Upaya akselerasi pengurangan AKI melalui sejumlah program dan kegiatan pada akhirnya akan berkontribusi dalam peningkatan kualitas hidup SDM, yang salah satunya ditunjukkan oleh capaian UHH.
Usia harapan hidup terus mengalami peningkatan dari 70,7 tahun pada tahun 2009 dan menurut hasil SP 2010 menjadi 70,9 pada tahun 2010. Lebih lanjut adalah peningkatan angka IPM Indonesia, yang pada tahun 2013 sebesar 79,30, meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2012 sebesar 75,80. Menurut UNDP, Indonesia menduduki peringkat ke-108 dari 187 negara, di mana peringkat tersebut stagnan dari posisi tahun 2012. Pencapaian angka IPM tersebut didukung oleh beberapa indikator yang terkait seperti pertumbuhan ekonomi, angka kemiskinan, kesehatan, dan pendidikan. Angka IPM menyimpulkan bahwa tingkat kesejahteraan rakyat telah semakin baik, yang direpresentasikan oleh capaian pembangunan pendidikan, kesehatan, dan daya beli masyarakat.
5. Rekomendasi
Berbagai upaya untuk menurunkan AKI sebenarnya sudah dilakukan oleh pemerintah Indonesia, baik dari sisi kebijakan, strategi, program maupun kegiatan, namun pencapaian penurunan AKI masih belum memenuhi target yang telah ditetapkan, baik target RPJMN maupun MDGs. Berbagai persoalan dihadapi dalam pelaksanaan program di tingkat kabupaten/kota, terutama setelah otonomi daerah diberlakukan.
Berikut analisis guna mengatasi permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan kebijakan penurunan AKI (Tabel 1).
Berdasarkan analisa kesenjangan kebijakan di atas, rekomendasi yang diusulkan untuk mendorong percepatan penurunan AKI adalah sebagai berikut:
a. Meningkatkan kesehatan ibu, bayi dan balita, melalui: (i) Peningkatan persentase ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal (cakupan kunjungan kehamilan ke empat (K4)); (ii) Peningkatan cakupan kunjungan neonatal pertama (KN1); (iii) Peningkatan cakupan pelayanan kesehatan bayi dan cakupan pelayanan kesehatan balita; serta (iv) Perluasan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) bagi pelayanan kesehatan primer di Puskesmas.
b. Menurunkan angka gizi kurang dan gizi buruk terutama bagi ibu hamil, bersalin dan nifas serta bagi remaja perempuan untuk mencegah anemia sebagai salah satu penyebab komplikasi perdarahan pada kehamilan, persalinan dan nifas.
c. Meningkatkan cakupan pembiayaan kesehatan terutama untuk penduduk miskin melalui jaminan kesehatan baik Jamkesmas, Jamkesda maupun Jamkesos serta jaminan persalinan sehingga penduduk
miskin memiliki akses untuk mendapatkan pelayanan pemeriksaan kehamilan dan persalinan dengan tenaga kesehatan.
d. Meningkatkan kualitas tenaga kesehatan seperti bidan dalam hal kemampuan berkomunikasi, memahami budaya lokal, dan membentuk jejaring kerja di tingkat bawah sehingga masyarakat dapat secara jelas memperoleh informasi terkait kehamilan, persalinan, dan nifas beserta resiko komplikasi dan upaya pencegahan.
e. Memetakan kebutuhan dan mendistribusikan tenaga kesehatan terutama bidan berdasarkan jumlah penduduk, kondisi geografi dan transportasi yang tersedia, untuk mempermudah dan meningkatkan akses masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan terutama di daerah terpencil, tertinggal, perbatasan dan pulau-pulau terluar Indonesia.
f. Mendorong kembali kerjasama bidan-dukun, terutama di daerah yang sebagian besar penduduknya melakukan pemeriksaan kehamilan dan persalinan di dukun bayi. Pelatihan dukun beranak perlu ditingkatkan untuk memberikan pemahaman tentang persalinan yang higienis dan pentingnya melakukan kerjasama dengan bidan.
g. Meningkatkan peran dan jumlah Puskesmas sebagai Puskesmas yang siap PONED serta meningkatkan jumlah RSU daerah yang mempunyai fasilitas PONEK, termasuk ketersediaan bank darah serta dokter obgyn terlatih di tingkat kabupaten/kota untuk menangani kasus-kasus kegawatdaruratan persalinan dan neonatal.
