• Tidak ada hasil yang ditemukan

Doktrin Aswaja NU dan Pembentukan Budaya Kerja

Dalam dokumen MEMBACA DAN MENGGAGAS NU KE DEPAN SENARA (Halaman 31-37)

NU adalah organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia. Basis massanya, baik yang bersifat jama’ah atau jam’iyyah, diikat oleh ideologi bersama Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah (aswaja). Karenanya NU dan aswaja tidak mungkin terpisahkan. Kemunculan NU sebagai jam’iyyah utamanya adalah untuk memelihara dan mengembangkan doktrin aswaja di tengah serbuah paham lain yang tidak ramah terhadap realitas tradisi lokal. Aswaja sebagaimana dibakukan dalam dokumen khittah NU adalah al-I’tiqad ila al-usus al-tsalathah (bertauhid mengikuti Imam al-Asy’ari dan al-Maturidi, berikih mengikuti salah satu mazab empat dan bertasawuf mengikuti al-Ghazali dan Junayd al-Baghdadi).11

Meminjam kategori sosial Geertz, masyarakat NU Ponorogo adalah masyarakat santri atau masyarakat pesantren sebagai imbangan dari pilahan sosial lainnya; priyayi dan abangan. Masyarakat santri yang merupakan komposisi terbesar masyarakat Ponorogo ini dinilai banyak pihak bersifat tradisional dan dalam percaturan perekonomian modern bersifat subordinatif. Tradisionalisme santri ditandai dengan orientasi berlebihan pada madzab dari pada rasionalitas, pada takdir dari pada ikhtiyar, pada dimensi eskatologis dari pada dimensi soteriology12 dan pada terms of precept

10. Ibid., 85.

11. Abdul Muchith Muzadi, NU dalam Perspektif Sejarah dan Ajaran (Surabaya: Khalista, 2006), 25.

12. Perhatian terhadap hidup “kedisinian” tidak dinilai sebagai pengejaran takdir keselamatan dari Tuhan, akan tetapi lebih berorientasi pada teologi ‘hari pembalasan’ dengan pemenuhan detail-detail aturan hukum.

Membaca dan Menggagas NU ke Depan:

dari pada terms of principles.13 Pendapat lain menyatakan bahwa konsep al-silsilah dalam pola keberagamaan masyarakat santri turut menguatkan tradisionalisme mereka.

Pendapat di atas tentu tidak bisa dinilai benar atau salah secara mutlak. Antropolog Mitsuo Nakamura misalnya, menilai bahwa walaupun keberagamaan mereka berpolakan silsilah atau transmisi, tidak berarti muatan yang ditransmisikan juga bersifat tradisional dan tanpa kritik serta re-evaluasi terhadap tradisi. Tidak pula mereka abai dengan kegiatan perekonomian yang bercirikan rasionalitas. Geertz sendiri dalam penelitian yang lain justru membuktikan bahwa masyarakat santri di Mojokuto telah menunjukkan mentalitas kemandirian, entrepreneurship. Menurutnya, mereka telah terlibat dalam aktivitas ekonomi dan industri dengan mengembangkan organisasi kerja yang rasional.14

Hal serupa juga telah ditunjukkan oleh para Founding Father NU. Sebagai cikal bakal NU, K.H. Abdul Wahab Hasbullah selain mendirikan Madrasah (Nahdlah al-Wathan, 1916), beliau juga mendirikan asosiasi yang disebut dengan Nahdlah al-Tujjar (1918).15Asosiasi yang didirikan ini paling tidak menunjukkan bahwa para pendiri Jam’iyah ini tidak alergi dengan aktivitas ekonomi, aktivitas keduniawiaan yang bersifat profan. Bahkan ada kesan bahwa aktivitas tersebut merupakan bagian dari ungkapan spiritualitas dan media dakwah serta sosialisasi semangat aswaja. Dalam rentang waktu 1938 – 1939, NU juga menelurkan seperangkat program yang disebut dengan “Gerakan Khayr Ummah”. Program ini dimaksudkan untuk penguatan spirit kerja sama ekonomi antar masyarakat dengan upaya peningkatan kesadaran nasional dan basis moralitas berdasar tiga prinsip: kejujuran, keimanan (religiusitas) dan solidaritas. Untuk mengkomunikasikan spirit kerja sama ekonomi ini, secara kreatif NU

13. Orientasi terms of precept mempunyai makna orientasi berlebihan pada detail-detail aturan hukum dan secara tradisional terma-terma precept ini tidak digeneralisasikan pada prinsip-prinsip. Lihat Mark Gould, “Understanding Jihad”, Policy Review, (February and March 2005), 16.

