• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kapitalisme Era Modern Semakin Melahab Sana Sin

Dalam dokumen MEMBACA DAN MENGGAGAS NU KE DEPAN SENARA (Halaman 189-192)

Kapitalisme kontemporer merupakan era baru yang merealisasi semangat kapitalistik dikemas secara lebih etis. Isu-isu kontemporer menjadi perhatiannya seperti industri ramah lingkungan, perhatian terhadap demokrasi, kesejahteraan buruh, peraturan pembatasan monopoli dan seterusnya. Ini dipandang sebagai bentuk kompromi kapitalisme dengan etik humanism dengan segala macam atributnya. Hal ini terjadi karena sesungguhnya struktur masyarakat secara global masih berada dalam disparitas yang tidak terselesaikan. Dalam fenomena ini, teori ketergantungan merupakan alat analisis yang ampuh untuk melihat bahwa pranata kendali akumulasi modal masih bersifat ambigu, dimana struktur masyarakat dunia masih saja terbagi antara masyarakat lingkar pusat (center) dan masyarakat lingkar pinggiran (peripheral). Akibatnya keseimbangan ekonomi global tetap beku, tidak banyak berubah dimana para kapitalis tetap berkuasa atas sebagian besar daya beli masyarakat, bahkan memproduksi dan mencetak gaya hidup (life style) yang mengumbar keserakahan indivuasi. Anehnya, semua itu digelar dengan sangat memukau, melalui perhelatan yang sangat manusiawi.

Kapitalisme kotemporer berkembang sebegitu rupa hingga tidak bisa digambarkan lagi sebagaimana organized capitalism (Kapitalisme Monopolis). Prosedur, pola organisasi, dan seabrek mekanisme institusional, mampu berhubungan secara harmoni dan dinamis antara kekuasaan sosial dan otoritas politik yang mengorganisir sistem kapitalisme. Ini yang diandaikan sebagai welfare-state kontemporer. Namun pengandaian itu telah gagal menjalankan fungsinya. Pandangan Daniel Bell dalam Sindhunata (1983) melihat bahwa manusia pada masyarakat kapitalis adalah individu-pribadi

Membaca dan Menggagas NU ke Depan:

yang bebas. Di bidang ekonomi, individu cenderung konservatif, takut pada perubahan, dan ingin berkembang secara linear, memperhitungkan segalanya hanya dari segi eisiensi dan kegunaan. Sedang di bidang kebudayaan, justru makin muncul secara radikal kecenderungan akan nilai- nilai kemanusiaan. Inilah yang kemudian disebut Bell dengan kontradiksi kultural kapitalisme. Kebebasan individu itu kemudian mengalami dikotomi ketika ranah ekonomi memunculkan ide borjuasi (berprinsip laissez-faire), namun ranah kultural tumbuh subur ide independensi yang mau lepas bebas (freedom) dari segala keterikatan. Keduanya berdiri secara opposional dan ikonoklastik (saling bertentangan).

Organisasi bisnis dan masyarakat industrialisasi modern merupakan realitas kapitalisme yang paling tampak. Terdapat semacam “dunia bawah” yang di dalamnya segala aktiitas bisnis terhegemoni. Adam Smith menyebutnya sebagai “tangan-tangan yang tak tampak” (he Invisible Hand) yang sebenarnya adalah gerak dari sistem yang disebut sebagai mekanisme pasar. Pengaruh mekanisme pasar pada dunia bisnis adalah faktor pendorong pertumbuhan. Dunia bisnis itu sendiri hanyalah wahana yang digunakan untuk melaksanakan yang oleh Heilbroner (1991) sebagai penarik kekayaan dari aktiitas produktif masyarakat dalam bentuk kapital. Yang mencolok dari kapitalisme adalah ketidakseimbangan dalam pemanfaatan kekayaan bukan sebagai tujuan itu sendiri, akan tetapi sebagai sarana untuk mengakumulasi lebih banyak kekayaan. Secara jelas, Kapitalisme sesungguhnya adalah kekuatan dan kekuasaan untuk memperoleh lebih banyak lagi kekayaan. Pada gilirannya akan melahirkan cara pandang baru terhadap proil kekayaan (ekuity), yakni bukan sekedar hanya ekspresi kemegahan pribadi semata tetapi juga dalam rangka memperbesar kekayaan itu sendiri. Gagasan seperti ini langsung membawa diskursus yang paling inti dari hubungan sosial kapitalisme, yaitu dominasi dan hegemonik.

Dominasi kapitalistik ini melahirkan kelas pekerja yang kebutuhan hidupnya amat tergantung pada aksesnya terhadap alat-alat produksi. Marx melihat ketergantungan yang demikian telah menghapus hubungan- hubungan sosial tradisional yang sebelumnya berlaku. Bentuk dominasi sesungguhnya memiliki dua wajah dimana satu sisi menciptakan ketergantungan kaum proletar, namun disisi lain pemilik modal masih dapat menerapkan secara bersamaan dorongan tanpa henti untuk terus mengakumulasi modal. Gurita ketamakan kapitalis telah mendorong kaum kapitalis terus mengejar sarana-sarana pemuasan diri yang tiada habisnya itu.

Kapitalisme dalam Perspektif: Tradisi Keagamaan dan Tingkah Laku Ekonomi Sifat abstrak dari sosial-ekonomi kapitalisme adalah terbebasnya kehidupan sehari-hari dari ikatan adat dan tradisi dengan penyerahan sepenuhnya pada dominasi ekonomi.

