsen PCMX  2  1  ‐‐‐  ‐‐‐ 

15  Importir Terdaftar Besi atau 

Baja  2  229  ‐‐‐  ‐‐‐ 

16  Importir Terdaftar Produk 

Tertentu  2,67  1479  ‐‐‐  ‐‐‐ 

Dst.  Dst.... 

‐‐‐  ‐‐‐  ‐‐‐  ‐‐‐ 

53  Daftar Produsen Yang Dapat 

Mengimpor Barang Jadi  ‐‐‐  ‐‐‐  3  222 

   Rata‐rata Pelayanan  2,40     1,48    

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa rata-rata waktu pelayanan perijinan melalui UPP adalah selama 2,4 hari untuk perijinan melalui UPP dan 1,48 hari untuk perijinan secara elektronik. Hal ini tentu saja menunjukkan keberhasilan yang cukup baik bagi Kementerian Perdagangan khususnya Ditjen Perdagangan Luar Negeri dalam memenuhi komitmen untuk meningkatkan pelayanan perizinan dan non-perizinan kepada para pelaku usaha ekspor dan impor. Secara rinci, realisasi pelayanan perizinan ekspor dan impor pada tahun 2008, 2009, 2010 dan tahun-tahun sebelumnya dapat dilihat pada Lampiran.

 

Pada tahun 2009, janji pelayanan perbaikan perizinan di bidang perdagangan luar negeri adalah rata-rata waktu penyelesaian perijinan untuk Importir Jalur Prioritas (IJP) adalah 8 jam (1 hari kerja). Hal ini sudah dapat dilaksanakan dengan baik oleh Ditjen Perdagangan Luar Negeri. Dengan demikian, capaian keberhasilan Ditjen Perdagangan Luar Negeri dalam meningkatkan pelayanan perizinan kepada pelaku usaha pada tahun 2009 dan 2010 menunjukkan kinerja yang sangat baik.

Penyediaan sejumlah perizinan online melalui inatrade yang mendukung NSW dan upaya penyederhanaan waktu pelayanan permohonan perizinan ekspor dan impor memegang peranan yang sangat vital dalam proses de-birokratisasi dan pernyederhanaan perijinan untuk memperbaiki layanan perizinan dan non-perizinan sektor perdagangan luar negeri. Perkembangan capaian jumlah perijinan dan waktu penyelesaian pelayanan dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 12

Jumlah Perijinan dan Waktu Penyelesaian

2010

Perbaikan iklim usaha

perdagangan Capaian Target Capaian 2009

Total ijin 108 ijin - 89 ijin

Jumlah ijin melalui UPP

(INATRADE) 78 ijin - 89 ijin

Jumlah perijinan On-line 26 ijin 40 ijin 53 ijin

Rata-rata waktu penyelesaian 8 Hari 4 Hari 4 Hari

Dari tabel diatas dapat terlihat bahwa proses deregulasi dan penyederhaaan perijinan untuk meningkatkan pelayan perijinan berlangsung dengan baik. Terkait dengan penyederhaanaan perijinan, dapat dilihat melalui penurunan jumlah ijin, dari 108 pada tahun 2009 menjadi 89 ijin di tahun 2010 (turun sebesar 17,59%). Yang mengalami peningkatan menggembirakan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya adalah rata-rata waktu penyelesaian, dimana tahun 2009 rata-rata perijinan di bidang perdagangan luar negeri dapat diselesaikan dalam waktu 8 hari maka pada tahun 2010 dapat diselesaikan dalam waktu 4 hari. Hal ini juga didukung dengan meningkatnya jumlah perijinan yang dapat dilayani secara on-line, dimana pencapaian 2010 melebihi target yang ditetapkan sejumlah 40 perijinan dan realisasi perijinan online sebesar 53 perizinan impor. Hal ini menunjukkan keberhasilan yang cukup baik dengan pencapaian sebesar 132,50%.

IK-17

Jumlah Penerbitan Kebijakan Fasilitasi Ekspor dan Impor

Guna meningkatkan kinerja pelayanan perijinan perdagangan luar negeri secara elektronik kepada dunia usaha dengan efektif, efisien, mudah dan transparan melalui Unit Pelayanan Perdagangan (UPP) dan pengajuan/penerimaan permohonan dan pemrosesan perijinan secara

elektronik (e-Licensing) sesuai dengan target yang telah ditetapkan maka

 

(Standard Operating Procedure) dan Tingkat Layanan (Service Level

Arrangement).