14. Menurut penelitian Geertz, pasar sebagai pusat bisnis di Mojokuto sebagian besar diisi oleh kaum santri. Dan di daerah tersebut lusinan pondok pesantren terlibat dengan kegiatan industry pembatikan dan pembuatan sigaret. Lihat Roland Robertson (ed.),

Agama Dalam Analisa dan Intrpretasi Sosiologis, terj. Achmad fedyani Saifuddin (Jakarta:

PT. Raja Graindo Persada, 1995), 204.

Doktrin Aswaja Pengembangan Sumber Daya Insani Masyarakat NU Ponorogo menerbitkan tiga majalah: Kemudi, Berita Nahdlatul Ulama dan Suara Nahdlatul Ulama.16

Dalam Khittah Nahdlatul Ulama sebagai ungkapan formal dan subtantif paham aswaja dinyatakan juga bahwa persoalan ekonomi merupakan bagian dari bidang garap Nahdlatul Ulama. Dalam Statuten No. 1926 disebutkan: “mendirikan badan-badan oentoek memajoekan oeroesan pertanian, perniagaan dan peroesahaan jang tiada dilarang oleh sara’ agama Islam”.17Ikhtiyar atau program ini dibarengi dengan rumusan perilaku kemasyarakatan, di antaranya: mendahulukan kepentingan bersama (solidaritas), keikhlasan dalam berkhidmah, persaudaraan dan persatuan, loyalitas dan menjunjung tinggi nilai amal, kerja dan prestasi sebagai bagian dari ibadah kepada Allah. Selain itu NU juga mengembangkan empat sikap prinsip kemasyarakatan; sikap tawasuth, sikap tasamuh, tawazun dan amar ma’ruf nahi munkar.18 Semua itu didasari dari adanya keprihatinan atas nasib masyarakat yang terjerat dalam keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan.

Berbagai gambaran di atas, baik yang yang bersifat doktriner atau yang merupakan pengalaman sejarah, pada kenyataannya belum mampu mengubah kesan dan realitas tradisionalisme dan kejumudan ekonomi masyarakat NU santri Ponorogo di tengah dinamika perubahan ekonomi kontemporer. Karena itu wajar bila muncul pemikiran-pemikiran alternatif dan liberal, khususnya yang datang dari kelompok muda NU yang mencoba melakukan penyegaran terhadap tradisi dan paham aswaja mengingat pengaruh signiikan paham ini dalam membentuk mentalitas penganutnya, termasuk dalam hal budaya dan teologi kerja.

Nilai-nilai keagamaan dan nilai-nilai budaya tradisional tidak sepenuhnya menghambat kemajuan ekonomi. Ini paling tidak telah ditunjukkan oleh Jepang dengan menjadikan nilai-nilai agama Tokugawa sebagai basis modernisasi ekonomi. Weber juga menegaskan berdasar penelitiannya fungsi dan peran etika protestan dalam mendukung kemajuan ekonomi Eropa. Karena itu sebenarnya yang diperlukan adalah pengelolaan dan modernisasi tradisi, termasuk bagaimana menerjemahkan wawasan etik aswaja ke dalam perilaku dan aktivitas perekonomian. Ini selaras dengan

16. Faisal Isma’il, Islamic Traditionalism in Indonesia; a Study of the Nahdlatul Ulama's Early

History and Religious Ideology (1926–1950) (Jakarta: Badan Litbang Agama dan Diklat

Keagamaan Depag R.I., 2003), 38. 17. Abdul Muchith Muzadi, NU, 28. 18. Ibid., 26-27.

