Bagi sebuah lembaga pendidikan, kurikulum merupakan bagian dari perangkat pendidikan terpenting, termasuk juga pondok pesantren. Dalam arti sempit kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran di sekolah atau perguruan tinggi yang harus ditempuh untuk mendapatkan ijazah atau naik tingkat. Dalam arti luas kurikulum adalah semua pengalaman, kegiatan dan pengetahuan murid dibawah bimbingan dan tanggungjawab sekolah. Dengan bantuan kurikulum tujuan didirikan sebuah pesantren akan terwujud, norma-norma pesantren akan bisa diwariskan, sistem pengajaran akan menjadi teratur, kebutuhan sarana pendidikan akan lebih kongkrit dan penilaian terhadap hasil belajar santri lebih nyata. Terlebih lagi jika kurikulum dimaknai secara luas, semua kegiatan yang dilaksaanakan pesantren akan menjadi bagian dari kurikulum, sehingga bukan hanya materi yang ajarkannya saja. Bagi seorang kiai sebagai pimpinan pondok pesantren kurikulum akan berfungsi sebagai alat evaluasi dan supervisi atas program-program pesantren yang telah dapat dilaksanakan.
Jika dilihat bentuknya maka kurikulum pondok pesantren masih sangat sederhana, bahkan tidak sedikit karena lemahnya sistem administrasi di pondok pesantren kurikulumnya tidak dibukukan dalam sebuah buku kurikulum, namun demikian karena kegiatan pendidikan dalam realitasnya dapat berlangsung, itu sebenarnya telah menunjukkan adanya sebuah kurikulum. Hanya saja tentu tidak ada keseragaman kurikulum pondok pesantren satu dengan lainnya. Keanekaragaman kurikulum di pondok pesantren itu pada umumnya sesuai dengan macam-macam klasiikasi pondok pesantren itu sendiri.
Sejalan dengan itu menurut Burhan Nurgiantoro5, sebuah kurikulum dinyatakan lengkap apabila seluruh komponennya ada empat komponen penting, yaitu:
1. Tujuan
Kurikulum adalah sebuah program yang ingin dicapai oleh suatu lembaga pendidikan. Program itu berisi arah dan tujuan yang menjadi acuan kegiatan sebuah lembaga pendidikan. Berhasil tidaknya program pendidikan di sebuah sekolah dapat diukur dari sejauhmana tujuan- tujuan tersebut dapat dilaksanakan dan dicapai.
5. Burhan Nurgiantoro, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah (Jogyakarta: BPEE, 1988), 9 - 11.
Kurikulum Berbasis Kompetensi Model Pondok Pesantren 2. Isi
Bahan yang diajarkan itulah isi kurikulum. Pemilihan bahan ajar (kalau di pondok pesantren berupa pemilihan kitab-kitab yang diajarkan) menyesuaikan dengan tujuan yang telah dituangkan dalam program pendidikan.
3. Organisasi
Organisasi kurikulum berupa kerangka program yang akan diajarkan kepada peserta didik. Pengorganisasian kurikulum mencakup pengaturan bahan (horizontal) yang bentuk organisasinya ada tiga macam, Separate Subject Curriculum, Corelated Curriculum dan Integrated Curriculum. Sedangkan organisasi pelaksanaan kurikulum itu sendiri di lapangan (vertikal) dapat berbentuk sistem kelas, non kelas dan campuran.
4. Strategi
Komponen strategi mengatur tentang cara yang ditempuh dalam melaksanakan pendidikan dan pengajaran, misalnya: proses pembelajaran, penilaian, metode pembelajaran, sistem penilaian dan sebagainya.
Kurikulum di pondok pesantren dengan klasiikasi Salaf pada umumnya sangat sederhana, hanya terdiri dari bahan pengajaran berupa kitab-kitab kuning dan sistem pengajaran bahan-bahan tersebut. Program pendidikan secara utuh belum diorganisasikan secara baik, pemilihan bahan pengajarannya berdasarkan materi (subject centered), sistem evaluasinya kurang teratur.
Pondok pesantren yang semi berkembang dimana didalamnya ada sistem pendidikan salaf dan sistem klasikal (madrasah), kurikulumnya sudah lebih baik, karena seluruh komponen ada didalamnya. Pondok pesantren dengan klasiikasi seperti ini pendidikan salaf (weton dan sorogan) masuk pada katagori ekstra kurikuler.
