• Tidak ada hasil yang ditemukan

Allah sebagai Hakim Judul: Allah sebagai Hakim

Dalam dokumen publikasi e-sh (Halaman 44-47)

Hakim yang adil tidak memihak kecuali kepada kebenaran. Dia tidak akan membela orang yang kaya supaya dapat imbalan, kalau memang orang kaya itu salah. Dia pun tidak boleh memihak kepada orang yang miskin, kalau memang tindakannya salah, misalnya mencuri dan merampok. Hakim yang adil berpihak pada kebenaran, yang sudah dirumuskan dalam hukum yang berlaku. Allah adalah hakim yang adil, tak pernah berpihak kepada yang tidak benar, karena Dialah sumber kebenaran itu sendiri. Dalam Alkitab, kebenaran Allah dinyatakan lewat Hukum Taurat bagi umat-Nya, Israel. Bagi umat Tuhan Perjanjian Baru, hukum kasih yang merupakan intisari Hukum Taurat merupakan perwujudan kebenaran Allah yang bersifat universal. Paulus

menyebut hati nurani sebagai juga tem-pat kebenaran Allah dinyatakan bagi mereka yang tidak memiliki Hukum Taurat tertulis (Rm. 2:14-15).

Allah melihat ke kedalaman hati manusia. Dia tidak bisa ditipu dengan penampilan baik, padahal dalamnya busuk. Dia tidak bisa dibayar untuk membelokkan kebenaran karena, semua yang ada di dunia ini Nya. Bagaimana mungkin membayar Dia dengan apa yang memang milik-Nya? Dia adalah Kebenaran Sejati. Kalau Dia membengkokkan kebenaran, berarti menyangkali Diri-Nya sendiri.

Hakim manusia kadang tidak berdaya dengan otoritas dari tempat lain yang memaksanya untuk bertindak bertentangan dengan kebenaran. Selain dibeli dengan uang, bisa juga dipaksa dengan ancaman keamanan keluarganya, juga lewat teror semacam "surat sakti" dari pihak yang jabatannya lebih tinggi.

Allah adalah hakim yang adil yang tidak dikendalikan oleh apapun dari luar. Dia mandiri dan tidak terbeli. Dia tidak bisa ditekan ataupun diancam. Dia adalah Pemilik alam semesta. Langit dan bumi menjadi saksi keadilan-Nya. Pengadilan-Nya atas bangsa-bangsa, pasti benar dan vonisnya pasti adil! Siapa yang menjaga hidupnya benar, takut akan Tuhan, serta menegakkan keadilan dan kebenaran di lingkup yang ia pimpin, tidak usah takut terhadap keadilan Allah. Ia akan teruji keluar bagai emas murni!

45 Minggu, 1 Februari 2009 Bacaan : Markus 2:18-22

(1-2-2009)

Markus 2:18-22

Ritual kosong

Judul: Ritual kosong

Ada orang yang menjalankan hidup keagamaan dengan taat tanpa memahami esensinya. Ada juga yang menjadikan ritual keagamaan sebagai pertunjukan untuk mengundang decak kagum orang lain.

Hukum Musa mengatur waktu puasa satu hari dalam setahun, yaitu pada Hari Pendamaian (Im. 16:29). Namun para pemimpin agama mengatur waktu puasa melebihi Hukum Musa (band. Luk. 18:12). Kebiasaan memakai pakaian buruk dan menaburkan abu di wajah saat berpuasa,

kemudian dimaksudkan agar orang mengagumi betapa saleh mereka.

Yesus tidak mengajarkan tradisi puasa pada para murid. Menurut Yesus, orang tidak berpuasa pada saat pesta kawin. Dialah mempelai pria dan umat Allah adalah mempelai wanita. Selama mempelai pria ada di dalam pesta maka yang ada hanya sukacita, bukan puasa (ayat 19-20). Bila mempelai pria pergi, barulah orang berpuasa.

