•
Di antara bukti keimanan seorang muslim adalah mencintai keluarga Rasul , karena mencintai Ahlul Bait termasuk kewajiban dan tanda kecintaan kita kepada beliau.
Zaid bin Arqam menuturkan; Suatu hari Rasulullah
berkhutbah di hadapan kami di dekat mata air di daerah yang disebut Khum, yang terletak antara kota Makkah dan Madinah. Beliau pun membaca hamdalah serta memuji Allah . Lantas, beliau memberikan nasihat dan peringatan melalui sabdanya: “Amma ba’du. Ketahuilah, wahai manusia! Aku hanyalah seorang
manusia, siapa tahu utusan Rabbku segera datang memanggilku lalu aku pun menyambutnya. Saya meninggalkan kepada kalian dua hal besar: Yang pertama: Kitab Allah, di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya; maka ambillah Kitab Allah itu dan pegang ia dengan kuat.” Beliau menekankan agar kami berpegang pada Kitabullah
dan mengobarkan semangat dalam berpegang padanya. Beliau melanjutkan nasihatnya: “Dan Ahlul Baitku; aku ingatkan kalian
kepada Allah tentang Ahlul Baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah
tentang Ahlul Baitku. ....” (HR. Muslim)
Rasul juga bersabda: “Cintailah Allah atas anugerah
nikmat yang dilimpahkan kepada kalian. Cintailah aku karena kecintaan kalian kepada Allah. Cintailah Ahlul Baitku (keluargaku)
karena kecintaan kalian kepadaku” (HR. Al-Hakim)24
Imam Ibnu Katsir berkata: “Tidaklah kami mengingkari wasiat-wasiat agar berbuat baik, menghormati dan memuliakan keluarga Rasulullah (Ahlul Bait). Sesungguhnya mereka adalah keturunan yang suci, berasal dari keluarga paling mulia secara kedudukan dan nasab yang pernah hidup di muka bumi, lebih-lebih lagi bila mereka mengikuti sunnah Nabi yang shahih serta jelas nan terang, seperti yang telah dicontohkan oleh para pendahulu mereka; yaitu al-Abbas beserta anak-anaknya dan Ali beserta sanak kerabatnya .25
Kemuliaan Nasab Saja Tidak Cukup •
Ahlul Bait, mereka ialah keluarga Nabi Muhammad
yang diharamkan menerima zakat. Mereka terdiri dari keluarga Ali bin Abu Thalib, keluarga Ja’far bin Abu Thalib, keluarga Aqil bin Abu Thalib, keluarga Abbas bin Abdul Muthalib, keluarga Bani Harits bin Abdul Muthalib, dan istri-istri Nabi kita.
Sikap Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah pertengahan. Kaum yang tidak berlebihan dan tidak meremehkan seluruh masalah aqidah, termasuk di dalam menyikapi Ahlul Bait. Ahlus Sunnah memberi kesetiaan dan penghormatan atas setiap Muslim dan Muslimah dari keturunan Hasyim dan Muthalib. Demikian juga kaum ini benar-benar menghormati dan mengagungkan semua Ummul Mukminin .
Ahlus Sunnah mencintai dan memuji Ahlul Bait Rasulullah. Ahlus Sunnah menempatkan mereka pada posisi yang sesuai dengan kemuliaan yang berlandaskan nash-nash syar’i, bukan berdasarkan hawa nafsu atau perasaan belaka.
Ahlus Sunnah mengakui keutamaan insan yang Allah
beri kenikmatan iman serta kemuliaan nasab (garis keturunan). Siapa saja yang termasuk Ahlul Bait, maka niscaya Ahlus Sunnah mencintai mereka; hanya saja keimanan dan ketakwaan pribadi mereka dijadikan tolok ukur yang utama, baru kemudian status diri mereka sebagai Sahabat Nabi dan keluarga beliau.
Adapun Ahlul Bait yang bukan berasal dari kalangan Sahabat, Ahlus Sunnah tetap mencintai mereka atas dasar keimanan dan ketakwaan serta hubungan kekerabatan dengan insan yang paling mulia, Muhammad .
