• Tidak ada hasil yang ditemukan

Central Inteligence Agency (CIA)

Dalam dokumen Suar Suroso – Akar dan Dalang (Halaman 51-54)

2 “Pemerintah Bayangan”

3. Central Inteligence Agency (CIA)

CIA adalah lembaga paling penting sebagai aparat pelaksana strategi Perang Dingin. CIA beroperasi dengan jaringan yang memasuki semua bidang kehidupan sosial. Mulai dari politik, militer, ekonomi, budaya, media pers. Pada pokoknya, kegiatannya berupa operasi-operasi rahasia.

Operasi Paperclip. Dalam tulisannya A Timeline of CIA Atrocities, Steve

Kangas memaparkan: Sementara lembaga-lembaga Amerika menguber kriminal perang Nazi untuk ditangkap, badan-badan intelijen Amerika menyeludupkan mereka ke Amerika, tidak dihukum, tapi untuk dipergunakan buat melawan Uni Sovyet selanjutnya. Yang paling penting di antaranya adalah Reinhard Gehlen, tokoh mata-mata Hitler yang sudah membangun jaring mata-mata di Uni Sovyet.

' P "" 33999/ % / #3 " " %3" 7 "7 % 97 # "/ "#O P "" 33999/% / #3O/ ( P% & - #. /011 ! 2 3 - '* ())-/O %% , .

Dengan direstui Amerika, dia membangun “organisasi Gehlen”, satu jaringan pelarian mata-mata Nazi yang menghidupkan kembali kegiatan mereka di Russia. Ini termasuk perwira-perwira intelijen SS Nazi, Allfred Six dan Emil Augsburg (yang melakukan pembunuhan massal orang Yahudi), Klaus Barbie (“penjagal di Lyon”), Otto von Bolschwing (dalam holokaus bersama Eichmann), dan Kolonel SS, Otto Skorzeny (sahabat pribadi Hitler) dengan info intelijen mengenai Uni Sovyet, mengabdi bagaikan jembatan antara pembubaran OSS dan dibangunnya CIA. Uni Sovyet juga melakukan penetrasi ke dalam organisasi Gehlen. [Baca: Steve Kangas: A Timeline of CIA

Atrocities] [Steve Kangas, A Timeline of CIA Atrocities, accessed in

http://www.huppi.com/ kangaroo/CIAtimeline.html, William Blum, op.cit., p.259].

CIA didirikan atas putusan Congress dengan rumusan dari National Security Act 1947, yang ditandatangani Presiden Harry Truman. Ia adalah kelanjutan dari Office of Strategic Service (OSS) yang berfungsi dalam Perang Dunia kedua dan dibubarkan Oktober 1945 dengan fungsinya dialihkan pada Kementerian Peperangan. Sebelas bulan sebelumnya, dalam tahun 1944, pendiri OSS, William J. Donovan, mengusulkan kepada Presiden Franklin Delano Roosevelt untuk mendirikan organisasi baru yang langsung di bawah pengawasan presiden, “yang akan melakukan tugas intelijen dengan metode terbuka dan rahasia, dan bersamaan waktu akan memberikan bimbingan intelijen, menetapkan objek-objek intelijen nasional, serta menghubungkan bahan-bahan intelijen yang dihimpun oleh semua lembaga negara.

Menurut rencana ini, sebuah lembaga sipil yang kuat, terpusat harus mengoordinasi semua lembaga intelijen. Dia juga mengusulkan supaya lembaga ini mempunyai kekuasaan untuk menjalankan “operasi subversif di luar negeri” tetapi “tak punya fungsi polisi untuk pelaksanaan undang- undang, di dalam dan luar negeri.”

Dalam bulan September 1947, menurut National Security Act 1947, didirikan National Security Council (NSC) dan Central Intelligence Agency (CIA). Rear Admiral Roscoe H. Hillenkoetter diangkat menjadi direktur pertama CIA.

Petunjuk NSC mengenai Office of Special Projects, 18 Juni 1948 (NSC 10/2), memberi CIA kekuasaan untuk menjalankan operasi-operasi rahasia “melawan negara asing atau grup-grup luar negeri yang jahat, atau membantu negara-negara asing atau grup-grup, tetapi harus direncanakan dan dilaksanakan dengan demikian rupa hingga tak ada bukti yang menunjukkan tanggung jawab pemerintah Amerika mengenai hal tersebut.”

