• Tidak ada hasil yang ditemukan

Alternatif Membangun Kultur Pendidikan LP Ma’arif

Dalam dokumen MEMBACA DAN MENGGAGAS NU KE DEPAN SENARA (Halaman 68-73)

Dalam rangka membangun kultur LP Ma’arif NU yang ideal, maka penting disadari komponen penting pendidikan sebagai potensi dasarnya. Komponen potensial itu mencakup (i) manajerial pengembangan LP Ma’arif NU secara konseptual, birokrasi, dan praksisnya, (ii) manajerial KS, (iii) kualitas guru, (iv) kualitas input, (v) kualitas SDM pendukung lain, (vi) kualitas perpustakaan, (vii) kualitas sarana prasarana, (viii) kualitas “budaya” di pendidikan itu sendiri, dan (ix) stakeholder pendukung berikut kepemimpinan PC NU Ponorogo.

Upaya-upaya konkret dalam menumbuhkan kultur LP Ma’arif NU yang berkualitas perlu dipertimbngkan. Jika tetangga organisasi misalnya, mampu melahirkan sekolah-sekolah unggul dan mendapatkan respon menarik dari masyarakat (termasuk warga NU) maka kita dituntut jujur untuk berkaca kembali, mereleksi kembali, sehingga akan ditemukan konstruksi besar dalam rangka membangun sekolah-sekolah di bawah LP Ma’arif NU yang kompetitif dan bermutu.

Ki Supriyoko sebagai ahli pendidikan yang mengritisi pendidikan nasional misalnya, pernah membagi isu-isu (baca: problem) pendidikan di Indonesia menjadi tiga peringkat: problem fundamental (fundamental issues), problem stuktural (structural issues), serta problem operasional (operational issues) (Lihat Kompas, 5 Maret 2004). Kondisi demikian, tentu juga terjadi di lembaga pendidikan di lingkungan LP Ma’arif NU Ponorogo.

Problem fundamental pendidikan LP Ma’arif NU tentu akan berkaitan dengan konsep-konsep kebijakan nasional maupun muatan tambahan di dalamnya. Sedangkan, problem struktural LP Ma’arif NU akan menyangkut problem birokrasi yang terjadi di pengelolaan LP Ma’arif NU. Dan, mungkin yang paling beragam dan problematis di LP Ma’arif NU Ponorogo adalah problem implementasi pendidikan. Problem pembelajaran yang pertama-tama adalah problem guru. Sebagaimana disadari, dalam praktik pendidikan LP Ma’arif NU kita, guru-guru kita bukanlah anak-anak NU terbaik dari segi kualitas.

Membangun Kultur Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Berbasis Motivasi Berikut pokok-pokok kritis untuk menawarkan solusi pengembangan sekolah-sekolah di bawah LP Ma’arif NU Ponorogo sehingga dapat dijadikan pertimbangan (pijakan) peningkatannya.

Pertama, perlunya penguatan organisasi LP Ma’arif NU. Kuatnya organisasi LP Ma’arif NU barangkali merupakan prasyarat awal untuk membangun sekolah-sekolah yang berkualitas di lingkungannya, di kabupaten Ponorogo. Inspirasi dan motivasi organisasi misalnya, akan menjadi inspirasi dan motivasi sekolah-sekolah yang dikelolanya. Kualitas personal dan keterbukaan komunikasi menjadi alternatif awal bagaimana memikirkan dan mengperasionalisasikan sekolah yang semakin berkualitas. Hanya dengan komunikasi yang kuat maka diharapkan keterlibatan berbagai pihak untuk ikut berpartisipasi dalam pengembangannya menjadi ghirah tersendiri.

Komunikasi intensif dengan frekuensi yang meningkat misalnya, menjadi alternatif agar semua pihak merasa bertanggung jawab, terpanggil, dan berkewajiban untuk mengembangkan sekolah-sekolah di lingkungan LP Ma’arif NU untuk dapat maju dan bersaing dengan sekolah umum lainnya. Minimal tidak kalah dan sejajar dalam kuantitas dan kualitasnya.

Kedua, perlunya manajemen pendidikan berbasis motivasi. Problem terbesar pendidikan di lingkungan LP Ma’arif NU barangkali adalah problem motivasi ini. Jika motivasi rendah dapat diprediksikan bagaimana komitmen dan aktivitas dalam operasionalisasi pendidikan yang dilaksanakannya. Dengan demikian, maka dipandang penting untuk menumbuhkan motivasi sekolah seperti: (i) penyediaan buku-buku pembangkit motivasi, (ii) pelajaran tamu dari luar pendidikan seperti dokter, psikolog, dan usahawan yang “berhasil”, dan (iii) lahirnya kepemimpinan sekolah dan LP Ma’arif NU yang motivatif. Sekadar contoh misalnya kalau SMP Ma’arif 1 Ponorogo mampu melahirkan seorang profesor di Universitas Brawijaya –yang beberapa waktu lalu menjadi moderator debat Capres 2014—maka alangkah indahnya jika kita mampu menjadikan ia sebagai inspirasi dan motivasi bagi insan sekolah di LP Ma’arif NU.