Ahlus Sunnah memandang kemuliaan nasab itu tergantung pada keimanan seseorang. Siapa yang memperoleh dua hal ini, yaitu kemuliaan nasab dan keimanan kepada Allah , berarti dia telah memperoleh dua kebaikan agung. Sebaliknya, siapa saja yang belum mendapat taufik untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka kemuliaan nasab semata-mata tidak bermanfaat sama sekali bagi dia.
Penjelasan Prof. Dr. Hamka tentang Ahlul Bait •
Pertama-tama hendaklah kita ketahui bahwa Nabi
tidak meninggalkan anak laki-laki (yang masih hidup pada saat beliau telah wafat). Anak laki-laki atau putra Rasulullah—Qasim, Thahir, Thaib, dan Ibrahim—meninggal di waktu kecil.
Sebagai manusia biasa yang berperasaan halus, Rasulullah ingin punya anak laki-laki yang bisa menyambung nasab beliau. (Tetapi hingga akhir hayat,) beliau hanya dianugerahi buah hati yang berumur panjang dari anak-anak perempuan; antara lain Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, dan Fathimah.
Zainab memberi Nabi seorang cucu perempuan, tapi ajal cepat datang menjemput waktu si mungil masih menyusu. Ruqayyah dan Ummu Kaltsum ditakdirkan mati muda. Kedua putri beliau ini adalah istri Utsman bin Affan; setelah Ruqayyah meninggal, Ummu Kaltsum menggantikannya (turun ranjang). Ketiga anak perempuan ini meninggal lebih dahulu dari beliau.
Hanya Fathimah yang meninggal kemudian, dan hanya dia yang memberi Rasulullah cucu laki-laki. Suami Fathimah adalah Ali bin Abu Thalib. Abu Thalib sendiri adalah kakak ayah Nabi, Abdullah, dan yang mengasuh Nabi sejak usia 8 tahun.
Cucu laki-laki itu ialah Hasan dan Husain. Maka apabila kita berempati, kita akan tahu betapa Nabi sebagai seorang manusia mengharap anak-anak Fathimah ini sebagai penyambung nasab. Karena itu beliau amat cinta dan sayang kepada kedua cucunya. Pernah beliau sedang ruku si cucu masuk dalam celah kakinya. Pernah beliau sedang sujud si cucu berkuda pada punggungnya. Pernah beliau sedang khutbah si cucu duduk di tingkat pertama tangga mimbar.
At-Tirmidzi meriwayatkan dari Usamah bin Zaid, bahwa dia melihat Hasan dan Husain berpeluk di atas kedua paha beliau. Kemudian Rasul mengatakan: “Kedua anak ini adalah
anakku, anak dari putriku. Ya Rabb, aku menyayangi keduanya.”26
Juga diriwayatkan oleh al-Bukhari, dari Abu Bakrah; bahwa Nabi Muhammad pernah berkata tentang Hasan: “Anakku ini
adalah sayyid (pemimpin), moga-moga Allah akan mendamaikan melalui dia dua golongan kaum muslimin yang sedang berselisih.”
Nubuwat (prediksi kenabian) tersebut tepat, sungguh terjadi. Pada tahun 60 H Hasan menyerahkan tampuk kekuasaan kepada Mu’awiyah bin Abu Sufyan, karena dia tidak suka melihat darah kaum muslimin terus tumpah. Sehingga, berkat keputusannya, tahun ini pun dinamai “Tahun Persatuan”.
Rasul pun bersabda: “Kedua anakku ini adalah Sayyidâ (dua
pemimpin) dari pemuda-pemuda di Surga kelak.”27
Barangkali ada yang bertanya: “Jika begitu jelas bahwa Hasan dan Husain itu cucu beliau, mengapa disebut sebagai ‘anak’?”
Jawabannya; ini terkait pemakaian bahasa oleh orang Arab, atau bangsa Semit. Dalam Al-Quran, pada surah Yusuf ayat 6, dikatakan bahwa Nabi Ya’qub berharap Allah menyempurnakan nikmatnya kepada Yusuf, putra beliau, sebagaimana sempurna nikmat itu bagi kedua bapak sebelumnya, Ibrahim dan Ishaq. Padahal, bapak atau ayah kandung Yusuf adalah Ya’qub . Ishaq adalah kakeknya, sedang Ibrahim adalah kakek ayahnya. Berikut lafazh ayat yang dimaksud:
ZL .... GF E D C B ...[
“Bapak-bapakmu Ibrahim dan Ishaq.”
