Luluk Yunan Ruhendi1
S
enin, tanggal 4 April 2011, salah satu pondok pesantren di Ponorogo memulai kegiatannya dalam rangkaian peringatan 50 tahun berdirinya pondok tersebut. Dalam kesempatan itu, Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf atau yang lebih dikenal dengan Gus Ipul menyempatkan diri untuk menyampaikan orasi pada acara pembukaan peringatan 50 tahun berdiri pondok tersebut. Acara yang dihadiri oleh Dirjen pesantren Kemenag RI., kepala kemang. Kab. Ponorogo dan Wakil Bupati Ponorogo tersebut menjadi sangat berbeda ketika Gus Ipul memberikan suatu harapan akan peran dan misi strategis pesantren. Ada beberapa hal yang menarik dari apa yang disampaikan oleh Gus Ipul dalam orasi yang berdurasi kurang lebih 60 menit tersebut. Pertama, ada sebuah keyakinan bahwa pesantren akan menjadi satu satu potensi baru bagi terwujdunya peradaban-peradaban kecil di tengah peradaban besar yang sedang berkembang. Kedua, kemampuan pesantren untuk menciptakan peradaban-peradaban kecil harus mampu beradaptasi secara lebih baik dengan peradaban-peradaban besar yang sedang berpengaruh pada saat ini, semisal modernisme, kapitalisme, developmentalisme, globalisme dan lain sebagainya. Gus Ipul kemudian mengungkapkan satu landasan fundamental dalam menyikapi kedua hal tersbut dengan didasarkan pada Muhafadzatu ala al qadim al salih wa al akhdu bi al jadid al aslah (menjaga warisan yang baik dan mengambil yang baru yang terbaik).Membaca dan Menggagas NU ke Depan:
Terdapat pandangan di dunia modern bahwa, “he Modern Age was the history of the new technological invention”, demikianlah salah satu pandangan yang cukup popular dalam teori “determenisme teknologi”. Secara teoritik, asumsi yang dibangun oleh teori ini cukup relevan dan mampu bertahan, bahkan menunjukkan titik kesempurnaan. Teori ini memberikan sinyalemen bahwa era teknologi merupakan mainstream dari abad modern, meskipun tidak sedikit beberapa kalangan yang mencoba mengelaborasi abad modern dengan cara-cara yang lebih permisif dan akomodatif, namun keberadaannya telah menimbulkan berbagai persoalan yang sulit untuk dicegah ataupun dihilangkan sama sekali. Persoalan yang kemudian muncul adalah terdapat ketidaksemimbangan antara penggunaan teknologi dengan kematangan bersikap, atau ketidak selarasan antara kebutuhan dan perkembangan teknologi. Televisi, internet dan handphone tidak saja menghisap energi kognisi manusia modern, namun menyita juga energi emosi.
Kondisi ini kebanyakan terjadi di negara-negara yang sedang berkembang atau Negara-negara yang mempunyai Sumber Daya Manusia lemah atau konsumtif. Televisi, internet dan berbagai jenis kemajuan teknologi sekarang ini hanya dimanfaatkan pada level yang sangat pragmatis tanpa melihat nilai strategis yang dimiliki oleh masing-masing jenis teknologi yang sedang berkembang. Realitanya, tidak sedikit berbagai kejahatan bahkan tindak a-susila lahir dari penggunaan teknologi yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan kematangan bersikap. Berbagai jenis tayangan televisi misalnya telah menjadi bius dan racun masyarakat sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan. Utamanya pada pengguna teknologi pada level anak-anak dan remaja. Asumsi yang muncul pada saat ini, banyak orang tua yang mengeluhkan adanya tayangan televisi, penggunaan internet dan handphone yang sama sekali tidak mendidik dan tidak memberikan panutan yang benar.