h. Meningkatkan sistem administrasi kependudukan untuk mencatat peristiwa kematian ibu by name by address, yang dilengkapi dengan penyebab kematian. Sistem ini merupakan sistem unified registration yang menghubungkan pendaftaran penduduk dengan pencatatan vital.
i. Mendorong masyarakat berperan aktif dalam upaya penurunan AKI, diantaranya dengan memberikan pemahaman bahwa ibu melahirkan dengan selamat menjadi keharusan, karena tanggungjawab, peran dan fungsi ibu dalam rumah tangga bisa berlanjut untuk pengasuhan dan keberlanjutan pendidikan anak-anak. Upaya ini harus dilakukan bersama tokoh-tokoh agama, agar mendorong kesadaran dan partisipasi masyarakat.
j. Memperluas kebijakan penurunan kematian ibu dengan melibatkan sektor selain kesehatan yang relevan, serta meningkatkan sinergi antar sektor dalam kebijakan dan pelaksanaannya.
k. Dalam rangka peningkatan peran pemerintah daerah dalam percepatan penurunan AKI, maka diperlukan beberapa kebijakan strategi antara lain:
• Melakukan advokasi kepada para legislatif dan eksekutif di daerah dalam rangka meningkatkan komitmen dan dukungan politis terhadap program penurunan AKI dan AKB.
• Melibatkan peran organisasi masyarakat dalam implementasi kebijakan penurunan AKI/AKB.
• Peningkatan aksesibiitas masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang disesuaikan dengan kondisi geografis setempat.
• Peningkatan aksesibilitas terhadap informasi kesehatan, khususnya kesehatan ibu, di seluruh wilayah.
Tabel 1
Analisis Kesenjangan Kebijakan dan Kondisi Saat Ini
No Kegiatan/ Program
Penurunan AKI Target Upaya yang Sudah
Dilakukan Kondisi yang Ada Sekarang Usulan Upaya yang Dapat Dilakukan A. KEBIJAKAN LANGSUNG
1. Peningkatan
Akses ke pelayanan kesehatan masih rendah karena:
- Pengetahuan ibu tentang kesehatan maternal, pengenalan gejala komplikasi dan faktor resiko masih rendah.
- Masyarakat masih banyak yang merasa jika pemeriksaan kehamilan pertama baik, maka seterusnya akan tetap sehat.
- Rasio bidan dan penduduk sudah cukup tinggi tetapi keberadaan bidan tidak merata di berbagai tempat. Sebagian besar mengumpul di pulau Jawa - Meskipun masyarakat miskin
sudah memperoleh askeskin, namun biaya transport dan biaya
“lain” tidak ditanggung, sehingga mereka memilih untuk tidak memeriksakan kehamilan.
Melakukan:
- Kampanye besar-besaran untuk meningkatkan kepedulian dan kesadaran bagi ibu, suami dan keluarganya tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan (K1 dan K4) - Melatih bidan terutama yang
berada di pedesaan untuk mampu menyampaikan penjelasan tentang kesehatan maternal, faktor resiko dan pengenalan gejala komplikasi secara sederhana dan mengena pada masyarakat. bidan baik di Polindes maupun di rumah bidan.
- Meningkatkan jumlah
- Persentase persalinan yang ditolong tenaga kesehatan meningkat namun belum mencapai target yang ditetapkan, yaitu 82,2% pada tahun 2010.
- Sebagian besar persalinan masih dilakukan di rumah karena perasaan aman dan nyaman di lingkungan keluarga
- Meningkatkan dan memeratakan bidan terutama ke daerah terpencil, tertinggal dan perbatasan serta pulau-pulau terluar Indonesia.
- Mempermudah pelayanan kelahiran dengan meningkatkan cakupan jaminan persalinan.
- Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mendorong awareness masyarakat dan keluarga untuk mengenali komplikasi kehamilan agar segera merujuk pada tenaga kesehatan dengan program suami siaga, desa siaga.
- Memberdayakan masyarakat agar mampu menyediakan biaya persalinan dengan mendorong kemandirian misalnya program tabungan ibu bersalin untuk membantu biaya jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
- Melanjutkan kerjasama bidan dan dukun terutama di daerah terpencil.
