• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

Dalam dokumen KAJIAN ANALISIS USAHA TANI INTEGRASI P (Halaman 188-200)

Oleh : Deswita Rosra

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

Koefisien determinasi mencerminkan seberapa besar variabel terikat dapat diterangkan oleh variabel bebas. Hasil regresi CG terhadap firm value. Hal ini menunjukkan bahwa 5,1% firm value dapat dijelaskan oleh CG yang dilakukan oleh perusahaan, sedangkan sisanya sebesar 94,9% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam pengujian.

Hasil pengolahan data pengaruh variabel SIZE_DK terhadap firm value menunjukan t-statistic sebesar -0,064 dan signifikan pada 0,339. Nilai signifikansi tersebut berada jauh di atas 0.05, dengan demikian hipotesis 1a ditolak. Temuan ini tidak sejalan dengan temuan Guo dan Yeh (2009) yang menemukan bahwa terdapat hubungan positif antara ukuran Dewan Komisaris terhadap firm value yang diukur dengan Tobin’s q. Hal ini membuka kemungkinan bahwa dengan banyaknya dewan komisaris menyebabkan semakin efektif karena ketika ukuran Dewan Komisaris yang besar menyebabkan semkin banyak ide yang baik yang dapat diaplikasikan mengarahkan serta mengendalikan dalam manajemen perusahaan.

Jika dilihat pada data rerata jumlah dewan komisaris sebesar 4,5991, maka dapat disimpulkan bahwa mayoritas perusahaan publik di Indonesia sudah memenuhi ketentuan Bapepam (Saat ini Otoritas Jasa Keuangan). Bapepam mensyaratkan sekurang kurangnya 3 orang dewan komisaris. Hal ini mengindikasikan bahwa dewan komisaris pada perusahaan di Indonesia tidak menjalankan fungsinya secara optimal sehingga tidak signifikan mendorong manajemen meningkatkan firm value. Hal ini juga mengindikasikan bahwa para pelaku pasar modal tidak menganggap penting size dewan komisaris dalam pertimbangan investasinya.

Hasil pengolahan data pengaruh variabel PROP_DK terhadap firm value menunjukan t-statistic sebesar 3,096 dan signifikan pada 0,002. Nilai signifikansi tersebut berada di bawah 0.05, dengan demikian hipotesis 1b

diterima. Hasil penelitian ini mendukung temuan C. Chan dan Li (2008)

yang menemukan bahwa keberadaan komisaris independen meningkatkan

firm value yang telah diperkuat penelitian Guo dan Yeh (2009) yang menemukan bahwa terdapat hubungan positif antara proporsi Dewan Komisaris Independen terhadap firm value yang diukur dengan

menggunakan Tobin’s q. Namun temuan ini tidak sejalan dengan

penelitian yang dilakukan oleh Chhaochharia dan Grinstein (2007) menyatakan tidak terdapat pengaruh antara proporsi Dewan Komisaris Independen terhadap firm value.

Dari hasil temuan ini dapat pula dilihat adanya indikasi bahwa investor dipasar modal Indonesia menganggap penting keberadaan dewan komisaris independen didalam perusahaan. Hal ini juga mengindikasikan bahwa dewan komisaris independen di Indoesia cukup berfungsi dalam mendorong manajemen agar lebih meningkatkan firm value.

Hasil pengolahan data pengaruh variabel SIZE_KA terhadap firm value menunjukan t-statistic sebesar 2,084 dan signifikan pada 0,038. Nilai signifikansi tersebut berada di bawah 0.05, dengan demikian hipotesis 1c

Macfoed (2006) di Indonesia, C. Chan dan Li (2008) pada perusahaan

Fortune 200 dan Linda at al (2011) di Indonesia dimana size komite audit

meningkatkan firm value. Hasil tersebut dapat pula mengindikasikan bahwa investor dipasar modal telah merespon dan menganggap penting

size komite audit didalam perusahaan saat melakukan investasi. Selain hal

tersubut didepan temuan penelitian ini juga mengindikasikan berfungsinya komite audit dalam meningkatkan firm value.

