D ALAM K ONTEKS P ENINGKATAN K ESEJAHTERAAN M ASYARAKAT *
2.3 Capaian Outcome Pembangunan Perdesaan .1 Aspek Ekonomi
Sumber: BPS, diolah 2.2.4 Aspek Infrastruktur
Gambar di atas menunjukan perkembangan jumlah infrastruktur di perdesaan, meliputi sarana air minum bersih, jamban dan air minum leding, yang masih perlu ditingkatkan. Suatu pembangunan akan tepat mengenai sasaran, terlaksana dengan baik dan dimanfaatkan hasilnya apabila pembangunan yang dilakukan tersebut benar-benar memenuhi kebutuhan masyarakat. Untuk memungkinkan hal itu terjadi, khususnya pembangunan perdesaan, mutlak diperlukan pemberdayaan masyarakat desa mulai dari keikutsertaan perencanaan sampai pada hasil akhir dari pembangunan tersebut.
Gambar 7. Infrastruktur Perdesaan
Sumber: BPS, 2011
2.3 Capaian Outcome Pembangunan Perdesaan 2.3.1 Aspek Ekonomi
Tingginya laju pertumbuhan dan distribusi PDB sektor pertanian menunjukkan bahwa sektor ini berkontribusi besar terhadap PDB Indonesia. Sektor pertanian yang notabene merupakan sektor yang berada di kawasan perdesaan menunjukkan bahwa untuk semakin meningkatkan peranan dari sektor pertanian terutama terhadap masyarakat desa maka diperlukan infrastruktur yang baik di perdesaan.
Sehingga diharapkan dengan adanya peningkatan terhadap sektor pertanian maka akan meningkatkan kemampuan dalam menyerap tenaga kerja dan akhirnya dapat mengurangi pengangguran di perdesaan.
Gambar 8. Perkembangan Kontribusi PDB Sektor Pertanian terhadap PDB Nasional Tahun 2004-2013
Gambar 9. Tingkat Pengangguran Terbuka Desa dan Kota
Sumber: BPS, 2010
Selama periode 2001–2008 dapat dilihat bahwa terjadi penurunan jumlah pengangguran di desa dan di kota. Adapun penyebab terjadinya penurunan tingkat pengangguran di desa diduga disebabkan oleh terjadinya penurunan jumlah tenaga kerja di perdesaan, meningkatnya lapangan kerja di sektor pertanian, peningkatan jumlah industri yang berlokasi di desa, atau peningkatan program padat karya yang menjadi agenda dari kebijakan fiskal pemerintah. Dengan adanya program padat karya dan industri yang bersifat karya akan menjadi pilihan lain bagi tenaga kerja di perdesaan selain dari bekerja pada sektor pertanian.
Gambar 10. Tingkat Pengangguran Total Desa dan Kota
Sumber: BPS, 2010
-2 4 6 8 10 12 14 16
2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
Perkotaan Perdesaan Total
Walaupun diketahui bahwa tingkat pengangguran di kota lebih tinggi dibandingkan dengan di perdesaan, akan tetapi trend dari tingkat pengangguran di desa yang relatif semakin menurun selama periode 2001–
2008. Kondisi ini menjadi sebuah harapan dimana ketika terjadi peningkatan peran sektor pertanian terhadap PDRB, pengangguran di desa semakin menurun.
2.3.2 Aspek Pendidikan
Gambar 11. Rata-Rata Lama Sekolah Masyarakat Perdesaan
Sumber: BPS, 2011
Tren rata-rata lama sekolah masyarakat perdesaan periode 2000–2006. Secara umum, rata-rata lama sekolah masyarakat perdesaan mengalami peningkatan walaupun peningkatan masih sangat kecil. Angka rata-rata lama sekolah sebesar 6.2 tahun menunjukan bahwa penduduk perdesaan sebagian besar sudah lulus SD. Namun demikian jika dilihat berdasarkan gender, rata-rata lama sekolah penduduk penduduk perempuan masih dibawah 6 tahun (5.7) atau tidak tamat SD. Dibandingkan dengan rata-rata lama sekolah penduduk laki-laki yang sudah mencapai 6.7 tahun.
Program Wajib Belajar 9 tahun yang sudah berjalan baik perlu terus disosialisasikan, terutama kepada masyarakat perdesaan. Upaya ini untuk peningkatan kesadaran masyarakat akan arti penting pendidikan.
Selain itu, perlu juga diiringi dengan peningkatan kesempatan dan ketersediaan sarana serta tenaga pengajar. Karena pendidikan sebagai salah satu instrumen meningkatkan kesejahteraan dan saluran bagi masyarakat desa untuk dapat melepaskan diri dari jerat kemiskinan.
2.3.3 Aspek Kesehatan
Pada kategori status gizi berdasarkan tinggi badan menurut usia dapat dilihat bahwa tahun 2010 keadaan gizi kita masih kurang. Dimana jumlah tinggi badan sangat pendek dan pendek (39.9 persen) masih sangat tinggi dan hampir sama dengan jumlah tinggi badan badan normal (60.1 persen). Selama jangka waktu tahun 2007 sampai 2010 tidak terjadi pertumbuhan yang signifikan.