* , %"

Steve Kangas menulis, CIA mendirikan Office of Policy Coordination, dipimpin oleh Frank Wisner. Dalam piagam rahasianya ditulis bahwa tanggung jawab lembaga ini adalah termasuk “propaganda, perang ekonomi, aksi langsung preventif, termasuk sabotase, anti-sabotase, pembasmian, pemindahan-pemindahan penduduk, melakukan subversi terhadap negara- negara yang tak bersahabat dengan AS, membantu grup-grup perlawanan bawah tanah dan mendukung unsur-unsur anti-komunis setempat di dunia bebas.”

Tahun 1948 di Itali, CIA campur tangan dalam pemilihan umum. Itali menghadapi kemungkinan kemenangan kaum komunis. CIA membeli suara, berpropaganda anti-komunis, mengancam pemimpin-pemimpin oposisi, menginfiltrasi dan merusak organisasi mereka. Komunis dapat dikalahkan.

Demikian pula di Perancis. CIA bekerja sama dengan kekuatan-kekuatan anti-komunis pengikut Trotskis dan kaum sosial demokrat, mengeluarkan unsur komunis dari Pemerintah Perancis.

Hal yang sama terjadi di Indonesia. Amerika tidak tenang dengan adanya kabinet dipimpin komunis Amir Sjarifuddin. Maka berlangsung usaha penggulingan pemerintahan Amir Sjarifuddin dan realisasi Red Drive

Proposals, hingga pecahnya Peristiwa Madiun, September 1948. Dengan

menggerakkan oposisi dari partai Islam Masyumi, kabinet Amir berhasil dijatuhkan. Disusul oleh pecahnya Peristiwa Madiun. Dalam Peristiwa Madiun, sejumlah besar kader pimpinan utama PKI, termasuk Musso, Amir Sjarifoeddin, dan lain-lain, terbunuh menjadi korban.

Akhir tahun 40-an, CIA melancarkan operasi Mockingbird, yaitu mulai merekrut organisasi-organisasi perkabaran dan para jurnalis untuk menjadi mata-mata dan penyebar propaganda. Usaha ini dipelopori oleh Frank Wisner, Allen Dulles, Richard Helms, dan Philip Graham. Graham adalah penerbit The Washington Post, yang menjadi pelaku utama CIA. Sementara itu, aset media CIA termasuk ABC, NBC, CBS, majalah-majalah Time,

Newsweek, kantor perkabaran Associated Press, United Press International,

Reuters, Hearst Newspapers, Scripps-Howard, Copley News Service, dan lain-lain. Terdaftar dalam CIA paling kurang 25 organisasi dan 400 jurnalis menjadi alat CIA.

Tahun 1949, CIA membangun alat propaganda penting Radio Free Europe. Selama puluhan tahun selanjutnya, Radio Free Europe terus-menerus berpropaganda anti-komunis, anti Uni Sovyet. Siarannya adalah penuh kepalsuan, bahkan di Amerika sendiri “penerbitan transkrip siarannya adalah terlarang.” [Baca: Steve Kangas, A Timeline of CIA Atrocities].

%# , .

Tahun 1953, CIA mendalangi kup militer menggulingkan pemerintah Mossadegh yang dipilih dengan demokratis. Ini terjadi sesudah Mossadegh mengancam untuk menasionalisasi perusahaan minyak milik Inggris. CIA menggantikan Mossadegh dengan seorang diktator, Syah Iran, dengan polisi rahasianya Savak yang adalah kejam seperti Gestapo.

Dengan satu kup militer, CIA menggulingkan pemerintah Jacobo Arbenz yang dipilih secara demokratis di Guatemala tahun 1954. Arbenz mengancam menasionalisasi United Fruit Company milik Rockefeller, di mana terdapat saham Direktur CIA, Allen Dulles. Arbenz digantikan oleh Castillo Armaz, perwira didikan Amerika dan sejumlah diktator kaum kanan yang menjalankan poiitik kekerasan sampai membunuh 100.000 rakyat Guatemala selama 40 tahun.

Dalam tahun 1949, undang-undang Central Intelligence Act (Public law 81—110) memberi kuasa bagi CIA untuk menggunakan prosedur keuangan dan administratif rahasia, dan membebaskannya dari pembatasan- pembatasan biasa dalam penggunaan dana Federal. CIA juga dibebaskan dari keharusan mengumumkan “organisasi, fungsi, pejabat-pejabat, titel-titel, gaji, atau anggota pejabat yang dipekerjakan.”

