MISI II: PENGUATAN PASAR DALAM NEGERI
Sasaran 9 Pertumbuhan PDB Sektor Perdagangan
Sasaran 9 Pertumbuhan PDB Sektor Perdagangan
”Meningkatnya output sektor perdagangan yang senantiasa tumbuh semakin
positif setiap tahunnya”
Tabel 25
Capaian Indikator Kinerja Sasaran 9
No Indikator Kinerja Rencana Tingkat Capaian Realisasi Capaian (%)
43 % Pertumbuhan PDB sektor perdagangan 3,4% 8,7% 255,9%
44
Jumlah waralaba asing yang terdaftar (berdasarkan Surat Tanda Pendaftaran yang dikeluarkan oleh Kemendag)
126 waralaba asing 143 118%
45
Jumlah waralaba lokal/UKM yang terdaftar (berdasarkan Surat Tanda Pendaftaran yang dikeluarkan oleh Disperindag Kab/Kota)
51 waralaba lokal 0 0%
46 Jumlah Gudang Yang Masuk Dalam Skema SRG 45 Gudang 24 53,33 %
47 Jumlah cakupan komoditi, daerah dan kontributor dalam sistem informasi harga 7 komoditi, 7 daerah, 160 orang 7 komoditi, 7 daerah, 160 orang 100 % IK-43 Prosentase Pertumbuhan PDB sektor perdagangan
Kinerja perdagangan, selain dipengaruhi oleh kondisi perekonomian dunia, juga dipengaruhi oleh dinamika ekonomi Indonesia sendiri. Pertumbuhan PDB ASEAN (regional) tahun 2010 sebesar 7,8%, sedangkan PDB Indonesia tumbuh 6,1% di bawah tetangga terdekat Singapura, Malaysia. Di sisi lain dinamika ekonomi dan faktor geografis Indonesia mempengaruhi kinerja perdagangan, antara lain stabilitas makro, kondisi infrastruktur, kebijakan iklim usaha dan investasi, serta juga climate change.
Tabel 26
Pertumbuhan Ekonomi Negara-Negara Asean (%)
Nega ra 20 0 6 20 0 7 2 0 08 2 0 09 2 0 10 Brun ei 4 ,4 0 ,2 - 1,9 - 1,8 2,0 Indon es ia 5 ,5 6 ,3 6,0 4,6 6,1 Sin ga pura 8 ,6 8 ,8 1,5 - 0,8 1 4,5 M ala ys ia 5 ,8 6 ,5 4,7 - 1,7 7,2 Tha ila nd 5 ,1 5 ,0 2,5 - 2,3 7,8 Vie t na m 8 ,2 8 ,5 6,3 5,3 6,8 Filipina 5 ,3 7 ,1 3,7 1,1 7,3 La os 8 ,1 7 ,9 7,2 7,3 7,5 M ya nma r 7 ,0 5 ,5 3,6 5,1 5,3 Kambo ja 1 0 ,8 1 0 ,2 6,7 0,1 6,3 ASE AN 6 ,1 6 ,7 4,2 1,2 7,8 Sumber: ADB
TUJUAN 6: Peningkatan Kinerja Sektor Perdagangan Besar dan Eceran,
Secara kualitas, semakin pentingnya sektor perdagangan terlihat dari kegiatan-kegiatan yang lebih mengedepankan kegiatan usaha perdagangan untuk mendukung sektor lain seperti sektor industri, telekomunikasi, transportasi, pertanian, kehutanan, perikanan, turisme, pertambangan, dan lain-lain. Dukungan kegiatan tersebut memberikan pengaruh yang positif terhadap meningkatnya kontribusi sektor perdagangan dalam pembangunan ekonomi secara nasional. Kegiatan-kegiatan ini antara lain meliputi perbaikan pelayanan publik, peningkatan iklim usaha, pembangunan/revitalisasi pasar tradisional, peningkatan kelancaran distribusi bahan kebutuhan pokok dan barang strategis, penurunan disparitas harga antar provinsi serta stabilisasi harga dengan harga yang layak untuk konsumsi masyarakat.
