Fazlur Rahman berpendapat bahwa modernisasi di dunia Islam difahami sebagai sebuah fenomena yang berwajah ganda, artinya teknologi dan ilmu pengetahuan membawa keuntungan bagi masyarakat Muslim, sekaligus berimplikasi kurang baik terhadap nilai-nilai kebudayaan. Ada beberapa masyarakat menghadapi modernisasi dengan cara pragmatis yang justru
Pesantren: Antara Lokal Knowledge dan Universalisme Islam mengakibatkan keterputusan yang tak terduga dengan tradisi sejarah intelektual Islam. Akibatnya, secara intelektual, muncul dikotomi antara ilmu agama dan umum. Hal ini dipertegas oleh Steenbrink, bahwa baik dalam penyusunan kurikulum atau dalam pembicaraan umum tentang pendidikan agama Islam di Indonesia, selalu dibedakan antara pelajaran Agama dan pelajaran umum. Ilmu agama hanya dikaitkan dengan rohani, misalnya, sering terdengar bahwa tokoh agama sering disebut “rohaniawan” dan dipisahkan secara diametral dengan ilmuwan-teknolog (yang berbasis ilmu umum). Kondisi yang dilematis tersebut di ataslah yang mendorong para intelektual Muslim Indonesia mengadakan beberapa gagasan alternatif tantang format pendidikan yang tepat dan dapat diterima oleh lapisan masyarakat dan sesuai dengan basic community masyarakat luas. Di antara gagasan-gagasan tersebut salah satunya ialah gagasan tentang Neo-Modernisme. Beberapa pandangan Neo-Modernisme tentang pendidikan agaknya juga skeptis melihat dua bentuk pendidikan tersebut di atas, yaitu antara pendidikan tradisional yang lebih menekankan ilmu- ilmu klasik, dan pendidikan modern yang menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi modern sebagai mainstream utama, di mana menurut mereka--secara historis--hingga tahun 1970-an sedikit saja para intelektual modern Indonesia yang sempat menikmati khasanah Islam Klasik. Konsekuensinya sedikit sekali yang mempunyai spesialisasi pengetahuan dalam melakukan ijtihad. Bukan saja para intelektual modern tersebut tidak akrab dengan khasanah Islam klasik, tetapi sangat sedikit yang menguasai Bahasa Arab. Sebaliknya sejak zaman Mataram dan Malaka, ribuan sarjana telah meninggalkan Nusantara untuk mengkaji karya-karya Islam klasik di sepanjang jazirah Arab. Berangkat dari sinilah kemudian para kaum Neo-Modernis mencoba mengadakan kolaborasi antara Islam klasik dan tradisi pendidikan modern Barat, atau meminjam istilah Geertz kolaborasi antara bahasa Islam dan bahasa dunia Kontemporer.
Hal lain yang menarik untuk dikaji lebih mendalam adalah munculnya tipologi Federspiel tentang kelompok intelektual Muslim Indonesia. Dari beberapa artikelnya, Federspiel mengelompokkan empat macam kelompok intelektual Muslim Indonesia. Pertama, ‘ulama yang biasanya berlokasi di dunia pesantren, mereka mempelajari adat-istiadat serta ilmu pengetahuan Islam dari teks-teks ilmu pengetahuan klasik agar menjadi seorang ‘alim, mereka biasanya mengkaji ikih, tafsir, tasawuf dan qira’at (resitasi). Teks- teks tersebut muncul pada masa Islam klasik dan periode Islam pertengahan
Membaca dan Menggagas NU ke Depan:
dengan bahasa Arab sebagai alatnya. Kelompok ini menekankan pentingnya pendidikan agama tradisional dan bahkan mengaplikasikan prinsip pendidikan agama dalam kehidupan politik, sosial dan masalah-masalah moralitas kontemporer. Kedua, revivalis, di mana kelompok ini adalah intelektual yang mempunyai ilmu pengetahuan Islam secara umum, tidak mempunyai spesiikasi tertentu seperti halnya ‘ulama. Mereka banyak menggunakan sumber-sumber Arab yang muncul di Timur Tengah, khususnya Mesir dan Iran. Ketiga, ‘ulama akademis yaitu kelompok yang mempunyai ilmu pengetahuan ke-Islaman, sosial, humanitis dan teknik. Biasanya mereka mempunyai kapasitas penguasaan bahasa Arab dan Inggris, tetapi kelompok ini berangkat dari madrasah. Keempat, intelektual Muslim sosial, kelompok ini terkonsentrasikan kepada masalah-masalah indentitas Muslim serta kebijakan nasional. Mereka adalah kelompok yang sebagian besar mempunyai basic ke-Islaman, tetapi diproduk melalui pendidikan modern. Kelompok ini mempunyai spesialisasi bahasa Inggris, sedangkan bahasa Arab lebih banyak digunakan untuk kepentigan spiritual. Aktiitas keintelektualannya dipusatkan pada topik-topik Islam yang dihubungkan dengan developmentasi, identitas nasional dan modernisasi. Tipologi terakhir inilah menurut Federspiel lebih dekat dengan bentuk pendidikan Neo-Modernisme.