Membaca dan Menggagas NU ke Depan:

pernyataan Dawam bahwa tradisi kejujuran, solidaritas (kekeluargaan), keikhlasan, kemandirian dan kesederhanaan misalnya, mempunyai nilai positif bagi pengembangan perekonomian dan bisa menjadi dasar atau model lembaga perekonomian modern semisal perusahaan. Dalam wacana tentang SDM, kesadaran otonom di atas, termasuk kesadaran bahwa kerja merupakan bagian dari ibadah (religious calling) dan pencarian keselamatan (salvation) merupakan model duty as standard.19 Model ini dinilai lebih efektif dalam membangun budaya kerja, karena pelaku ekonomi terikat secara otonom oleh kewajiban yang lepas dari dorongan dari luar, reward and punishment.

Akan tetapi sayangnya, tradisi dalam konteks NU, khususnya di Ponorogo, masih diterima apa adanya (taken for granted), belum dikelola dan dimodernisasi untuk mendukung kemajuan umat. Al-Muhafazat ‘ala al-qadim al-salih lebih dominan dibanding al-akhd bi al-jadid al-aslah. Pengelolaan dan modernisasi tradisi dianggap sebagai membahayakan otentisitas tradisi. Karena itulah, tradisi aswajapun belum diterjemahkan sebagai wawasan etis – utamanya dalam konteks perekonomian masyarakat NU Ponorogo – dan masih sekedar ditransmisikan pada tataran kognitif dari satu generasi ke generasi yang lain dan belum masuk pada ruang belief masyarakat NU Ponorogo. wawasan etis aswaja selama ini belum diterjemahkan pada budaya kerja dan etos ekonomi secara spesiik. Aktivitas- aktivitas Kaum Nahdliyyin Ponorogo, baik dalam skala individu atau kolektif, masih didominasi kegiatan keagamaan dan ritual murni atau yang bersifat politis dan masih jarang yang diorientasikan pada pemberdayaan ekonomi sebagai bagian dari dakwah sosial. Ungkapan bahwa “politik merupakan ungkapan spiritualitas Islam” kelihatan lebih menggema dari pada – meminjam seruan Ismail Faruqi – “tindakan ekonomi merupakan ungkapan spiritualitas Islam”.20

Doktrin al-I’tiqad ila al-usus al-tsalathah yang tidak dipahami secara kreatif dan kontekstual juga memberikan andil terhadap keterbelakangan masyarakat NU Ponorogo dalam perekonomian. Doktrin tersebut seolah menjadi mekanisme pembakuan nalar kelompok ini. Dominasi teologi Asy’ariyah misalnya, lebih banyak membawa pada paham Jabariyah, di mana perbuatan manusia lebih banyak ditentukan oleh Tuhan tanpa banyak

19. Talizidhuhu Ndraha, Pengantar, 182.

Doktrin Aswaja Pengembangan Sumber Daya Insani Masyarakat NU Ponorogo usaha-usaha yang rasional dan keras untuk menjemput takdir Tuhan. Begitu juga dengan pola tasawwuf konvensional yang dikembangkan lebih banyak mengambil jarak dengan hal-hal yang bersifat duniawi dan profan dan terfokus pada kesalehan yang bersifat individual. Karena itu adanya upaya kalangan santri terpelajar yang mulai mengorientasikan pada teologi rasional, dan usaha untuk memberikan pemaknaan tasawuf yang lebih membumi (worldly asceticism) pantas untuk mendapatkan apresiasi tersendiri.

Dominasi keberagamaan yang bersifat ikihiyyah – orientasi pada halal- haram dengan membatasi pada bingkai mazab al-Syai’i – juga merupakan persoalan tersendiri. Persoalan tersebut sesungguhnya terletak pada pola nalar ikihiyyah yang dikembangkan. Pola nalar yang dikembangkan dalam mempersepsi ikih didominasi oleh – meminjam klasiikasi epsitem Abid al-Jabiri – epistem bayani dengan ciri ketundukan pada otoritas teks dan otoritas salaf. Hal ini mengabaikan rasionalitas, peran nalar dan realitas. Setiap realitas selalu bersifat rasional dan rasionalitas merupakan ciri yang tak terbantahkan dari masyarakat ekonomi.