CIA juga menyusun program “PL-110” untuk mengurus para pembelot dan “unsur-unsur asing penting” lainnya yang termasuk di luar prosedur imigrasi normal, demikian pula memberikan pada mereka bantuan ekonomi. Allen Dulles yang bertugas sebagai perwira kunci operasi OSS di Swiss dalam Perang Dunia kedua, menggantikan kedudukan Bedell Smith, Kepala CIA. Pada waktu itu politik Amerika didominasi oleh anti-komunisme yang keras.

Terdapat berbagai kegiatan anti-komunis. Yang paling terkemuka adalah investigasi yang digalakkan oleh Senator Joseph McCarthy dan sedang dikembangkan secara sistematik doktrin of containment, yang berasal dari gagasan George Kennan. Juga berlangsung blokade Berlin dan Perang Korea.

Sebagaimana saudaranya, John Foster Dulles, yang menjabat menteri luar negeri waktu itu, perhatian Allen Dulles sangat terpusat pada Uni

Sovyet, yaitu kesulitan-kesulitan mendapatkan informasi dari

masyarakatnya yang tertutup, hanya sangat sedikit agen-agen yang bisa menyusup untuk mendapatkan informasi, maka pemecahannya dilakukan lewat teknologi tinggi.

Sukses pertama adalah dengan menggunakan pesawat terbang Lockheed U-2, yang dapat mengambil potret dan menghimpun sinyal-sinyal elektronis dari ketinggian yang jauh. Ini telah mengungguli pencapaian teknologi pertahanan udara Sovyet. Sesudah Gary Powers tertembak jatuh oleh roket

* , %!

bumi-udara SA-2 buatan Sovyet, maka Amerika mengembangkan pesawat SR-71 menggantikan pesawat Lockheed U-2.

Tujuan utama dari CIA selama Perang Dingin adalah untuk mencuri rahasia-rahasia Sovyet, mengerahkan mata-mata. Tetapi CIA tak pernah punya orang yang dapat menyusup dalam ke Kremlin. Hanyalah segelintir mata-mata Sovyet yang secara sukarela membocorkan informasi penting, tapi mereka segera ketahuan, tertangkap dan terbunuh. [Baca: Tim Weiner, Legacy of Ashes: The History of the CIA, Publisher: Anchor, May 20, 2008].

Menggulingkan Berbagai Pemerintah. Tahun 1954—1958, perwira CIA

Edward Lansdale selama empat tahun berusaha menggulingkan pemerintah Vietnam Utara, dengan menggunakan semua cara yang kotor. CIA juga berusaha melegalisir pemerintah boneka Vietnam Selatan yang kejam dikepalai Ngo Dinh Diem. Usaha ini gagal, tak mendapat dukungan rakyat Vietnam Selatan karena pemerintah Diem anti demokrasi yang sesungguhnya, anti landreform dan anti langkah-langkah mengurangi kemiskinan. Kegagalan-kegalan CIA yang terus-menerus menyebabkan Amerika memperluas intervensi, sampai Perang Vietnam mencapai puncaknya.

Tahun 1956, Radio Free Europe menghasut rakyat Hongaria untuk memberontak sesudah disiarkannya pidato rahasia Khrusycyov mengutuk Stalin dalam Kongres ke-XX PKUS. Siaran radio itu juga menunjukkan, bahwa Amerika akan memberikan bantuan bagi rakyat Hongaria yang berjuang. Pemerintah Imre Nagy yang kanan menyatakan keluar dari Pakta Warsawa dan menyerukan agar Barat memberi bantuan. Pemerintah ini digulingkan berkat bantuan pasukan Sovyet, dan digantikan oleh pemerintah Janos Kadar yang memulihkan sistem demokrasi rakyat di Hongaria.

Tahun 1958, CIA mendukung pemberontakan bersenjata PRRI— Permesta di Indonesia. CIA membantu pemberontakan dengan pengiriman senjata dan penggunaan pesawat membom daerah Republik Indonesia, sampai pesawatnya tertembak jatuh dan pilotnya tertangkap hidup-hidup.

