MISI II: PENGUATAN PASAR DALAM NEGERI
Sasaran 12 Pengawasan Barang Beredar dan Jasa
Sasaran 12 Pengawasan Barang Beredar dan Jasa
“Semakin intensifnya pengawasan terhadap produk yang diharuskan memiliki
SNI wajib, sehingga produk yang dikonsumsi masyarakat semakin terjamin
kualitasnya”
Tabel 34
Capaian Indikator Kinerja Sasaran 12
No Indikator Kinerja Rencana Tingkat Capaian Realisasi Capaian (%)
56 Jumlah produk ber SNI wajib yang diawasi 14 produk 22 produk 157% 57 Jumlah rumusan kebijakan, standar, norma dan pedoman pengawasan
barang dan jasa
11 kebijakan/ petunjuk
16 kebijakan/
petunjuk 145%
58 Jumlah kegiatan pengawasan barang dan jasa 7 kegiatan 6 kegiatan 86% Salah satu unsur perlindungan konsumen adalah pengawasan terhadap barang beredar dan jasa. Pertumbuhan ekonomi 2009 dan 2010 banyak dipicu oleh meningkatnya sisi konsumsi masyarakat dan konsumsi rumah tangga perusahaan. Kepercayaan masyarakat terhadap pasar meningkat. Indeks tendensi bisnis selalu meningkat setiap triwulan di tahun 2010. Begitu pula indeks tendensi konsumen 2010 dari 103 pada Triwulan I sampai 107 pada Triwulan IV, khususnya di wilayah Jabodetabek (lihat Tabel 28). Hal demikian harus diikuti upaya menjaga kualitas barang dan jasa demi kenyamanan, keamanan, dan keselamatan konsumen.
Kegiatan-kegiatan pengawasan barang beredar menjadi concern
masyarakat umum, wakil masyarakat di DPR dan Pemerintah cq Kementerian Perdagangan. Terlebih memasuki era perdagangan bebas di mana telah tersepakati perjanjian perdagangan regional dan bilateral seperti ASEAN Economic Community, ASEAN plus mitra dialog (al China,
Korea Selatan), Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA),
yang semuanya dapat membawa implikasi terhadap perubahan impor ke pasar domestik. Peran Kementerian Perdagangan secara regular dan teratur untuk mengawasi peredaran barang dan jasa sehingga dapat diperoleh kepercayaan masyarakat.
Sesuai dengan Renstra Kementerian Perdagangan 2010 – 2014, Indikator kinerja ini baru diterapkan dan dilaksanakan pada tahun 2010.
Tabel 35
Indeks Tendensi Bisnis dan Indeks Tendensi Konsumen Indonesia
2007 2008 2009 2010
INDEKS
T-IV T-I T-II T-III T-IV T-I T-II T-III T-IV T-I T-II T-III T-IV
TENDENSI BISNIS 112 104 112 111 102 97 110 113 108 103 104 107 107
TENDENSI KONSUMEN 106 95 94 103 101 102 106 108 105 103 105 111 101
ITB dan ITK berkisar antara 0 sampai dengan 200, dengan indikasi sebagai berikut:
a. Nilai ITB/ITK < 100, menunjukkan kondisi bisnis/konsumen pada triwulan berjalan menurun dibanding triwulan sebelumnya.
b. Nilai ITB/ITK = 100, menunjukkan kondisi bisnis/konsumen pada triwulan berjalan tidak mengalami perubahan (stagnan) dibanding triwulan sebelumnya.
c. Nilai ITB/ITK > 100, menunjukkan kondisi bisnis/konsumen pada triwulan berjalan lebih baik (meningkat) dibanding triwulan sebelumnya. Sumber: BPS
IK-56
Jumlah produk ber SNI wajib yang diawasi
Untuk mencegah kerugian yang dialami konsumen dari produk-produk yang tidak dibawah standar mutu serta produk dan jasa yang tidak sesuai ketentuan, maka dilaksanakan pengawasan terhadap produk ber SNI Wajib, kartu manual dan garansi, penandaan Botasupal, serta pelayanan jasa yang dilakukan di daerah Jambi, Tanjung Pinang, Batam, Bengkulu, Jogya, Semarang, Denpasar, Padang, Surabaya, Manado, Pekan Baru, Banda Aceh, Lampung, Kupang, Bandung, Medan, Pontianak.
Pengawasan untuk produk yang telah diterapkan SNI Wajib telah dilaksanakan terhadap produk antara lain Lampu Swaballast, Regulator, Tabung Baja, Baja Tulangan Beton, Baja Lapis Seng, Kotak Kontak, Tusuk Kontak, Kipas Angin, Kompor Gas Satu Tungku, Selang Karet, Ban Mobil, Ban Sepedamotor, Air Minum Dalam Kemasan, Tepung Terigu, Semen, Garam Beryodium.
Selain pengawasan terhadap produk yang telah diberlakukan SNI Wajib, telah dilakukan juga pengawasan berdasarkan Permendag No. 19/M-DAG/PER/5/2009 tentang Pendaftaran Petunjuk Penggunaan (Manual) dan Kartu Jaminan/Garansi terhadap manual, kartu garansi serta penandaan Botasupal yaitu terhadap produk-produk Televisi, Mesin Cuci, Mesin Multifungsi Berwarna, AC, Telepon Seluler, dan Seterika.
Selain pengawasan terhadap produk, pengawasan juga telah dilakukan terhadap jasa yang beredar di masyarakat antara lain pengawasan terhadap Jasa Pelayanan Purna Jual Telepon Seluler, Jasa Perparkiran, Jasa Periklanan, Jasa Cara Menjual Alat Listrik Rumah Tangga, dan Jasa Pasar Modern.
