Padahal banyak keutamaan yang bisa didapat oleh seseorang yang mengerjakan shalat Subuh. Tidakkah kita takut disebutkan sebagai orang munafik karena meninggalkan shalat Subuh? Dan banyak orang yang meninggalkan shalat Subuh karena tertidur. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya shalat yang paling
berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan pada keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan
merangkak.” (HR. Al-Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651)
Cukuplah ancaman sebagai “orang munafik” membuat kita selalu memperhatikan ibadah yang satu ini.
Semoga Allah selalu memberi hidayah kepada kita semua, terkhusus bagi para laki-laki supaya dapat melaksanakan shalat berjamaah di masjid.22
• • •
Mencintai Ahlul Bait
Para penguasa dan gubernur akan dicintai rakyatnya kalau kedudukan mereka dekat dengan ulama, serta mereka tidak sungkan meminta dan/atau menerima nasihat-nasihat ulama. Demikianlah penduduk Madinah waktu itu mencintai gubernur yang mau bermusyawarah dan melaksanakan bimbingan ulama seperti Salim bin Abdullah.
22 Dinukil dari sebuah artikel yang ditulis oleh Wiwit Hardi Priyanto di dalam website atau situs: www.muslim.or.id.
Apabila ada gubernur yang menyalahi dan tidak menerima nasihat-nasihat Salim, maka penduduk Madinah membencinya hingga mengharuskan Khalifah memutuskan untuk mengganti gubernur tersebut.
Seperti yang dialami Abdurrahman bin Dhahhak, Gubernur Madinah pada masa Khalifah Yazid bin Abdul Malik. Waktu itu, Fathimah binti Husain bin Ali menjadi janda. Ibnu Dhahhak ini melamarnya, tetapi Fathimah menolak dengan halus: “Saya tidak berpikir untuk menikah lagi. Saya ingin memfokuskan sisa hidup saya untuk mendidik dan membesarkan anak-anak.”
Ibnu Dhahhak terus mendesak setengah memaksa, sementara Fathimah tetap menolak dengan halus agar dia tidak tersinggung atau marah. Akhirnya Ibnu Dhahhak mengancam: “Demi Allah, jika engkau tidak mau menjadi istriku, akan kupenjarakan dan kucambuk anak sulungmu dengan tuduhan minum khamer.”
Fathimah binti Husain mengadukan masalah tersebut kepada Salim bin Abdullah. Salim menyarankan agar Fathimah menulis surat, melaporkan kepada Khalifah akan kezaliman gubernurnya sambil menyebutkan identitas dan status diri sebagai Ahlul Bait. Fathimah pun menulis surat lalu mengutus seseorang menuju Damaskus, ibukota kekhalifahan Bani Umayyah.
Pada saat yang hampir bersamaan, Khalifah memerintahkan Ibnu Hurmuz, pegawainya yang mengawasi kantor keuangan di Madinah, agar segera datang ke Damaskus untuk membawa laporan-laporan keuangan. Ibnu Hurmuz pamit kepada keluarga serta kerabatnya, kemudian singgah sejenak untuk berpamitan kepada Fathimah binti Husain. “Saya hendak pergi ke Damaskus, apakah ada sesuatu yang bisa saya bantu?” tanyanya.
Fathimah menyahut: “Ya, saya minta tolong supaya Anda melaporkan kepada Khalifah tentang gangguan dan tekanan Gubernur Ibnu Dhahhak atas saya. Dia pun tidak menghormati ulama Madinah, khususnya Salim bin Abdullah, cucu Umar bin al-Khathab.”
Ibnu Hurmuz sedikit menyesal berpamitan dengan Fathimah, karena berat bagi dia melaporkan ulah Gubernur Ibnu Dhahhak kepada sang Khalifah di Damaskus.
Lantas, Ibnu Hurmuz dan utusan yang membawa surat dari Fathimah binti Husain tiba di Damaskus pada hari yang sama. Ibnu Hurmuz langsung menemui Khalifah. Khalifah bertanya tentang kondisi Madinah, juga tentang Salim bin Abdullah dan para fuqaha lainnya. Khalifah Yazid bin Abdul Malik bertanya: “Apakah ada berita-berita penting yang perlu Anda sampaikan?” Ibnu Hurmuz terdiam, tidak menyampaikan amanat Fathimah terkait masalah yang sedang dihadapinya, juga mengenai sikap Gubernur Madinah kepada Salim bin Abdullah.
Selagi dia masih menjelaskan laporan keuangan yang diminta, penjaga masuk untuk melapor bahwa ada utusan Fathimah binti Husain yang minta izin untuk menghadap. Maka pucatlah wajah Ibnu Hurmuz karena khawatir. Dia pun berkata: “Semoga Allah
mengaruniakan Amirul Mukminin umur yang panjang. Memang benar Fathimah binti Husain berpesan kepada saya ...,” lalu dia menceritakan semuanya.
Mendengar penuturan Ibnu Hurmuz, Amirul Mukminin
berdiri dari tempat duduknya lantas berteriak marah: “Celaka! Bukankah aku bertanya kepadamu bagaimana berita Madinah? Pantaskah kejadian sebesar ini engkau sembunyikan dariku?”
Ibnu Hurmuz hanya bisa menunduk, diam seribu bahasa, lalu meminta maaf atas kesalahannya.
