• Tidak ada hasil yang ditemukan

Amerika dan Pemberontakan PRRI – Permesta

Dalam dokumen Suar Suroso – Akar dan Dalang (Halaman 105-107)

PKI Membela Pancasila Dasar Negara

TANGGAL 22 April 1956 dibuka sidang Konstituante Bung Karno menyampaikan pidato pembukaan dengan judul: Susunlah Undang-Undang

14. Amerika dan Pemberontakan PRRI – Permesta

DENGAN gagalnya usaha kup di pusat, kegiatan reaksi berkembang menjadi gerakan separatis petualangan militer di daerah. 20 Desember 1956,

Kolonel Achmad Husein mendirikan Dewan Banteng di Buktitinggi,

Sumatera Tengah. Tanggal 10 Februari 1958 didirikan organisasi yang bernama Gerakan Perjuangan Menyelamatkan Negara Republik Indonesia

1 5 , "'

yang diketuai oleh Letnan Kolonel Achmad Husein. Gerakan Husein ini

akhirnya 15 Februari 1958 memproklamirkan berdirinya Pemerintah

Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang berkedudukan di Bukittinggi dengan Syafruddin Prawiranegara sebagai pejabat presiden. Sebelum itu, 22 Desember 1956, Kolonel Maludin Simbolon mendirikan Dewan Gajah di Sumatera Timur, Di Manado, Sulawesi Utara 18 Februari 1957 dengan dipelopori oleh Letnan Kolonel Ventje Sumual, Mayor Gerungan, Mayor Runturambi, Letnan Kolonel D.J. Samba didirikan Dewan Manguni. Di Sumatera Selatan oleh Kolonel Harun Sohar dibentuk Dewan Garuda. Dewan-Dewan yang dipimpin oleh perwira-perwira Angkatan Darat ini mengambil sikap menentang Pemerintah Pusat. Dewan Banteng bahkan mengeluarkan ultimatum menuntut pembubaran Pemerintah Pusat. Dengan didukung oleh dewan-dewan lainnya, akhirnya tanggal 15 Februari 1958, memproklamasikan berdirinya Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Dalam Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) duduk tokoh-tokoh Masyumi dan PSI: Sjafroeddin Prawiranegara, Soemitro Djojohadikoesoemo.

Atas instruksi Presiden Eisenhower, pihak Amerika melakukan suatu operasi tertutup, artinya tidak diakui secara resmi, berbeda dengan operasi di Vietnam misalnya, untuk mendukung pemberontakan, dengan Dulles bersaudara, Direktur CIA, Allen Dulles, dan Menteri Luar Negeri, John Foster Dulles, bertindak sebagai operatornya. Keputusan untuk menjatuhkan Presiden Soekarno ini telah diambil oleh Presiden Eisenhower pada tanggal 25 September 1957, lima bulan sebelum Proklamasi PRRI” [Tim Weiner, Membongkar Kegagalan CIA: Spionase Amatiran Sebuah Negara Adidaya, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama, 2008, hal.186].

Dalam arsip CIA yang berhasil didapat oleh Weiner, ada tiga poin rencana yang akan dilakukan untuk menjalankan program penggulingan Soekarno ini, yaitu:

1. Menyediakan senjata dan bantuan militer lainnya bagi para komandan militer yang anti Soekarno.

2. Memperkuat determinasi, kemauan, dan kepaduan dari perwira- perwira pemberontak Angkatan Darat di Sumatra dan Sulawesi 3. Mendukung dan mendorong, agar bertindak baik secara sendiri-

sendiri maupun bersama-sama, elemen-elemen anti komunis dan non komunis di kalangan partai-partai politik di Pulau Jawa.

Bantuan persenjataan pertama dari Amerika untuk PRRI seperti peluncur roket, granat, senapan, dan amunisi yang cukup untuk mempersenjatai 8.000 tentara, tiba pada pertengahan Januari 1958 di

"% , .

pelabuhan Teluk Bayur, Padang. Bantuan-bantuan lain tiba secara bergelombang ke dua basis utama pemberontakan, Sumatra dan Sulawesi Utara, memanfaatkan keberadaan fasilitas dan pangkalan militer Amerika dan Inggris yang berada di Filipina, Singapura, Malaya, dan Taiwan. Derasnya bantuan dari luar negeri, khususnya AS ini disebabkan oleh sikap

konsisten anti komunis PRRI/Permesta, sebagai alasan utama

pemberontakannya.

Kerja sama Amerika dengan PRRI/Permesta ini tidak hanya dengan tokoh-tokoh militernya saja, namun juga dengan tokoh-tokoh sipil anti Soekarno dan anti komunis, termasuk tokoh-tokoh politik papan atas, khususnya dari dua partai politik, yaitu Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI), hal mana menyebabkan kedua partai tersebut dilarang oleh pemerintah pada tahun 1960. Tokoh PSI, Dr. Soemitro Djojohadikusumo, pada tanggal 15 Januari 1958 meninggalkan Sumatra Barat menuju ke Singapura dan kemudian ke Eropa Barat, untuk menggalang dana dan bantuan-bantuan lainnya dari luar negeri, termasuk upaya mendapatkan senjata. [Audrey Kahin, Dari Pemberontakan ke Integrasi, Yayasan Obor, Jakarta, 2008, hal. 322].

