Berbicara masalah mutu atau kualitas tanpa indikator tentu bukanlah hal yang baik. Artikel ini selanjutnya akan menawarkan bagaimana indikator yang menarik dipertimbangkan dalam pengelolaan SDM di lingkungan LP Ma’arif NU. Indikator yang dimaksud mencakup (a) kualitas kompetensi, (b) kualitas bahasa dan komunikasi, (c) kualitas emosional, (d) kualitas berpikir, (e) kualitas akademik, (f) kualitas kreatif, (g) kualitas etos, dan (h) kualitas cinta (Lihat Sutedjo Membangun Kualitas Guru (2006), artikel presentasi dalam Forum Guru di Yayasan Mutiara Bunda Sidoarjo, 7 Januari 2006) dan pokok-pokok materi yang sering penulis bawakan dalam berbagai persentasi. Termasuk beberapa waktu lalu ketika penulis berkesempatan untuk memberikan materi kepemimpian dan pengelolaan sekolah yang prospektif di di Gedung Korpri akhir tahun 2014 yang lalu.
Pertama, kualitas kompetensi. Kuaitas ini tentu menjadi dasar dari segala manajemen SDM di lingkungan LP Ma’arif NU. Guru yang kompeten adalah guru yang memiliki latar belakang pendidikan relevan, wawasan pengetahuan memadai, keterampilan cukup, serta sikap yang memadai pula berkaitan dengan bidang ajar yang digelutinya. Salah satu ukuran kompetensi guru misalnya adalah kemampuan untuk menilai kualitas buku ajar yang dipergunakan. Sebab, di sinilah akan diketahui kecakapan analitisnya atas kualitas kebidangan dalam memandang buku pelajaran (Lihat Sutejo, Menimbang Kualitas Buku Ajar Bahasa Indonesia, artikel Seminar Nasional yang diadakan oleh Balai Bahasa Surabaya pada tanggal 27 Desember 2005) bersama panelis lain: (1) Prof. Dr. Suparno (Guru Besar Universitas Malang), dan (2) Dr. Nafron (Penerbit Tiga Serangkai).
Jika selama ini disinyalir adanya guru-guru di lingkungan LP Ma’arif NU yang berlatar belakang belum sesuai dengan bidang ajar misalnya, pelan-pelan tentu hal ini penting untuk diorganisasi ulang. Jika tidak memungkinkan maka alternatif untuk studi lagi atau pengiriman dalam berbagai kegiatan akademik menarik untuk dipilih. Sebab, pendidikan di era mutakhir telah mempersyaratkan hal ini sebagai indikator utama. Linieritas bidang atau rumpun ampuan menjadi pertaruhan utama dalam rangka mendorong pendidikan yang berkompeten, bermutu, dan unggul.
Kedua, kualitas bahasa dan komunikasi. Jika dalam kehidupan modern, komunikasi dinilai sebagai gerbang utama keberhasilan sebuah bidan penekunan, maka mau tidak mau, guru-guru di lingkungan LP Ma’arif
Membaca dan Menggagas NU ke Depan:
NU perlu mempertimbang-kannya sebagai modal besar mengajarnya. Kris Cole misalnya, dalam buku Komunikasi Sebening Kristal:Meraih Sukses Melalui Keterampilan Memahami yang diterbitkan oleh Quantum Bisnis & Manajemen (2005), mengingatkan kita akan bagaimana komunikasi sangat ditentukan oleh kemampuan bahasa di satu sisi dan bagiamana kemampuan “memanfaatkan bahasa tubuh” dalam mencapai komunikasi sebening kristal.
Kualitas bahasa dan komunikasi mempersyaratkan adanya kemampuan berbahasa yang memadai di satu sisi dan bagaimana guru juga memiliki kejeniusan komunikasi di sisi yang lain. Sudah jamak, dalam dunia pendidikan kita bahwa yang bertanggung jawab atas ketertiban, kebaikan, dan kebenaran berbahasa siswa adalah guru bahasa Indonesia. Tidak banyak guru yang sadar, mereka ikut bertanggungjawab atas terbinanya kecakapan berbahasa siswa. Sebaliknya, dalam komunikasi pembelajaran, mereka justru memperparah kualitas berbahasa. Guru kita banyak melakukan kesalahan berbahasa.
Kesalahan-kesalahan kecil yang dapat merusak pola berpikir anak diantaranya adalah (i) siapa namanya, (ii) yang bisa menjawab angkat tangan, (iii) silakan berdiri di depan kelas, dan (iv) jangan berbicara sendiri. Contoh-contoh kecil ini mengingatkan betapa kekuatan bahasa itu dapat membentuk pola berpikir anak didiknya. Terlebih jika guru-guru di lingkungan LP Ma’arif NU tidak mampu memberikan ruang ekspresisi berbahasa yang baik maka akan lahirlah lulusan yang tidak baik pula kemampuan bahasa dan komunikasinya.
