• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan Pembangunan Industri Manufaktur

Dalam dokumen Kementerian PPN / Bappenas (Halaman 41-45)

A NALISIS P ANEL D ATA 2000-2007 *

2.2 Kebijakan Pembangunan Industri Manufaktur

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional periode tahun 2010-2014 (RPJMN 2010-2014) menekankan kebijakan pembangunan manufaktur yang ditikberatkan pada revitalisasi industri. Dalam RPJPN 2005—2025 menyebutkan bahwa struktur perekonomian diperkuat dengan mendudukkan sektor industri sebagai motor penggerak yang didukung oleh kegiatan pertanian dalam arti luas, kelautan, dan pertambangan yang menghasilkan produk-produk secara efisien, modern, dan berkelanjutan serta jasa-jasa pelayanan yang efektif yang menerapkan praktik terbaik dan ketatakelolaan yang baik agar terwujud ketahanan ekonomi yang tangguh.

Pembangunan industri diarahkan untuk mewujudkan industri yang berdaya saing dengan struktur industri yang sehat dan berkeadilan, yaitu sebagai berikut: (1) dalam hal penguasaan usaha, struktur industri disehatkan dengan meniadakan praktek-praktek monopoli dan berbagai distorsi pasar; (2) dalam hal skala usaha, struktur industri akan dikuatkan dengan menjadikan IKM sebagai basis industri nasional, yaitu terintegrasi dalam mata rantai pertambahan nilai dengan industri berskala besar; dan (3) dalam hal hulu-hilir, struktur industri akan diperdalam dengan mendorong diversifikasi ke hulu dan ke hilir membentuk rumpun industri yang sehat dan kuat.

2.3 Capaian Output

Pada model pertama, variabel endogen yang digunakan adalah output bruto diproksikan oleh output kotor yang disesuaikan dengan indeks harga perdagangan besar (IHPB). Kemudian, variabel-variabel eksogen yang digunakan adalah modal yang diproksikan dengan biaya aktiva tetap perusahaan yang disesuaikan dengan deflator PDB dan IHPB dari mesin, tenaga kerja yang diproksikan dengan jumlah tenaga kerja pada setiap perusahaan, dan bahan baku diproksikan dari nilai riil bahan baku dalam negeri dan impor.

Hasil estimasi model pertama menunjukan pertumbuhan TFP positif sebesar rata-rata 0,22 persen pertahun selama periode 2000-2007 pada produktivitas sektor manufaktur. Peningkatan tingkat efisiensi (TE) merupakan kontributor utama dari pertumbuhan produktivitas di Indonesia. Sementara, pertumbuhan teknologi (TP) dan skala ekonomi (SE) memberikan kontribusi negatif terhadap TFP, yaitu

INPUT OUTPUT OUTCOMES IMPACT

RPJMN 2004-2009:

Pertumbuhan ekonomi Indonesia

Pendapatan per kapita tahun 2012 sebesar Rp.33,7 juta atau meningkat sekitar 3 kali lipat jika dibandingkan dengan pendapatan per kapita tahun 2004 sebesar Rp.10,5 juta

masing-masing sebesar -0,17 persen dan -0,45 persen. TFP tumbuh tertinggi pada sektor kimia sebesar 0,21 persen, sedangkan TFP tumbuh terendah pada sektor tekstil.

TFP tidak selalu mengalami pertumbuhan positif pada periode 2000-2007. TFP mengalami pertumbuhan negatif pada periode 2000-2004. Kemudian, TFP meningkat dan mengalami pertumbuhan positif pada periode 2004-2007. Penurunan tingkat produktivitas sektor manufaktur selama periode 2000-2004 agaknya disebabkan oleh masih dilakukannya konsolidasi kebijakan perekonomian serta munculnya beragam landasan dan pengaturan baru yang perlu dilakukan penyesuaian oleh pelaku insustri saat itu.

Namun, seiring konsolidasi dab berbagai penyesuaian dalam perilaku dan cara berbisnis oleh pelaku sektor manufaktur, peningkatan produktivitas berlahan mengalami kenaikan.

Pada model kedua, variabel endogennya adalah TFP yang didapat dari model pertama. Selanjutnya, variabel-variabel eksogen terdiri atas skala perusahaan yang diprosikan oleh jumlah pekerja, usia perusahaan, orientasi ekspor yang diukur dengan rasio output diekspor terhadap total output, kepemilikan perusahaan yaitu kepemilikan negeri-swasta, kepemilikan asing dan kepemilikan pemerintah, dan penelitian dan pengembangan (R&D) yang diproksikan dengan pengeluaran perusahaan pada bidang R&D.

