• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profesionalisme LP Ma’arif NU

Dalam dokumen MEMBACA DAN MENGGAGAS NU KE DEPAN SENARA (Halaman 64-68)

Menghadapi tuntutan kehidupan mutakhir di mana batas-batas negara nyaris tidak ada, batas-batas budaya sirna, lapis-lapis sosial menjadi buram, sekat-sekat ormas menjadi lentur, dan gelombang dekadensi generasi terdidik menjadi tsunami bangsa; maka jawaban pertamanya tentu lahirnya profesionalisme LP Ma’arif NU. Sebuah lembaga yang kokoh, progresif, dinamis, dan mampu mengantisipasi tuntutan situasi dan kondisi zaman sehingga produk yang dihasilkannya berkualitas dan kompetitif.

Sebagaimana diketahui bersama LP Ma’arif NU merupakan “aparat departemen” Nahdlatul Ulama (NU) yang berfungsi sebagai pelaksana

Membangun Kultur Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Berbasis Motivasi beragam kebijakan pendidikan Nahdlatul Ulama, baik itu di tingkat Pengurus Besar NU, Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang, dan Pengurus Majelis Wakil Cabang. LP Ma’arif NU, diharapkan dalam perjalannya secara aktif melibatkan diri dalam proses-proses pengembangan pendidikan di Indonesia.

Secara institusional, diharapkan LP Ma’arif NU mampu mendirikan satuan-satuan pendidikan mulai dari tingkat dasar, menengah hingga perguruan tinggi; sekolah yang bernaung di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, maupun madrasah, yang bernaung di bawah Departemen Agama RI. Hingga saat ini tercatat lebih dari 6000 lembaga pendidikan yang tersebar di seluruh pelosok tanah air bernaung di bawahnya, mulai dari TK, SD, SLTP, SMU/SMK, MI, MTs, MA, dan beberapa perguruan tinggi.

PP LP Ma’arif NU merupakan salah satu aparat departementasi di lingkungan organisasi NU. Didirikannya lembaga ini bertujuan untuk mewujudkan cita-cita pendidikan NU. Bagi NU, pendidikan menjadi pilar utama yang harus ditegakkan demi mewujudkan masyarakat yang mandiri. Gagasan dan gerakan pendidikan ini telah dimulai sejak perintisan pendirian NU di Indonesia. Dimulai dari gerakan ekonomi kerakyatan melalui Nadlatut Tujjar (1918), disusul dengan Tashwirul Afkar (1922) sebagai gerakan keilmuan dan kebudayaan, hingga Nahdlatul Wathan (1924) yang merupakan gerakan politik di bidang pendidikan, maka ditemukanlah tiga pilar penting bagi Nadhlatul Ulama yang berdiri pada tanggal 31 Januari 1926 M/16 Rajab 1334 H, yaitu: (1) wawasan ekonomi kerakyatan; (2) wawasan keilmuan, sosial, budaya; dan (3) wawasan kebangsaan (http://id.wikipedia.org/wiki/Lembaga_Pendidikan_ Ma’arif_ Nahdlatul_ Ulama).

Untuk merealisasikan pilar-pilar tersebut ke dalam kehidupan bangsa Indonesia, NU secara aktif melibatkan diri dalam gerakan-gerakan sosial- keagamaan untuk memberdayakan umat. Di sini dirasakan pentingnya membuat lini organisasi yang efektif dan mampu merepresentasikan cita-cita NU; dan lahirlah lembaga-lembaga dan lajnah: seperti Lembaga Dakwah, Lembaga Pendidikan Ma’arif, Lembaga Sosial Mabarrot, Lembaga Pengembangan Pertanian, dan lain sebagainya--, yang berfungsi menjalankan program-program NU di semua lini dan sendi kehidupan masyarakat. Gerakan pemberdayaan umat di bidang pendidikan yang sejak semula menjadi perhatian para ulama pendiri (the founding fathers) NU

Membaca dan Menggagas NU ke Depan:

kemudian dijalankan melalui lembaga yang bernama Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU). Lembaga ini bersama-sama dengan jam’iyah NU secara keseluruhan melakukan strategi-strategi yang dianggap mampu meng-cover program-program pendidikan yang dicita- citakan NU.

LP Ma’arif NU sebagai organisasi yang paling bertangungjawab atas “abang-ijone” pendidikan di kalangan nahdliyin, mau tidak mau harus bermetamorfosa menjadi institusi yang berkualitas, kompeten, akuntabel, terbuka, dan modern. Pertanyaannya adalah bagaimana membangun profesionalisme LP Ma’arif PCNU Ponorogo? Tanpa bermaksud mendikte atau menggurui kepada berbagai pihak (khususnya pengemban LP Maarif PCNU Ponorogo), alternatif dalam artikel ini menarik untuk direnungkan, dipikirkan, dan –barangkali perlu-- direalisasikan.