PDB sektor perdagangan pada tahun 2008 sebesar 363,8 triliun (atas harga konstan 2000), namun pada tahun 2010 nilai PDB sektor perdagangan sebesar 400,6 triliun. Sektor perdagangan adalah sumber pertumbuhan ekonomi nasional yang paling besar. Laju pertumbuhan ekonomi 2010 adalah 6,1%, sedangkan sektor perdagangan menyumbang 1,5% atau angka tertinggi dibangdingkan sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan; Pertambangan dan Penggalian; Industri Pengolahan; Listrik, Gas dan Air Bersih; Konstruksi; Pengangkutan dan Komunikasi; Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan; dan Jasa-jasa lainnya yang menyumbang berturut-turut 0,4%; 0,3%; 1,2%; 0,0%; 0,4%; 1,2%; 0,5%;dan 0,6%.
Tabel 27
PDB Perdagangan
Harga Berlaku
(triliun rupiah) Harga Konstan 2000 (triliun rupiah)
2008 2009 2010 2008 2009 2010
Laju
(Persen) (Persen) Sumber
Perdagangan, Hotel dan Restoran
691,5 744,1 881,1 363,8 368,6 400,6 8,7 1,5
Gambar 22
Kontribusi Sektor Perdagangan Terhadap PDB 2005 – 2010
Ket: Termasuk Hotel dan Restoran
Sumber: BPS Kontribusi sektor perdagangan terhadap PDB tahun 2010 mengalami kenaikan sebesar 8,7% dibandingkan tahun 2009
Nilai tambah sektor perdagangan selama periode 2005−2010 menunjukkan
peningkatan dari tahun ke tahun, yaitu dari Rp 293,9 triliun pada tahun 2005, Rp 691,5 triliun pada tahun 2008, menjadi Rp 881,1 triliun pada tahun 2010 (harga berlaku). Adapun kontribusi sektor perdagangan, hotel dan restoran terhadap PDB selama periode tersebut meningkat. Pada tahun 2010, kontribusi sektor perdagangan terhadap PDB mengalami kenaikan dari tahun 2009 sebesar 8,7%.
Sementara itu, pertumbuhan sektor perdagangan juga mengalami fluktuasi dari tahun 2005-2010. Tingkat pertumbuhan sektor perdagangan mencapai penurunan terendah pada tahun 2009, yaitu sebesar 1,1%. Hal tersebut mengindikasikan bahwa memburuknya kinerja ekspor juga memberikan pengaruh negatif terhadap dukungan perdagangan terhadap perekonomian. Walaupun tumbuh dengan nilai pertumbuhan kecil, namun hal tersebut tetap menggembirakan karena tetap tumbuh positif, berbeda dengan sejumlah negara maju dan berkembang yang justru mengalami pertumbuhan negatif.
IK-44
Jumlah waralaba asing yang terdaftar (berdasarkan Surat Tanda Pendaftaran yang dikeluarkan oleh Kemendag)
Kementerian Perdagangan hingga akhir tahun 2010 telah menerbitkan Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW) dengan jumlah 143 STPW. Hal ini mengambarkan bahwa minat pengusaha dalam berbisnis waralaba memiliki trend yang meningkat setiap tahunnya. Hingga tahun 2009 Kementerian Perdagangan telah mengeluarkan STPW sebanyak 121 STPW. Kenaikan jumlah penerbitan STPW tahun 2010 melebihi target yang ditetapkan sebesar 118% yaitu 126 STPW. Indikator kinerja ini baru di terapkan pada 2010 sesuai amanat Renstra Kemendag Tahun 2010 – 2014.
IK-45 Jumlah waralaba lokal/UKM yang terdaftar (berdasarkan Surat Tanda Pendaftaran yang dikeluarkan oleh Disperindag Kab/Kota)
Pada tahun 2010 Kementerian Perdagangan belum menerima laporan penerbitan Surat Tanda Penerbitan Waralaba Lokal yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Hal ini disebabkan belum dapat diimplementasikannya Permendag No.31/M-DAG/PER/8/2008 di daerah. Pemda belum menerbitkan Perda maupun SK Bupati/Walikota yang mengatur mengenai penerbitan STPW, sehingga usaha waralaba lokal belum dapat diberikan STPW. Kementerian perdagangan menyarankan agar selama Peraturan Daerah yang mengatur tentang waralaba belum diterbitkan, Pemerintah Daerah dapat menginisiasi untuk menerbitkan Surat Keputusan Bupati/Walikota yang mengacu kepada Permendag No. 31/M-DAG/PER/8/2008. Indikator kinerja ini baru di terapkan pada 2010 sesuai amanat Renstra Kemendag Tahun 2010 – 2014.