Sehubungan dengan hal tersebut, maka pada tahun 2010 Kementerian Perdagangan telah menerbitkan 2 (dua) kebijakan Menteri Perdagangan, yaitu:

1. Kebijakan/Peraturan Menteri Perdagangan Nomor : 32/M-DAG/PER/8/

2010 tanggal 9 Agustus 2010 tentang Unit Pelayanan Perdagangan (UPP) yang mengatur mengenai tugas dan fungsi dan struktur organisasi UPP guna meningkatkan kinerja layanan UPP kepada dunia usaha.

2. Kebijakan/Peraturan Menteri Perdagangan Nomor :

40/M-DAG/PER/10/2010 tanggal 12 Oktober 2010 tentang Jenis Perijinan

Ekspor dan Impor, Prosedur Operasi standar (Standard Operating

Procedure), dan Tingkat Layanan (Service Level Arrangement) Dengan Sistem Elektronik Melalui Inatrade Dalam Rangka Indonesia National Single Window.

Demikian pula, dengan memperhatikan perkembangan ketentuan perjanjian internasional dan peraturan perundangan – undangan serta perkembangan teknologi yang dapat digunakan dalam proses penerbitan SKA maka Kementerian Perdagangan telah melakukan penyempurnaan terhadap kebijakan yang terkait dengan penerbitan SKA, yaitu :

1) Kebijakan/Peraturan Menteri Perdagangan Nomor :

24/M-DAG/PER/5/2010 tanggal 24 Mei 2010 tentang Intansi Penerbit Surat Keterangan Asal (Certificate of Origin) Untuk Barang Ekspor Indonesia. Sebagai pengganti Peraturan Menteri Perdagangan Nomor : 43/M-DAG/PER/10/2007 tentang Penerbit Surat Keterangan Asal (Certificate of Origin) Untuk Barang Ekspor Indonesia.

2) Kebijakan/Peraturan Menteri Perdagangan Nomor :

33/M-DAG/PER/8/2010 tanggal 19 Agustus 2010 tentang Surat Keterangan Asal (Certificate of Origin) Untuk Barang Ekspor Indonesia. Penerbitan Peraturan Menteri Perdagangan tersebut merupakan penyempurnaan dari ketentuan penerbitan SKA sebagaimana sebelumnya diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor : 43/M-DAG/PER/10/2007. Dengan diterbitkannya empat kebijakan ini, maka setiap aktifitas yang mendukung kegiatan fasilitasi ekspor maupun impor telah memiliki landasan hukum. Dari 4 target kebijakan yang ditetapkan, telah diterbitkan 4 kebijakan sehingga capaian indikator ini adalah 100% yang menunjukkan kinerja keberhasilan yang cukup baik. Hal ini tentu saja merupakan kerja keras dari semua pihak dan komitmen yang cukup baik dari pimpinan. Pada tahun 2009, telah ditetapkan sejumlah 3 (tiga) Peraturan Menteri Perdagangan yang terkait fasilitasi ekspor dan impor. Beberapa peraturan tersebut adalah yang terkait dengan tarif SKA, ketentuan pelayanan perijinan ekspor dan impor melalui Inatrade dan jenis peraturan ekspor dan

impor terkait dengan SLA (Service Level Arrangement) dan SOP (Standard

 

IK-18 Jumlah Sistem Elektronik Bidang Fasilitasi Pelayanan Publik

Dalam rangka meningkatkan iklim usaha perdagangan luar negeri agar menjadi lebih kondusif, maka Kementerian Perdagangan secara terus menerus melakukan perbaikan dan penyempurnaan terhadap sistem layanan perizinan dan non-perizinan sektor perdagangan luar negeri. Pengembangan terhadap sistem layanan publik secara elektronik tersebut antara lain bertujuan untuk meningkatkan jumlah perizinan yang permohonan dapat di akses secara on line dan berkurangnya waktu layanan kepada pelaku usaha.

