SEMENJAK diumumkannya karya Karl Marx dan Frederick Engels: Manifes Partai Komunis pada tahun 1848, borjuasi dunia mulai hidup berburu, membasmi hantu yang memusuhinya, hantu komunis yang muncul di dunia. Borjuasi disentak oleh ajaran baru, ajaran Marx yang membongkar rahasia sebab-musabab terjadinya kemiskinan yang melanda kaum pekerja. Marx dan Engels menunjukkan, bahwa borjuasi menjalankan sistem penghisapan manusia atas manusia, yang menjadi sumber kemiskinan bagi rakyat pekerja, dan menyerukan, agar kaum pekerja sedunia bersatu, bangkit berlawan, mengalahkan borjuasi yang mempraktikkan sistem penghisapan manusia atas manusia, dengan menggulingkan kekuasaan politik borjuasi dan mendirikan kekuasaan politik kelas pekerja. Inilah hantu yang mengerikan bagi borjuasi, gagasan yang bermaksud menggulingkan kekuasaan politik borjuasi.
Gagasan yang dipaparkan dalam Manifes Partai Komunis dipraktikkan oleh kelas pekerja Perancis dengan menggulingkan kekuasaan borjuis dan menegakkan kekuasaan kelas pekerja: Komune Paris, pada tahun 1871. Dengan mengerahkan kekuatan bersenjata, borjuasi Perancis berhasil menumpas Komune Paris.
Tahun 1917, di bawah pimpinan Lenin, kelas pekerja Russia berhasil
memenangkan Revolusi Oktober, menggulingkan borjuasi Rusia,
mendirikan kekuasaan politik kelas pekerja, negara diktator proletariat pertama dalam sejarah. Berdirilah Uni Republik-Republik Sovyet Sosialis
# , .
(URSS). Gagasan Manifes Partai Komunis diwujudkan dalam kenyataan,
dengan berdirinya negara diktator proletariat URSS. Usaha borjuasi dunia untuk membasmi URSS berlangsung tak henti-hentinya semenjak lahirnya URSS.
Perang Dunia kedua usai dengan kekalahan fasisme Jerman, Itali, dan Jepang. Harapan borjuasi Barat agar URSS (Uni Republik-Republik Sovyet Sosialis) ambruk dengan perang ini tidak terwujud. Malah URSS, bersama negara-negara Sekutu: Amerika, Inggris, dan Perancis tampil sebagai pemenang perang. Bahkan bermunculan negara-negara bercita-citakan sosialisme di negeri-negeri yang bebas dari kekuasaan fasisme atau dibebaskan Tentara Merah Sovyet: Albania, Bulgaria, Hongaria, Rumania, Cekoslowakia, dan Jerman Timur. Juga di daerah Balkan—Yugoslavia. Di Timur muncul Republik Rakyat Tiongkok, Republik Rakyat Demokrasi Korea, dan Republik Demokrasi Vietnam. Di Eropa, dalam pemerintahan Perancis duduk beberapa orang menteri komunis. Di Itali, Partai Komunis Itali maju dan menduduki tempat terkemuka dalam berbagai pemilihan. Pasukan gerilya rakyat di bawah pimpinan kaum komunis maju pesat di Yunani.
Perjuangan rakyat melawan penjajahan, melawan kapitalisme, membangun negara nasional yang bebas merdeka jadi mencuat di semua benua. Cita-cita sosialisme berkembang-biak di dunia. Penguasa Amerika Serikat di bawah pimpinan Presiden Harry Truman menilai perkembangan situasi ini sebagai bahaya perkembangan komunisme yang mengancam kemerdekaan Amerika. Amerika dilanda hantu histeria anti-komunisme. Demikian mengerikan bahaya ancaman komunisme itu dalam pikiran penguasa Amerika Serikat, hingga telah dibayangkan akan segera terjadi pendaratan pasukan Uni Sovyet di teritori Amerika.
Dalam Perang Dunia kedua, di bawah pimpinan Presiden Roosevelt dan Josef Stalin, terdapat kerja sama antara Amerika Serikat dan URSS sampai berlangsung Konferensi Yalta. Konferensi Yalta, kadangkala disebut Konferensi Krim dan memiliki nama sandi Konferensi Argonaut Conference, adalah sebuah konferensi menjelang usainya Perang Dunia II yang diadakan antara tanggal 4 sampai 11 Februari 1945. Konferensi ini dihadiri oleh pemimpin-pemimpin pemerintah Amerika Serikat, Uni Sovyet, dan Inggris. Mereka adalah Franklin Delano Roosevelt, Winston Churchill, dan Josef Stalin. Saat-saat menjelang wafatnya, Roosevelt tetap mempertahankan prinsip-prinsip putusan Konferensi Yalta.
