OKTOBER 1953 berlangsung sidang pleno CC PKI mempersiapkan Kongres Nasional V PKI. Sidang ini memutuskan Laporan Umum CC, Rencana Program PKI, Rencana Konstitusi PKI, Soal-soal Pemilihan Umum dan Pemilihan CC baru. Setelah mendengar laporan Politbiro tentang putusan Komisi Kontrol mengenai kawan Tan Ling Djie, dan setelah membicarakan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh kawan Tan Ling Djie di lapangan ideologi, politik, maupun organisasi, sidang pleno CC memutuskan memberhentikan Kawan Tan Ling Djie dari keanggotaannya dalam CC.
Sidang memilih Kawan-Kawan D.N. Aidit, M.H. Lukman, dan Njoto masing-masing sebagai Sekretaris Jenderal, Wakil Sekretaris Jenderal I, dan Wakil Sekretaris Jenderal II. Atas permintaannya sendiri, mengingat aktivitas dan kesehatan Kawan Alimin, maka sidang pleno CC memutuskan mengganti Kawan Alimin dengan Kawan Sakirman sebagai anggota Politbiro CC PKI.
Dengan dikeluarkannya Kawan Tan Ling Djie dari CC, maka anggota CC PKI adalah:
1. Achmad Soemadi;
1 5 , %' 3. Aidit, D.N.; 4. Alimin; 5. Bachtaroeddin; 6. Djokosoedjono; 7. Lukman, M.H.; 8. Njoto; 9. Pardede, P; 10. Sakirman; 11. Sudisman, 12. Wikana; 13. Zaelani.
Politbiro CC PKI terdiri dari: Aidit, D.N.; Lukman, M.H.; Njoto; Sudisman; Sakirman.
Sekretariat CC PKI terdiri dari: Aidit, D.N.; Lukman, M.H.; dan Njoto. Sidang Pleno menyimpulkan, bahwa pikiran Kawan Tan Ling Djie sudah menguasai partai selama revolusi tahun 1945—1948 sampai permulaan tahun 1951, sehingga telah menghambat perkembangan partai. Pikiran Tan Ling Djie di bidang organisasi “menghendaki adanya Partai Kelas Buruh di luar PKI, yang anggotanya terdiri dari mereka yang pro komunis tapi tidak berani masuk
PKI.” Di bidang politik: ”mengecilkan kekuatan massa, membesarkan kekuatan
reaksi, membikin kelas buruh jauh dari soal-soal poilitik, mengutamakan perjuangan perundang-undangan dan parlementer semata-mata; di bidang ideologi adalah “subjektivisme, dengan manifestasinya sebagai aliran dogmatisme, dan empirisisme.” [Baca: Manuskrip 45 Tahun PKI, Bab V].
Maret 1954 berlangsung Kongres Nasional V PKI. Kongres mewakili 49.042 anggota serta 116.164 calon anggota. Kongres mengesahkan dokumen-dokumen yang telah disiapkan oleh Sidang Pleno CC Oktober 1953 berupa laporan politik D.N. Aidit berjudul Jalan ke Demokrasi Rakyat Bagi Indonesia, Konstitusi Baru PKI, Program PKI. Juga disahkan koreksi besar Musso, Resolusi Jalan Baru untuk Republik Indonesia. Diputuskan memperluas susunan CC hingga menjadi terdiri dari: Achmad Soemadi, D.N. Aidit, Bachtaroeddin, Djoko Soedjono, Jusuf Adjitorop, M.H. Lukman, Njoto, Noersoehoed, Peris Pardede, Sakirman, Sudisman, Karel Supit, dan M. Zaelani. Calon-calon anggota CC: Anwar A.Z., Anwar Kadir, Siswojo.