Estimasi model kedua menunjukkan adanya hubungan positif antara ukuran perusahaan dengan tingkat produktivitas. Hubungan positif terkuat ditunjukkan oleh industri makanan dan minuman, sedangkan hubungan positif terlemah ditunjukkan oleh manufaktur lain dan industri tekstil. Sebaliknya, usia perusahaan dan produktivitas menunjukkan hubungan negatif. Hal ini agaknya disebabkan oleh perusahaan usia lanjut masih menggunakan peralatan tua. Kemudian, estimasi menunjukkan perusahaan dengan orientasi produksi ekspor akan lebih produktif dibandingan perusahaan yang tidak berorientasi ekspor. Penyebab dari hubungan positif ini adalah partisipasi ekspor sebagai indikator dari kemampuan perusahaan untuk mempenetrasi pasar ekspor yang kompetitif. Selanjutnya, adanya hubungan positif yang kuat antara kepemilikan asing dan tingkat produktivitas di Indonesia pada seluruh industri.

Perusahaan asing biasanya lebih superior ketimbang perusahaan domestik dalam hal teknologi produksi dan proses produksi. Sedangkan, hubungan antara kepemilikan pemerintah dan produktivitas menunjukkan hasil yang bervariasi. Tanda negatif didapat untuk sub-sektor industri kayu, kertas, kimia, mineral nonmetal serta besi dan baja. Tanda positif didapat pada sektor makanan dan minuman, tekstil dan manufaktur lainnya. Terakhir, estimasi menunjukkan hubungan positif antara R&D dengan tingkat produktivitas kecuali pada sektor manufaktur lain. Hasil ini agaknya mengindikasikan adanya hubungan yang positif antara pengeluaran untuk evaluasi dan pengembangan dengan tingkat produktivitas perusahaan manufaktur di Indonesia.

2.4 Capaian Outcome

Capain kebijakan industri manufaktur dapat diukur dengan pertumbuhan sektor industri manufaktur.

Selama periode 2004-2009, pertumbuhan sektor industri pengolahan menurun dari 6,38% (2004) menjadi 2,21% (2009). Sektor industri pengolahan kembali tumbuh pada periode 2010-2013, pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2011 yang mencapai 6,14%.

Gambar 3: Pertumbuhan Sektor Industri Pengolahan (persen) Periode 2004-2013

Sumber: Pencapaian Kinerja KIB I dan KIB II

*) kumulatif hingga triwulan III 2013

2.5 Capaian Impact

Kebijakan industri manufaktur bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan memperbaiki kesejahteraan rakyat yang dapat diukur dari pendapatan per kapita.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukan trend menurun selama periode 2004-2009. Pertumbuhan terendah 4,6% terjadi pada tahun 2009, hal ini terkait dengan krisis ekonomi 1998. Kinerja ekonomi menunjukan perbaikan selama periode 2010-2014. Pertumbuhan ekonomi tertinggi mencapai 6.5% pada tahun 2011 yang juga sejalan dengan pertumbuhan sektor industri pengolahan tertinggi.

Tingkat kesejahteraan rakyat yang diproksikan dengan PDB per kapita menunjukan trend meningkat pada periode 2004-2013). Pendapatan per kapita tahun 2012 sebesar Rp.33,7 juta atau meningkat sekitar 3 kali lipat jika dibandingkan dengan pendapatan per kapita tahun 2004 sebesar Rp.10,5 juta.

Gambar 4: Pertumbuhan Ekonomi (persen) dan PDB per kapita (juta Rupiah) Periode 2004-2013

Sumber: Pencapaian Kinerja KIB I dan KIB II *) kumulatif hingga triwulan III 2013

3. Kesimpulan dan Rekomendasi

Pertumbuhan TFP positif sebesar rata-rata 0,22 persen pertahun selama periode 2000-2007 pada produktivitas sektor manufaktur. Variabel-variabel yang berpengaruh positif terhadap tingkat produktivitas sektor manufaktur adalah ukuran perusahaan, perusahaan dengan orientasi ekspor, perusahaan dengan kepemilikan asing, dan R&D. Namun, hanya satu variabel yang berpengaruh negatif terhadap tingkat produktivitas sektor manufaktur yaitu usia perusahaan. Sedangkan, hubungan antara kepemilikan pemerintah dan produktivitas menunjukkan hasil yang bervariasi. Tanda negatif didapat untuk sub-sektor industri kayu, kertas, kimia, mineral nonmetal serta besi dan baja. Beberapa rekomendasi berdasarkan hasil evaluasi, antara lain: (1) Mendorong perusahaan untuk mengembangkan R&D; dan (2) Memperbaharui teknologi yang digunakan industri pengolahan.

Dalam dokumen Kementerian PPN / Bappenas (Halaman 41-45)