LANDASAN TEORI
2.1 Kajian Pustaka .1 Hakikat Belajar
2.1.4 Alat Peraga Montessori .1 Hakikat Alat Peraga
Alat peraga merupakan alat yang digunakan untuk memperagakan sesuatu supaya mudah dimengerti (KBBI, 2011: 14). Banyak orang menggunakan istilah media dan alat peraga untuk menunjuk benda yang sama. Namun, sebenarnya media dan alat peraga adalah dua hal yang berbeda. Perbedaan media dan alat peraga ada pada fungsi dari benda itu sendiri (Anitah, 2009: 6). Alat peraga merupakan bagian dari media pembelajaran. Media adalah semua sarana untuk memperlancar proses pembelajaran, sedangkan alat peraga adalah alat yang memeragakan konsep materi pembelajaran yang akan disampaikan oleh guru (Smaldino, 2011: 14). Suatu benda disebut media jika benda tersebut menjadi bagian dari seluruh kegiatan pembelajaran sedangkan benda yang disebut alat peraga adalah benda yang hanya digunakan sebagai alat bantu pada suatu proses pembelajaran (Anitah, 2009: 6). Ali (1989) dalam Sundayana (2014: 7) menyatakan bahwa alat peraga merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyatakan pesan, merangsang pikiran, perasaan dan perhatian serta kemauan siswa sehingga dapat mendorong proses belajar. Alat peraga sebaiknya digunakan apabila alat peraga tersebut mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan (Anitah, 2010: 83).
Alat peraga yang digunakan untuk menyampaikan materi pembelajaran juga harus memenuhi beberapa syarat. Menurut Ruseffendi (1979: 2) beberapa persyaratan alat peraga diantaranya: (1) Tahan lama (dibuat dari bahan-bahan yang cukup kuat), (2) Bentuk dan warnanya menarik, (3) Sederhana dan mudah
dikelola, (4) Ukurannya sesuai dengan ukuran fisik anak, (5) Dapat menyajikan konsep matematika dengan baik, (6) Sesuai dengan konsep, (7) Dapat menunjukkan konsep matematika dengan jelas, (8) Peragaan menjadi dasar bagi tumbuhnya konsep berpikir abstrak pada siswa, (9) Agar siswa dapat belajar secara aktif, maka alat peraga dibuat agar dapat diraba, dipegang, dipindahkan, dan lain-lain, (10) Bila mungkin alat peraga dapat memiliki banyak manfaat.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa alat peraga merupakan alat bantu yang digunakan untuk memperagakan suatu konsep atau materi serta menjembatani agar siswa dapat memahami atau menangkap pesan dari pembelajaran yang tengah berlangsung. Singkatnya alat peraga dapat menyederhanakan suatu konsep pada materi suatu pembelajaran. Alat peraga yang baik juga harus memenuhi beberapa syarat yang telah disebutkan diatas.
2.1.4.2 Manfaat Alat Peraga
Alat peraga yang digunakan pada proses belajar mengajar memiliki beberapa manfaat. Menurut Montessori dalam Lillard (1996: 84) Alat peraga yang digunakan di sekolah dasar dapat membantu dan memberi keuntungan bagi siswa yang melanjutkan ke jenjang berikutnya. Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran juga dapat membawa anak-anak untuk meraih level pemahaman lebih tinggi mengenai materi yang abstrak (Lillard, 1996: 80). Ruseffendi (1979: 1) memaparkan beberapa manfaat penggunaan alat peraga diantaranya: (1) Minat mengikuti proses belajar mengajar baik pada murid maupun guru akan timbul, (2) Konsep abstrak khususnya pada mata pelajaran matematika dapat disajikan dalam bentuk konkrit sehingga lebih mudah dipahami dan dimengerti, (3) Hubungan
konsep abstrak matematika dengan benda-benda di alam sekitar akan lebih mudah dipahami, (4) Konsep-konsep abstrak yang tersajikan secara konkrit dapat menjadi obyek penelitian atau sebagai alat untuk meneliti ide-ide baru.