”Selama perang, Roosevelt berusaha menempatkan Amerika Serikat dalam kedudukan netral, dalam posisi penengah dan wasit antara dua besar
4 , !
sekutu, Inggris dan Rusia. Dia berpendapat bahwa tak akan ada perdamaian dunia seusai perang, jika tidak berlanjut persekutuan yang kuat, tak ada saling pengertian yang mendalam dan saling percaya antara ketiga mitra besar yang sudah menempa kemenangan perang—dan terutama antara dua yang paling perkasa dari ketiga sekutu, yaitu Amerika Serikat dan Russia.” [Fred J.Cook: The War-Fare State, hal.72—73, with a foreword by Bertrand Russel, The Macmillan Company, New York, London, Third printing, 1962].
Stalin menilai baik sikap dan usaha-usaha Roosevelt, dan berterima kasih kepadanya atas bantuan yang diberikan kepada Tentara Merah Sovyet. Kekaguman dan penghargaannya pada Roosevelt dan Amerika dia tunjukkan dalam sikapnya yang bersedia menerima baik pasukan Amerika bertempur di front Rusia “di bawah komando jenderal-jenderal Amerika”. [Robert E. Sherwood, Roosevelt and Hopkins, Harper, New York, 1948].
Dalam melawan fasisme Hitler, sejak awal Perang Dunia kedua, berlangsung kerja sama antara Uni Sovyet dan Amerika Serikat. Dalam pesannya 18 Februari 1942 kepada Roosevelt, Stalin menyatakan: “Saya sudah menerima pesan mengenai penyerahan senjata-senjata bulan Januari dan Februari. Saya menggarisbawahi, bahwa sekarang ini, ketika rakyat Uni Sovyet dan tentaranya sedang menumpahkan tenaga untuk memukul mundur pasukan-pasukan Hitler dengan ofensif yang gigih, maka penyerahan tank-tank dan pesawat terbang dari Amerika Serikat adalah masalah sangat penting demi usaha bersama kita dan untuk sukses-sukses kita selanjutnya.” [Correspondence Between the Chairman of the Council of Ministers of the U.S.S.R. and the Presidents of the U.S.A. and the Prime Ministers
of Great Britain During the Great Patriotic War of 1941—1945, volume two,
Foreign Languages Publishing House, Moscow, 1957, hal.20].
Roosevelt menilai tinggi semangat rakyat Sovyet melawan fasisme Hitler. Hubungan baik dan kerja sama antara Amerika Serikat dan Uni Sovyet semenjak awal perang ditunjukkan oleh telegram-telegram pribadi sangat rahasia dari Roosevelt kepada Stalin, 16 Maret 1942: “Tuan Harriman sudah menyerahkan pada saya catatan bertanggal 3 Oktober 1941. Saya sangat menghargai berita dari Tuan. Sudah dikirim sebuah telegram kepada Tuan menasihatkan Tuan bahwa kami bisa memasukkan Uni Sovyet ke dalam pengaturan ketentuan-ketentuan pengaturan pinjam sewa. Saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk menjamin Tuan sekali lagi, bahwa kami akan berbuat semua yang mungkin untuk mengirimkan suplai ini ke garis pertempuran Tuan. Keteguhan pasukan dan rakyat Tuan untuk mengalahkan Hitlerisme adalah suatu inspirasi bagi rakyat seluruh dunia.” (Idem, hal.22).
, .
Dan selanjutnya, dalam telegram paling akhir: Roosevelt menyatakan: “Terima kasih atas keterangan Tuan yang terus terang mengenai pandangan Sovyet tentang insiden Berne, yang sekarang rasanya sudah melenyap jadi masa lampau tanpa berbuat tujuan yang berguna. Dalam setiap peristiwa, tidaklah seharusnya terjadi saling tak percaya; dan kesalah-pahaman kecil-kecilan semacam itu tidaklah seharusnya terjadi di masa depan. Saya merasa yakin, bahwa di kala pasukan-pasukan kita bersama-sama bertempur di Jerman dan dengan ofensif yang terkoordinasi sepenuhnya, pasukan-pasukan Nazi akan berantakan” (Idem, hal.214).
12 April 1945, Roosevelt wafat. Besoknya, dengan menilai tinggi jasa Roosevelt, Stalin berkirim telegram kepada Presiden Truman menyatakan: “Saya menyatakan kepada pemerintah Amerika Serikat perasaan sedih yang sangat dalam atas wafatnya dengan tiba-tiba Presiden Roosevelt. Rakyat Amerika telah kehilangan seorang tokoh, Franklin Delano Roosevelt, seorang negarawan besar terkenal di dunia dan juara perdamaian dan keamanan sehabis perang. Pemerintah Uni Sovyet menyatakan simpati yang sedalam-dalamnya kepada rakyat Amerika yang berada dalam kesedihan karena kehilangan ini, dan pada kepercayaan mereka bahwa politik kerja sama antara negara-negara besar yang sudah lahir dan memikul pukulan peperangan melawan musuh bersama akan tetap dikembangkan di masa depan” (Idem, hal.214).