Dengan kata lain, nenek-nenek moyang disebut bapak; adapun cucu-cicit, mereka biasa disebut anak-anak.
Menghormati keinginan Nabi yang demikian, seluruh umat Muhammad menghormati Ahlul Bait. Meskipun tidak Rasulullah anjurkan, umumnya kaum Quraisy, Bani Hasyim, dan keturunan Hasan maupun Husain mendapat kehormatan istimewa di hati setiap orang beriman.
Bagi Ahlus Sunnah, hormat dan penghargaan itu biasa saja. Keturunan Hasan dan Husain umumnya dipanggil ‘Sayyid’, yang jamaknya ialah Sa’adat. Sebab Nabi bersabda: “Kedua anakku ini
adalah Sayyida (dua pemimpin) dari pemuda-pemuda di Surga kelak.” Di beberapa negeri dipanggil ‘Syarif’, yang berarti orang
mulia atau orang berbangsa, yang jamaknya ialah Asyraf. Serta yang hormat secara berlebihan sampai menyatakan Hasan dan Husain tidak pernah berdosa (ma’shum), yaitu kaum Syiah.
Menjawab pertanyaan tentang benarkah Habib Ali Kwitang dan Habib Tanggul (Sholeh Alhamid) keturunan Rasul , perlu diketahui bahwa sejak masa kebesaran Aceh telah banyak keturunan Hasan dan Husain itu datang ke tanah air kita ini. Mulai dari semenanjung tanah Melayu, kepulauan Indonesia, dan Filipina. Harus diakui jasa mereka dalam penyebaran Islam di Nusantara begitu besar. Penyebar Islam serta pendiri kerajaan Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif Kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanau dan Sulu, dua wilayah di Filipina.
Sesudah pupus keturunan laki-laki Iskandar Muda Mahkota Alam, Sultan Aceh terakhir, pernah bangsa Sayid dari keluarga Jamalullail menjadi raja penggantinya. Negeri Pontianak pernah diperintah bangsa Sayid al-Qadri, Siak (Riau) oleh bangsa Sayid bin Syahab, dan Perlis (Malaysia) oleh bangsa Sayid Jamalullail. Yang Dipertuan Agung III Sayid Putera adalah raja Perlis, dan Gubernur Serawak yang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang, ialah salah seorang anggota keluarga Alaydrus. Kedudukan keluarga tersebut di negeri ini secara turun-temurun menjadikan mereka anak negeri tempat mereka berdiam. Mayoritas dari mereka pun menjadi mubalig atau ulama.
Mereka berhijrah dari Hadramaut, aslinya keturunan Ahmad bin Isa al-Muhajir dan Faqih al-Muqaddam. Mereka kemari dari berbagai keluarga. Yang kita banyak kenal ialah keluarga Alatas, Assegaf, Alkaf, Bafagih, Bilfaqih, Alaydrus, Bin Syeih Abu Bakar, Alhabsyi, Alhaddad, Bin Smith, Bin Syahab, Alqadri, Jamalullail, Assiry, al-Aidid, al-Jufri, Albar, Almusawwa, Ghathmir, Bin Agil, al-Hadi, Ba’abud, Bin Syaikhan, azh-Zhahir, Bamakhromah, Bin Yahya, dan Basyaiban. Menurut keterangan dari almarhum Sayid Muhammad bin Abdurrahman bin Syahab, keturunan keduanya berkembang hingga menjadi 199 keluarga besar. Mereka semua adalah anak Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa al-Muhajir.
Ahmad bin Isa al-Muhajir inilah yang pindah dari Bashrah ke Hadramaut. Lanjutan silsilah (nasab)nya adalah Ahmad bin Isa al-Muhajir bin Muhammad al-Naqib bin Ali al-Uraidhi bin Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Bagir bin Ali Zainal Abidin bin Husain as-Sibthi bin Ali bin Abu Thalib. As-Sibthi artinya cucu, sebab Husain adalah anak Fathimah binti Muhammad .
Sungguhpun yang terbanyak adalah keturunan Husain yang berasal dari Hadramaut itu, terdapat pula keturunan Hasan yang datang dari Hejaz, dan ada lagi keturunan Syarif-Syarif Makkah. Akan tetapi, jumlah keduanya tidak sebanyak dari Hadramaut.