IK-46
Jumlah pengelola Sistem Resi Gudang (SRG)
Sistem Resi Gudang merupakan salah satu instrumen penting dan efektif dalam sistem pembiayaan perdagangan. Di Indonesia, Sistem Resi Gudang ini diatur oleh Undang-Undang Nomor 9 tahun 2006 tentang Sistem Resi Gudang. Pengertian tentang resi gudang menurut undang-undang tersebut adalah "dokumen bukti kepemilikan atas barang yang disimpan di gudang yang diterbitkan oleh pengelola gudang".
Ketentuan tentang pelaksanaan UU Nomor 9 Tahun 2006 tentang Sistem Resi Gudang diatur dalam Peraturan Pemerintah dengan telah diterbitkannya pada 22 Juni 2007 Peraturan Pemerintah Nomor 36 tahun 2007 tentang Resi Gudang.
Disamping peraturan pemerintah tersebut, pada tanggal 29 Juni 2007, telah diterbitkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 26/M-DAG/PER/6/2007 yang telah menetapkan delapan komoditi pertanian sebagai barang yang dapat disimpan di gudang dalam penyelenggaraan Sistem Resi Gudang. Kedelapan komoditi itu adalah: Gabah, Beras, Jagung, Kopi, Kakao, Lada , Karet, Rumput laut.
Pada tahun 2010 jumlah Gudang yang telah masuk dalam skema SRG sebanyak 24 unit atau sebesar 53 % dari target yang telah ditetapkan. Hal ini terjadi dikarenakan dalam pelaksanaan/implementasi SRG di daerah ditemui adanya beberapa ketidaksiapan daerah terutama mengenai masalah kelembagaan dalam SRG, yang meliputi pengelola gudang, LPK, perbankan, serta pelaku usaha di daerah sendiri.
Resi Gudang total telah diterbitkan sebanyak 86 resi dengan volume sebanyak 3.022 ton
Daerah-daerah yang sudah mengimplementasikan Sistem Resi Gudang hingga tahun 2010 yaitu Indramayu, Subang, Karanganyar, Jombang, Banyumas, Banyuwangi, Barito Kuala, Sidrap, Pinrang dan Gowa. Secara total, Resi Gudang yang telah diterbitkan sebanyak 86 resi dengan total volume komoditi sebanyak 3.022 ton (2.896 ton gabah dan 126,25 ton jagung) atau total senilai Rp. 10,67 milyar. Berikut adalah tabel perkembangan penerbitan Resi Gudang dari Tahun 2008 – 2010.
Tabel 28
Perkembangan Penerbitan Resi Gudang Dari Tahun 2008-2010
PENERBITAN
Resi Gudang Komoditi
TAHUN
Jumlah % Volume (ton) % Nilai Barang (Rp) %
2008 16 508.83 1,431,616,200
2009 13 -19% 214.11 -58% 552,962,240 -61%
2010 57 338% 2,299.94 974% 8,678,733,500 1469%
TOTAL 86 3,022.88 10,663,311,940
Sumber: Kementerian Perdagangan
Untuk pembiayaan Resi Gudang hingga saat ini telah dilakukan oleh lembaga keuangan bank seperti BRI, Bank BJB, Bank Jatim, Bank Kalsel, dan lembaga keuangan non-bank seperti BPRS Bina Amanah Satria Purwokerto, Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) dan Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Kementerian KUKM. Nilai total pembiayaan yang telah diberikan sejak mulai dilaksanakannya SRG tahun 2008 hingga tahun 2010 sebesar Rp. 4,6 milyar atau rata-rata 70 % dari nilai Resi Gudang yang diagunkan.