Hasil pengolahan data pengaruh variabel PROP_KA terhadap firm value menunjukan t-statistic sebesar 0,761dan signifikan pada 0,390. Nilai signifikansi tersebut berada di atas 0.05, dengan demikian hipotesis 1d

ditolak. Hasil temuan ini tidak sejalan dengan hasil penelitian C. Chan

dan Li (2008) yang menemukan bahwa terdapat hubungan poitif antara

persentase komite audit independen dengan Tobin’s q. Temuan penelitian ini juga tidak sejalan temuan Guo dan Yeh (2009) yang menemukan bahwa terdapat hubungan positif antara proporsi Komite Audit Independen terhadap rasio nilai buku pasar yang semkin tinggi.

Hal ini mengindikasikan bahwa investor dipasar modal di Indonesia tidak menganggap cukup penting ada atau tidaknya komite audit independen. Temuan ini juga mengindikasikan bahwa komite audit independen tidak cukup memberikan perannya dalam mendorong peningkatan firm value.

Hasil pengolahan data pengaruh variabel KOMP_KA terhadap firm value menunjukan t-statistic sebesar 0,988 dan signifikan pada 0,463. Nilai signifikansi tersebut berada di atas 0.386, dengan demikian hipotesis 1e

ditolak. Temuan ini tidak sejalan dengan logika teori agensi. Terori agensi

dalam kaitannya dengan kompetensi komite audit yang dilihat melalui latar belakang pendidikan komite audit memberikan gambaran bahwa semakin sesuai pendidikan komite audit (akuntansi atau keuangan) dapat memberikan masukan kepada komisaris mengenai berbagai informasi dari manajemen dan selanjutnya berdampak pada meningkatnya firm value. Hal ini mengindikasikan bahwa investor tidak memperhatikan atau tidak menganggap penting kompetensi komite audit perusahaan dalam berinvestasi. Selain itu temuan ini mengindikasikan bahwa komite audit belum optimal dalam memberikan masukan bagi perusahaan.

Analisis pengaruh Board Governance terhadap Corporate Social Disclosure.

Hasil regresi menunjukkan nilai Adjusted R Square model persamaan regresi pertaman sebesar 6.7% menunjukan bahwa 7,1% firm value dapat dijelaskan oleh CG yang dilakukan oleh perusahaan, sedangkan sisanya sebesar 92,3% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam pengujian,

Hasil pengolahan data pengaruh variabel SIZE_DK terhadap CSD menunjukan t-statistic sebesar 3,041 dan signifikan pada 0,003. Nilai signifikansi tersebut berada jauh di atas 0.05, dengan demikian hipotesis 2aditerima.Temuan juga sejalan dengan pemikiran yang dilandasi oleh teori agensi dimana semakin besar jumlah anggota dewan komisaris,

semakin efektif dalam memonitor aktivitas manajemen (Collier dan Gregory, 1999). Selain itu temuan ini juga sejalan dengan Sembiring (2005) yang menemukan bahwa ukuran dewan komisaris berpengaruh positif signifikan terhadap CSD.

Hasil penelitian ini juga menunjukkan adanya indikasi bahwa dewan komisaris telah memiliki kepedulian terhadap praktik CSD. Disamping itu juga menunjukkan bahwa semakin besar ukuran dewan komisaris dapat mendorong manajemen untuk mengungkapkan praktik CSD yang dilakukan perusahaan. Adapun salah satu tujuannya adalah agar mendapat apresiasi positif dari stakeholder utamanya calon investor maupun pemegang saham.

Hasil pengolahan data pengaruh variabel PROP_DK terhadap CSD menunjukan t-statistic sebesar -0,552 dan signifikan pada 0,699. Nilai signifikansi tersebut berada di atas 0.05, dengan demikian hipotesis 2b

ditolak.Temuan ini berbeda dengan hasil penelitian Ho dan Wong (2001)

di Hongkong yang membuktikan bahwa proporsi komisaris independen berpengaruh positif terhadap tingkat keluasan pengungkapan termasuk pengungkapan sosial dan lingkungan. Selain itu temuan ini juga berbeda dengan hasil penelitian dilakukan oleh Andayani et., al. (2008) yang menemukan bukti bahwa proporsi komisaris independen berpengaruh positif terhadap pengungkapan sosial dan lingkungan.