Selain dipanggil ‘Tuan Sayid, mereka juga dipanggil ‘Habib’, dan di Jakarta dipanggilkan ‘Wan’. Di Serawak dan Sabah disebut ‘Tuanku’. Adapun di Pariaman (Sumatra Barat) disebut ‘Sidi’.
Mereka pun telah tersebar di seluruh dunia. Di negeri-negeri besar seperti Mesir, Baghdad (Irak), atau Syam (Syria); mereka punya Naqib, orang yang bertugas mencatat dan mendaftarkan keturunan-keturunan yang bernasab kepada Ahlul Bait tersebut.
Pada saat sekarang—pada masa hidup Hamka, tahun 1980-an— pencatatan nasab itu telah mencapai 36-37-38 silsilah keturunan sampai kepada Sayyidina Ali dan Fathimah .
Maka baik Habib Tanggul (Sholeh Alhamid) di Jawa Timur dan almarhum Habib Ali (Alhabsyi) di Kwitang, Jakarta, memanglah keturunan dari Ahmad bin Isa al-Muhajir yang berpindah dari Bashrah ke Hadramaut, dan Ahmad bin Isa al-Muhajir tersebut adalah cucu ke-6 (7) dari cucu Rasulullah , Husain bin Ali bin Abu Thalib. Kepada keturunan-keturunan itu semua kita berlaku hormat dan cinta.
Kepada mereka Rasulullah berpesan: “Janganlah sampai orang
lain datang kepadaku dengan amalnya, sedangkan kamu datang
kepadaku dengan (hanya) membawa nasab dan keturunanmu.”28
Rasulullah juga bersabda; “Andaikata Fathimah putri
Muhammad terbukti mencuri, niscaya akan kupotong tangannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Jadi pantaslah kalau kita ulangi seruan seorang ulama besar Alawy yang telah wafat di ibukota ini, yaitu Sayid Muhamad bin Abdurrahman bin Syahab, agar generasi-generasi yang datang kemudian dari turunan Alawy memegang teguh agama Islam, menjaga pusaka nenek moyangnya; jangan sampai tenggelam pada pengaruh peradaban Barat. Seruan Sayid ini pun semoga bisa memelihara kecintaan dan penghormatan umat Muhammad (kaum muslimin) terhadap mereka (Ahlul Bait).29
28 Az-Zaila’i dalam Takhrîjul Kasysyâf (I/91)—gharib jiddan.
29 Sumber: majalah Panji Masyarakat, di artikel “Penjelasan Atas Masalah Gelar Sayid”, nomor 169, tahun ke-XVII, Februari 1975/Shafar 1395 H, halaman 37-38..
Penjelasan Syaikh bin Baz tentang Ahlul Bait •
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz pernah ditanya oleh saudara kita dari Irak ihwal anak cucu Rasulullah
yang memperlakukan orang lain dengan perbuatan yang tidak semestinya ditunjukkan oleh mereka yang notabene Ahlul Bait. Jawaban Syaikh sebagai berikut.
“Mereka (keturunan Rasulullah ) tersebar di berbagai tempat dan negeri. Mereka terkenal juga dengan gelar ‘Syarif ’. Sebagaimana dikatakan para peneliti, mereka itu berasal dari keturunan Ahlul Bait Nabi. Di antaranya ada yang silsilahnya berasal dari al-Hasan , dan ada pula yang berasal dari al-Husain. Ada yang dikenal dengan gelar ‘Sayyid’, dan yang lainnya lagi dikenal dengan gelar ‘Syarif’. Demikian kenyataan yang umum diketahui di Yaman dan di negeri-negeri selainnya. Mereka itu wajib bertakwa kepada-Nya dan harus menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan Allah . Bahkan, semestinya mereka itu menjadi hamba teladan umat, yang paling menjauhi berbagai macam keburukan.
Kemuliaan silsilah mereka wajib dihormati dan tidak boleh disalahgunakan oleh orang yang bersangkutan. Kalau mereka diberi sesuatu dari Baitul Mal, itu memang telah menjadi hak yang dikaruniakan Allah atas Ahlul Bait Rasul-Nya. Pemberian halal lainnya yang bukan zakat, tidak ada salahnya jika mereka ingin menerimanya. Akan tetapi apabila silsilah yang mulia ini disalahgunakan, sehingga dia beranggapan bahwa orang yang mempunyai silsilah kenabian itu dapat mewajibkan orang lain supaya memberi ini dan itu, sungguh anggapan demikian ialah perbuatan yang tidak patut.