Yesus melengkapi penjelasan-Nya dengan dua perumpamaan, yaitu tentang secarik kain baru dan baju tua serta tentang kantong kulit tua dan anggur baru (ayat 21-22). Kedua perumpamaan itu berbicara tentang orang Yahudi yang telah lama terjebak dalam ritual agama yang kosong. Mereka memang melakukan semua tuntutan agama, tetapi berdasarkan pemahaman yang keliru. Mereka melakukan itu bukan karena merasakan kebutuhan untuk bersekutu dengan Allah. Bahkan ada yang melakukan karena ingin pamer kesalehan. Parah bukan? Sebab itu Tuhan ingin menyatakan bahwa ritual agama yang membuat hubungan manusia dengan Tuhan jadi gersang seharusnya tidak digunakan. Roh Allah tak dapat bekerja leluasa dalam kegersangan demikian. Peringatan Yesus kiranya membuat kita bercermin. Adakah kebiasaan ke gereja di hari Minggu dan waktu teduh setiap hari masih menyegarkan kerohanian kita? Atau kita melakukan semua itu karena sudah terlanjur menjadi kebiasaan dan kita merasa tidak afdol bila tidak melakukannya? Kiranya Roh Kudus menyegarkan dan membarui kita.

46 Senin, 2 Februari 2009 Bacaan : Markus 2:23-3:6

(2-2-2009)

Markus 2:23-3:6

Makna Sabat

Judul: Makna Sabat

Istilah workaholic dikenakan kepada pecandu kerja. Meski melakukan aktivitas pada hari Sabat, Yesus bukanlah seorang workaholic.

Sabat memang berarti hari perhentian. Orang tidak boleh melakukan aktivitas apapun pada hari itu. Namun orang Farisi membuat Sabat menjadi belenggu yang membatasi ruang gerak umat Allah. Sebab itu Yesus menunjukkan bahwa Sabat merupakan karunia Allah bagi manusia, yang dirancang sebagai hari istirahat dan hari ibadah. Bila Yesus dan para murid beraktivitas pada hari Sabat, Ia tidak bermaksud melanggar hari Sabat. Ia juga bukan sedang mengajar para murid melawan hukum Sabat. Yesus menjadikan karya-Nya sebagai bukti bahwa Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat. Dalam peristiwa makan di ladang gandum dan penyembuhan orang yang tangannya sakit sebelah, Yesus mengembalikan arti Sabat yang sesungguhnya. Sabat dilihat dari perspektif Allah yaitu mendatangkan berkat, bukan menjadi belenggu. Sabat menjadikan

manusia makin menyadari hakikat diri dan memahami bahwa Allah adalah Si empunya hari Sabat.

Manusia membutuhkan hari Sabat sebagai hari ketika Allah menganugerahkan berkat-Nya. Berkat pemulihan bagi mereka yang sakit, makanan bagi yang lapar, dan pembebasan bagi yang tertindas. Memaknai Sabat sebagai hari perhentian berarti menyediakan ruang bagi Allah untuk menyatakan karya-Nya dalam hidup kita. Juga ruang bagi kita untuk menumbuhkan kepekaan terhadap sesama yang membutuhkan atau yang menderita. Maka kita bisa simpulkan bahwa Sabat ada untuk kesejahteraan manusia.

Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat. Maksud Sabat yaitu agar manusia beroleh hubungan intim dengan Allah telah dipulihkan Yesus melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Maka Sabat bukan lagi hanya satu hari dalam setiap minggu. Namun tiap hari adalah kesempatan bagi kita untuk berelasi intim dengan Allah. Mari kita syukuri karya Kristus ini di sepanjang hidup kita.

47 Selasa, 3 Februari 2009

Bacaan : Markus 3:7-12

(3-2-2009)

Markus 3:7-12

Motivasi mengikut Yesus

Dalam dokumen publikasi e-sh (Halaman 44-47)