• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyerdehanaan Perizinan Perdagangan Dalam Negeri

MISI II: PENGUATAN PASAR DALAM NEGERI

Sasaran 8 Penyerdehanaan Perizinan Perdagangan Dalam Negeri

Sasaran 8 Penyerdehanaan Perizinan Perdagangan Dalam Negeri

“Membaiknya layanan perizinan dan non-perizinan sektor perdagangan dalam

negeri, baik dalam hal jumlah perizinan online maupun dalam hal minimasi

waktu layanan”

Perijinan bidang perdagangan dalam negeri berkaitan dengan pembinaan pasar dan distribusi, pembinaan usaha dan pendaftaran perusahaan, dan kemetrologian, serta yang terkait dengan perdagangan berjangka komoditi dan sistem resi gudang.

Tabel 23

Capaian Indikator Kinerja Sasaran 8

No Indikator Kinerja Rencana Tingkat Capaian Realisasi Capaian (%)

40 Jumlah perizinan online perdagangan dalam negeri 12 jenis 12 jenis 100% 41 Jumlah hari waktu pelayanan penyelesaian perdagangan dalam

negeri 6 hari 6 hari 100%

42

Jumlah rumusan kebijakan pembinaan usaha, lembaga perdagangan dan pendaftaran perusahaan yang disusun

10 kebijakan 10 kebijakan 100%

IK-40

Jumlah perizinan online perdagangan dalam negeri

UPP perdagangan dalam negeri memberikan layanan perizinan dengan

prinsip ”single entry dan single exit point” sehingga proses perijinan

khususnya perdagangan dalam negeri tidak lagi dilakukan secara tatap muka antara pemohon dengan pejabat pemroses.

Saat ini terdapat 21 jenis perijinan yang dilayani oleh Kementerian Perdagangan, dengan 12 jenis perijinan yang sudah dapat dilayani secara online. Target jumlah perijinan perdagangan dalam negeri dapat tercapai sesuai Renstra.

Tabel 24

Perkembangan Pelayanan/Perijinan Perdagangan Dalam Negeri

Tahun 2009 - 2010

No Jenis Perizinan Tahun 2009 Tahun 2010 ∆ % Keterangan

1 Jasa Surveyor 29 30 103

2 Surat Izin Usaha Penjualan

Langsung (MLM): 46 - 0 Pindah Ke BKPM

3 SIUP P4 11 101 918 Jasa ini baru dilaksanakan pada akhir

tahun 2009

4

STP Waralaba Asing 27 22 (-122)

 

No Jenis Perizinan Tahun 2009 Tahun 2010 ∆ % Keterangan

5

STP Keagenan/Distributor 1911 1853 (-103)

6

SIUP3A 310 738 238

7

SIUP-Minuman Beralkohol 120 182 151

8

PKAPT 117 122 104

9

PGAPT 119 181 152

10

SPPGAP 338 162 (-208)

11

SPPGRAP 402 451 112

12

Pameran, Konvensi dan Seminar

Int’l 22 29 131

Sumber: Kementerian Perdagangan

Perijinan terkait dengan pembinaan pasar dan distribusi, antara lain: (i) ijin usaha perdagangan minuman beralkohol (SIUP-MB), (ii) ijin distributor importir terdaftar minuman beralkohol, (iii) persetujuan penyelenggaraan pameran dagang, (iv) ijin pedagang kayu antar pulau terdaftar (PKAPT), dan (v) ijin pedagang gula antar pulau terdaftar (PGAPT).

Gambar 18

Jumlah Ijin Bidang Pembinaan Pasar dan Distribusi s.d. Des 2010

 

Seperti yang ditunjukkan pada di atas jumlah ijin bidang pembinaan pasar dan distribusi yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan hingga Desember 2010 didominasi oleh Surat Persetujuan Penjualan Gula Rafinasi Antar Pulau (SPPGRAP) , sebanyak 451 ijin usaha. Hal tersebut menunjukkan Permendag yang mengatur tata niaga gula dalam rangka menjaga stabilitas pasokan yang cukup dan harga yang terjangkau bagi masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.

Sementara itu, Surat Ijin Usaha Perdagangan-Minuman Beralkohol sebanyak 182 ijin usaha hingga Desember 2010. Hal tersebut menunjukkan Permendag yang mengatur tata niaga impor minuman beralkohol memicu ekspektasi positif dari dunia usaha yang ingin berkecimpung di usaha tersebut.

 

Gambar 19

Jumlah Ijin Bidang Pembinaan Usaha dan Pendaftaran Perusahaan s.d. Des. 2010

Sementara itu, jumlah ijin bidang pembinaan usaha dan pendaftaran perusahaan yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan hingga Desember 2010 sebanyak 1.853 yang menggambarkan iklim berusaha di Indonesia semakin kondusif, dilihat dari kacamata investor, terutama oleh pelaku usaha perdagangan asing.