Militer Amerika dan CIA membantu “Papa Doc” Duvalier menjadi diktator Haiti tahun 1959. Duvalier membangun polisi pribadi “Tonton Macoutes” yang melakukan teror atas rakyat. Terbunuh 100.000 rakyat selama keluarga Duvalier berkuasa. Amerika tak ambil pusing, mengenai pelanggaran hak asasi manusia ini.

Bulan April 1961, CIA mendaratkan 1.500 orang Kuba pengasingan menginvasi di Plaja Giron untuk menggulingkan pemerintah Fidel Castro.

" , .

Operasi dengan kode “Operation Mongoose” ini gagal. Perencana invasi ini membayangkan bahwa pendaratan ini akan memicu kebangkitan perlawanan rakyat terhadap Fidel Castro. Kegagalan CIA ini menyebabkan Presiden Kennedy memecat Direktur CIA, Allen Dulles.

Tahun 1957—1973, CIA beroperasi di Laos. CIA hampir tiap tahun mensponsori kup, berusaha menegasi pemilihan-pemilihan umum yang demokratis. Masalahnya adalah: di Laos terdapat Pathet Lao, grup kaum kiri yang dapat dukungan rakyat. Akhir tahun 50-an, CIA bahkan membangun pasukan “Armee Clandestine” dari orang-orang Asia bayaran untuk menyerang Pathet Lao. Sesudah pasukan yang didanai CIA mengalami kegagalan demi kegagalan, Amerika mulai melakukan pemboman atas daerah Laos. Tapi Pathet Lao tak terkalahkan.

Tahun 1961, CIA melakukan pembunuhan atas Rafael Trujillo, diktator kejam Republik Dominika yang semenjak tahun 1930 mendapat dukungan Washington. Laba perusahaan Trujillo berkembang demikian besar, mencapai sekitar 60 persen perekonomian negeri yang menyaingi kapitalis Amerika. Karena itu dia digulingkan.

CIA mensponsori pembunuhan atas Patrice Lumumba, Perdana Menteri Republik Demokratis Kongo yang terpilih secara demokratis. Lumumba digantikan oleh Antoine Gizenga, Secretary-General Unified Lumumbist Party (Parti Lumumbiste Unifié), CIA tidak berhasil segera menggantikan Lumumba dengan orangnya. Empat tahun berlangsung kekacauan politik, akhirnya tahun 1965, di Kongo berlangsung kup militer yang didukung CIA untuk mendudukkan Mobutu Sese Seko jadi perdana menteri. Mobutu sejak semula adalah agen CIA di Kongo. Dengan kup ini Mobutu berhasil jadi penguasa Kongo yang kejam dan kaya-raya.

Tahun 1963, CIA menggulingkan Presiden Republik Dominika, Juan Bosch yang terpilih secara demokratis. Dan digantikan dengan sebuah junta militer kanan yang kejam.

Di Ekuador, CIA mendukung kekuatan militer Ekuador menggulingkan Presiden Jose Velasco yang terpilih secara demokratis. Wakil Presiden Carlos Arosemana menggantikannya. CIA menentukan orangnya untuk mengisi kedudukan kursi wakil presiden.

Kemudian CIA mendukung kup militer yang menggulingkan Presiden Arosemana, yang politiknya independen, bukan sosialis, tapi tak bisa diterima oleh Washington. Junta militer mengambil oper kekuasaan, membatalkan hasil pemilihan umum, dan mulai berlangsung pelanggaran- pelanggaran hak asasi manusia.

* , "

Oktober 1965, CIA mendalangi penggulingan Soekarno. CIA sudah

berusaha melenyapkan Soekarno semenjak tahun 1957, dengan

menggunakan berbagai usaha untuk membunuhnya, memfitnah dengan intrik seksual, serta mendukung pemberontakan PRRI/Permesta yang mendirikan republik tandingan.

Di Republik Dominika terjadi pemberontakan, rakyat memulihkan Juan Bosch sebagai presiden yang pernah dipilih. Amerika mendaratkan pasukan Angkatan Laut untuk menindas pemberontakan ini dan mendirikan pemerintahan militer. CIA memainkan peranannya di belakang layar.