Neo-Modernisme sendiri adalah suatu gerakan pembaharuan yang mempunyai perbedaan dengan gerakan-garakan sebelumnya, seperti gerakan revivalis pra-modernis yang menyerukan keprihatinan akan degradasi moral, himbauan kembali pada Islam orisinal serta menghilangkan corak predeterminisme. Neo-Modernisme berbeda juga dengan modernisme klasik yang muncul pada abad XX dan awal abad 20, di mana modernisme klasik mencoba menjembatani pranata Barat dan tradisi Islam. Neo-Modernisme berbeda juga dengan gerakan Neo-Fundamentalisme karena justru gerakan ini terjerembab ke dalam pembedaan antara Islam dan Barat. Neo-Modernisme sendiri merupakan gerakan kritis yang hendak melawan kecenderungan neo-revivalis dan menutupi kekurangan modernisme klasik. Karakter utama dari Neo-Modernisme ialah sumbanganya atas metodologi sistematis yang dilakukan untuk merekonstruksi Islam secara total dan tuntas serta setia pada akar-akar spiritualnya dan dapat menjawab kebutuhan Islam modern secara cerdas dan bertanggung jawab. Lebih jauh Greg Barton menyebutkan beberapa karakteristik Neo-Modernisme, antara lain, pertama, Neo-Modernisme dipandang sebagai sebuah gerakan yang progresif,
Pesantren: Antara Lokal Knowledge dan Universalisme Islam mempunyai sikap yang positif terhadap modernitas dan pembangunan; kedua, tidak menilai Barat sebagai ancaman atas Islam; ketiga, membuka peluang terjadinya sekulerisasi; keempat, menunjukkan sikap inklusiisme serta toleran; kelima, mempunyai konsen yang penuh terhadap rasionalisasi dalam berijtihad dan membuka peluang interpretasi individual dengan mengusulkan metode hermeunetik atau ijtihad kontekstual. Dari kelima karakteristik tersebut dapat dilihat bahwa Neo-Modernisme mempunyai perhatian untuk menghidupkan kembali cita-cita liberal Islam guna menjawab tantangan-tantangan modernitas. Selain itu Neo-Modernisme didasarkan atas asumsi bahwa Islam harus dilibatkan dalam pergulatan modernitas, bahkan harus menjadi pijakan di masa depan, tetapi cita-cita ke arah itu tidak perlu harus menghilangkan tradisi ke-Islaman yang ada, “Muhafadlah ‘ala al-qadim al-salih wa al-akhdh bi’l-jadid al-aslah”.
Barton juga menjelaskan bahwa Neo-Modernisme tumbuh dari lingkungan modernis karena ia mengandung agenda-agenda pemikiran yang progresif, yang merupakan tuntutan masyarakat modern. Tapi agenda- agenda tersebut dikonstruk di atas tradisi ke-Islaman hingga pemikiran yang dikembangkan harus mengapresiasi tradisi. Hal ini membuat gerakan- gerakan pemikirannya bersentuhan dengan kalangan intelektual yang hidup dan dibesarkan dalam lingkungan tradisionalis (pesantren) (Barton: 1995).