Bersamaan dengan globalisasi keadaan yang lintas batas teritorial, manusia dihadapkan pada tantangan-tantangan berat yang menuntut persyaratan- persyaratan tertentu sebagai bekal untuk meresponnya. Tantangan itu tidak saja dihadapkan pada manusia sebagai pemeran dalam kehidupan sosial, tetapi juga dihadapkan pada agama sebagai pedoman kehidupan sehari-hari. Muhammad Arkoun menegaskan bahwa Islam sebagai agama dan tradisi pemikiran, di mana-mana –termasuk di Indonesia- menghadapi sejumlah besar tantangan intelektual dan ilmiah yang tidak hanya memerlukan tanggapan-tanggapan yang memadai, tetapi juga peningkatan pemahaman
10. Lihat Mujamil Qamar, NU Liberal: Dari Tradisionalisme Ahlussunnah ke Universalisme
Islam (Bandung: Mizan, 2002), 230.
11. Hadits dimaksud yang terjemahan bebasnya kurang lebih: “Kaum Yahudi bergolong-golong menjadi 71, kaum Nasrani menjadi 72, dan umatku (umat Islam) menjadi 73 golongan. Semua golongan masuk neraka kecuali satu.” Para sahabat bertanya: Siapa satu yang selamat itu? Rasulullah menjawab: ‘Mereka adalah Ahlus Sunnah wa al-Jamâ’ah (penganut Sunnah dan Jamâ’ah).” Apakah Ahlus Sunnah wa al-Jamâ’ah itu? “Ahlus Sunnah wa al-Jamâ’ah ialah mâ anâ ‘alaihi wa ashhâbî (apa yang aku ada di atasnya bersama sahabatku).”.
Memahami-Ulang Paham Aswaja: Upaya Menumbuhkan Sikap Inklusif-Progresif yang benar-benar baru dan penafsiran dari segala masalah yang ditimbulkan kemodernan.12
Dalam menghadapi tantangan tersebut dan tantangan pembangunan, para pemikir Muslim Indonesia telah mulai mengembangkan dan memperluas pemahaman agama sehingga seperti diungkap oleh M. Amin Abdullah, telah terjadi akulturasi dan inkulturasi yang cukup jelas sebagai akibat proses Pembangunan Jangka Panjang I. Perubahan dan pergeseran pemikiran keagamaan tersebut diperkirakan akan terus melaju lebih cepat lagi dalam era Pembangunan Jangka Panjang II, ketika masyarakat Indonesia memasuki era industrialisasi dan informasi.13 Sebab, masa depan Islam sangat bergantung pada kemampuan umatnya dalam menjawab masalah-masalah sosial, politik dan sosial ekonomi yang cukup mendasar dewasa ini.14 Artinya, jika umatnya berusaha melakukan kajian-kajian kritis-ilosois secara mendalam terhadap kandungan wahyu, mereka akan memiliki khazanah intelektual yang luas. Sebaliknya, jika mereka bersifat pasif, hanya mencukupkan diri dengan pemikiran yang ada, niscaya mereka akan miskin wawasan dan Islam tampak mengalami kejumudan. Islam yang mampu menjawab berbagai tantangan kontemporer, menawarkan alternatif paradigma kehidupan sosial, dan mengubah dunia adalah “Islam pemikiran”, bukan “Islam hafalan”. “Islam pemikiran” adalah simbol dinamika aktif- kreatif, sedangkan “Islam hafalan” sebagai lambang stagnasi.
Umat Islam sekarang mulai menyadari artikulasi ajaran Islam sesuai dengan perkembangan pemikiran manusia. Jika dahulu mereka mengartikan irman Allah SWT, khaira ummah hanya terbatas pada perspektif iman dan konsep agama dalam pengertian Al-Qur’an, kini mereka mulai menganalisisnya sehingga di samping pengertian teologis itu juga menyangkut persoalan ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya.15 Dalam konteks inilah kajian tentang aswaja perlu mempertimbangkan kenyataan baru, yaitu menguatnya kelas menengah (middle class) yang
12. Lihat Muhammed Arkoun, Nalar Islam dan Nalar Modern: Berbagai Tantangan dan
Jalan Baru, terj. Rahayu S. Hidayat (Jakarta: INIS, 1994), 39.