Tahun 1964, CIA mendukung kup militer Brazilia menggulingkan Presiden Joao Goulart yang terpilih secara demokratis. Junta militer yang menggantikannya selama dua dasawarsa merupakan kediktatoran yang paling berlumuran darah. Jenderal Castelo Branco membangun “pasukan mati” yang pertama di Amerika Latin, yaitu gerombolan polisi rahasia yang mengejar kaum “komunis” untuk disiksa, interogasi, dan dibunuh. Sering terjadi bahwa “komunis” ini sesungguhnya hanyalah lawan politik dari Jenderal Branco. Kemudian ternyata, bahwa pasukan mati itu adalah dididik oleh CIA.

Dengan dukungan CIA, tahun 1965 Raja Yunani menggulingkan Perdana Menteri George Papandreou. Papandreou tidak berhasil dengan tangguh melindungi dan membela kepentingan Amerika di Yunani.

Tahun 1966 terjadi Peristiwa Ramparts di Amerika. Majalah radikal Ramparts mulai menyiarkan sejumlah artikel yang anti-CIA. Di antaranya ditulis bahwa CIA sudah membayar 25 juta dolar pada Universitas Michigan untuk menyewa para “profesor” buat mendidik siswa-siswa Vietnam Selatan dengan metode polisi rahasia. MIT dan universitas-universitas lainnya juga sudah mendapat pembayaran yang sama. Ramparts juga mengungkapkan bahwa National Students Association adalah organisasi front CIA. Para siswa kadang-kadang direkrut secara main sogok dan “jalan belakang”.

Tahun 1967, kup militer yang didukung CIA menggulingkan pemerintah Yunani, dua hari sebelum pemilihan umum. Yang diperkirakan akan menang adalah George Papandreou, seorang calon yang liberal. Selama enam tahun berikutnya berlangsung kekuasaan para kolonel yang didukung CIA dengan bersimaharajalelanya penyiksaan dan pembunuhan terhadap lawan-lawan politik.

Operasi Phoenix tahun 1967, mengikuti pengalaman CIA di Filipina membasmi gerilya komunis Huk Balahap. Operasi mahakejam, penuh penyiksaan dan pembunuhan. CIA membantu pejabat-pejabat Vietnam

" , .

Selatan untuk mengenal dan kemudian membunuh pemimpin-pemimpin Vietcong yang beroperasi di desa-desa Vietnam Selatan. Menurut laporan Congress tahun 1971, operasi ini telah membunuh 20.000 komunis Vietnam (Vietcong)

Tahun 1968, operasi militer di Bolivia yang dilakukan CIA berhasil menangkap pemimpin gerilya yang terkenal Che Guevara. CIA ingin

menangkap hidup untuk diinterogasi, tapi pemerintah Bolivia

membunuhnya untuk mencegah tuntutan umum dunia untuk

pengampunannya.

Tahun 1970, CIA menggulingkan Norodom Sihanouk, digantikan dengan politisi anti komunis, antek CIA, Lon Nol.

Tahun 1971, sesudah Bolivia selama lima tahun mengalami kekacauan politik, kup militer yang didukung CIA menggulingkan Presiden Juan Torres yang kiri. Selama dua tahun selanjutnya, diktator Hugo Banzer berkuasa dengan mengorbankan lebih dari 2.000 orang lawan politiknya dipenjarakan tanpa lewat pengadilan, disiksa, diperkosa, dan dibunuh.

Tahun 1973, CIA menggulingkan dan membunuh Salvador Allende, presiden beraliran sosialis yang pertama terpilih secara demokratis di Amerika Latin. Muncul masalah karena Allende menasionalisasi perusahaan-perusahaan Amerika di Chili. Maskapai ITT menyerahkan pada CIA satu juta dolar untuk keperluan kup. CIA mengganti Allende dengan Jenderal Augusto Pinochet, yang menjalankan penyiksaan dan pembunuhan ribuan penduduknya dan membasmi pemimpin-pemimpin serikat buruh dan partai politik kiri. [Baca: Tim Weiner, Legacy of Ashes: The History of the CIA, Publisher: Anchor (May 20, 2008)]

Yang di atas ini adalah sebagian dari aksi dan operasi-operasi rahasia yang digalakkan CIA semenjak berdirinya. Pembasmian kaum kiri dan penggulingan pemerintah kiri bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi sudah terjadi di banyak negeri. Ini berakar pada doktrin pembasmian komunisme – the

policy of containment—Doktrin Truman—dan gagasan rollback John Foster

Dulles. Eksekutornya, badan pelaksananya yang utama adalah CIA.

Dalam dokumen Suar Suroso – Akar dan Dalang (Halaman 51-54)