Pondok pesantren berkembang dan modern bentuk kurikulumnya sudah baik, seluruh komponennya terpenuhi, karena pada umumnya pondok pesantren dengan klasiikasi ini sistem pendidikannya berbentuk klasikal, sudah tidak menggunakan sistem sorogan dan weton bahkan kebanyakan kurikulum yang dipakai adalah kurikulum yang dibakukan oleh Departemen Agama (yang jenis lembaganya MI, MTs, dan MA) atau
Membaca dan Menggagas NU ke Depan:
Departemen Pendidikan Nasional (yang jenis lembaganya: SD, SMP, dan SMA).
Untuk pondok pesantren ideal kurikulumnya sudah lebih baik, karena sudah dikembangkan sesuai dengan program pengembangan pesantren itu sendiri, disesuaikan dengan harapan masyarakat ke depan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ketrampilan dan kecakapan hidup (life skill).
Kurikulum pondok pesantren pada umumnya sudah menerapkan sistem kurikulum yang berbasis kompetensi. Sistem pengajaran “sorogan” dan “weton” yang mengutamakan kecakapan santri baik dibidang ilmu, bahasa, pengamalan dalam bentuk peribadatan maupun pembentukan sikap dan kepribadian hidup sudah sejalan dengan maksud dan tujuan kurikulum berbasis kompetensi dan lebih mengutamakan kompetensi individual masing-masing lulusan. Hasil pendidikan di pondok pesantren sangat beragam sesuai dengan kemampuan dan kompetensi yang dimiliki masing-masing santri, ditunjang dengan adanya asrama, dimana kiai dan santri tinggal dalam satu lokasi dan satu lingkungan sehingga mudah untuk menerapkan hasil belajar menjadi kebiasaan hidup sehari-hari. Komunikasi antara kiai dan santri dapat berlangsung terus menerus selama 24 jam, sehingga mudah dilakukan pembimbingan dan pengawasan. Memang harus diakui bahwa sistem pembukuan dan administrasi di pesantren pada umumnya lemah, khususnya pondok pesantren salaf. Sedangkan untuk pesantren berkembang dan modern sudah lebih baik. Sedangkan untuk pesantren ideal sudah cukup baik karena sudah menggunakan sistem komputerisasi pada semua bentuk adminitrasi pendidikannya. Adapun hal-hal yang perlu diperbaiki, dikembangkan dan ditingkatkan oleh pondok pesantren salaf sehubungan dengan penerapan kurikulum berbasis kompetensi adalah sebagai berikut:
1. Perlu rumusan standar kompetensi yang jelas pada setiap program pendidikan dan pengajaran di pondok pesantren.
2. Kompetensi dasar setiap bahan pengajaran (kitab yang dajarkan/dikaji) disusun dengan cakupan ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. 3. Materi pendidikan (pemilihan kitab-kitab kuning sebagai bahan ajar)
disesuaikan dengan kebutuhan santri masa sekarang dan masa yang akan datang.
4. Sistem evaluasi pendidikan perlu diperbaiki sehingga mutu lulusan lebih berkualitas dan kompetitif.
Kurikulum Berbasis Kompetensi Model Pondok Pesantren
Penutup
Ternyata pondok pesantren sudah menerapkan kurikulum berbasis kompetensi, walaupun bentuk penerapannya belum 100 % sesuai dengan konsep kurikulum berbasis kompetensi itu sendiri. Untuk itu kiranya berbagai pondok pesantren yang memiliki kualiikasi sama perlu menyelenggarakan semacam workshop untuk menyusun kurikulum berbasis kompetensi yang cocok untuk pesantren. Dengan demikian ke depan pondok pesantren memiliki nilai jual yang lebih baik di tengah-tengah masyarakat yang semakin maju ini.
Daftar Rujukan
homas Angelo, A Classroom Assessment Techniques: A Handbook for College Teacher. San Fransisco: Jossey Bass Publisher, 1993.
Burhan Nurgiantoro, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah. Jogyakarta: BPEE, 1988.
Zamaksyari Dhoir, Tradisi Pesantren, Studi tentang Pandangan Hidup Kiai. Jakarta: LP3ES, 1982.
Kym Fraser, Student Centered Teaching: he Development and Use of Conceptual Frameworks. Australia: Higher Education Research and Development Society of Australia, 1996.
Hisyam Zaini, Bermawy Munthe, Sekar Ayu Aryani, Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: CTSD Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga, 2004.
Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: t.p., 2002.
H.M. Ridlwan Nasir, Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal. Yogyakarta: Pustaka Fajar, 2005.
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992.