Kemudian utusan Fathimah masuk dan menyerahkan surat yang dititipkan. Khalifah segera membuka serta membacanya. Matanya memerah, lalu dia berteriak lantang: “Ibnu Dhahhak berani mengganggu keluarga Rasulullah dan tidak menghiraukan nasihat Salim bin Abdullah? Siapa yang bisa memperdengarkan untukku jeritan Gubernur ini saat didera hukuman di Madinah sementara aku tetap duduk di Damaskus?”
Di antara hadirin angkat bicara: “Wahai Amirul Mukminin, yang pantas menjadi Gubernur Madinah adalah Abdul Wahid bin Bisyr an-Nadhri. Angkatlah dia jika engkau berkenan. Kini dia tinggal di Tha’if.”
Khalifah berpikir sejenak sebelum menanggapi: “Tepat sekali. Demi Allah, Abdul Wahid pantas menerima tugas ini.” Maka Khalifah meminta kertas dan menulis surat pengangkatannya:
Dari Amirul Mukminin, Yazid bin Abdul Malik, kepada Abdul Wahid bin Bisyr an-Nadhri.
Assalâmu ‘alaikum. Bersama surat ini saya melantik Anda sebagai Gubernur Madinah. Jika surat ini telah sampai
kepada Anda, bergegaslah ke Madinah dan turunkan Ibnu Dhahhak dari jabatannya. Perintahkan agar dia membayar denda 40.000 dirham, lalu hukumlah dia
hingga aku mendengar teriakannya dari Madinah.
Berangkatlah utusan yang membawa surat tersebut menuju Tha’if melewati Madinah. Ketika singgah di Madinah, dia tidak tinggal di kediaman Ibnu Dhahhak, bahkan tidak bertemu dan tidak memberi salam.
Sang Gubernur curiga dan khawatir karena sikap dinginnya. Maka diutuslah seseorang untuk mengundang utusan tersebut ke rumah. Lantas dia bertanya tentang sebab-sebab kedatangan dirinya ke Madinah.
Utusan tersebut tidak menjawab pertanyaan Ibnu Dhahhak. Lalu Ibnu Dhahhak mengambil sesuatu di balik tempat tidurnya dan berkata: “Lihatlah, bungkusan ini berisi seribu dinar emas. Aku bersumpah akan merahasiakan apa yang kamu bawa serta ke mana kamu akan pergi.”
Uang itu pun diserahkan, hingga utusan Khalifah menjawab pertanyaan Ibnu Dhahhak. Selanjutnya Ibnu Dhahhak berkata: “Tunggulah di sini selama tiga hari, aku akan pergi ke Damaskus. Sebentar saja, setelah itu kamu boleh melanjutkan perjalananmu sesuai perintah Khalifah.”
Ibnu Dhahhak bergegas menyiapkan kendaraannya, lalu dia keluar dari Madinah menuju Damaskus. Setibanya di sana, dia langsung ke rumah saudara Yazid, Maslamah bin Abdul Malik. Dia dikenal sebagai orang yang baik lagi penolong. Ketika telah berdiri di hadapannya, terjadilah dialog berikut.
Ibnu Dhahhak memulai pembicaraan: “Aku berada di bawah lindunganmu, wahai Amir (pemimpinku).”
Maslamah sedikit terkejut, sebelum menanggapi ucapan itu: “Semoga kamu baik-baik saja, apa gerangan yang terjadi?”
“Amirul Mukminin murka terhadapku karena kesalahan yang kulakukan.” Gubernur Madinah ini mengeluhkan hal itu.
Setelah mengetahui hal yang tidak biasa ini, Maslamah segera menemui Yazid bin Abdul Malik guna mencari solusinya.
Maslamah meminta izin untuk berbicara: “Aku ada keperluan penting, wahai Amirul Mukminin.”
“Semua keperluan Anda akan aku penuhi, kecuali masalah Ibnu Dhahhak.” Demikian respons sang Khalifah.
Maslamah salah tingkah, lalu menegaskan: “Demi Allah, aku tidak memiliki keperluan selain masalah itu.”
“Aku tidak bisa mengampuninya,” tegas Yazid.
“Sebenarnya, kesalahan apa yang diperbuat Ibnu Dhahhak?” Maslamah penasaran sehingga meminta penjelasan.
Yazid menjawab: “Dia menganggu Fathimah binti Husain dan mengancam serta menekan dirinya. Dan dia tidak menghiraukan nasihat Salim bin Abdullah tentang itu. Para penyair, juga tokoh masyarakat, ulama, dan penduduk Madinah pun mengecamnya.”
Mengetahui inti masalah ini, Maslamah hanya bisa pasrah. “Jika begitu persoalannya, maka terserah Amirul Mukminin.”
Yazid berseru: “Sekarang perintahkan Ibnu Dhahhak pulang ke Madinah. Dia harus menerima hukuman dari gubernur baru agar kasus ini menjadi pelajaran bagi para pejabat yang lain.”
Legalah hati penduduk Madinah. Mereka pun bersyukur atas pengangkatan Gubernur baru dan gembira dengan pelaksanaan hukuman atas Ibnu Dhahhak. Mereka puas lantaran gubernur yang baru, Abdul Wahid, senantiasa berlaku baik kepada rakyat dan tidak mengambil keputusan yang menyangkut kepentingan umat melainkan setelah meminta persetujuan para ulama seperti Qasim bin Muhammad dan Salim bin Abdullah.23
23 Dikutip dari Jejak Para Tabi’in (hlm. 311-316). Kisah ini dimuat secara ringkas oleh Imam Ibnu Katsir dalam al-Bidâyah wan Nihâyah (V/juz 9/hlm. 238).