Hal ini mengindikasikan bahwa dewan komisaris independen belum memiliki kesadaran yang cukup mengenai pentingnya CSD. Proporsi komisaris independen yang semakin besar tidak berpengaruh terhadap

CSD juga mengindikasikan komisaris independen belum menjalankan

tugasnya secara optimal khususnya dalam mendorong manajemen untuk menjalankan praktik CSD.

Hasil pengolahan data pengaruh variabel SIZE_KA terhadap CSD menunjukan t-statistic sebesar 2,049 dan signifikan pada 0,042. Nilai signifikansi tersebut berada di bawah 0.05, dengan demikian hipotesis 2c

diterima.Temuan ini sejalan dengan pernyataan Forker (1992) bahwa komite audit dapat meningkatkan pengendalian internal sehingga dapat meningkatkan kualitas pengungkapan termasuk CSD didukung secara empiris dengan hasil penelitian yang dilakukannya. Selain itu sejalan pula dengan temuan Collier (1992) yang menyatakan bahwa komite audit mempunyai fungsi untuk meningkatkan kualitas laporan keuangan dan sebagai sistem pengendalian yang didukung oleh penelitian Ho dan Wong (2001) yang menunjukkan adanya pengaruh positif antara ukuran komite audit dan luas pengungkapan.

Selain hal tersebut diatas temuan ini mengindiasikan bahwa komite audit telah menjalankan tugasnya dengan baik dalam kaitannya dengan CSD. Dapat pula dilihat adanya sinyal bahwa manajemen terdorong oleh komite audit dalam menjalankan praktik CSD.

Hasil pengolahan data pengaruh variabel PROP_KA terhadap CSD menunjukan t-statistic sebesar 2,175 dan signifikan pada 0,031. Nilai

signifikansi tersebut berada di bawah 0.05, dengan demikian hipotesis 2d

diterima.Temuan ini mendukung pernyataan serta temuan yang

didasarkan pada teori agensi. Antara lain Forker (1992), yang menemukan bahwa komite audit dapat meningkatkan pengendalian internal sehingga dapat meningkatkan kualitas pengungkapan termasuk CSD

Sejalan pula dengan Penelitian McMullen dan Raghunandan (1996) memberikan dukungan untuk pengaruh komite audit terhadap pelaporan keuangan. Selanjutnya Ho dan Wong (2001) dan Yuen. et al (2009) yang membuktikan bahwa komite audit independen signifikan dan positif berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan sukarela.

Hal ini berarti pula menunjukkan bahwa komite audit independen mendapat respon positif manajemen untuk meningkatkan CSD. Selain itu hal ini mengindikasikan bahwa komite audit independen telah menjalankan fungsinya dengan efektif sehingga dapat berpengaruh positif terhadap CSD.

Hasil pengolahan data pengaruh variabel KOMP_KA terhadap CSD menunjukan t-statistic sebesar 1,574 dan signifikan pada 0,117. Nilai signifikansi tersebut berada di atas 0.05, dengan demikian hipotesis 2e

ditolak.Temuan ini bertentangan dengan hasil penelitian Abbott (2000),

Agrawal dan Chadha (2005), Krishnan dan Visvanatara (2008), Reeb dan Zhao (2009). Temuan ini juga bertentangan dengan pernyataan Mc Daniel et al. (2002) yang menggaris bawahi bahwa komite audit yang ideal adalah komite dengan anggota yang memiliki pengetahuan dibidang akuntansi dan proses audit untuk meningkatkan pemahamann mereka dalam hal proses pelaporan keuangan, mengenali permasalahan dan menanyakan permasalahan yang terjadi kepada manajemen dan auditor.