Aspek ideologis kapitalisme adalah bukan hanya kesan yang ditinggalkan oleh pranata-pranata kapital pada faktor produksinya, melainkan kepicikan visi ekonomi dan segala konsepsi politis - kapitalis. Maka hal yang patut diperhatikan tentang wawasan kulturalnya adalah penciutan wilayah budayanya sendiri. Sifat dasar dari lingkaran kapital adalah tidak memiliki dimensi moral intrinsik, tidak ada visi mengenai seni selain ide-ide komoditas yang melingkupinya. Dengan latar belakang ini, ide-ide tumbuh subur namun moral merosot drastis dan menjadi ajang bagi eksplosi ideasional dan estetis, yang mengabaikan kekuatan moral sebagai pengatur. Weber asumsikan kondisi tersebut membawa suatu perilaku rasionalitas ke dalam Kapitalisme yang terus menerus mendorong usaha akumulasi terhadap kapital. Eksistensi kapital selalu berada dalam kondisi keterancaman simultan karena siklus kapitalisme adalah M-C-M’ (money- capital-money). Ini di sebabkan oleh perubahan terus menerus dari komoditas barang - menjadi uang - dari uang menjadi barang komoditas lagi. Suatu siklus hidup yang selalu dipertahankan oleh para pemilik kapital. Di sini terjadi transformasi kekayaan menjadi cadangan umum yang berpotensi dinikmati oleh pesaing (competitor). Inilah penyebab mengapa kapital selalu menjadi beban bagi para pemiliknya sebab capital yang tidak produktif akan menjadi dilematis. Alhasil, para kapitalis membagikan uangnya ke masyarakat supaya bisa memperoleh jasa buruh, tenaga dan bahan-bahan yang mengubah kapitalnya menjadi komoditas. Para kapitalis mendapat dua keuntungan yakni berusaha memperoleh kembali uangnya dari masyarakat, namun secara bersamaan juga memperoleh dari para kapitalis lainnya (competitor) yang modalnya juga telah dialihkan ke masyarakat.

Istilah kompetisi dalam terma kapitalis tidak sekedar persaingan para penjual di pasar, akan tetapi merupakan upaya keras dari masing-masing kapitalis guna memperoleh sebanyak mungkin daya beli masyarakat. Sebab kompetisi ini sesungguhnya tidak berkaitan langsung dengan prestise maupun dominasi, karena kompetisi itu tidak menempatkan para para kapitalis (pemilik modal) versus para pekerja (buruh) akan tetapi persaingan dan kompetisi sesama kaum kapitalis.

Kompetisi dalam dunia ekonomi merupakan sikap kewaspadaan dari satu orang terhadap yang lain sebagaimana kondisi orisinal pada hukum

Membaca dan Menggagas NU ke Depan:

rimba (homo homini lupus). Dengan demikian kapital telah memperkenalkan kompetisi sosial yang membawa intensitas baru terhadap dorongan mencari kekayaan, intensitas baru inilah yang disebut oleh Heilbroner sebagai “motif pelestarian diri”. Hal ini didorong oleh dua aspek; Pertama adalah agresiitas para pelaku ekonomi dalam mencari uang dan kekayaan. Kebutuhan yang terus menerus untuk menyerap kapital telah mendorong persaingan (kompetitif ) dalam mekanisme pasar. Aspek kedua adalah dorongan untuk melakukan penyelamatan dan perlindungan diri. Contohnya penggunaan kekuasaan negara untuk mengatur pasar (penetrasi) dan mendayagunakan seluruh sarana untuk memperoleh keuntungan kompetitif atas kapital- kapital lain. Pengembangan cara-cara baru ini untuk mengorganisir siklus M-C-M’ dalam rangka meningkatkan potensi akumulasi kekayaan (M’) amat sangat di tekankan.

Pada gilirannya kapitalisme modern membawa suatu aspek yang berdampak luas dalam ekspansi kapital yang menyelusup dalam kehidupan sehari-hari yang di eksplorasi dalam lingkaran akumulasi modal. Transformasi nilai-nilai kesenangan (nilai konsumtif) ke dalam kegiatan-kegiatan yang mendatangkan laba bagi para pengorganisirnya menjadi perihal penting. Aktiitas rutin seperti; mencuci, memasak, membersihkan, perawatan kesehatan, hiburan dan segala eksklusiisme rumah tangga tak luput menjadi lahan ekspansi kapital. Ini bukti adanya ekspansi budaya kapitalistik dalam setiap jalinan kehidupan sosial. Kapitalisme menjadi bayangan dari sebuah mesin yang terus bergerak tanpa henti. Kita bisa melihat bagaimana kaum kapital dalam bekerja dan bertindak dimana bersedia merusak dunia jika hal itu memberikan keuntungan (utility). Mereka buat cerita-cerita menakutkan tentang tidak beradabnya kaum proletariat, namun mereka sendiri justru secara terus-menerus melemparkan tumpukan manusia, material, uang ke segala penjuru dunia dan menghancurkan dasar-dasar kehidupan manusia. Rahasia ini mereka simpan rapat-rapat bahwa dibalik penampakan humanism itu adalah kelas penguasa yang paling destruktif dalam sejarah.

Dalam dokumen MEMBACA DAN MENGGAGAS NU KE DEPAN SENARA (Halaman 189-192)