Kekhawatiran ini sesungguhnya bukannya tanpa alasan. Sejak semakin melemahnya kontrol pemerintah terhadap berbagai tayangan yang kurang sehat telah menyebabkan munculnya perilaku imitatif pada anak-anak dan remaja saat ini. Terjadinya bunuh diri pada anak-anak dan remaja disinyalir merupakan buah dari pengalaman yang direduksi dari berbagai tayangan televisi. Terjadinya penganiayaan antara sesama anak juga tidak terlepas dari tayangan yang mengandung kekerasan. Bahkan perilaku a-moral dan mengumbar aurat disinyalir juga karena tayangan yang kurang beretika. Mudahnya mengakses berbagai video dan gambar porno melalui internet
Pesantren: Antara Lokal Knowledge dan Universalisme Islam juga merupakan bagian yang cukup vital dan paling bertanggung jawab rusaknya kehidupan moral anak-anak remaja saat ini. Jika sudah demikian, lalu apa yang salah dengan televisi ataupun internet?. Pertanyaan ini tentu menjadi pertanyaan juga bagi para pemerhati teknologi dan pemerhati pendidikan.
Pada hakekatnya teknologi sesungguhnya merupakan efek dan pengaruh dari dunia meodern yang lebih menekankan dimensi rasionalitas. Dengan kata lain, kelahiran teknologi diawali dengan adanya penekanan yang kuat terhadap rasionalisme manusia. Dalam posisi ini, sesungguhnya teknologi (televisi, internet, handphone dan lain sebagainya) mestilah dipahami sebagai entitas yang bebas nilai. Artinya, teknolgi, dalam bentuk apapun, tidaklah memihak kepada salah satu pihak dalam sejarah umat manusia saat ini. Terdapat kesalahpahaman yang cukup lebar antara idealisme dan cita-cita moral yang selama ini telah dikonstruk melalui lembaga-lembaga yang ada. Di sinilah kemudian lembaga-lembaga etis menjadi salah satu penyaring berbagai tayangan yang kurang pas bagi anak dan remaja. Tugas ini ini saja diserahkan kepada pihak-pihak yang menentukan. Namun yang lebih penting adalah sejauh mana kita mendampingi, mengawal dan menseleksi berbagai tayangan yang kurang produktif baik secara emosional maupun intelektual.
Agama dan budaya lokal agaknya menjadi lembaga-lembaga yang paling terancam dengan adanya berbagai jenis kemajuan teknologi. Sedangkan lembaga-lembaga lain semisal ekonomi dan politik justru menemukan momentumnya ketika teknologi mulai menjadi teman setia bagi para anak, remaja bahkan orang tua yang kurang mempunyai pemhaman tentang esensi dari teknolgi tersebut, atau mungkin sikap kurang selektif menjadi angin segar bagi televisi dan internet untuk mengeksplorasi seluruh ruang dan waktu tanpa batas. Situasi ini persis dengan apa yang disampaikan oleh McLuhan dengan peristilahan “global village” yang sekaligus menjadi salah satu karakteristik dari teknologi informasi yang mendunia. Dengan kemampuannya yang akseleratif, keberadaan teknologi informasi telah mengikis keaslian budaya lokal menjadi budaya global sebagaimana yang telah diteliti oleh Edmund Carpenter di Sio, Iran.
Di Indonesia, jika pada masa sebelum akhir tahun 90-an, televisi hanya menjadi sarana informasi, maka setelah akhir tahun 90-an televisi sudah menjelma dan berubah menjadi media komersil, dari media penyebar informasi menjadi penyebar gossip, dari media formal menjadi
Membaca dan Menggagas NU ke Depan:
media hiburan. Kondisi ini tidak terlepas dari inovasi yang coba terus dikembangkan. Sebelum tahun yang sama computer berfungsi sebagai sarana untuk menyelesaikan tugas-tugas keadministrasian sudah berubah menjadi jejaring yang mampu memberikan berabagai informasi yang dibutuhkan. Bahkan, keberadaannya mampu digunakan untuk kepentingan yang lebih strategis dan subversive. Kasus yang menimpa penyanyi Peterpan, yakni Ariel, tidak terlepas dari peran jejaring yang sangat mudah untuk diakses. Lebih fenomenal adalah adanya revolusi Mesir pada Februari 2011 juga tidak terlepas dari peran jejaring dalam menyebarkan berbagai isu guna membangun opini dan stigma. Sampai-sampai media internet dapat juga digunakan sebagai sarana memitnah atau membunuh karakter seseorang dengan aman tanpa takut ketahuan. Namun televisi dan internet dapat juga dimanfaatkan secara lebih positif, semisal hiburan, penyebaran informasi atau mengakses informasi yang dibutuhkan serta mempermudah berbagai urusan umat manusia. Jika demikian, maka teknologi merupakan media yang bebas dari nilai sebagaimana yang telah diungkap di atas.