Menurut tabel Indikator Kesehatan di atas, keadaan gizi masyarakat Indonesia berdasarkan berat badan menurut tinggi badan sudah baik, dimana pada tahun 2010 kondisi normal dan gemuk sudah mencapai 86 persen. Terjadi kenaikan sekitar 10 persen dari tahun 2007. Kesadaran masyarakat untuk melakukan imunisasi dasar sudah baik walaupun persentase untuk imunisasi dasar ‘tidak lengkap’ masih cukup tinggi yakni 34 persen. Sedangkan persentase masyarakat yang tidak pernah memberikan imunisasi dasar terhadap anaknya meningkat hampir 60 persen dari 11.1 persen di tahun 2007 menjadi 17.7 persen di tahun 2010.
Frekuensi penimbangan menunjukan tingkat kesadaran ibu untuk mengikuti perkembangan kesehatan anaknya. Persentase kategori tidak pernah di tahun 2010 sebesar 28.8 persen. Angka tersebut masih sangat tinggi, hal ini menunjukan masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk memperhatikan perkembangan kesehatan anaknya. Sedangkan untuk tempat penimbangan anak usia 6–59 bulan, Posyandu menjadi pilihan hamper sebagian besar ibu (86%) untuk melakukan penimbangan. Hal ini beralasan karena selain jaraknya yang relative lebih dekat dan juga tidak mengeluarkan biaya. Indikator kesehatan pada kategori kepemilikan Kartu Menuju Sehat (KMS) dimana pada tahun 2007 persentase yang tidak memiliki KMS masih cukup besar yakni 39.3 persen. Namun terjadi pertumbuhan yang signifikan dimana pada tahun nilai tersebut turun menjadi 24.1 persen.
Tabel 1. Indikator Kesehatan Masyarakat Perdesaan
Indikator Tahun
2007 2010
Kategori status gizi BB/U
Gizi buruk 6.4 5.9
Gizi kurang 14.0 14.8
Gizi baik 75.7 74.2
Gizi lebih 3.1 5.1
Kategori status gizi TB/U
Sangat pendek 20.9 20.9
Pendek 19.0 19.1
Normal 60.1 60.1
Kategori status gizi BB/TB
Sangat kurus 6.7 6.6
Tempat Penimbangan Anak Umur 6-59 Bulan
RS 1.3 1.3
BB/U = Berat Badan menurut Umur; TB/U = Tinggi Badan menurut Umur;
BB/TB = Berat Badan menurut Tinggi Badan
*) 1= Punya KMS dan dapat menunjukkan; *) 2= Punya KMS, tidak dapat menunjukkan/disimpan oleh orang lain; *) 3= Tidak punya KMS
**) 1= Punya Buku KIA dan dapat menunjukkan; **) 2= Punya Buku KIA, tidak dapat menunjukkan/disimpan oleh orang lain; **) 3= Tidak punya KIA
Sumber: Riskesdas 2007 dan 2010
2.3.4 Aspek Infrastruktur
Berdasarkan data pada Gambar 11. maka dapat dilihat bahwa masyarakat desa di setiap propinsi sudah dapat mengakses air minum yang layak pada periode 2009–2010 kecuali untuk desa di Propinsi Papua, Kalbar, dan Banten. Akses masyarakat desa terhadap air bersih pada tahun 2010 semakin meningkat dibandingkan dengan tahun 2009. Dengan dana sebesar Rp1.735.208,0 rupiah yang digunakan untuk pengembangan dan pengelolaan air serta dana sebesar Rp20.436,0 juta (untuk program penyediaan air baku) maka sasaran pembangunan RPJMN 2004-2009 dapat tercapai.
Gambar 12. Persentase Rumah Tangga Perdesaan Menurut Sumber Air Minum Layak
(a) Tahun 2009 (b) Tahun 2010
Sumber: BPS, 2010
Masyarakat desa di setiap propinsi sudah dapat mengakses sumber penerangan listrik. Walaupun demkian, masih terdapat desa yang belum tersentuh listrik yaitu desa terpencil yang ada di Propinsi Papua, Papua Barat, NTT, Kepri. Satu hal yang menarik adalah di Propinsi Kepri, terjadi peningkatan yang cukup signifikan untuk akses desa terhadap sumber penerangan listrik yaitu mencapai lebih dari 100 persen. Dalam RPJMN 2004-2009 hanya disebutkan bahwa sasaran yang ingin dicapai adalah peningkatan akses terhadap listrik.
Gambar 13. Persentase Rumah Tangga Perdesaan Menurut Sumber Penerangan Listrik PLN
Sumber: BPS, 2010
Jika dilihat pada Gambar 13 maka dapat diketahui bahwa sasaran tersebut telah tercapai tapi tidak untuk semua propinsi, seperti pada Propinsi Papua, Papua Barat, Riau, dan Kalteng. Dana yang digunakan untuk meningkatkan askes masyarakat terhadap listrik adalah sebesar Rp192.135,0 juta. Dengan dana sebesar itu ternyata belum cukup untuk dapat meningkatkan akses masyarakat terhadap listrik sampai ke Propinsi Papua dan Papua Barat.
Gambar 14. Persentase Rumah Tangga Perdesaan menurut Sanitasi Layak
Sumber: BPS, 2010
2.4 Capaian Impact Pembangunan Perdesaan