Demikian juga, sekarang PCNU Ponorogo lagi getol-getolnya mengembangkan “organisasi” Himpunan Pengusaha NU, mestinya juga dapat dilibatkan untuk menambah warna motivasi dan inspirasi di sekolah- sekolah di ingkungan LP Ma’arif NU Ponorogo. Komitmen potensi SDM NU dengan demikian akan terorganisasi dan termanfaatkan.

Membaca dan Menggagas NU ke Depan:

Di samping itu, banyak buku motivasi yang menarik dapat mengembangkan motivasi komponen pendidikan. Buku-buku itu diantaranya Born to Win: Kunci Sukses yang Tak Pernah Gagal (karya: Anton Irianto), Jakarta (Gramedia, 2005). 50 Suskes Classics: Menjadi Bijak dalam Pekerjaan dan Kehidupan Melalui 50 Buku legendaries (Tom Butler- Bowdown), Jakarta (BIP, 2005); 8 Etos Kerja Profesional: Navigator Anda Menuju Sukses (Jansen Sinamo), Jakarta (Institut Darma Mahardika, 2005). Dan masih ratusan lagi buku motivasi yang ada.

Ketiga, perlunya manajemen pendidikan berbasis komunikasi. Jika komunikasi di lingkungan LP Ma’arif NU selama ini disinyalir kurang optimal, baik secara struktural maupun horizontal, maka dalam upaya pengembangan sekolah di bawah LP Ma’arif NU Ponorogo menarik untuk meningkatkan aspek komunikasi dalam pengelolaannya. Komunikasi yang positif tentu bukan sekadar bersifat informatif dan top down tetapi partisipatif dan button up.

Manajemen komunikasi ini tentunya menekankan pada kesadaran bahwa etos profesionalitas (mutu), sangat ditentukan oleh kualitas komunikasi. Semakin jernih komunikasi pendidikan, dapat diprediksi kultur pendidikan yang jernih pula. Pendidikan dalam manajemen prasangka tidak akan terjadi karena chanel komunikasi telah terfasilitasi. Sebuah buku menarik yang terbit tahun 2005 yang ditulis Kris Cole, Komunikasi Sebening Kristal: Meraih Sukses Melalui Keterampilan Memahami (Jakarta, Quantum Bisnis & Manajemen, 2005) dapat dijadikan tempat berpijak.

Jika manajemen berbasis komunikasi ini dapat dirintis di sekolah- sekolah di lingkungan LP Ma’arif NU Ponorogo maka kita dipastikan mampu (i) mengidentiikasi impian sekolah-sekolah yang ada, (ii) problem yang melingkupi, (iii) potensi yang tergali, (iv) kekuatan dan kelemahan yang mengiringi, dan (v) berbagai program yang dapat disenergikan maupun di distribusikan.

Dalam konteks manajemen berbasis komunikasi ini, saya jadi teringat gagasan Dr. Akhmadi Bardan, yang menawarkan pengelolaan sekolah kota berbasis korporasi dan manajemen terpadu. Minimal untuk kecamatan kota Ponorogo. Baik sistem penerimaan siswa baru, manajemen mutu sekolah, manajemen guru dan karyawan, serta kekuatan dan kelemahan lainnya dapat dikelola secara terpadu dan terintegrasi. Jika hal ini dapat dipikirkan dan direalisasikan, tentu akan menjadi kekuatan yang luar biasa. Sebab,

Membangun Kultur Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Berbasis Motivasi bisnis modern, misalnya, memang berbasis korporasi yang menarik untuk membangun pencitraan dan pengelolaan secara bersama.

Keempat, perlunya manajemen pendidikan berbasis hadiah and hukuman. Sebagaimana kelemahan yang terjadi di sekolah-sekolah umumnya, manajemen ini belum dapat berjalan secara baik. Padahal, sesungguhnya manajemen ini akan menawarkan kualitas SDM berbasis kerja. Artinya, penempatan orang didasarkan penghargaan atas kualitas kerja bukan pada like dan dislike. Sedangkan, hukuman penting dipikirkan untuk menegakkan aturan main institusi sekolah dan LP Ma’arif NU sehingga kultur pendidikan berjalan atas aturan baku yang mengikat dan tidak pandang bulu.

Kelima, adanya budaya berbasis baca tulis. Sebagaimana disadari bahwa budaya baca-tulis di kehidupan sosial kita belum terbentuk. Akan sangat jauh jika dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Malasyia, Singapura, Jepang, AS, Inggris dan Jerman. Jika secara makro kehidupan berbangsa saja terjadi hal demikian, maka tentu di lingkungan LP Ma’arif NU pun tidak jauh berbeda. Untuk itulah, dipandang penting untuk mendorong terciptanya budaya baca-tulis ini di sekolah-sekolah kita.