Melihat berbagai carut marut kehidupan masyarakat modern yang disebabkan karena adanya kemajuan teknologi informasi, maka harapan yang masih tersisa adalah pendidikan. Pendidikan dituntut untuk mampu menciptakan sebuah wacana baru dalam menciptakan budaya kritis bagi masyarakat luas dalam menghadapi percepatan perkembangan teknologi informasi. Tidak hanya itu saja, pendidikan diharapkan mampu menciptakan budaya tandingan terhadap ekses-ekses dari perkembangan media. Selain menciptakan budaya tandingan, pendidikan harus mampu menimbulkan sikap resisten terhadap perkembangan teknologi informasi yang kurang konstruktif. Sikap kritis mesti dibangun secara individual mapun masyarakat, agar setiap individu dan masyarakat mempunyai kemampuan mengatur dan mengelola kekuatan intelektual masing-masing. Pada taraf yang paling awam, pendidikan harus mampu mempersiapkan masyarakat luas dan individu agar mampu bersifat kritis.
Celakanya—pada saat ini—pendidikan seolah menjadi lembaga yang paling bertanggungjawab terhadap berbagai kasus a-moral dan perilaku menyimpang pada anak dan remaja masa kini. Padahal jika kita pikirkan lebih jernih lagi, banyak faktor yang iktu mempengaruhi kegagalan pendidikan dalam mengikis perilaku menyimpang anak dan remaja masa kini. Dikarenakan ketidakberdayaan pendidikan dalam memformulasikan satu bentuk wacana tandingan bagi perkembangan teknologi informasi, serta
Pesantren: Antara Lokal Knowledge dan Universalisme Islam telah gagal dalam menyiapkan budaya lokal. Anggapan kontraproduktif ini harus segera diluruskan, sebab masih ada lembaga-lambaga lain yang dapat bekerjasama dalam meminimalisir berbagai kasus yang ada. Mulai dari agama, keluarga, ulama, kalangan professional dan bahkan masyarakat secara luas, dapat melakukan berbagai langkah preventif secara simultan dan berkesinambungan. Namun satu hal yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah meningkatkan kesadaran dan daya kritis secara massive terhadap berbagai informasi yang datang. Artinya, tiada jalan lain bahwa perkembangan teknologi informasi yang destruktif baik secara moral maupun mental menjadi musuh bersama.
Pada pihak lain, keluarga sebagai komunitas terdekat dengan kehidupan anak dan remaja menjadi yang pertama dalam mengiliminir efek domino dari perkembangan teknologi informasi. Ini merupakan kemungkinan yang paling realistis, sebab keluarga adalah komunitas yang paling mengenali karakter dan perkembangan perilaku anak setiap saat. Peran dan fungsi keluarga pada saat ini haruslah dikembangkan dari hanya menjadi penjaga dan pemelihara berubah menjadi pendidik yang paling efektif. Dilihat dari sisi pembiayaan, keluarga juga merupakan lembaga yang paling murah dalam menjaga stabilitas perilaku baik anak dan remaja.
Format yang lebih mudah dipahami dalam mencari wacana tandingan adalah “think globally, act lokally” (berpikir secara global, berperilaku menurut nilai-nilai lokalitas). Prinsip ini mengandung makna yang sangat mendalam. Mskipun ada juga yang kurang sependapat dengan pendapat ini. Terlepas dari polemik pelaksanaan ataupun pengawasan jargon tersebut setidaknya menjadi titik balik bagi kita semua untuk mencari jalan yang benar dan tepat sesuai dengan kebutuhan dasar masyarakat sehingga tidak menimbulkan split personality pada anak dan remaja. Melihat peran strategis budaya lokal, agama dan keluarga agaknya mencul harapan bahwa teknologi informasi yang telah menjadi the First God mestilah terkikis.