Hal tersebut senada dengan manfaat alat peraga yang dipaparkan oleh Sudjana & Rifai (1998: 2) dalam Sundayana (2014: 12-13) yaitu: (1) Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar, (2) Makna pembelajaran akan lebih jelas sehingga lebih mudah dipahami, (3) Metode mengajar akan lebih bervariasi sehingga tidak selalu datang dari komunikasi verbal dari guru, (4) Siswa lebih dapat melakukan kegiatan belajar karena tidak hanya mendengarkan penjelasan guru.
Montessori beranggapan bahwa siswa membutuhkan seperangkat peralatan pendidikan (didactic apparatus) yang berguna untuk perkembangan siswa tersebut (Hainstock, 1997: 80). Materi-materi didaktis yang dipilih semestinya memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) secara spontan menarik perhatian anak, (2) mengandung gradasi rangsangan yang rasional, (3) dapat menunjukkan sendiri setiap kesalahan (auto-correction) sehingga anak tahu sendiri kalau membuat kekeliruan, (4) memungkinkan anak melakukan pendidikan diri (auto-education) sehingga pendidikan penginderaan dapat dilakukan anak sendiri dan campur tangan pendidik semakin diminimalisir (Montessori, 2002: 172-176).
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa manfaat penggunaan alat peraga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, serta konsep-konsep
materi yang abstrak dapat tersaji secara konkrit. Selain itu, penggunaan alat peraga juga dapat menimbulkan variasi dalam proses belajar mengajar.
2.1.4.3 Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori
Alat peraga yang digunakan oleh Montessori secara spontan menarik perhatian anak, mengandung gradasi rangsangan yang rasional, dapat menunjukkan sendiri setiap kesalahan (auto-correction) sehingga anak tahu sendiri kalau membuat kekeliruan, memungkinkan anak melakukan pendidikan diri (auto-education) sehingga pendidikan penginderaan dapat dilakukan anak sendiri dan campur tangan pendidik semakin diminimalisir (Montessori, 2002: 172-176). Alat peraga yang dikembangkan oleh peneliti dalam penelitian ini juga mengadopsi keempat ciri yang ada pada alat peraga dari metode Montessori tersebut. Selain mengadopsi keempat ciri tersebut, peneliti juga menggunakan ciri kontekstual atau sesuai dengan konteks. Kelima ciri yang peneliti gunakan sebagai acuan dalam mengembangkan alat peraga akan diuraikan sebagai berikut.
1. Menarik
Alat peraga di “Rumah Anak-Anak” dibuat menarik baik dalam segi warna, bentuk, maupun tampilannya. Hal ini dibuktikan dengan anak-anak normal mengulang latihan berulang kali. Pengulangan ini tergantung pada stiap individu. Beberapa anak mengulangi sebanyak lima atau enam kali sampai merasa lelah (Montessori, 2002: 172). Ada 10 kubus berwarna pink dengan ukuran mulai dari 10 sentimeter hingga 1 sentimeter. Kubus-kubus tersebut disusun hingga membentuk menara berwarna pink diatas karpet
berwarna hijau. Kemudian ia mengulang lagi untuk merancang, membangun, dan merobohkan menara tersebut (Montessori, 2002: 174).
2. Bergradasi
Gradasi pada alat peraga Montessori ada pada berat, bentu, dan kesesuaian alat peraga dengan usia anak yang menggunakan alat peraga tersebut. Salah satu alat yang mengandung unsur gradasi adalah empat set silinder, masing-masing set terdiri dari 10 silinder dengan ukuran yang berbeda-beda. Ukuran yang berbeda-beda ini secara tidak langsung mengajarkan anak mengenai berat-ringan, besar-kecil, panjang-pendek, lebar-sempit. Gradasi alat akan membantu siswa mengembangkan kemampuannya berlogika dalam menyelesaikan masalah. (Montessori, 2002: 170-171).