13. M. Amin Abdullah, Falsafah Kalam di Era Postmodernisme (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995), 80.
14. M. Amin Rais, “Prospek Proses Kebangunan Islam”, dalam Ahmad Naseri B. (peny.),
Percakapan Cendekiawan tentang Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia (Bandung:
Mizan, 1991), 919.
15. Muhyiddin Suwondo, “Paradigma Gerakan Islam di Indonesia”, Aula, No. 6, Juli (1992), 52.
Membaca dan Menggagas NU ke Depan:
terdiri dari kaum intelektual, mahasiswa dan professional. Munculnya pemikiran hukum yang cukup baru dan berani dikalangan yang kerap kali dicap tradisional serta maraknya kajian-kajian ilmiah di kalangan mahasisma merupakan salah satu indikasi (qarînah) bangkitnya kelas menengah ini. Kelas yang menjadi “the determine factor” dalam perubahan-perubahan hukum di Eropa dan juga Asia dan Afrika pasca kolonial. Indonesia sendiri tentu bukan sebuah pengecualian. Mahasiswa dan intelektual itu merupakan potensi, sekaligus tantangan. Mereka tidak hanya memiliki kemampuan yang berguna, tetapi juga mengajukan persyaratan baru bagi aswaja, khususnya NU (Aswaja an-Nahdhiyah). Mereka sebagai lokomotif yang akan membawa gerbong Aswaja (an-Nahdhiyah)masa depan; Aswaja (an-Nahdhiyah) prospektif; Aswaja an-Nahdhiyah alternatif; dan Aswaja (an-Nahdhiyah) inklusif.
Kalangan intelektual inilah yang senantiasa membuat terobosan- terobosan baru, termasuk upaya menggoyang hal-hal yang sudah dianggap mapan, seperti doktrin aswaja. Doktrin yang menjadi pilar utama NU ini perlu dimaknai secara baru. “Politik pemaknaan” itu menjadi keniscayaan ketika doktrin tersebut mengalami gagap dalam berhadapan dengan perubahan masyarakat yang cepat. Gagasan pokok doktrin itu ternyata tidak berpusat pada sikap fatalisme yang pasrah pada kenyataan, sebagaimana selama ini diyakini, tetapi pada gagasan perlunya keseimbangan (balance) yang dinamis dalam kehidupan. Hal ini mungkin sebagai penerapan tujuan Al-Asy’ari ketika merumuskan konsep kasb, dan maksud ini yang dipegangi kaum Muslim umumnya.
Berangkat dari pendekatan yang kontekstual dengan perkembangan zaman, kaum intelektual itulah yang berusaha mengisi konsep Ahlussunnah wa al-Jamâ’ah secara inklusif-progresif. Slogan al-muhâfazhah ‘ala al-qadîm al-shâlih wa al-akhdz bi al-jadîd al-ashlah (memegangi sesuatu yang lama yang baik dan mengadopsi sesuatu yang baru yang lebih baik)16 digunakan
16. Menurut KH. Abdurrahman Wahid, adagium atau kaidah ini akan lebih indah lagi manakala ada penambahan kata “al-îjâd bi al-jadîd al-ashlah”; menciptakan sesuatu yang baru yang lebih baik dan tidak hanya sebagai “konsumen” barang baru. Lebih jauh, Gus Dur (panggilan akrab K.H. Abdurrahman Wahib) menegaskan bahwa sebenarnya kebanyakan komunitas muslim masih terhenti pada “al-muhâfadhah ‘alâ
al-qadîm ash-shâlih”/menjaga warisan-warisan lama dengan bernaung dibawah label
“as-salaf ash-shâlih” tanpa berani melangkah maju dalam memahami “nazariyah ma’rifah”/
epistemologi, sehingga mampu mengkreasi (mencipta) banyak hal baru yang lebih baik dan bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Lihat Abdurrahman Wahid, “Islam:
Memahami-Ulang Paham Aswaja: Upaya Menumbuhkan Sikap Inklusif-Progresif mereka untuk mengimbangi kaidah iqhiyah: idzâ ta’âradha al-mâni’ wa al-muqtadha, quddima al-mâni’ (apabila berlawanan antara yang mencegah dan yang mengharuskan, didahulukan yang mencegah). Kaidah ini secara normatif baik, karena menunjukkan sikap hati-hati. Tetapi, dari perspektif dinamika pemikiran justru menyebabkan stagnasi akibat kurang berani mengambil resiko. Oleh karena itu, segera didampingi oleh slogan tersebut yang menunjukkan keterbukaan (inklusiitas) untuk menerima pemikiran-pemikiran modern yang lebih logis dan rasional, tetapi tetap melestarikan “kekayaan intelektual yang lama”. Pada gilirannya akan terjadi keseimbangan antara budaya pemikiran lama dan budaya pemikiran baru dalam suatu mata rantai yang saling terkait. Mengingat ketangguhan sebuah pemikiran sangat ditentukan oleh ashalah (keaslian dan orisinalitas) dan mu’âsharah (menzaman, up to date). Artinya, pemikiran yang mempunyai kesinambungan dengan masa lalu dan mampu memahami zaman yang paling kini. Hali ini diibaratkan Al-Qur’an dengan sebuah pohon yang akarnya menghujam di dalam bumi (ashluhâ tsâbitun) karena mempunyai kesinambungan dengan tradisi, karya ulama masa lalu (turâts qadîm) dan dahan-dahannya yang menjulang tinggi ke angkasa (far’uhâ is samâ’), karena mampu mengembangkan, mengkontekstualisasikan, mengaktualisasikan, dan merespons dinamika zaman secara kreatif-inklusif-progresif (turâts jadîd).17 Paradigma ideologis dengan kombinasi ideal ini pada gilirannya akan menjadi sebuah kekuatan besar bagi Aswaja (an-Nahdhiyah) di tengah dinamika globalisasi saat ini.18 Sebaliknya, kepincangan salah satu apalagi kedua-duanya mengakibatkan irrelevansi, stagnasi, dan dekadensi massif terhadap realitas sosial.
Penutup
Walhasil, aswaja memang perlu menyelaraskan langkahnya sesuai dengan kondisi sekarang dan ratusan tahun yang akan datang. Aswaja perlu
Pribadi dan Masyarakat”, dalam Abdurrahman Wahid, Islamku, Islam Anda, Islam
Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi (Jakarta: he Wahid Institute, 2006), hlm.
26-27.
17. Lihat Nurcholis Madjid, Menggugat Tradisi (Jakarta: Kompas-P3M, 2004), IX-X. 18. Wujudnya adalah mencuatnya gagasan-gagasan intelektualisme dan pemikiran Islam
inovatif, seperti: kontekstualisasi pemahaman kitab kuning, teologi pembangunan, pengembangan iqh sosial, iqh lingkungan, sistem pengambilan hukum, dan lain sebagainya.
Membaca dan Menggagas NU ke Depan:
mengembangkan objek bahasan ke dalam semua sektor dan bidang kehidupan. Yang lebih penting, aswaja memiliki akidah yang bisa menjadi psikomotorik. Pengetahuannya (kognitif) bisa mendorong dan mewarnai (psikomotorik) terhadap tingkah laku (afektif). Kita akan men-Sunnikkan mahasiswa kedokteran, mahasiswa kimia jurusan atom, nuklir dan sebagainya. Bahkan sebagai metode berikr (manhaj al-ikr) dan ideologi keagaman, pemahaman aswaja harus menjadi titik awal kerangka berikir dalam menggali hukum (syari’at). Ini adalah pembaruan pemikiran. Dia memang menginginkan adanya inovasi, tetapi yang masih ada jalur dan sambungannya dengan nash dan turâts qadîm. Suatu pembaruan yang menggunakan pemikiran rasional dan disandarkan pada ketentuan nash dan turâts qadîm. Pemahaman terhadap ketentuan nash itulah yang berusaha dikembangkan dengan mengoreksi pemahaman lama. Dengan pemikiran yang mempunyai kesinambungan dengan masa lalu dan mampu memahami zaman yang paling kini inilah yang akan dijadikan sebagai paradigma ideologis dan metode berikir yang akhirnya akan menjadi sebuah kekuatan besar bagi Aswaja (an-Nahdhiyah) di tengah dinamika global saat ini.
Wallahu A’lam bi ash-Shawwâb!