Di samping budaya baca-tulis itu bersifat Islami, juga bagaimana secara ilosois budaya ini akan dapat mendorong lahirnya kualitas produk yang kokoh secara literasi dan keilmuwannya. Tradisi kelisanan barangkali sedikit demiki sedikit dikurangi sehingga mendorong tumbuhnya tradisi literasi yang kokoh. Pemikiran ini bukan berarti tradisi kelisanan di lingkungan NU jelek misalnya, bukan sama sekali. Akan semakin indah manakala tradisi kelisanan itu dapat dibarengi dengan penguatan tradisi baca-tulis. Dengan demikian, tradisi kelisanan dan baca-tulis akan menjadi dua rel kereta api impian dalam pembangunan kebudayaan di lingkungan LP Ma’arif NU khususnya dan di kalangan NU umumnya.

Keenam, adanya manajemen pendidikan berbasis jaringan. Jika kita mengamati kehidupan LP Ma’arif NU dewasa ini, tampaknya manajemen jaringan ini juga belum dikembangkan secara optimal. Berbasis jaringan berarti kita mampu mengelola sekolah-sekolah di bawah LP Ma’arif NU untuk mampu berkoordinasi dan bekerja sama dengan berbagai pihak sehingga akan memudahkan pengembangan sekolah yang dikelolanya. Manajemen jaringan dengan alumni misalnya, sekolah bersama LP Ma’arif NU dapat mengiventarisasi alumni yang berkualitas untuk dijadikan konsultan (sekadar komite) sehingga dapat menginspirasi dan menciptakan

Membaca dan Menggagas NU ke Depan:

jaringan bersifat permanen. Berbagai lembaga founding sebenarnya banyak juga menawarkan kerjasama dalam pengembangan kualitas guru dan siswanya.

Saya jadi teringat ketika mengisi kegiatan seminar di sebuah Pondok di Nganjuk. Di Pondok itu, baru saja seorang ustadz bercerita jika salah satu santrinya terpilih dan lolos untuk mengikuti pertukaran pelajar internasional. Menarik dicermati dalam konteks mutakhir, model-model pengembangan pertukaran pelajar di berbagai negara mengalami trend yang menggoda.

Ketujuh, adanya manajemen pendidikan berbasis budaya unggul. Falsafah Jawa senantiasa mengingatkan Jer Basuki Mawa Bea. Untuk menuju basis budaya unggul mau tidak mau mutlak dibutuhkan ketersediaan inancial di satu sisi, dan ketercukupan kemampuan pada kualitas SDM di dalamnya. Untuk inilah, sebenarnya gagasan berkali yang diletupkan oleh pengurus cabang NU Ponorogo untuk mendorong lahirnya sekolah unggul menarik untuk dipikirkan, diseriusi, dan diniati. Impian demikian sesungguhnya tidaklah berlebihan mengingat beberapa hal: (i) potensi SDM NU Ponorogo yang melimpah, (ii) munculnya penguatan ekonomi masyarakat NU khususnya dengan lahirnya HPNU, dan (iii) motivasi dan inspirasi orang- orang NU Ponorogo akan lahirnya sekolah yang bermutu.

Memang terbangunnya budaya unggul di sekolah di lingkungan LP Ma’arif NU bukan sesuatu yang mudah, tetapi bukan juga sesuatu yang sulit manakala secara bersama-sama ada komunikasi untuk melahirkannya atau mengembangkan sekolah yang ada. Meskipun LP Ma’arif NU “hanya bersifat koordinasi” tetapi sesungguhnya lembaga ini memiliki potensi besar untuk bergerak jika memiliki nyali dan kemauan untuk melakukannya. Inspirasi “sekolah unggul” dari tetangga organisasi barangkali menarik untuk dibaca positif bukan untuk direduksi bahwa mereka bukan kita dan kita memiliki “budaya sendiri”.

Jika manajemen sekolah dan LP Ma’arif NU sebagaimana diungkapkan sebelumnya dapat direalisasikan maka penting pula kemudian dipikirkan bagaimana indikator ideal sebagai titik gerak dan pijak dalam mengembangkan dan mengevaluasi pengelolaannya. Pemikiran berikut sekali lagi –teriring permohonan maaf kepada semua pihak—bukan berarti sok tetapi semata- mata karena tulus cinta kepada NU yang telah berurat berakar. Beberapa indikator berikut menarik untuk dikembangkan.

Membangun Kultur Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Berbasis Motivasi

Dalam dokumen MEMBACA DAN MENGGAGAS NU KE DEPAN SENARA (Halaman 68-73)