Keempat contoh di atas sebenarnya yang benar adalah (i) siapa namamu, (ii) yang bisa tunjuk jari, (iii) silakan maju atau ke depan, dan (iv) jangan berbicara dengan teman Anda. Hadirnya –nya dalam contoh pertama, menanyakan tentang orang lain padahal yang dimaksudkan guru adalah anak yang diajak untuk berbicara. Contoh kedua, “angkat tangan” itu bukan “tunjuk jari”, karena “angkat tangan” berarti menyerah dengan mengangkat kedua tangannya. Untuk contoh ketiga, “berdiri di depan kelas” bermakna di depan pintu masuk ruang kelas. Padahal maksud guru adalah berdiri di depan anak-anak atau temannya. Sedangkan, contoh terakhir, “berbicara sendiri” itu orang gila dan biasanya “berbicara sendiri” dipergunakan untuk merujuk keadaan anak didik yang sedang berbicara dengan temannya.
Membangun Kultur Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Berbasis Motivasi Ketiga, kualitas emosional. Kualitas ini adalah pesan inspiratif dari tokoh Daniel Goleman bahwa faktor kecerdasan emosional menentukan 80% dari keberhasilan seseorang. Guru dan kompnen pendidikan lain arifnya memiliki kecerdasan emosional. Kualitas emosional ini, harapannya tidak akan melahirkan pendidikan yang indoktrinatif (Sutedjo, Agar Guru Tidak Indoktrinatif, Kompas Jatim edisi 7 Desember 2005, hal. D). Pendidikan demikian mensyaratkan pentingnya peranan emosi dalam pembelajaran di kelas. Pendidikan perlu menekankan pada keampuhan pandangan positif dan peran emosi dalam belajar. Bagaimana membangun hubungan sosial, bagaimana memanfaatkan kegembiraan, dan bagaimana memberikan pengakuan emosional untuk memberikan airmasi yang dibutuhkan siswa. Suasana yang menyenangkan harus diciptakan dalam pembelajaran.
Berikut buku-buku inspiratif terkait dengan kecerdasan emosi yang menarik untuk direnungkan: (1) Lawrence E. Shapiro (1999) yang berjudul Mengajarkan Emotional Intelligence pada Anak-Anak (Jakarta, Gramedia Pustaka Utama), (2) Daniel Goleman (2000) dengan judul Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama), dan (3) Jeanne Segal (2000) berjudul Melejitkan Kepekaan Emosional, Cara Baru-Praktis untuk Mendayagunakan Potensi Insting dan Kekuatan Emosi Anda (Bandung: Penerbit Kaifa). Buku-buku ini hanyalah sebagian kecil dari temuan mutakhir yang menarik untuk direnungkan dalam praksis pendidikan di lingkungan LP Ma’arif NU.
Keempat, kualitas berpikir. Kualitas berpikir ini sering tidak disadari pentingnya oleh para guru kita, termasuk tentu para guru di sekolah di lingkungan LP Ma’arif NU.
Sebagaimana disadari, kemampuan berpikir guru merupakan pisau analisis dalam menghadapi berbagai persoalan pendidikan. Sekaligus ia merupakan kerangka pembangun bagaimana mengonstruksi pembelajaran yang berbasis ilmiah. Kualitas berpikir kemudian akan menjadi parameter penting untuk membedakan seorang guru memiliki sikap, cara pikir, dan keterampilan pendidikan yang ilmiah atau tidak. Berpikir ilmiah, harapannya mampu mengabaikan subjektivitas dalam pendidikan.
Pendidikan yang berkultur baik dengan kemampuan berpikir yang baik insane yang terkait di dalamnya menjadi impian di era pendidikan mutakhir. Banyak guru tidak menyadari bahwa ketika kita berdiri di depan kelas dituntut memiliki seperangkat kecakapan berpikir yang purna. Kecakapan berpikir itu diantara adalah (i) berpikir logis, (ii) berpikir sistematis, (iii)
Membaca dan Menggagas NU ke Depan:
berpikir faktual (realistis), (iv) berpikir sebab akibat (kausalitas), (v) berpikir empiris, (vi) berpikir kronologis (urut), (vii) berpikir deduktif, (viii) berpikir induktif, (ix) berpikir kreatif, (x) berpikir inovatif, (xi) berpikir linier, (xii) berpikir lateral, (xiii) berpikir konstruktif, (xiv) berpikir destruktif, (xv) berpikir eksploratif, (xvi) berpikir argumentatif, (xvii) berpikir investigatif, (xviii) berpikir ilmiah, (xix) berpikir imajinatif, (xx) berpikir tidak ilmiah, dan (xxi) berpikir falsai (tasawuf, hakiki).
