• Tidak ada hasil yang ditemukan

ALUR INATRADE

Dalam dokumen Kementerian PPN / Bappenas (Halaman 88-92)

KINERJA INVESTASI DAN EKSPOR 2004-2011 *

ALUR INATRADE

Dalam rangka peningkatan kapasitas pelaku ekspor untuk meningkatkan daya saing ekspor Indonesia, telah diselenggarakan beberapa kegiatan pengembangan produk di beberapa daerah seperti: (1) Pengembangan desain di Yogyakarta dan Malang; (2) Pengembangan merek di Solo, Surabaya dan Bandung; (3) Workshop food ingredients di Medan dan Surabaya; (4) Pengembangan disain produk rotan di Cirebon dan Sukoharjo; (5) Pengembangan produk buah-buahan di Bandung; (6) Pengembangan disain bambu di Yogyakarta; serta (7) Pengembangan produk fesyen berbasis pewarna alam di Klaten. Selain itu juga dilakukan sosialiasi hasil product intelligence untuk produk alas kaki, minyak atsiri, dairy product dan jewelry. Selanjutnya juga dilakukan kegiatan adaptasi produk bambu dan rotan di Yogyakarta dan Sukoharjo.

Capaian Outcome Ekspor

Pertumbuhan ekspor baik nilai maupun volumenya telah menunjukkan adanya pertumbuhan yang meningkat, dimana pada tahun 2004 nilai ekspor mencapai 71.585 juta US$ meningkat menjadi 203.497 juta US$, walaupun dalam tahun 2009, target pertumbuhan ekspor tidak tercapai bahkan terjadi penurunan ekspor sebesar 14,97 persen.

Pertumbuhan ketiga sektor tersebut relatif berfluktuasi selama periode 2005-2011, dimana penurunan drastis terjadi pada tahun 2009 untuk sektor industri (Gambar 5.3.). Pertumbuhan ekspor dari sektor pertanian lebih rendah dibandingkan dua sektor lainnya. Jika hanya dilihat dari sektor pertumbuhan industri maka sektor pertambangan dan industri memiliki potensi besar untuk lebih dikembangkan menjadi andalan ekspor Indonesia. Jika dari sisi nilai ekspor maka sektor industri jauh lebih besar dibandingkan dua sektor lainnya.

Gambar 5

Perkembangan Ekspor Non Migas Indonesia Berdasarkan Sektor

Sumber: Bank Indonesia (2012)

Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, telah terjadi pergeseran pasar tujuan ekspor Indonesia, dari negara-negara maju ke new emerging economies. Cina, India, dan negara-negara-negara-negara lainnya mulai mendominasi pangsa pasar ekspor Indonesia sementara pangsa pasar ekspor Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang mulai berkurang. Selama tahun 2009 ekspor nonmigas Indonesia ke Cina mencapai USD8,9 miliar atau tumbuh sebesar 14,4 persen daripada tahun 2008. Sedangkan ekspor ke Korea Selatan dan India masing-masing mencapai USD5,2 miliar dan USD7,4 miliar atau tumbuh sebesar 10,9 persen dan 4,1 persen (Gambar 5.5.).

Namun demikian, ekspor Indonesia masih terkonsentrasi pada 8 pasar tujuan ekspor. Negara-negara ASEAN merupakan pasar ekspor terbesar, dimana lebih dari 20 persen ekspor Indonesia ditujukan ke wilayah ini. Selama bulan Desember 2009, ekspor ke negara-negara tujuan utama seperti AS, Uni Eropa, ASEAN, Cina, dan lain-lain kecuali Australia mengalami peningkatan setelah bulan sebelumnya mengalami penurunan.

Gambar 6

Nilai dan Share Ekspor Komoditi High techonology Indonesia ke Negara Mitra Dagang

Gambar 7

Nilai dan Share Ekspor Komoditi Low techonology Indonesia ke Negara Mitra Dagang

Share ekspor terhadap total ekspor Indonesia ke negara mitra dagang yang bersifat high techonology semakin meningkat dari tahun ke tahun selama periode 2004-2011. Akan tetapi, share ekspor komoditi high techonology ke Cina relatif kecil yakni hanya sekitar 3 persen-8 persen dari total nilai ekspor.

Indonesia lebih banyak mengekspor komoditi pertanian ke Cina dengan share ekspor dibandingkan dengan komoditi lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa ekspor Indonesia yang bersifat high techonology

masih relatif kecil nilai ekspornya. Komoditi yang menggunakan low techonology cenderung memiliki peranan yang lebih besar terhadap kinerja ekspor Indonesia dibandingkan dengan komoditi yang bersifat high techonology. Peranan komoditi low techonology mencapai lebih dari 60 persen dari total nilai ekspor Indonesia.

Capaian Impact Ekspor

Perbaikan kinerja ekspor yang meningkat selama periode 2004-2013, menyebabkan semakin membaiknya perekonomian. Hal tersebut ditandai dengan semakin meningkatnya cadangan devisa dari US$ 36,3 miliar pada tahun 2004 menjadi US$ 99,4 miliar (2013). Selain hal tersebut juga terlihat dengan pertumbuhan ekonomi, dimana PDB per Kapita terus mengalami peningkatan dari Rp10.537 ribu (2004) meningkat menjadi Rp36.508 ribu pada tahun 2013.

Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi pada beberapa tahun terakhir diikuti dengan peningkatan kualitas pertumbuhan ekonomi yang memadai menyebabkan kondisi ketenagakerjaan menunjukkan perbaikan, ditandai dengan menurunnya tingkat pengangguran dari 9,9 persen (2004) menjadi 5,8 persen (2013) dan tingkat kemiskinan menunjukkan penurunan, yaitu dari 16,7 persen (2004) menjadi sebesar 11,4 persen pada tahun 2013. Perkembangan ini menunjukkan bahwa upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkualitas dapat diwujudkan.

Tabel 3

Indikator Makro Ekonomi Tahun 2004, 2009-2013

Sumber: BPS dan Bank Indonesia Catatan: *) Data Februari

*) Februari 2012-Februari 2013 merupakan hasil backcasting dari penimbang Proyeksi Penduduk yang digunakan pada Februari 2014

Permasalahan

Salah satu kendala yang dihadapi untuk mendorong peningkatan ekspor nonmigas saat ini adalah melemahnya permintaan global yang diperkirakan masih akan berlanjut. Selain hal tersebut, beberapa permasalahan internal yang menjadi kendala untuk mendorong peningkatan ekspor nonmigas, antara lain seperti: Pertama, permasalahan di bidang perdagangan luar negeri, antara lain: (i) Masih terbatasnya informasi tentang peraturan dan peluang pasar ekspor, terutama pasar ekspor non tradisional; (ii) Belum optimalnya fasilitasi perdagangan dan misi dagang Indonesia di pasar ekspor nontradisional; (iii) Semakin meningkatnya upaya proteksi di berbagai negara terutama negara maju untuk melindungi perekonomian domestiknya dalam bentuk hambatan nontarif akibat dari krisis ekonomi global; (iv) Masih belum optimalnya upaya diversifikasi dan peningkatan kualitas produk ekspor; (v) Masih terbatasnya sarana infrastruktur pendukung ekspor; serta (vi) Masih terdapatnya pungutan dan biaya tidak resmi yang menyebabkan biaya ekonomi tinggi. Kedua, permasalahan di bidang perdagangan dalam negeri, antara lain: (i) Masih terbatasnya sarana perdagangan/distribusi, khususnya di daerah perbatasan, terpencil dan tertinggal, serta rusaknya sarana perdagangan di daerah pasca bencana alam/konflik yang menghambat aktivitas perdagangan/arus distribusi komoditas di daerah tersebut; (ii) Masih belum optimalnya pelaksanaan perlindungan konsumen dan pengawasan barang beredar; (iii) Masih belum optimalnya penataan lokasi pendirian toko modern/hipermarket dengan pasar tradisional (iv) Masih belum optimalnya pengembangan UKM yang antara lain disebabkan oleh permasalahan permodalan, teknologi, bahan baku, dan sumber daya manusia.

Ketiga, permasalahan di bidang persaingan usaha yang, antara lain: (i) Belum sinkronnya pelaksanaan hukum persaingan usaha dengan hukum acara di Indonesia; (ii) Belum harmonisnya pelaksanaan hukum persaingan usaha diantara lembaga penegak hukum, antara lain yang diterapkan di Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Pengadilan Negeri dan Mahkamah Agung, sehingga menyebabkan belum efektifnya putusan hukum KPPU; (iii) Perlunya revisi beberapa pasal yang berkaitan dengan pelanggaran hukum tentang persaingan usaha yang sehat dalam UU No.5/1999 yang berdampak pada kurang maksimalnya penanganan perkara pelanggaran hukum persaingan usaha; (iv) Belum ditetapkannya Peraturan Pemerintah dan pedoman pelaksanaan pada pasal–pasal dalam UU No.5/1999 yang bertujuan untuk memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai ketentuan yang terdapat dalam pasal–pasal tersebut; serta (v) Masih kurangnya kesadaran tentang arti penting persaingan usaha di masyarakat, akademisi, pemerintah serta pelaku usaha, sehingga dukungan terhadap pelaksanaan UU No.5/1999 dan KPPU dalam melaksanakan tugas mengawasi pelanggaran persaingan usaha masih belum optimal.

Depresiasi nilai tukar riil rupiah terhadap USD berpengaruh positif terhadap kinerja ekspor Indonesia dengan negara mitra dagang utama dan negara New Emerging Market.

3. Rekomendasi

Untuk dapat meningkatkan pertumbuhan ekspor Indonesia maka perlu dikurangi masalah inefisiensi di pelabuhan.

Pengenalan strategi antikorupsi secara nyata dengan melibatkan partisipasi ekportir dan importir, merupakan peluang untuk mempercepat pembaruan bidang bea cukai yang sedang berjalan.

Meningkatnya hambatan non-tarif telah menaikkan biaya domestik bagi tenaga kerja industri, sehingga meningkatkan biaya untuk memproduksi barang ekspor yangbernilai tambah lebih tinggi. Penghapusan kendala ini akan membantu konsumen dan juga eksportir.

Indonesia harus mulai untuk mencari pasar baru untuk meningkatkan pangsa ekspornya, sehingga tidak lagi tergantung pada pasar tradisional (Eropa dan USA).

Secara umum faktor yang menghambat investasi dan ekspor sudah menjadi concern pemerintah untuk segera diatasi termasuk masalah kesulitan mengurus perizinan usaha, permasalahan korupsi dan birokrasi yang tidak efisien. Akan tetapi, yang penting untuk diperhatikan adalah mekanisme pemantauan (monitoring dan evaluasi) terhadap pelaksanaan kebijakan karena sering kali implementasi dari sebuah kebijakan tidak sesuai dengan output yang diharapkan dari kebijakan tersebut.

EVALUASI KEBIJAKAN PEMBANGUNAN TRANSPORTASI

Dalam dokumen Kementerian PPN / Bappenas (Halaman 88-92)