Jika kondisi budaya sekolah sekarang umumnya terarus oleh kapitalisasi dan instanisasi, berikut releksi kecil pengalaman penulis di beberapa tempat saat diminta untuk mempresentasikan bagaimana konsep ideal membangun kultur pendidikan. Pertama, ada sebagian (besar) dengan apriori berdalih, “Ah, itu kan konsep ideal. Praktiknya bagaimana, mengawalinya piye?” Kedua, dengan pola berpikir “kambing hitam” sang guru berdalih anak sekarang tak mempunyai motivasi untuk belajar. Ketiga, ada yang kritis memposisikan antara birokrasi, kultur bangsa (masyarakat), dan rendahnya apresiasi negara pada guru. Begitu seterusnya, jika didaftar releksinya itu bisa demikian banyak, beragam, dan sangat kontekstual tergantung masing- masing pendidikan.

Hal umum atau isu yang muncul seiring tahun pelajaran baru, saya sering mendapat keluhan dari masyarakat tentang berbagai isu pendidikan. Pertama, ada yang mengatakan masuk pendidikan kita mahal tetapi tidak jelas peruntukkannya. Kedua, ada yang mengatakan, berbagai label pendidikan ternyata begitu sampai pada praktiknya sama saja, tidak berubah. Ketiga, bagaimana mungkin label pendidikan berubah kalau kultur dan gurunya tidak berubah. Keempat, transparansi dan akuntabilitas pendidikan rendah karena ada kecenderungan “permainan” terselubung yang susah-susah mudah terdeteksi.

Jika kita mau jujur, memang kultur pendidikan di Indonesia secara makro memang salah pandu, salah gerak, dan –bahkan salah syahwat--. Bukankah profesi pendidik (termasuk di lingkungan LP Ma’arif ) tidak ubahnya profesi lain untuk memenuhi hajat dapur? Padahal, ia sebuah

Membangun Kultur Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Berbasis Motivasi profesi luhur –yang barangkali— tidak saja bersifat dunia tetapi ukhrowi. Artinya, jika ilmu sepakat dianggap sebagai jariyah ketiga setelah kematian tiba, maka sesungguhnya kita tidak salah dalam memilih profesi di lingkungan pendidikan. Tetapi, seringkali pesan moral ini (axiologis profesi) terlepas begitu saja setelah kebutuhan survivalitas hidup menghempas.

Untuk inilah, menarik mendiskusikan ulang bagaimana kultur positif pendidikan (termasuk bangsa) ini dibangun kembali, khususnya di lingkungan LP Ma’arif PCNU Ponorogo. Kultur pendidikan yang bagaimana yang dapat menyemaikan bibit unggul sebagai tanggul bangsa di masa depan? Penanda budaya apakah yang dapat dicerna komponen siswa (dan masyarakat) sehingga dengan jernih pandang ia dapat menciptakan masa depan yang terang? Jika pembelajaran adalah sebuah “gerak monoton” di ruang-ruang jemu (reruang kelas dengan kengkeran seorang guru) maka dosa apakah yang akan kita terima manakala usai siswa menamatkan pendidikan tetapi jengah dalam melangkah? Renung-keluh demikian hanyalah seutas kecil dari tali panjang profesi yang mengikat tubuh pendidikan di lingkungan lembaga-lembaga kita.

Karena itu, seperti biasa pertanyaan yang sering menghinggapi otak saya ketika ditanya, “Mengapa pendidikan LP Maarif kita tak mampu melahirkan SDM unggul?” Jawaban yang cepat keluar adalah, “Karena tradisi dan kultur pendidikan kita bukanlah kultur berbasis kualitas, tetapi kultur air sungai meliuk tanpa gairah.” Sebuah asumsi awal penyebab kurang berkualitasnya pendidikan di satu sisi dan pada sisi lain berakibat pada ketidakberkualitasan produk yang dihasilkan.

Dari pengalaman membaca kultur pendidikan di lingkungan LP Maarif PCNU Ponorogo, selama ini persoalan yang muncul kemudian berkisar (i) apakah yang dimaksud kultur pendidikan LP Ma’arif NU, (ii) bagaimana manajemen pendidikan LP Ma’arif NU sehingga melahirkan kultur yang ideal, (iii) bagaimana menciptakan kultur pendidikan LP Ma’arif NU yang mengalirkan gerak hidup pada komponen pendidikan, dan (iv) bagaimana memparameterkan kultur pendidikan LP Ma’arif NU sehingga prospektif sebagai tangga kualitas untuk anak-anak NU ke depan.

Dalam konteks renung membangun kultur pendidikan LP Ma’arif NU ini kemudian mengalirkan isu-isu semacam (i) menurunnya motivasi siswa dalam belajar, (ii) rendahnya motivasi dan kurang berkualitasnya guru kita, (iii) rendahnya kreativitas guru, (iv) rendahnya komitmen moralitus guru, (v) terbatasnya sarana dan penghargaan guru, (vi) tidak terdakomodasinya

Membaca dan Menggagas NU ke Depan:

potensi pendidikan karena kepemimpinan yang kurang terbuka, sampai (vii) kurang optimalnya pengelolaan LP Maarif NU sebagai soko guru pengelolaan pendidikan di Ponorogo.

Dalam dokumen MEMBACA DAN MENGGAGAS NU KE DEPAN SENARA (Halaman 64-68)