Jika guru-guru mampu mengembangkan sperangkat kemampuan berpikir demikian maka kualitas berpikir anak didik dengan sendirinya akan terbangun dengan baik. Jika tidak, maka keruwetan berpikir akan menjadi penyakit bawah sadar yang selamanya tidak disadarinya. Untuk inilah, maka kualitas berpikir menjadi dasar besar untuk menentukan kualitas guru di lingkungan LP Ma’arif NU. LP Ma’arif NU misalnya, dapat mengundang pakar berpikir untuk memberikan pelatihan pengembangan kecakapan berpikir ini mengingat ia merupakan alat penting dalam proses pembelajaran berlangsung.
Kelima, kualitas akademik. Kualitas akademik menyaran pada bagaimana kemampuan implementasi akademik (keilmuan) guru dan komponen pendidikan lainnya dalam masing-masing kompetensinya. Ia mempersyaratkan kemampuan guru agar mampu mengungkapkan gagasan kritis keilmuan, baik secara lisan maupun tertulis. Kualitas ini, menuntut kemampuan “membaca tingkat tinggi” dan kemampuan menulisnya.
Tidak saja itu, dalam konteks modern seorang guru juga dituntut memiliki keterampilan sebagai pengiring kecakapan akademik. Life skill di pendidikan adalah implementasi kecakapan akademik. Life skill itu sendiri, secara lengkap berdiri di atas lima “konsep dasar kecakapan”, yakni (i) kecakapan personal (personal skill), kecakapan sosial (social skill), (iii) keterampilan berpikir logis (thinking skill), (iv) kecakapan akademik (academic skill), dan (v) kecakapan vokasional (vocational skill).
Untuk itulah, maka LP Ma’arif NU menarik mempertimbangkannya sebagai salah ukuran dalam mengawal kualitas SDM di lingkungan sekolah yang menjadi binaanya. Berbagai bentuk jaringan sebelumnya dapat dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan akademik SDM yang ada.
Keenam, kualitas kreatif. Komponen ini tentu tidak boleh dipandang sebelah mata. Sebab, kreativitas kunci dari perubahan pola pendidikan yang dinamis dan protresif. Untuk mendorong terciptanya kultur pendidikan
Membangun Kultur Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Berbasis Motivasi yang baik maka kultur kreatif perlu diciptkan. Beberapa buku menarik untuk memantik kreativitas barangkali dapat disebutkan sebagai berikut: (1) Julia Cameron dan Mark Bryan, Meniru Kreativitas Tuhan: 12 Tahap Melejitkan Kreativitas melalui Jalan Spiritual. Bandung (Kaifa, 2004); (2) Jordan E. Kayan, Bengkel Kreativitas: 10 Cara Menemukan Ide-Ide Pamungkas. Bandung (Kaifa, 2002); dan (3) Daniel Goleman, he Creatif Spirit: Nyalakan Jiwa Kreatifmu di Pendidikan, Tempat Kerja, dan Komunitas, Bandung (MLC, 2005). Jika pendidikan memiliki kreativitas tinggi maka dapat dibayangkan akan terjadi perubahan yang tinggi pula.
Ketujuh, kualitas etos. Kualitas etos hakikatnya adalah kualitas etos kerja guru-guru dan SDM lainnya yang terkait. Jika LP Ma’arif NU menginginkan kualitas sekolah yang unggul maka mau tidak mau wajib didukung oleh kekuatan etos SDM yang handal sehingga berdaya dan tahan banting menghadapi perubahan kehidupan yang semakin dinamis.
Jika kita mau menengok inspirasi buku dengan kualitas inspirasi etos kerja maka menarik untuk melirik buku-buku macam (1) Born to Win: Kunci Sukses yang Tak Pernah Gagal (Gramedia, 2005) karya Anton Irianto menggambarkan bagaimana kemenangan adalah sebuah etos berbuat; (2) Tom Butler-Bowdown dengan 50 Suskes Classics: Menjadi Bijak dalam Pekerjaan dan Kehidupan Melalui 50 Buku Legendaris (BIP, 2005); dan (3) Jansen Sinamo dengan 8 Etos Kerja Profesional: Navigator Anda Menuju Sukses (Institut Darma Mahardika, 2005). Etos ini biasanya dikaitkan dengan mobilitas seseorang atas sesuatu bidang penekunan. Kualitas etos menyaran mobilitas guru dalam pembelajaran dituntut sehingga ada roh yang menggerakkan secara tak henti.