Keturunan Nabi kita, Muhammad , ialah keturunan yang termulia; dan, nasab Bani Hasyim ialah nasab yang paling utama di kalangan orang-orang Arab. Karenanya, tidak patut jika mereka melakukan sesuatu yang mencemarkan kemuliaan martabat diri sendiri; baik berupa perbuatan, ucapan, ataupun perilaku yang rendah.
Adapun soal menghormati Ahlul Bait, mengakui keutamaan mereka, dan memberikan sesuatu yang memang hak mereka, ataupun memberi maaf atas kesalahan mereka atas orang lain serta tidak mempersoalkan kekeliruan pribadi yang tidak ada sangkut-pautnya dengan agama, semua itu adalah kebajikan. Dalam sebuah riwayat Nabi berulang-ulang berpesan:
“Aku ingatkan kalian kepada Allah Ahlul Baitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah Ahlul Baitku.” Jadi berbuat baik terhadap
mereka, memberi maaf atas kekeliruan mereka yang sifatnya personal, menghargai mereka sesuai dengan derajatnya, dan membantu mereka pada saat-saat membutuhkan; semua itu merupakan perbuatan baik dan kebajikan kepada mereka.”30
Penjelasan Syaikh Muhammad Mukhtar asy-Syinqithi •
tentang Ahlul Bait
Syaikh Muhammad Mukhtar asy-Syinqithi ﷲا ﻪﻈﻔﺣ berkata: “Hukum asal syariat terkait Ahlul Bait adalah dianjurkan supaya memuliakan dan tidak menghinakan mereka, juga dihormati dan tidak direndahkan. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya
anak putriku ini (Fathimah) adalah darah dagingku, menyakitiku apa-apa yang menyakitinya, dan membuatku marah apa-apa yang
membuat dirinya marah.” (HR. Muslim)
Siapa yang nasabnya terbukti sampai kepada Rasul
ditetapkan sebagai orang yang harus dimuliakan dan dihormati. Jika Anda tidak tahu atau ragu akan kebenaran nasabnya, maka tanyalah kepada orang-orang; carilah informasi terkait.
Sebagian orang ekstrem atau berlebihan dalam memuliakan keturunan Nabi tersebut sampai jatuh pada hal-hal yang haram. Sebagian lagi berkeyakinan sebaliknya, yakni berlebihan dalam merendahkan dan menghinakan mereka. Adapun yang diyakini oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah ialah memuliakan mereka tanpa berlebihan dan tanpa meremehkan.
Memuliakan Ahlul Bait berarti memuliakan Nabi . Maka jangan sampai malah Ahli Bid’ah yang justru memuliakan mereka, karena sesungguhnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah lebih berhak untuk melakukan hal itu.
Kalau salah seorang keluarga Rasulullah datang ke rumahmu maka muliakanlah dia, penuhi kebutuhannya, sanjunglah dia, berbuat baiklah untuknya sebagai bentuk ketaatan dan taqarub (mendekatkan diri) kepada Allah .
Apabila dia tetanggamu, jagalah tetangga ini sebaik-baiknya. Apabila dia temanmu dalam pekerjaan, istimewakan dia dengan sikap-sikap baik kepadanya. Apabila Anda tahu ada janda, anak yatim, ataupun siapa saja dari keluarga beliau yang butuh akan bantuan, maka segeralah bantu mereka, mudahkan urusannya, ringankanlah bebannya, selesaikanlah problemnya. Sehingga, mereka merasakan keutamaan yang Allah berikan atas mereka; dan memotivasi mereka agar menjaga nikmat sekaligus amanat tersebut dengan sebaik-baiknya. Allah memuliakan mereka dengan Islam, maka hendaklah mereka memuliakan Islam.
Para Sahabat Rasul sudah mencontohkan kepada kita. Zaid bin Tsabit , tatkala keluar dari rumahnya, mendapati Ibnu Abbas berdiri di depan pintu. Spontan dia berkata: “Siapa ini? Wahai anak paman Rasulullah, demi Allah, jika Anda utus seseorang tentu saya yang akan datang ke tempat Anda.” Jika terhadap anak paman Nabi saja kita harus memuliakannya, bagaimana dengan anak perempuan yang adalah darah daging beliau, maka tentu lebih lagi pemuliaannya.