Pengembangan yang telah dilakukan sebelumnya adalah terhadap sistem penerbitan SKA atau SKA On Line, yang dimulai sejak tahun 2006 di 23 (dua puluh tiga) IPSKA, dan pada tahun 2007 dikembangkan dengan jumlah IPSKA yang dapat memanfaatkan sistem ini menjadi 28 (dua puluh delapan) IPSKA dari 85 (delapan puluh lima) IPSKA di seluruh Indonesia. Sementara itu, sampai dengan tahun 2009 di 57 Instansi Penerbit SKA (IPSKA) lainnya masih melakukan penerbitan SKA secara manual. Dengan dilakukan pengembangan

terhadap sistem penerbitan SKA On Line maka saat ini, seluruh jenis SKA

dapat diterbitkan secara elektronik (otomasi) pada 28 IPSKA Otomasi. Pengembangan terhadap sistem layanan publik yang dilakukan pada tahun 2010 adalah sebagai berikut :

1) Pembangunan sistem penerbitan SKA secara elektronik (On Line) di 57

(lima puluh tujuh) IPSKA yang merupakan kegiatan lanjutan berupa

pengembangan sistem sarana perekaman (recording) dan transfer data

SKA di 57 (lima puluh tujuh) IPSKA pada tahun 2009. Dengan sistem tersebut, maka data penerbitan SKA di 57 IPSKA tersebut akan dapat disampaikan melalui jaringan publik (internet) ke Kementerian Perdagangan setiap hari untuk melengkapi database SKA Nasional. Database nasional tersebut untuk selanjutnya akan ditukarkan dengan data SKA antar negara ASEAN.

2) Pengembangan sistem dan aplikasi permohonan perijinan ekspor dan

impor secara elektronik (e-licensing) antara lain adalah pengembangan sistem inhouse untuk perijinan ekspor-impor di lingkungan Kementerian Perdagangan dan penambahan fasilitas serta fitur-fitur lainnya yang belum berfungsi dengan baik pada tahun 2009. Dengan penambahan

fitur document tracking akan memudahkan pelaku usaha yang ingin

mengetahui secara real time proses pengurusan dokumennya.

Dengan pengembangan sistem tersebut pada tahun 2010 maka, proses pengajuan dan penerbitan SKA di daerah yang belum memiliki sistem otomasi pada tahun 2011 dapat dilakukan secara melalui website:

http://www.e-ska.kemendag.go.id.

Selain itu, terkait dengan SKA, maka dalam rangka mendukung pelaksanaan ASEAN Single Window, melalui sistem Inatrade sejak tanggal 1 Juli 2009 telah dilakukan pertukaran data CEPT Form D dengan Malaysia. Total data CEPT Form D yang telah dikirim ke portal NSW melalui INATRADE selama tahun 2010 adalah sebanyak 36.135 SKA dengan perincian sebagai berikut:

 

Tabel 13

Total Data CEPT Form D Terkirim ke Portal NSW Melalui INATRADE

No. Nama Negara Terkirim Proses Kirim Total

1 Brunei Darussalam 143 2 145 2 Cambodia 69 2 71 3 Laos 19 - 19 4 Malaysia 11.181 185 11.366 5 Myanmar 124 1 125 6 Philippines 6.076 132 6.208 7 Singapore 2.896 33 2.929 8 Thailand 8.571 148 8.719 9 Vietnam 6.463 90 6.553 T o t a l 35.542 593 36.135

Sumber: Kementerian Perdagangan

IK-19

Jumlah Pengguna (hak akses) Perijinan Ekspor dan Impor Online yang Dilayani Melalui INATRADE

Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 28/M-DAG/PER/6/2009 Tentang Ketentuan Pelayanan Perijinan Ekspor dan Impor dengan Sistem Elektronik Melalui Inatrade dalam Kerangka Indonesia National Single Window, ditetapkan bahwa pelayanan perijinan perdagangan hanya dapat dilakukan oleh perusahaan yang telah memiliki hak akses (hak pengguna).

Untuk lebih memaksimalkan pelayanan perijinan ekspor dan impor secara on line, maka Kementerian Perdagangan dalam hal ini Ditjen Perdagangan Luar Negeri pada tahun 2010, menargetkan sebanyak 1500 perusahaan telah memiliki pengguna hak akses (hak pengguna). Adapun realisasi perusahaan yang telah memiliki hak akses sampai dengan akhir tahun 2010 adalah sebanyak 1.536 perusahaan/pengguna. Tercapainya target hak akses sebesar 102% ini menggambarkan bahwa baik perusahaan maupun Pemerintah sangat antusias dalam usaha untuk memperbaiki layanan perijinan dan non-perijinan khususnya di bidang perdagangan luar negeri. Disamping itu, tersedia kemudahan berupa fasilitas bagi perusahaan untuk mendapatkan hak akses melalui

http://inatrade.depdag.go.iddan mengisi formulir yang tersedia secara lengkap dan benar serta menyampaikan hasil pencetakan kepada petugas INATRADE.

