yang menyiksa dan membunuh para Sahabat beliau; sebut saja paman beliau, yakni Hamzah bin Abdul Muthalib . Bahkan, penduduk Makkah yang berusaha membunuh Nabi . Tetapi, meski diperlakukan sedemikian rupa, beliau masuk kota Makkah dengan kepala menunduk penuh kerendahan hati, dan beliau pun memberikan jaminan keamanan kepada setiap orang yang merupakan bagian dari penduduk Makkah.
Kisah Syaikh bin Baz dan Pencuri
•
Berikut sebuah kisah nyata di masa sekarang tentang akhlak mulia seorang ulama yang memaafkan seorang pencuri.
Seseorang yang berasal dari Pakistan menceritakan kisahnya: “Aku pernah mengalami sesuatu terkait dengan Syaikh bin Baz. Sepuluh tahun yang lalu, aku bekerja sebagai satpam pada salah satu pabrik batu bata di kota Thaif.
Suatu ketika sebuah surat dari Pakistan diantarkan untukku yang memberi tahu bahwa ibuku sedang dalam keadaan kritis, hingga mengharuskan dilakukan operasi pencangkokan ginjal. Biaya operasi tersebut sebesar tujuh ribu riyal Saudi Arabia. Jika tidak segera dilaksanakan operasi dalam seminggu, bisa jadi dia akan meninggal, mengingat usia ibuku yang telah lanjut.
Sungguh, saat itu aku tidak memiliki uang terkecuali seribu Riyal. Lebih parah lagi, aku tidak mendapati orang yang bersedia memberi atau meminjami uang. Langkah terakhir, aku meminta kepada perusahaan agar memberiku pinjaman, namun mereka menolak, maka aku menangis sepanjang hari. Bagaimana nasib ibuku, yang telah merawatku dan rela tidak tidur karenaku.
Pada situasi yang genting tersebut, aku memutuskan untuk mencuri pada salah satu dari rumah yang bersebelahan dengan perusahaan tempatku bekerja. Pukul dua malam aku beraksi, lalu beberapa saat setelah aku melompati pagar rumah itu, tiba-tiba para polisi menangkap dan memasukkanku ke mobil mereka. Aku tidak bisa apa-apa, dan dunia ini terasa begitu gelap.
Lantas, sebelum shalat Subuh, pihak kepolisian membawaku kembali ke rumah tadi. Aku dimasukkan ke suatu ruangan dan ditinggal pergi. Tidak lama kemudian, seorang pemuda datang menghidangkan makanan seraya berkata: “Makanlah. Mulailah dengan membaca Bismillah!”
Aku setengah tidak percaya atas apa yang kualami saat itu. Lalu terdengar kumandang azan shalat Subuh, maka seseorang mengajakku: “Berwudhulah untuk shalat!” Ketika itu rasa takut masih menyelimutiku.
Kemudian ada seorang laki-laki tua dipapah seorang pemuda dan masuk menemuiku. Laki-laki ini memegang tanganku lalu mengucapkan salam, dan bertanya: “Apa kamu sudah makan?” “Ya, sudah,” jawabku lirih. Dia pun memegang tangan kananku dan mengajakku ke masjid. Kami shalat Subuh. Setelah itu, aku melihat orang tua yang memegang tanganku tadi duduk di atas kursi di bagian depan masjid, adapun jamaah shalat dan murid mengitarinya. Maka syaikh ini mulai berbicara menyampaikan kajian ilmu kepada hadirin. Melihat pemandangan ini, spontan aku menutupi kepala dengan tangan karena malu.
Ya Allah, apa yang telah aku lakukan? Aku berusaha mencuri di rumah Syaikh Ibnu Baz . Seorang ulama yang kuketahui, yang sosoknya terkenal di negeri kami, Pakistan.
Selesai Syaikh dari kajian itu, sekali lagi aku ke rumah tadi. (Keesokan harinya) Syaikh kembali memegang tanganku, lalu kami sarapan pagi dengan dihadiri banyak pemuda. Waktu itu Syaikh mendudukkan aku di samping. Di tengah makan, beliau bertanya kepadaku: “Siapa namamu?”
“Murtadho,” jawabku.
“Mengapa engkau mencuri?” tanya beliau selanjutnya.
Maka aku menceritakan keadaan ibuku. Dan, beliau berkata: “Baiklah, aku akan memberimu 9000 riyal.”
“Yang dibutuhkan hanya 7000 riyal,” sahutku.
Beliau hanya tersenyum dan menanggapi: “Sisanya untukmu. Tetapi ingat, janganlah kamu mencuri lagi.”