Mereka yang termasuk keturunan dari keluarga Nabi
punya kewajiban untuk menjadi contoh atau teladan yang baik. Jangan sampai Ahlul Bait berkata atau melakukan sesuatu yang tidak pantas. Kemuliaan nasab harus dijaga, dengan berpegang teguh pada agama Islam secara konsisten dan konsekuen.
Adapun penerapan lebih rincinya berbeda karena perbedaan situasi dan kondisi. Perihal batasan-batasan yang lebih detail lagi sesuai dari pertanyaan yang diajukan, kasihanilah seorang yang ditanya sebab keterbatasan ilmunya. Perkara Ahlul Bait ini adalah perkara yang besar, masalah batasan ialah hal yang sulit, saya membahas sekadarnya saja. Hanyalah para ulama yang sangat dalam ilmunya yang sanggup menjawab masalah ini dengan teliti dan tuntas.
Kami memohon kepada Allah , dengan kemuliaan dan keagungan-Nya supaya mengaruniakan kami rasa cinta kepada keluarga Nabi , berupa cinta yang tulus karena-Nya. Dan, semoga Allah menjadikan kami termasuk dalam golongan yang berjalan di sepanjang rel keridhaan-Nya.”31
Perlu diketahui, terdapat ancaman dari Nabi Muhammad bagi orang-orang memalsukan nasab.
Rasulullah bersabda: “Seseorang yang menisbahkan
kepada selain ayahnya padahal dia mengetahuinya, maka dia telah kufur kepada Allah. Barangsiapa mengaku sebagai suatu kaum dan dia tidak ada hubungan nasab dengan mereka, maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduk (tinggal)nya di Neraka.” (HR. Al-Bukhari [no 3508] dan Muslim [112])
Beliau pun bersabda: “Sesungguhnya sebesar-besar kedustaan
adalah penisbatan diri seseorang kepada selain ayahnya, atau dia mengaku bermimpi sesuatu yang tidak dia lihat, atau dia berkata atas nama Rasulullah apa yang tidak pernah dikatakan beliau.” (HR. Al-Bukhari)
Penyusun punya beberapa sahabat dari kalangan Ahlul Bait yang berakhlak baik. Ada yang berasal dari keturunan Hasan bin Ali bin Abu Thalib, Aqil bin Abu Thalib, Husain bin Ali bin Abu Thalib, dan dari keturunan al-Abbas bin Abdul Muthalib . Mereka bersikap tawadhu, gemar bersedekah, senang menolong orang lain, menghormati orang yang lebih tua. Mereka banyak mengorbankan waktu dan harta mereka demi melayani urusan kaum muslim. Mereka setia kawan, santun, dan ucapannya halus. Masih banyak akhlak mulia Ahlul Bait, masya Allah.
Orang yang dikenal berakhlak baik; ketiadaannya dicari dan kehadirannya dinantikan, kepergiaannya berat untuk dilepas, ketidakhadirannya dirindukan, kebaikannya diteladani, hingga kematiannya membuat orang-orang yang mencintai dia karena Allah pun bersedih dan menangis.
Salim bin Abdullah wafat pada tahun 106 H. Penduduk Madinah serentak berduka, banyak dari mereka yang menangis karena merasa kehilangan Salim. Manusia berbondong-bondong menshalatkan jenazah Tabi’in ini, lalu mereka menguburnya.
Ya Allah, berilah hidayah agar kami berakhlak dengan akhlak yang mulia, karena tidak ada yang mampu memberikan hidayah kepada akhlak yang mulia kecuali Engkau.
Ya Allah, palingkanlah kami dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang mampu memalingkan diri dari akhlak yang buruk kecuali Engkau.
Ya Allah, berikanlah ketakwaan kepada jiwa kami, sucikan ia, karena Engkaulah sebaik-baik Yang menyucikannya, dan Engkau adalah pemilik dan pelindung setiap jiwa.
Ya Allah, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkan aku bersama dengan orang-orang yang shalih.
Wahai Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan cabutlah nyawa kami dalam kondisi berserah diri kepada-Mu.