Gambar 20

Jumlah Ijin Bidang Kemetrologian s.d.Des 2010

2.494 

986 

171 

557 

1.524 

Kalibrasi alat ukur

Sertifikat kalibrasi

Penelitian UTTP

Tera

Tera ulang

Komposisi ijin bidang kemetrologian hingga September 2010, didominasi oleh ijin kalibrasi sebanyak 2.494 alat ukur, diikuti dengan ijin tera ulang 1.524 alat ukur dan ijin-ijin lainnnya. Indikasi ini menunjukkan bahwa geliat dunia usaha untuk memaksimalkan peran kemetrologian relatif besar dan meningkatnya kesadaran pentingnya berusaha secara jujur (fair trade) sehingga iklim usaha semakin kondusif.

 

Indikator kinerja ini baru di terapkan pada 2010 sesuai amanat Renstra Kemendag Tahun 2010 – 2014. Selanjutnya, Kementerian Perdagangan akan terus memantau perkembangan komposisi ijin di bidang kemetrologian ini pada tahun-tahun berikutnya.

IK-41

Jumlah hari waktu pelayanan penyelesaian

Waktu penyelesaian permohonan perijinan menjadi lebih singkat dan tanpa dipungut biaya. Sebelumnya, penyelesaian perijinan memakan

waktu antara 5-15 hari kerja, tetapi dengan penerapan sistem online,

waktu persetujuan permohonan perizinan menjadi sekitar 1−5 hari kerja. Hal ini menunjukkan bahwa Kementerian Perdagangan telah berhasil mengurangi waktu pelayanan penyelesaian perijinan.

Untuk pengurusan ijin bidang perdagangan berjangka komoditi dan sistem resi gudang , rata-rata waktu penyelesaian permohonan perijinan menjadi lebih singkat, dari sebelumnya memakan waktu 45 hari kerja menjadi 32 hari kerja.

Indikator kinerja ini baru di terapkan pada 2010 sesuai amanat Renstra Kemendag Tahun 2010 – 2014 IK-42 Jumlah Rumusan Kebijakan Pembinaan Usaha, Lembaga Perdagangan dan Pendaftaran Perusahaan yang Disusun

Dalam rangka menciptakan iklim usaha yang sehat dan tertib, Kementerian Perdagangan pembinaan dunia usaha melalui :

‐ Pembinaan kelembagaan dan lembaga perdagangan: eksportir,

importir, perdagangan besar (wholesaler), perdagangan eceran (retailer).

‐ Pembinaan terhadap kewajiban pelaku usaha.

‐ Pembinaan dalam peningkatan SDM di bidang perdagangan melalui

penyelenggaraan pelatihan, penyusunan standar profesi usaha dan profesi jasa, serta sertifikasi usaha dan profesi jasa.

‐ Kewajiban pendaftaran perusahaan bagi setiap perusahaan,

‐ Kewajiban melaporkan Laporan Keuangan Tahunan Perusahaan (LKTP)

kepada setiap perseroan terbatas (PT), perusahaan asing yang ada di Indonesia, Persero, Perum dan Perusahaan Daerah.

Kesemuanya itu memerlukan rumusan kebijakan di bidang Pembinaan Usaha, Lembaga Perdagangan, dan Pendaftaran Perusahaan. Rumusan kebijakan yang telah disusun Kementerian Perdagangan selama tahun 2010 terdapat 10 kebijakan yang berkaitan dengan Pembinaan Usaha, Lembaga Perdagangan, dan Pendaftaran Perusahaan. Rumusan kebijakan tersebut antara lain :

1. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 28 Tahun 2010 yang

merupakan Perubahan Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 10 Tahun 2006 Tentang Ketentuan Dan Tata Cara Penerbitan Surat Izin Usaha Perwakilan Perusahaan Perdagangan Asing.

 

2. Peraturan Menteri Perdagangan No. 18 Tahun 2010 tentang

Penundaan Pelaksanaan Peraturan Menteri Perdagangan 46 Tahun 2009 tentang Penerbitan SIUP bagi Provinsi DKI Jakarta

3. Nota Kesepahaman 3 (Tiga) Menteri, berisikan tentang Sinergi

Program Pengembangan Ekonomi dan Penataan Lingkungan Perkotaan melalui Penguatan Sektor Usaha Mikro. Dari segi perdagangan, Kementerian Perdagangan akan mengambil peran untuk melakukan fasilitasi sarana usaha produktif, bimbingan teknis dan pelatihan kewirausahaan kepada usaha mikro dan PKL setelah mendapatkan usulan dari Pemerintah Daerah. Salah satu program pemberdayaan dan pembinaan usaha mikro yang dimiliki Kementerian Perdagangan adalah kemitraan dengan usaha besar dan mikro atau PKL.

4. Rancangan Peraturan Pemerintah Tentang Perizinan di bidang usaha

yang terkait dengan lingkungan.

5. Rancangan Instruksi Presiden tentang Peningkatan Daya Saing,

Pemanfaatan dan Pemenuhan Komitmen Cetak Biru Masyarakat Ekonomi ASEAN Tahun 2015 Periode 2010 – 2011.

6. Surat Edaran Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Nomor 01

Tahun 2010 Tentang Percepatan Penerbitan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dan Tanda Daftar Perusahaan (TDP).