Fikih sebagai the king of Islamic Sciences seharusnya dapat menjadi starting point untuk mempersepsi realitas secara dinamis dan kontekstual. Kenyataannya pandangan ke-ikih-an masyarakat NU masih membelenggu dengan pendekatan yang masih bersifat normatif. Fikih lebih diposisikan sebagai alat legislasi, pemilah antara yang halal, haram dan syubhat. Ini adalah praktek ekonomi yang datang dari luar. Fikih tidak pernah dijadikan perangkat keilmuan yang bisa memberikan inspirasi dan kreativitas ekonomi. Fikih sebagai ilmu tentang hukum syara yang bersifat ‘amali (praktis) banyak membahas perilaku ekonomi atau yang disebut dengan ikih mu’amalah. Khazanah tradisi ini, sayangnya, kurang mendapatkan apresiasi dan reaktualisasi yang kontekstual dari masyarakat NU. Fikih sebagai releksi logis sosial budaya era tadwin cenderung dianggap divine dan inal, sementara kebanyakan bentuk dan subtansi lembaga-lembaga perekonomian modern beserta konsepnya bersifat baru yang tidak pararel dengan khazanah klasik.21 Akibatnya, aset ekonomi masyarakat pesantren yang tidak sedikit, seperti saluran-saluran ekonomi zakat, infaq, shadaqah dan wakaf belum dapat didayagunakan secara optimal. Harta wakaf

21. Abid Rohmanu, “Fikih dan Tantangan Global”, dalam Aula, No. 05 (Mei, 2003), 81.

Membaca dan Menggagas NU ke Depan:

misalnya, bisa dipikirkan lebih jauh ke arah harta produktif yang bisa dikembangkan lewat saluran-saluran investasi yang sesuai sehingga bisa dioptimalkan kemanfaatannya bagi masyarakat. Hal ini jelas membutuhkan bekal wawasan ke-ikih-an yang progresif.

Penutup

Dari percikan pemikiran di atas kiranya dapat dipahami pentingnya menjadikan aswaja sebagai basis wawasan etik pengembangan sumber daya insani dalam percaturan perekonomian modern. Agama, dalam hal ini terbingkai dalam doktrin aswaja NU, diyakini bisa memberikan pengaruh positif dalam aktivitas dan gerakan ekonomi masyarakat NU Ponorogo. Pengaruh tersebut khususnya dalam bentuk transendensi kerja dan kesadaran tugas kekhalifahan manusia. Ini selaras dengan tesis Weber tentang hubungan positif antara etika protestan dengan perkembangan ekonomi Eropa.

Dalam kerangka di atas, “gagasan baru aswaja” yang dipelopori Said Agil Siraj semakin menemukan momentumnya. Aswaja dalam tafsir baru lebih dipahami sebagai metode berpikir (manhaj al-ikr) yang berprinsip pada moderasi, keadilan dan toleransi, bukan mazab yang membelenggu. Sementara orientasi yang dikembangkan adalah rasional-progresif, lebih aktif dan asketis, sehingga kemiskinan dan ketidakberdayaan ekonomi dipahami karena faktor manusia sendiri.22

Walaupun begitu, paham aswaja bukanlah satu-satunya faktor pembentuk etos dan budaya kerja. Kondisi sosial ekonomi juga turut membentuk etos kerja. Muslim Abdurrahman menyatakan bahwa tanggung jawab kita bersama tidak saja bagaimana menumbuhkan etos kerja untuk peningkatan produktiitas secara efesien dan rasional, namun juga bagaimana menciptakan humanisasi kerja yang tetap mampu memelihara nilai, harkat dan martabat manusia.23 Karena apalah manfaatnya etos kerja yang tinggi, bila dibalik itu terjadi eksploitasi manusia dalam proses pengelolaan dan pendayagunaan SDM. Wallah A’lam!

22. Lihat Laode Ida, NU Muda; Kaum Progresif dan Sekularisme Baru (Jakarta: Erlangga, 2004), 155.

MEMAHAMI‐ULANG PAHAM ASWAJA:

Dalam dokumen MEMBACA DAN MENGGAGAS NU KE DEPAN SENARA (Halaman 31-37)