Seorang pilot berkebangsaan Amerika yang merupakan seorang agen CIA, Allen Pope, ditangkap setelah pesawatnya ditembak jatuh oleh pasukan Indonesia, saat ia sedang melaksanakan sebuah misi pemboman untuk kepentingan Permesta di atas perairan Maluku, pada tanggal 18 Mei 1958. Pada hari berikutnya, Direktur CIA, Allen Dulles, mengirim telegram kepada semua personel CIA yang berada di Indonesia, Filipina, Taiwan, dan Singapura, berisi perintah agar mereka segera meninggalkan posisi, menghentikan pengiriman uang, menutup jalur pengiriman senjata, memusnahkan semua bukti dan mundur teratur. [Tim Weiner, hal.194].

Selama PRRI—Permesta berkuasa, telah dibunuh sejumlah besar kader dan anggota PKI serta organisasi-organisasi revolusioner, SOBSI, Pemuda Rakyat, Perbum, CTN. Terkenal dengan peristiwa pembunuhan di kamp tahanan Situjuh, Suliki, Atar, Simun, Sumatera Barat, atas perintah Achmad Husein. Antara lain, terbunuh kawan Djamhur Hamzah, Wakil Sekretaris II Comite Provinsi PKI Sumatera Barat.

Dalam pidatonya di depan parlemen, 11 Februari 1957, D.N. Aidit menyatakan, bahwa “Kejadian-kejadian di Sumatera Utara, Sumatera Tengah, dan Sumatera Selatan, adalah rentetan kejadian yang sengaja ditimbulkan oleh sebuah partai kecil yang kalah dalam pemilihan umum yang lalu yang berhasil mendalangi sebuah partai besar dan oknum-oknum liar, yang tidak melihat kemungkinan dengan jalan demokratis dapat duduk

1 5 , ""

kembali dalam kekuasaan sentral, dan yang hanya melihat dengan jalan menggunakan saluran partai-partai lain, dengan jalan mempertajam pertentangan antara partai-partai agama dengan PKI dan PNI, dengan bikin- bikinan menimbulkan kemarahan rakyat di daerah-daerah supaya memberontak terhadap pemerintah pusat, dengan jalan mengadu-domba suku satu dengan lainnya dan dengan jalan menghasut orang-orang militer supaya memberontak kepada atasannya. Kedua: kejadian-kejadian tersebut terang sejalan dan berhubungan dengan rencana kaum imperialis, yang dipelopori oleh Amerika Serikat untuk menarik Indonesia ke dalam pakta militer SEATO.... Adalah sepenuhnya sejalan dengan rencana Amerika Serikat yang diatur oleh Pentagon (Kementerian Pertahanan) dan State Department (Kementerian Luar Negeri) Amerika Serikat, oleh ‘jenderal- jenderal’ DI/TII, serta kakitangan-kakitangan Amerika Serikat yang ada di Indonesia.” [D.N. Aidit, Konfrontasi Peristiwa Madiun (1948)—Peristiwa Sumatera (1956), PTA, Jilid II, hal.103—104].

Keterlibatan Amerika Serikat dalam peristiwa PRRI—Permesta ditunjukkan oleh kenyataan, bahwa Menteri Pertahanan Robert McNamara memberi informasi pada Presiden Johnson, bahwa program bantuan militer terutama selama masa Soekarno telah “menyumbang secara berarti bagi Tentara yang pro Amerika dan yang berani bergerak menentang PKI, begitu ada kesempatan untuk bertindak.” ["Foreign Relations of the US 1964—1968, Volume XXVI, Indonesia; Malaysia—Singapore; Philippines, U.S. Department of State, October 27, 1966]. Dalam karya-karya George Kahin ditunjukkan, bahwa intervensi CIA di Indonesia berakar pada Pemerintahan Eisenhower.

Kolonel Leroy Fletcher Prouty, (January 24, 1917 – June 5, 2001), mantan Kepala Operasi-Operasi Khusus dari Gabungan Kepala Staf dalam Pemerintahan Presiden J.F. Kennedy menulis, bahwa “pemberontakan di Indonesia yang digalakkan oleh CIA, tidaklah seperti invasi di Teluk Playa Giron, Kuba, tahun 1961, tapi adalah betul-betul satu operasi militer yang menyeluruh. Invasi di Playa Giron tahun 1961 dilakukan oleh satu pasukan kecil sekitar 1500 orang Kuba di pengasingan yang dilatih oleh CIA di Guatemala. Tetapi pemberontakan di Indonesia tahun 1958 melibatkan tidak kurang dari 42.000 pemberontak bersenjata yang didukung CIA dengan menggunakan seperangkatan bomber dan sejumlah besar pesawat pengangkut bermesin empat ditambah lagi dengan bantuan kapal selam dari Angkatan Laut Amerika Serikat. Juga melibatkan usaha bantuan pelatihan dan logistik dari pihak Filipina, Okinawa, Taiwan, dan Singapura. Tapi walaupun pakai kekuatan bersenjata yang sedemikian rupa, pemberontakan tahun 1958 seperti invasi di Playa Giron, adalah sepenuhnya gagal total.

"# , .

Angkatan Darat Soekarno mengusir pemberontak di Sumatera dan Sulawesi masuk laut.” [L. Fletcher Prouty, Indonesia 1958: Nixon, the CIA, and the Secret War, appeared in the August, 1976 issue of Gallery magazine].

Dalam dokumen Suar Suroso – Akar dan Dalang (Halaman 105-107)