Namun demikian, apabila memperhatikan data yang ada dengan masih kecilnya jumlah perusahaan yang benar-benar memanfaatkan dan menggunakan hak akses dalam rangka permohonan perijinan secara online dibandingkan dengan jumlah perusahaan yang telah memiliki hak akses, maka untuk periode yang akan datang perlu dilakukan telaah/kajian yang lebih mendalam agar pemanfaatan layanan perijinan ekspor dan impor secara on line (e-licensing) oleh perusahaan yang telah

 

memiliki hak akses dapat meningkat secara signifikan.

Kinerja indikator ini tidak dapat dibandingkan dengan tahun sebelumnya karena indikator ini belum dijadikan sebagai indikator sasaran. Selain itu, landasan hukum terkait hak akses (pengguna) baru diterbitkan pada pertengahan tahun 2009. Namun demikian dapat disimpulkan bahwa kinerja Kementerian Perdagangan cq. Ditjen Perdagangan Luar Negeri sangat baik mengingat pada tahun pertama sudah berhasil mensosialisasikan dan meyakinkan 1.536 pelaku usaha untuk memperoleh hak akses (pengguna) online dalam pengajuan permohonan perijinan perdagangan luar negeri khususnya perijinan di bidang impor.

Perijinan elektronik dengan fitur document tracking dan pemenuhan

Service Level Arrangement merupakan terobosan yang dilakukan

Kementerian Perdagangan untuk memudahkan pelaku usaha yang ingin

mengetahui secara real time proses pengurusan dokumennya. Dengan

penyederhanaan proses perijinan di bidang perdagangan ini, diharapkan dapat meningkatkan daya saing untuk mendorong laju pertumbuhan ekspor.

Fasilitas ini dapat digunakan oleh pelaku usaha yang telah memiliki hak akses. Untuk mendapatkan hak akses, pelaku usaha dapat melakukan

permohonan dengan mendaftar melalui http://inatrade.depdag.go.id dan

mengisi formulir yang tersedia secara lengkap dan benar serta menyampaikan hasil pencetakan kepada petugas INATRADE.

Dalam perijinan secara elektronik ini diberlakukan prinsip perijinan ”single entry dan single exit point” sehingga tatap muka antara pemohon dengan pejabat pemroses dapat dihindari dalam proses perizinan khususnya perdagangan luar negeri dan perdagangan dalam negeri. Hal-hal diatas merupakan upaya penyerderhanaan proses perijinan serta perbaikan fungsi pelayanan perizinan (ekspor dan impor) agar pelayanan yang diberikan dapat dilaksanakan dengan baik, tertib, transparan, dan

terprediksi (good governance) kepada publik secara terpadu. Jumlah

layanan perijinan ekspor dan impor yang diterbitkan melalui UPP/INATRADE Tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 14

Perijinan yang Diterbitkan Melalui UPP/INATRADE Tahun 2010

No Jenis Perizinan 2010

1 Nomor Pengenal Importir 3.170

2 Importir Terdaftar (IT) 4.338

3 Persetujuan Impor (PI) 3.597

4 Importir Produsen (IP) 1.625

5 API-K 40

 

No Jenis Perizinan 2010

7 Persetujuan Ekspor (PE) Produk Pertanian & Kehutanan 513 8 Eksportir Terdaftar (ET) Ekspor Produk Pertanian & Kehutanan 493 9 Perijinan Ekspor (PE) Produk Pertanian & Kehutanan Lainnya 42 10 Persetujuan Ekspor (PE) Produk Industri & Pertambangan 439 11 Eksportir Terdaftar (ET) Ekspor Produk Industri & Pertambangan 20 12 Perijinan Ekspor (PE) Produk Industri & Pertambangan Lainnya 5

13 Surat Pendaftaran Barang (SPB) 10.931

Total Perijinan 23.144

Sumber: Kementerian Perdagangan

IK-20

Jumlah Bimbingan Teknis bidang Fasilitasi Perdagangan

Guna mendukung visi dan misi Kementerian Perdagangan maka pada tahun 2010 telah pula dilaksanakan kegiatan bimbingan teknis. Bimbingan teknis ini diberikan kepada para pelaku usaha di daerah dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai perkembangan penyelenggaraan fasilitasi ekspor dan impor antara lain :

