• Tidak ada hasil yang ditemukan

ALI BIN ABU THALIB Zainal Abidin, Cucu Rasulullah

Dalam dokumen FA_HKT_MEI_2015.indb 1 13/05/ :27:31 (Halaman 92-97)

Pada tahun itu tamatlah riwayat Imperium Persia. Yazdajurd, Kisra terakhir Persia, mati di pelarian; sementara seluruh harta, prajurit, serta kerabat istana menjadi tawanan kaum muslimin. Semuanya diangkut ke Madinah al-Munawarah.

Kemenangan umat Islam berbuah harta dan tawanan dalam jumlah besar. Raihan ghanimah dari kalangan terhormat yang belum pernah dilihat penduduk Madinah karena amat banyak dan begitu berharga. Di antara para tawanan tadi, ada tiga anak perempuan Kisra Yazdajurd.

Orang-orang memperhatikan para tawanan, lantas beberapa waktu kemudian sebagian dari mereka membelinya, sedangkan bayarannya dimasukkan ke Baitul Mal kaum muslimin. Hingga, tidak ada lagi yang tertinggal selain tiga putri Kisra yang sangat jelita lagi masih belia.

Ketika ditawarkan untuk dijual, pandangan mereka tertunduk ke bumi merasa hina dan rendah. Air mata pun meleleh, menetes turun melewati dua pipi mereka. Ali bin Abu Thalib merasa iba melihat kondisi ini sekaligus berharap, semoga orang yang akan membeli para putri itu dapat menghargai martabat dan sanggup memelihara mereka dengan baik.

Sikap Ali tersebut didasarkan pada pengetahuannya bahwa Rasulullah pernah bersabda terkait hal ini: “Kasihanilah

para bangsawan yang terhina.”

Maka Ali mendekati Amirul Mukminin Umar bin al-Khathab dan berkata: “Para putri Kisra itu, sebaiknya tidak diperlakukan seperti tawanan lain.” Umar sependapat: “Kamu benar, tapi bagaimana caranya?” Ali pun menyarankan: “Umumkan harga mereka setinggi mungkin, lalu berilah mereka kebebasan untuk memilih orang yang bersedia membayarnya.”

Saran Ali disetujui, dan secepatnya dilaksanakan oleh Umar. Putri pertama memilih Abdullah bin Umar . Putri kedua memilih Muhammad bin Abu Bakar . Adapun putri ketiga yang dikenal dengan panggilan Syah Zinan memilih Husain bin Ali bin Abu Thalib , cucu Rasulullah .

Tidak lama kemudian, putri ketiga memeluk Islam dan bagus keislamannya. Hingga dia beruntung dengan agama yang lurus, di samping telah dimerdekakan dan dijadikan istri oleh Husain, yang tadinya berstatus budak. Wanita ini menanggalkan hal-hal yang berkaitan dengan paganisme (penyembahan berhala), lalu mengganti nama “Syah Zinan” yang berarti ratunya para wanita menjadi “Ghazalah”.

Ghazalah amat bahagia menjadi istri dari suami yang paling baik dan paling layak untuk mendapatkan putri raja. Sehingga, tiada lagi yang dia cita-citakan selain memperoleh karunia anak. Beberapa waktu kemudian, Allah memuliakan rumah tangga ini, dan mereka dikaruniai seorang anak yang tampan. Anak ini pun diberi nama Ali, sama dengan nama kakek sang suami, Husain, yaitu Ali bin Abu Thalib .

Hanya saja, kebahagiaan itu tidak lama dirasakan Ghazalah. Muslimah ini memenuhi panggilan Rabbnya akibat pendarahan terus-menerus sesudah melahirkan anak tadi. Kesempatan bagi seorang ibu untuk bercanda-tawa dengan anaknya pupus sudah. Maka, sepeninggalnya, anak tersebut dirawat oleh budak wanita. Si budak mencintai anak ini layaknya darah dagingnya sendiri, bahkan dipelihara lebih baik daripada anak kandungnya. Dan, si kecil tumbuh tanpa sempat mengenal ibu kandungnya.

Nama lengkap anak ini adalah Ali bin al-Husain bin Ali bin Abu Thalib. Neneknya ialah Fatimah az-Zahra binti Rasulullah. Adakalanya dia dipanggil Abu Husain, atau Abu Muhammad. Menginjak usia remaja, Ibnu Husain sangat tekun dan antusias menuntut ilmu. Madrasah pertama beliau yaitu rumah sendiri, rumah yang paling mulia, dan gurunya pun ayahanda sendiri. Madrasah kedua adalah Masjid Nabawi asy-Syarif, yang selalu ramai dikunjungi para Sahabat generasi terakhir serta generasi pertama Tabi’in.