Perang Dunia kedua sudah di ambang kehancuran fasisme. Roosevelt digantikan oleh Harry Truman. Lain Roosevelt, lain lagi Truman.
Admiral Wlliam Daniel Leahy, Kepala Staf Kepresidenan Roosevelt membimbing Truman semenjak hari-hari pertamanya bertugas sebagai Presiden. Leahy adalah pembantu Roosevelt dalam waktu panjang mengenai masalah-masalah Uni Sovyet. Leahy terkenal sebagai penggagas berbagai kebijaksanaan yang keras terhadap Uni Sovyet. Leahy adalah pendukung kuat kebijaksanaan “senjata dan uang”-nya Truman terhadap Yunani.
Sebelas hari sesudah wafatnya Roosevelt, mulai berlangsung ketegangan mengenai kedatangan Molotov dalam rangka persiapan Konferensi San Fransisco untuk pembentukan PBB. Truman mengira, bahwa Uni Sovyet tidak akan mengirim delegasi tingkat tinggi. Ternyata, Stalin memutuskan untuk mengirim Menteri Luar Negeri, Molotov. Menghadapi kedatangan Molotov, Truman mengadakan rapat untuk meminta pendapat mengenai cara menghadapinya. Yang hadir adalah: Menlu Edward Stettinus Jr., Menteri Peperangan Henry L. Stimson, Menteri Angkatan Laut Forrestal, Admiral Ernest, Charles Bohlen, Harriman, dan Jenderal Mayor John
4 ,
R. Deane, Kepala Misi Militer AS di Moskow. Dari antara mereka hanyalah Stimson yang mempunyai sikap kenegarawanan, dan hanya dia yang menunjukkan pandangan yang mempunyai pengertian yang dapat mencegah Perang Dingin.
Admiral Leahy yang hadir dalam Konferensi Yalta mendampingi Roosevelt berpendapat bahwa “dia meninggalkan Yalta dengan kesan bahwa pemerintah Sovyet tidak mempunyai niat untuk adanya pemerintah Polandia yang bebas, dan bahwa dia akan merasa heran jika pemerintah Sovyet bersikap lain dari itu. Tapi dia mengharapkan agar masalahnya diajukan kepada Rusia dengan sedemikian rupa bahwa pintu pemberian bantuan tidak akan tertutup.”
Forrestal mengemukakan pendapat dengan garis keras yang tanpa kompromi terhadap Russia. Dia berpendapat: “Kita harus membikin perhitungan dengan mereka sekarang juga.”
Forrestal, bersama dengan Menteri Peperangan Henry Stimson dan Wakil Menlu Joseph Grew pada awal tahun 1945, dengan kuat membela politik lebih lembut terhadap Jepang yang bisa mengizinkan perundingan perletakan senjata, suatu penyerahan yang “menyelamatkan muka”. Yang menjadi perhatian utama bagi Forrestal bukanlah kebangkitan kembali militerisme Jepang, tapi adalah “bahaya ancaman komunisme Rusia serta usahanya untuk memecah-belah, mendestabilisasi masyarakat Asia dan Eropa, dan oleh karena itu, harus mengusahakan agar Uni Sovyet jangan terlibat perang melawan Jepang.”
Pandangan-pandangan Forrestal merangsang Truman. Truman
menyatakan bahwa dia merasa “persetujuan-persetujuan dengan Uni Sovyet selama ini hanyalah bersifat satu arah,” dan ini tak dapat diteruskan. Dia menyatakan bermaksud “jalan terus dengan rencana Konferensi San Fransisco,
dan jika Rusia tidak mau ikut, mereka bisa pergi ke neraka.” [Fred J.Cook, The
War-Fare State, hal.83].
Leahy dan Bohlen adalah saksi-saksi dalam penyambutan terhadap Molotov. Pada kesempatan itu Truman tak kenal ampun mendamprat Molotov. Mengenai ini, kemudian Leahy menulis, bahwa bahasa Truman yang “blak-blakan tanpa pupur dengan sopan-santun kata-kata diplomasi” adalah “tidak menyenangkanku.” [Admiral William Daniel Leahy, I Was There, New York and London, Whittlesey House, 1950, Autobiography].
Sikap Uni Sovyet yang menampilkan goodwill dibalas dengan tampikan kasar. Ini sulit menjadi dasar persahabatan selanjutnya. “Jika suatu tanggal ditetapkan menjadi awal Perang Dingin, maka tanggal inilah yang dipakai—23 April 1945, sebelas hari sesudah wafatnya Roosevelt.” [Fred Cook , Idem, hal.84].
,