Tabel 29
Perkembangan Pembiayaan Resi Gudang Tahun 2008 – 2010
PEMBIAYAAN
TAHUN Jumlah RG Nilai % Lembaga Keuangan
2008 6 Rp 313,900,000 BPRS Bina Amanah, BRI, Bank Jatim
2009 5 Rp 136,800,000 44% BRI
2010 33 Rp 4,185,892,350 2960% BRI, Bank Jatim, Bank BJB, Bank Kalsel, PKBL KBI, LPDB
TOTAL 44 Rp 4,636,592,350
Sumber: Kementerian Perdagangan
Untuk meringankan beban bunga bank dalam pemanfaatan SRG, khususnya bagi Petani, Kelompok Tani, Gabungan Kelompok Tani dan Koperasi Tani, pemerintah telah menerbitkan peraturan tentang pemberian Subsidi Bunga Kredit Resi Gudang melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK.05/2009 tentang Skema Subsidi Resi Gudang (S-SRG). Untuk pelaksanaan skema Subsidi Resi Gudang tersebut, telah diterbitkan pula Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 66/M-DAG/PER/12/2009 tentang Pelaksanaan Skema Subsidi Resi Gudang. Subsidi Bunga ini akan disalurkan melalui bank-bank pelaksana yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan. Beban bunga kepada peserta (Petani, Kelompok Tani, Gabungan Kelompok Tani dan Koperasi) S-SRG ditetapkan sebesar 6%. Sedangkan selisih tingkat bunga S-SRG dengan beban bunga Peserta S-SRG merupakan subsidi Pemerintah. Subsidi bunga diberikan selama masa jangka waktu S-SRG paling lama 6 bulan. Bank-bank yang saat ini telah ditetapkan oleh
Kementerian Keuangan sebagai Bank Penyalur S-SRG adalah Bank Jabar dan Bank Jatim, Bank BRI, Bank Jateng, Bank Kaltim sedangkan untuk Bank DIY masih dalam proses Perjanjian Kerjasama Pembiayaan antara Bank tersebut dengan Kementerian Keuangan.
Tabel 30
Pembiayaan Subsidi Sistem Resi Gudang (S-SRG)
NO BANK PENYALUR JUMLAH RESI GUDANG DIBIAYAI S-SRG NILAI PEMBIAYAAN S-SRG (Rp)
1 Bank BRI 2 775.493.600
2 Bank BJB 7 829.000.000
3 Bank Kalsel 4 119.031.500
4 Bank Jateng 0 -
5 Bank Jatim 4 632.205.000
TOTAL 17 2.355.730.100Sumber: Kementerian Perdagangan
Sesuai dengan peraturan yang ada, untuk dapat ikut serta sebagai lembaga dalam Sistem Resi Gudang (SRG), maka pelaku Sistem Resi Gudang harus mendapat persetujuan dari BAPPEBTI, adapun Persetujuan Kelembagaan yang telah dikeluarkan hingga saat ini sebanyak 48 persetujuan, terdiri dari:
- Pusat Registrasi : 1 Persetujuan
- Pengeloa Gudang : 6 Persetujuan
- Gudang : 24 Persetujuan
- LPK Inspeksi Gudang : 3 Persetujuan
- LPK Manajemen Mutu : 1 Persetujuan
- LPK Uji Mutu Komoditi : 13 Persetujuan
Dalam perkembangannya selama 5 tahun terakhir ini Implementasi Sistem Resi Gudang (SRG) belum berjalan seperti yang diharapkan, karena adanya beberapa kendala antara lain:
a) Kurangnya Pemahaman dan Komitmen Masyarakat, Pelaku Usaha, dan
Dunia Perbankan Terhadap Mekanisme SRG;
b) Pemanfaatan Gudang Belum Optimal;
c) Kualitas Produk Belum Sepenuhnya Memenuhi Standard Mutu Yang
Diharapkan;
d) Sinergi Antar Instansi Terkait, Pemda & Sektor Swasta Serta Pelaku SRG Belum Maksimal;
e) Minimnya Pengkajian dan Penelitian tentang Sistem Resi Gudang;
f) Pihak yang Memanfaatkan Sistem Resi Gudang masih sangat terbatas;
g) Belum ada kesepahaman dalam proses pelaksanaan Skema Subsidi Resi
Gudang (S-SRG) di lapangan sehingga proses pencairan kredit S-SRG relatif lebih lama.