Untuk inilah, maka jika kualitas etos itu terbangun di lingkungan LP Ma’arif NU maka ke depan kita dapat bermimpi akan lahirnya sekolah- sekolah dengan etos yang tinggi pula. Kesadaran untuk terus berbuat dan bergerak secara positif menjadi alternatif bukan berkeluh terhadap tantangan yang mungkin datang. Keterbukaan menjadi kunci penting untuk membangun etos kerja yang berkualitas dan unggul di sekolah.
Kedelapan, kualitas cinta. Tanpa kualitas cinta profesi apapun tampaknya akan kering. Jika para guru ngaji saja dengan penuh cinta mendampingi dalam ngaji sorokan, maka alangkah naifnya jika di sekolah-sekolah formal itu hilang yang entah ada di mana. Menurut Tony Buzan, cinta merupakan salah satu kekuatan dalam keberhasilan. Dia selanjutnya mengungkapkan,
Membaca dan Menggagas NU ke Depan:
pentingnya kualitas cinta ini dalam buku Sepuluh Cara Jadi Orang yang Cerdas Secara Spiritual (Gramedia, 2003:135-151).
Kualitas cinta hakikatnya merupakan salah satu roh spiritualitas hidup manusia. Cinta memiliki daya gerak. Jika guru tidak memiliki rasa cinta terhadap profesi, maka dapat diprediksikan akan hasil yang muncul kemudian. Cinta profesi karena itu, akan menjadi penanda awal bagaimana seseorang memiliki kemampuan akan semangat dan jiwa berkorban terhadap profesi.
Kesembilan, kualitas kultur sekolah. Kultur sekolah yang penting ditumbuhkan di lingkungan LP Ma’arif NU dalam pandangan saya dapat terbangun kokoh jika dibangun dalam empat pilar: (a) adanya kesepakatan, (b) adanya aturan, (c) komitmen, dan (d) adanya pengakuan dan hukuman. Idealisme demikian akan mengikat komponen pendidikan di satu sisi dan di sisi lain akan mampu melahirkan iklim positih karena menalikan sebuah system budaya yang hakiki. Kesepakatan bersama akan melahirkan norm, dengan norm (aturan) akan membangun komitmen. Komitmen (plus etos) akan mengakar manakala dibingkai dengan reward dan punishment yang tak pandang bulu.
Di sinilah, maka LP Ma’arif NU didorong mampu membuat sistem yang mendorong terciptanya kultur sekolah yang unggul. Prinsip-prinsip macam transparansi, komunikasi, kerjasama, penghargaan, akuntabilitas, demokrasi, dan motivasi menarik untuk dikembangkan secara bersama. Dengan demikian maka ke depan diharapkan akan muncul inovasi dan kreasi di sekolah-sekolah kita sehingga menjadi pilihan utama warga NU dalam menyekolahkan anak-anaknya. Tidak sebagaimana selama ini, sekolah-sekolah di lingkungan LP Ma’arif NU masih dipandang sebelah mata, tidak saja oleh masyarakat tetapi oleh pengurus cabang NU sendiri.
Akhirnya, berbicara kultur pendidikan yang baik di LP Ma’arif NU sesungguhnya adalah berbicara jiwa dan raga pendidikan kaum nahdliyin. Artinya, budaya pendidikan LP Ma’arif NU yang baik hanya tercipta oleh iklim psikologis dan organisasi yang baik. Jika tidak sehat, maka akan berpengaruh pula pada sehat tidaknya kultur pendidikan yang bersangkutan. Bagaimana melihatnya? Barangkali kita lebih banyak jujur memandang karena hukum keseimbangan alam akan menjadi jawaban pada waktunya. Sebuah impian akan perubahan penting diawali, tidak saja dipikirkan, terlebih dibela-bela bahwa kita sudah melakukan yang terbaik.
Membangun Kultur Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Berbasis Motivasi Meski kebaikan itu relatif, tetapi dalam manajemen sebuah organisasi begitu mudah untuk mengukurnya. Salah satu alat ukur yang sering dipergunakan masyarakat adalah output dari sekolah itu. Untuk inilah, maka LP Ma’arif NU bersama-sama pengurus cabang NU kabupaten Ponorogo dituntut untuk lebih kreatif, inovatif, terbuka, dan progresif untuk mengembangkan sekolah-sekolah yang ada di bawahnya. Mimpi akan lahir sekolah unggul di LP Ma’arif NU tentu akan semakin dekat dengan kenyataan ketika semua pihak mampu terbuka dan komunikatif untuk membangun LP Ma’arif NU berbasis komunikasi dan motivasi yang handal.