Selama periode renstra sebelumnya, indikator ini belum termasuk sebagai indikator kinerja kementerian perdagangan. Baru setelah tahun 2010 ini, indikator kinerja ini baru diterapkan.
IK-57
Jumlah rumusan kebijakan, standar, norma dan pedoman
Untuk meningkatkan efektifitas pengawasan barang dan jasa maka telah disusun Petunjuk Teknis Pengawasan produk industry logam, mesin, elektronik, aneka, kimia, agro, hasil hutan dan jasa. Petunjuk Teknis yang
pengawasan barang dan
jasa disusun pada 2010 adalah:
1.
Petunjuk Teknis Pengawasan Tepung Terigu2.
Petunjuk Teknis Pengawasan Helm Pengendara Kendaraan Roda Dua3.
Petunjuk Teknis Pengawasan Produk Perlengkapan Makanan danMinuman
4.
Petunjuk Teknis Pengawasan Sepatu Pengaman5.
Petunjuk Teknis Pengawasan Selang Karet6.
Petunjuk Teknis Pengawasan Jasa Perbengkelan Kendaraan Roda Dua7.
Petunjuk Teknis Pengawasan Jasa Perdagangan Properti8.
Petunjuk Teknis Pengawasan Jasa Pembiayaan Konsumen KendaraanBermotor Roda Dua
9.
Petunjuk Teknis Pengawasan Jasa Perparkiran10.
Petunjuk Teknis Pengawasan Jasa Perhotelan11.
Petunjuk Teknis Pengawasan Iklan12.
Petunjuk Teknis Pengawasan Mesin Multifungsi13.
Petunjuk Teknis Pengawasan Katub Tabung LPG14.
Petunjuk Teknis Pengawasan Setrika Listrik15.
Petunjuk Teknis Pengawasan Monitor Komputer16.
Petunjuk Teknis Pengawasan Regulator Tabung LPGIK-58
Jumlah kegiatan pengawasan barang dan jasa
Untuk meningkatkan efektifitas pengawasan barang beredar, Telah dibentuk Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar (TPBB) melalui Keputusan Menteri Perdagangan No. 732.1/M-DAG/KEP/5/2010 tentang Pembentukan Tim TPBB sudah ditandatangani tanggal 14 Mei 2010.
Untuk meningkatkan koordinasi antar instansi dalam Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar, telah dilakukan serangkaian rapat koordinasi perencanaan pelaksanaan pengawasan terpadu. Wujud dari koordinasi pengawasan adalah antara lain telah dilaksanakannya pengawasan terpadu dengan melibatkan Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Koordinator Perekonomian Kesra, Badan POM dan Kantor Dinas yang membidangi perdagangan di provinsi dan kabupaten/kota. Adapun kegiatan-kegiatannya sebagai berikut:
1. Pendidikan dan pelatihan Penyidik Pegawai Negeri Sipil - Perlindungan
Konsumen (PPNS-PK) dan Pengawas Barang Beredar dan Jasa (PPBJ) Untuk meningkatkan pengawasan di pusat dan daerah, maka telah dilaksanakan pendidikan dan pelatihan PPBJ untuk 3 (tiga) angkatan (90 orang). Total PPBJ diseluruh Indonesia yang telah dididik sampai
dengan saat ini berjumlah 994 orang dan yang masih aktif adalah 710 orang. Telah dilaksanakan pendidikan dan pelatihan PPNS-PK untuk 3 (tiga) angkatan (88 orang). Total PPNS-PK diseluruh Indonesia yang telah dididik sampai dengan saat ini berjumlah 906 dan masih aktif adalah 797 orang.
2. Bimbingan Teknis PPBJ dan PPNS-PK
Bimbingan Teknis PPBJ telah dilaksanakan untuk 3 (tiga) angkatan di Pusat dan Daerah, Bimbingan Teknis PPNS-PK telah dilaksanakan untuk 3 (tiga) angkatan di Pusat.
3. Penanganan Kasus
Untuk meningkatkan kesadaran pelaku usaha dalam mengikuti ketentuan yang berlaku, telah dilaksanakan penanganan kasus terhadap produk dan jasa sebagai berikut Jasa Cara Menjual Alat Listrik Rumah Tangga, Jasa Layanan Purna Jual Telepon Seluler, LHE yang tidak memenuhi SNI Wajib, Printer Berwarna yang tidak memiliki tanda hologram BOTASUPAL, Tabung Baja gas Elpiji, Selang tabung gas, Regulator tabung gas. Pelaksanaan Penegakan Hukum akan dilakukan pada tahun 2010 berkoordinasi dengan Biro Hukum, Kepolisian dan Kejaksaan.
4. Sosialisasi Peraturan Pengawasan Barang dan Jasa
Telah dilaksanakan sosialisasi peraturan/kebijakan dan hasil-hasil pengawasan di beberapa daerah antara lain Bandung, Semarang, Batam, Pekan Baru, Surabaya, Ambon, Gorontalo, Kendari, Manokwari, Bengkulu, Pontianak, Mataram, Medan.
Selain sosialisasi dengan aparatur pemerintah, juga dilaksanakan sosialisasi kebijakan pencantuman label yang bekerjasama dengan beberapa asosiasi seperti: APRINDO, APGAI, ADMINKOM, MATAHARI GROUP, ACE HARDWARE GROUP.
5. Pengawasan Distribusi
Untuk menjamin agar pendistribusian Gula Kristal Rafinasi tidak mengancam industri gula nasional, maka dilaksanakan pengawasan distribusi terhadap Gula Kristal Rafinasi di wilayah Jawa Timur dan Makassar.
6. Penyusunan Petunjuk Teknis Pengawasan Produk
Kemendag telah menyusun petunjuk pengawasan produk industri logam, mesin, elektronik, aneka, kimia, agro, hasil hutan dan jasa.