IK-47
Jumlah Cakupan Komoditi, Daerah dan Kontributor Dalam Sistem Informasi Harga
Dalam Rangka mendukung Sistem Resi Gudang, kementerian perdagangan melalui Bappebti telah mengembangkan sistem informasi harga komoditi. Latar belakang pengembangan sistem informasi harga ini karena Indonesia sebagai negara produsen utama komoditi primer hingga saat ini belum memiliki referensi harga yang dapat mewakili harga komoditas unggulan Indonesia. Pihak-pihak yang berkepentingan masih mengacu harga komoditasnya kepada pasar Internasional maupun pada Bursa Komoditi yang diharapkan menjadi sarana pembentukan harga. Akan tetapi karena hal tersebut belum sepenuhnya berjalan, maka harga yang terbentuk di bursa saat ini belum mencerminkan harga riil di pasar, sehingga para petani/produsen masih kesulitan untuk mendapatkan harga jual yang wajar bagi komoditi yang akan dipasarkan.
Keberhasilan pengembangan Sistem Resi Gudang tergantung dukungan dari instansi-instansi terkait seperti Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, BUMN dan instansi terkait lainnya dalam meningkatkan jumlah pelaku usaha SRG. Dengan telah dibangunnya 41 gudang SRG melalui Dana Stimulus Fiskal di tahun anggaran 2009 dan 11 gudang lagi di tahun 2010 di beberapa daerah sentra produksi, diharapkan dapat mempercepat penerapan SRG. Dengan meningkatnya jumlah gudang secara tidak langsung akan berdampak pada peningkatan jumlah pelaku usaha, apalagi didukung dengan kegiatan-kegiatan dari Kementerian Perdagangan. Sistem informasi harga ini telah diterapkan pada 7 komoditi yaitu kakao, kopi, lada putih, gabah, beras, jagung dan kedelai di 8 daerah sentra produksi yaitu Makassar (sentra kakao dan jagung),Lampung(sentra kopi), Pangkalpinang(sentra lada), Indramayu(sentra gabah dan beras), Banyumas(sentra gabah dan beras), Jombang(sentra gabah), Gowa dan Surabaya(sentra kedelai) dengan 20 orang kontributor pada tiap daerah. Empat daerah diantaranya adalah pilot project penerapan sistem resi gudang (makassar, indramayu, banyumas, jombang).
Mekanisme kegiatan ini dapat digambarkan sebagai berikut: para kotributor bertugas mengirimkan informasi harga secara riil yang terjadi pada masing-masing level melalui SMS ke nomor yang telah ditetapkan Bappebti, 2 kali setiap hari, yaitu sesi pagi dan sesi sore. Sesi pagi mulai pukul 8.00 s/d pukul 12.00 WIB. Sedangkan sesi sore mulai pukul 13.00 s/d pukul 17.00. Informasi harga komoditi yang dikirimkan kontributor akan diproses dengan cara verifikasi format SMS dan harga komoditi yang masuk akan dibandingkan dengan indeks harga sesi sebelumnya secara otomatis oleh sistem aplikasi, sehingga dapat terbentuk harga referensi yang valid, reliable, dan transparan baik ditingkat petani/produsen, pedagang pengumpul/perantara dan eksportir. Dari hasil diskusi yang pernah dilakukan dengan konsultan dari IFC, diketahui bahwa harga yang terbentuk dari sistem informasi harga bappebti kementerian Perdagangan memiliki pola (patern) yang tidak jauh berbeda dengan pola harga komoditas secara internasional. Hal ini menunjukkan bahwa harga yang terbentuk adalah wajar sesuai dengan permintaan pasar. Untuk melihat harga yang terbentuk, calon pengguna dapat mengakses ke alamat website: http//infoharga.bappebti.go.id/
Diharapkan harga referensi yang terbentuk dapat membantu para petani untuk menentukankan harga jual komoditinya, yang secara tidak langsung akan meningkatkan kesejahteraan para mereka melalui peningkatan posisi tawar pada level petani/produsen, sekaligus menjadi harga referensi yang dapat digunakan dalam pelaksanaan Sistem Resi Gudang.