Kongres menyimpulkan bahwa Indonesia adalah negeri setengah jajahan dan setengah feodal. Untuk menjadi negeri merdeka, demokratis, makmur dan maju, maka soal yang pokok adalah mengganti pemerintah tuan-tuan feodal, dan komprador, serta menciptakan pemerintah rakyat, pemerintah demokrasi rakyat. Jalan keluar terletak dalam mengubah imbangan kekuatan
%% , .
antara kaum imperialis, kelas tuan tanah, dan borjuasi komprador di satu pihak, dan kekuatan rakyat di pihak yang lain. Jalan keluar terletak dalam membangkitkan, memobilisasi dan mengorganisasi massa, terutama kaum buruh dan kaum tani. Kongres yakin, bahwa revolusi agraria adalah hakikat revolusi demokrasi rakyat di Indonesia. Dengan suara bulat disetujui untuk tidak lagi menggunakan semboyan “nasionalisasi tanah” atau semboyan “semua tanah menjadi milik negara” tetapi semboyan yang tepat adalah “tanah
untuk kaum tani”, “pembagian tanah untuk kaum tani”, dan “milik perseorangan
tani atas tanah”.
Dalam Laporan Umum Aidit yang disahkan kongres dikemukakan, dua kewajiban partai yang sangat mendesak, yaitu menggalang front persatuan nasional dan masalah melakukan pembangunan partai. Partai harus secara benar memecahkan masalah front persatuan, masalah bersatu, dan berpisah dengan borjuasi nasional, dan masalah persekutuan kaum buruh dan kaum tani sebagai basis front persatuan. Mengenai pembangunan partai dikemukakan, bahwa kita harus mempunyai partai model Partai Komunis Uni Sovyet dan model Partai Komunis Tiongkok. Dengan tiada teori Marxisme-Leninisme tidak mungkin kita mempunyai partai yang demikian. Hanya apabila kita menguasai ilmu Marxisme-Leninisme dan mempunyai kepercayaan kepada massa, berhubungan erat dengan massa dan memimpin massa maju ke depan, hanya dengan demikian kita bisa mendobrak semua rintangan dan mengatasi semua kesulitan dan dengan demikian kekuatan kita akan menjadi tak terkalahkan.
Kongres juga mengesahkan Manifes Pemilihan Umum PKI. Manifes ini mengajukan seruan: Bersatu menuju ke kotak pemilihan untuk suatu pemerintah
demokrasi rakyat! Menjelang berlangsungnya pemilihan umum, sidang
Politbiro CC 29 September 1955 mendiskusikan secara mendalam hakikat pemerintah demokrasi rakyat dan syarat-syarat pembentukannya, maka mengambil sebuah resolusi yang mengoreksi seruan ini dengan rumusan baru: “Lewat pemilihan umum yang akan datang membentuk pemerintah koalisi nasional!
Dalam resolusi ini ditegaskan, tujuan PKI memenangkan pemilihan umum bukanlah untuk membentuk pemerintah demokrasi rakyat, tapi membentuk pemerintah koalisi nasional. Pemerintah ini tidak sama dengan pemerintah demokrasi rakyat yang menjadi tujuan dalam Program PKI. Dengan semboyan baru ini, PKI tampil berkampanye untuk mengalahkan Masyumi dan PSI yang anti-komunis, untuk memenangkan partai-partai demokratis lainnya dalam pemilihan umum. PKI memblejeti politik-politik reaksioner anti komunis dari Masyumi dan PSI. Hasil pemilihan umum
1 5 , %"
adalah: PKI tampil sebagai salah satu dari empat partai besar. PSI mengalami kekalahan besar. Pemilihan umum untuk parlemen disusul oleh pemilihan untuk anggota Konstituante. PKI tampil menghadapi pemilihan anggota Konstituante dengan semboyan Pertahankan Republik Proklamasi 1945!
Seselesainya pemilihan umum yang memberikan kemenangan bagi PKI, Juli 1956 dilangsungkan sidang pleno ke-4 CC Kongres V. Sidang menyimpulkan pengalaman dan merumuskan taktik serta politik baru demi menyelesaikan revolusi Agustus 1945 sampai ke akar-akarnya. Disimpulkan adanya tiga kekuatan, yaitu kiri, tengah, dan kepala batu; dan adanya tiga konsep mengenai penyelesaian revolusi Agustus. Maka sidang pleno CC menyimpulkan: Dengan sekuat tenaga dan tak jemu-jemunya mengembangkan kekuatan progresif, bersatu dengan kekuatan tengah, dan memencilkan kekuatan kepala batu.