Aku mengambil uang tersebut, lantas berterima kasih seraya mendoakan beliau. Aku bergegas pulang ke Pakistan, menunggu ibu menjalani operasinya. Alhamdulillâh, ibuku sembuh.
Lima bulan setelah itu, aku kembali ke Saudi Arabia. Begitu tiba di bandara, aku segera mencari keberadaan Syaikh bin Baz. Aku pergi rumah beliau. Kami masih mengenal satu sama lain, maka beliau menanyakan perihal ibuku.
Setelah itu, aku memberikan 1500 riyal kepada beliau. Dan, beliau bertanya: “Apa ini?”
“Itu sisanya, wahai Syaikh.” Aku menjelaskan. “Ini untukmu,” kata beliau hendak mengingatkanku. Aku menanggapi: “Syaikh, boleh saya meminta sesuatu?” “Apakah itu, wahai anakku?” sahut beliau.
“Saya berharap bisa bekerja kepada Anda, sebagai pembantu atau pekerjaan apa saja. Aku minta kesediaan Syaikh, janganlah menolak permohonan ini. Semoga Allah melindungi engkau.”
“Baiklah.” Demikian respons beliau atas permintaanku. Aku pun bekerja di rumah Syaikh, melayaninya hingga beliau wafat.
Selang beberapa waktu dari pekerjaanku di kediaman Syaikh, salah seorang pemuda yang mulazamah (berguru) kepada beliau memberi tahuku ihwal apa yang terjadi di dalam rumah beliau ketika aku melompat ke dalamnya dengan niat mencuri.
Si pemuda bertutur: “Sesungguhnya ketika engkau melompat ke dalam rumah, Syaikh bin Baz sedang shalat malam saat itu. Meski mendengar suara dari luar rumah, Syaikh hanya menekan bel yang biasa digunakan untuk mengingatkan keluarga kepada shalat fardhu, supaya mereka terbangun sebelum waktunya tiba. Keluarganya heran dengan hal ini. Saat beliau memberitahukan suara, mereka berinisiatif melaporkannya kepada salah seorang penjaga keamanan, lalu dia menghubungi polisi, hingga mereka segera datang dan menangkapmu.
Dan ketika Syaikh mengetahui kejadian itu, beliau bertanya: “Ada apa di luar?” “Ada pencuri berusaha masuk ke rumah kita, tetapi mereka (yakni pihak yang berwajib) telah menangkap dan membawanya ke kantor polisi.”
Maka Syaikh berkata sambil marah: “Tidak, tidak demikian. Bawa kembali orang itu sekarang juga dari kepolisian. Sungguh, tidaklah dia mencuri melainkan dalam keadaan butuh.”11
11 Kisah ini disadur dari majalah Qiblati, edisi 02, tahun III, Syawal 1428 H/November 2007 M.
Menyucikan Hati dengan Mengubur Dendam
•
Ali Zainal Abidin punya julukan lain, yaitu “az-Zakiy”, yang berarti orang suci. Julukan ini tidak berlebihan, sebab hati beliau memang putih, bening, bersih, serta suci; masya Allah. Beliau tidak memiliki sifat dendam, bahkan selalu memaafkan kesalahan orang lain. Becermin dari keluhuran sifat Tabi’in ini, maka termasuk yang harus kita hilangkan adalah sifat dendam kesumat di antara suku, di antara kelompok, dan semisalnya.
Penyusun prihatin dan amat sedih ketika membaca beberapa tulisan yang isinya membakar dendam para pembaca dengan menuturkan sejarah masa lalu, seperti permusuhan dan dendam Bani Umayyah terhadap Bani Hasyim. Ironisnya, data-data yang disampaikan penulis tidak akurat sebab berdasar pada argumen simpulan dari riwayat-riwayat yang lemah atau dha’if.
Dr. Ali ash-Shalabi, pakar sejarah asal Libia, memberi catatan dalam kitabnya: “Adapun riwayat-riwayat yang mengabarkan permusuhan sengit di antara Bani Hasyim dan Bani Abdu Syams serta Bani Umayyah sebelum kedatangan Islam, perlu diketahui bahwa riwayat-riwayat tersebut derajatnya amat lemah, bahkan kandungannya tidak benar.”12
Beliau menegaskan: “Kami memiliki bukti-bukti sejarah yang menunjukkan hubungan erat Bani Hasyim serta Bani Umayyah. Abdul Muthalib bin Hasyim, pemimpin Bani Hasyim di masanya, bersahabat dengan Harb bin Umayyah, pemimpin Bani Umayyah. Begitu pun Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim, ia bersahabat dengan Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah ...”13
12 Ad-Daulah al-Umawiyyah Awâmil al-Izdihâr wa Tada’iyât al-Inhiyâr (juz I, hlm. 20).