7. Surat Edaran Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Nomor 04

Tahun 2010 Tentang Syarat-syarat Perdagangan Antara Pemasok Barang dan Toko Modern.

8. Surat Edaran Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kepada

Seluruh Kepala Dinas Propinsi maupun Kabupaten dan Kota yang membidangi Perdagangan, Nomor 104 Tahun 2010, tentang Penjelasan Penerbitan Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW)

9. Surat Keputusan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Nomor

57 Tahun 2010 tentang Pembentukan Tim Identifikasi, Monitoring dan Supervisi Percepatan Pelayanan Perizinan dan Non Perizinan Memulai Usaha Bidang Perdagangan

Keputusan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Nomor 123 Tahun 2010 Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Uang Jaminan Perwakilan Perusahaan Perdagangan Asing.

Nota Kesepahaman 3 (Tiga) Menteri, berisikan tentang Sinergi Program Pengembangan Ekonomi dan Penataan Lingkungan Perkotaan melalui Penguatan Sektor Usaha Mikro. Dari segi perdagangan, Kementerian Perdagangan akan mengambil peran untuk melakukan fasilitasi sarana usaha produktif, bimbingan teknis dan pelatihan kewirausahaan kepada usaha mikro dan PKL setelah mendapatkan usulan dari Pemerintah Daerah. Salah satu program pemberdayaan dan pembinaan usaha mikro yang dimiliki Kementerian Perdagangan adalah kemitraan dengan usaha besar dan mikro atau PKL.

 

Penandatanganan Nota Kesepahaman 3 (tiga) Menteri tentang Sinergi Program Pengembangan Ekonomi dan Penataan Lingkungan Perkotaan melalui

Penguatan Sektor Usaha Mikro

Berbagai Rumusan Kebijakan Pembinaan Usaha, Lembaga Perdagangan dan Pendaftaran Perusahaan yang disusun oleh Kementerian Perdagangan berdampak positip dan berhasil mengurangi jumlah hari yang dibutuhkan dalam memulai usaha di Indonesia dari 105 hari pada awal tahun 2008, turun menjadi 60 hari di akhir tahun 2009, dan di akhir tahun 2010 menjadi 47 hari.

Sesuai amanat Renstra Kementerian Perdagangan tahun 2010-2014, Indikator kinerja ini baru diterapkan dan dilaksanakan dalam kerangka tugas untuk menyederhanakan perijinan perdagangan. Rumusan dan kebijakan ini disusun dan ditetapkan menyesuaikan perkembangan zaman di tahun-tahun mendatang, agar dapat mendukung penciptaan iklim usaha yang kondusif. Sebagai contoh perkembangan memulai usaha di

Indonesia melalui penilaian doing business dapat dilihat pada gambar

berikut ini.

 

Gambar 21

Perkembangan Penilaian kemudahan Doing Business di Indonesia Selama

Tahun 2008 - 2011

Sumber : Doing Business 2011 ,“Making a Difference for Entrepeneurs”

Jumlah Hari Penyelesaian Perijinan Pelaku Usaha PBK & SRG

Sementara itu, terkait dengan perijinan bidang perdagangan berjangka komoditi antara lain: (i) ijin usaha Bursa Berjangka, Kliring Berjangka, Pialang Berjangka, (ii) ijin Wakil Pialang, (iii) Sertifikat Pendaftaran Pedagang Berjangka, dan (iv) Persetujuan Kantor Cabang Pialang Berjangka, Penyelenggara SPA dan Peserta SPA, serta Bank Penjamin. Bappebti telah berhasil meningkatkan kualitas layanan perizinan dari 45 hari menjadi maksimal 32 hari. Jenis-jenis perizinan yang diterbitkan antara lain:

• 1 Izin Usaha Pialang Berjangka Penanaman Modal Asing (PMA)

• 563 Izin Wakil Pialang Berjangka

• 2 Persetujuan Pialang Berjangka Peserta Sistem Perdagangan Alternatif

• 19 Sertifikat Pendaftaran Pedagang Berjangka

• 41 Penetapan Pembukaan Kantor Cabang Pialang Berjangka

Jumlah Hari Pemrosesan Persetujuan Kontrak Komoditi Yang Diajukan Oleh Bursa

Pada tahun 2010 Bappebti telah berhasil mempercepat jumlah hari pemrosesan persetujuan kontrak komoditi yang diajukan bursa menjadi maksimal 32 hari dengan tahapan-tahapan sebagai berikut: pengajuan proposal kontrak, verifikasi data, masukan penilaian oleh Biro Hukum & Biro Perniagaan, pembuatan rekomendasi untuk Kepala Bappebti, persetujuan kontrak.

Untuk Tahun 2010, Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) mengusulkan 2 kontrak baru yaitu kontrak Mini Emas 250 gram dan kontrak Mini Olein, 2 kontrak untuk direvisi yaitu kontrak Emas dan Olein. Sementara Bursa Komoditi Derivatif Indonesia (BKDI) mengusulkan 4 kontrak baru yaitu kontrak GOLDUD, GOLDID, GOLDTI, GOLDTU, dan 1 kontrak untuk direvisi yaitu CPOTR.