Mereka begitu semangat mendidik para putra Sahabat utama. Mengajari Kitabullah, fiqih, maupun riwayat hadits Nabi . Juga menuturkan perjalanan dan perjuangan Rasulullah, bahkan mengulas keindahan syair-syair Arab. Mengisi hati murid-murid dengan kecintaan, takut, serta ketakwaan kepada Allah . Alhasil, siswa didik itu menjadi ulama yang mengamalkan ilmu yang diajarkan dan dipahami, hingga memperoleh hidayah dan menerangi hidayah untuk orang lain.

Hanya saja, hati Ali bin Husain tidak terkait terhadap sesuatu melebihi keterpautan hatinya terhadap Kitabullah. Tidak ada yang lebih dikagumi sekaligus ditakuti daripada kalimat-kalimat, juga semua janji dan ancaman yang di kandungnya.

Apabila ayat yang beliau baca menyebut-nyebut Surga, serasa terbang kerinduan terhadapnya. Bila membaca ayat-ayat Neraka, gentar gemetar seakan merasakan panas api di tubuhnya.

Memasuki usia dewasa, beliau tumbuh menjadi pemuda yang kaya akan ilmu dan takwa. Penduduk Madinah melihat dirinya sebagai seorang Bani Hasyim yang patut diteladani ibadah dan takwanya, terhormat, luas pengetahuan serta ilmunya, mencapai puncak ibadah dan takwanya. Hingga tiap kali selesai berwudhu terlihat wajahnya pucat seperti orang ketakutan. Ketika ditanya tentang hal itu, beliau menjawab: “Celaka! Tidakkah kalian tahu kepada siapa aku menghadap dan kepada siapa aku bermunajat?”

Melihat kepribadian beliau tersebut, kaumnya memberikan julukan “Zainal Abidin” (hiasan para ahli ibadah), yang justru lebih dikenal daripada nama aslinya. Selain itu, karena bersujud sangat lama, mereka menyebut beliau “as-Sajjad”. Lantas karena jiwanya yang bersih, beliau dijuluki pula “az-Zaki”.

Zainal Abidin yakin bahwa pokok ibadah adalah doa. Beliau sendiri paling suka berdoa di tirai Ka’bah, seraya mengucapkan: “Wahai Rabbku, Engkau menjadikan aku merasakan rahmat-Mu seperti yang kurasakan, dan Engkau berikan nikmat kepadaku sebagaimana yang Engkau anugerahkan, hingga aku pun berdoa dalam ketenangan tanpa rasa takut dan meminta sesuka hatiku tanpa ras malu dan ragu. Wahai Rabbku, aku berwasilah kepada Engkau dengan wasilah seorang hamba yang lemah yang sangat membutuhkan rahmat dan kekuatan-Mu demi melaksanakan kewajiban dan menunaikan hak-Mu. Maka terimalah doaku ini, doa orang yang lemah lagi asing. Sungguh tak ada yang mampu menolong kecuali Engkau semata, wahai Akramal Akramin …”

Thawus bin Kaisan pernah melihat Zainal Abidin berdiri di bawah naungan Ka’bah, sedang meratap penuh gelisah, seakan sedang menghadapi bala bencana. Ali bin al-Husain, menangis tersedu-sedu hingga menyayat hati orang yang mendengarnya. Di sana dia berdoa, meminta perlindungan, kepada Yang Maha Memberi Perlindungan.

Ketika Thawus melihat Zainal Abidin seperti itu, dia berhenti dan menunggu tangisnya berhenti. Setelah selesai, Thawus pergi ke hadapannya dan berkata: “Wahai cucu Rasulullah, aku melihat Anda yang memiliki tiga keutamaan dalam keadaan demikian, padahal ketiganya bisa mengamankan Anda dari rasa takut.”

“Apakah itu, wahai Thawus?” tanya Zainal Abidin.

“Pertama, Anda keturunan Rasulullah,” jelas Thawus, “Kedua, kelak Anda diberi syafaat oleh kakek Anda. Ketiga, rahmat Allah tercurah bagi Anda.”

Zainal Abidin menanggapi: “Wahai Thawus, nasabku yang sampai kepada Nabi tidak menjamin keamanan diriku. Karena aku mengetahui hakikat firman Allah:

Z Â .... ¿ ¾ ½ ¼ » º ¹ ¸[

‘Apabila sangkakala ditiup, maka tidak ada lagi pertalian keluarga

di antara mereka hari itu (hari Kiamat).’ (QS. Al-Mu’minûn [23]: 101)

Adapun syafaat kakekku, Allah berfirman:

Z R ....M L K J I ...[

‘Dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang

Sedangkan mengenai rahmat Allah, lihatlah firman-Nya:

¬« ª © ¨ § ¦ ¥ ¤ £ [

Z ´ ³ ² ± ° ¯ ®

‘Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang

berbuat baik’ (QS. Al-A’râf [7]: 56).”1

FAEDAH DAN HIKMAH

Dalam dokumen FA_HKT_MEI_2015.indb 1 13/05/ :27:31 (Halaman 92-97)