1) Bimbingan teknis skema imbal dagang di 2 (dua) daerah yaitu :

Gorontalo dan Nusa Tenggara Barat dengan jumlah peserta sebanyak 140 orang;

2) Bimbingan teknis SKA di 5 (lima) daerah yaitu : Bengkulu, NTB, Jambi, Lampung dan DI. Yogyakarta dengan jumlah peserta sebanyak 375 orang;

3) Bimbingan teknis aplikasi Inatrade di 7 (tujuh) daerah yaitu : Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Batam dan DKI Jakarta dengan jumlah peserta sebanyak 560 orang, khusus untuk Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur merupakan pengulangan dari kegiatan tahun sebelumnya, hal ini dimaksudkan untuk memperdalam materi yang diberikan serta mengakomodir munculnya beberapa isu-isu baru yang terjadi di propinsi;

4) Dalam rangka pemberdayaan UKM khususnya yang berorientasi ekspor

melalui kegiatan ini telah pula diberikan pengetahuan mengenai tatacara dan prosedur penyusunan laporan keuangan dan sistem

pembiayaan perdagangan (Trade Fiancing) di 12 (dua belas) daerah

yaitu : Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Riau, Kalimantan Timur, DI. Yogyakarta, Jawa Tengah, Sulawesi Utara, Bali, Lampung dan Sulawesi Selatan) dengan peserta sebanyak 720 orang.

 

Melalui pelaksanaan bimbingan teknis tentang penyelenggaraan fasilitasi ekspor dan impor tersebut, maka pelaku usaha di bidang perdagangan luar negeri dapat memanfaatkan semaksimal mungkin fasilitas dan kemudahan yang diberikan oleh pemerintah maupun pihak negara tujuan ekspor.

Sedangkan pada tahun 2009 jumlah bimbingan teknis yang diberikan berjumlah total 27 Bimbingan teknis dengan perincian sebagai berikut:

1) Bimbingan teknis Penggunaan Aplikasi Inatrade di 9 (sembilan)

daerah yaitu Sumut, Pekanbaru, Sumbar, Palembang, DKI, Jateng, Jatim, Batam dan Jabar dengan jumlah peserta 720 orang;

2) Bimbingan teknis verifikasi Pengguna Jasa Inatrade di 5 wilayah

Propinsi DKI Jakarta;

3) Bimbingan teknis kebijakan tatacara penerbitan SKA di 6 (enam)

daerah;

4) Bimbingan teknis SKA dalam rangka FTA (CEPT-AFTA, ACFTA,

AKFTA, IJEPA Dan AANZ) di 8 (delapan) daerah yaitu Ambon, Bengkulu, Gorontalo, Sulteng, Jateng, Batam, Sulsel, dan Kaltim;

5) Bimbingan teknis Penyusunan Dasar-Dasar Laporan Keuangan di 5

(lima) daerah yaitu Bengkulu, Palu, Manado, Aceh dan Jawa Barat.

Perbedaan pada tahun 2009 dengan 2010 terletak pada jenis Bimtek yang dilaksanakan, dimana pada tahun 2009 terdapat 11 Bimtek berfokus pada SKA dan 9 Bimtek berfokus pada pengembangan Inatrade, sedangkan pada tahun 2010 terdapat 12 Bimtek berfokus pada sistem pembiayaan

perdagangan (Trade Financing) dan penyusunan laporan keuangan.

Secara umum, seluruh indikator yang terkait dengan penyederhanaan perizinan perdagangan luar negeri adalah untuk membaiknya layanan perijinan dan non-perijinan sektor perdagangan luar negeri, baik dalam hal jumlah perijinan online maupun dalam hal minimasi waktu layanan. Hal ini sebagaimana dilihat pada uraian sebelumnya telah menunjukkan keberhasilan yang sangat baik. Hal ini tentu saja mendukung terhadap tujuan akhir dari sasaran ini adalah untuk perbaikan iklim usaha perdagangan luar negeri agar menjadi lebih kondusif. Hal ini salah satunya dapat dilihat dari iklim investasi yang membaik yang dilihat dari

realisasi investasi dari dalam negeri (PMDN=Penanaman Modal Dalam

Negeri) maupun realisasi investasi dari luar negeri (PMA=Penanaman Modal Asing) pada tahun 2009.

Selain itu perbaikan iklim usaha perdagangan luar negeri juga dapat

dilihat melalui hasil survei yang dilakukan oleh Japan Bank for