3. Peningkatan
- 60% persalinan masih dilakukan di rumah karena:
Merasa aman dan nyaman
Merasa sehat
Mengurangi biaya transportasi dan rawat inap
- Meningkatkan awareness masyarakat dengan memberikan jaminan bagi keluarga bahwa persalinan di fasilitas kesehatan lebih aman dan higienis.
4. Peningkatan
- Peningkatan jumlah Puskesmas PONED - Peningkatan jumlah RS
PONEK
- Rasio Puskesmas PONED sudah mencukupi namun persebarannya masih perlu ditingkatkan
- Peningkatan status Puskesmass biasa menjadi Puskesmas PONED - Peningkatan jumah SDM - Peningkatan peralatan medis dan
obat-obatan
- Penyediaan kendaraan ambulans yang selalu stand by - Pelatihan bidan untuk penangan
PONED.
No Kegiatan/ Program
Penurunan AKI Target Upaya yang Sudah
Dilakukan Kondisi yang Ada Sekarang Usulan Upaya yang Dapat Dilakukan B. KEBIJAKAN TIDAK LANGSUNG
5. Pemenuhan hak
- CPR baru mencapai 61% (SDKI 2007)
- Unmet need masih berada pada level 9,1 % (SDKI 2007) - Kesertaan pria dalam berKB masih
4,3% (SDKI 2007)
- Melakukan sosialisasi terus menerus bahwa KB tidak hanya untuk mengatur jarak dan jumlah anak teapi juga untuk kesehatan reproduksi
- Melakukan sosialisasi bahwa berKB merupaan tanggungjawab bersama suami dan istri untuk meningkatkan partisipasi laki-laki dalam berKB - Melakukan sosialisasi tentang efek
samping
- Melakukan penanganan efek samping pemakaian kontrasepsi dengan lebih baik.
- Mendorong pemerinah kabupaten/kota untuk melakukan revitalisasi KB dengan membenahi kelembagaan KB serta menambah SDM PLKB di lapangan.
6. Meningkatkan status gizi bagi Ibu maupun remaja
- Pemerian pil besi dan vitamin A bagi ibu hamil - Memberikaan
penyuluhan untuk meningkatkan pengetaahuan dan awareness bagi ibu dan remaja putrid untuk meningkatan status kesehatan dan gizi mereka
- Kasus anemia pada ibu dan
remaja putri masih tinggi - Pemberian pil besi dan vitamin A tidak hanya dilakukan di tempat pelayanan kesehatan termasuk Posyandu, tetapi juga dilakukan dengan kunjungan bidan ke rumah-rumah pasien
- Memberikan penyuluhan kepada ibu khususnya ibu hamil tentang makanan apa saja yang bermanfaat bagi kondisi kesehatan ibu dan bayi yang dikandungnya.
- Mengurangi berbagai taboo yang bertentangan dengan upaya kesehatan masyarakat.
7. Peningkatan peran perempuan dalam dan peluang kerja bagi perempuan di luar rumah
- Perempuan masih memiliki peran yang rendah dalam pengambilan keputusan
- Perempuan belum mempunyai otonomi terutama dalam hal mebuat keputusan bagi penghasilan yang mereka peroleh.
- Peningkatan pendidikan baik formal maupun informal, terutama pendidikan luar seolah - Peningkatan peluang perempuan
untuk masuk ke pasar kerja - Peningkatan peran dan partisipasi
laki-laki dalam urusan rumah tangga
8. Peningkatan
- PIK remaja belum dibentuk di semua sekolah
- Sekolah yang sudah memiliki PIK Remaja, sebagian belum berfungsi dengan baik
- Mendorong berfungsinya PIK Remaja di sekolah, di organisasi-organiisasi remaja baik keagamaan maupun organisasi sosial.
- Pemutakhiran data belum mencapai 100 persen - Pemberian e-KTP belum
mencakup seluruh penduduk Indonesia
- Peningkatan SDM
- Peningkatan sarana dan prasarana pendataan
- Peningkatan kesadaran masyarakat untuk melapor
- Memperbiki sistem administrasi kependudukan menjadi system yang terintegrsi antara pendaftaran penduduk dengan pencatatan sipil.