Hasil ini mengindikasikan bahwa komite audit berlatar belakang pendidikan akuntansi dan atau bisnis kurang memiliki kepedulian yang lebih tinggi dibanding yang berlatar belakang non akuntansi dan atau bisnis. Jika komite audit yang berlatar belakang pendidikan akuntansi dan atau bisnis memiliki kepedulian yang lebih maka dapat mendorong manajemen untuk meningkatkan CSD lebih baik, sehingga hasilnya secara statistik akan berpengaruh positif.

Analisis Pengaruh Corporate Social Disclosur Terhadap Firm

Hasis regresi menunjukkan nilai Adjusted R Square model persamaan regresi sebesar 0,013. Hal ini menunjukan bahwa 1,3% firm value dapat dijelaskan oleh CSD yang dilakukan oleh perusahaan, sedangkan sisanya sebesar 98,7% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam pengujian ini

Hasil pengolahan data pengaruh variabel CSD terhadap firm value menunjukan t-statistic sebesar 1,975 dan signifikan pada 0,050. Nilai signifikansi tersebut sama dengan 0.05, dengan demikian hipotesis 3

diterima.Temuan ini mendukung hasil penelitian Hackson dan Milne

perusahaan tersebut akan mendapatkan respon positif dari investor untuk berinvestasi dan dapat meningkatkan firm value. Hal ini sejalan dengan hasil temuan Suhardjanto dan Nugraheni (2010) yang menemukan bahwa

CSD dalam laporan tahunan perusahaan public di Indonesia berpengaruh

positif signifikan terhadap firm value baik pada tahun yang sama maupun satu tahun setelah pengungkapan dilakukan. Selanjutnya mendukung temuan Servaes dan Tamayo (2013) menemukan bahwa CSD berpengaruh positif terhadap firm value untuk perusahaan dengan kesadaran pelanggan yang tinggi

Hal ini berarti setiap kenaikan CSD mendapat respon pelaku pasar dalam pertimbangan berinvestasi. Selain itu hal ini mengindikasikan pelaku pasar modal telah merespon positif informasi CSD, sehingga kenaikan CSD memiliki pengaruh positif signifikan terhadap firm value.

Analisis Corporate Social Disclosure Memediasi Pengaruh Corporate Governance terhadap Firm Value

Hasil regresi menunjukkan nilai Adjusted R Square model persamaan regresi keempat diatas menunjukkan angka sebesar 0,065. Hal ini menunjukan bahwa 6,5% firm value dapat dijelaskan oleh board governance dengan mediasi

CSD yang dilakukan oleh perusahaan, sedangkan sisanya sebesar 93,5%

dijelaskan oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam pengujian ini.

Adapun data tingkat signifikansi sebelum dan sesudah CSD dimasukkan dalam analisis adalah sebagai berikut:

• Nilai signifikansi SIZE_DK dalam analisis pengaruh Board Governance terhadap CSD secara langsung sebesar 0,003, CSD

berpengaruh positif signifikan terhadap Firm Value sedangkan nilai signifikansi SIZE_DK hasil analisis pengaruh Board Governance terhadap Firm Value dengan CSD sebagai variabel mediasai 0,173 (tidak signifikan). Hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa SIZE_DK mediasai sempurna (perfect mediation) pengaruh Board

Governace terhadap Firm Value, dengan demikian hipotesis 4a

diterima

Hipotesis 4b yang menduga bahwa pengaruh proporsi dewan komisaris independen terhadap firm value dimediasi oleh Corporate

Social Disclosure, tidak diterima. PROP_DK dalam pengaruh Board Governance terhadap CSD tidak signifikan, nilai signifikasinya 0,699

sehingga jelas tidak memediasi pengaruh Board Governance terhadap

Firm Value

• Nilai signifikansi SIZE_KA dalam analisis pengaruh Board Governance terhadap CSD secara langsung sebesar 0,038, CSD

berpengaruh positif signifikan terhadap Firm Value sedangkan nilai signifikansi SIZE_KA hasil analisis pengaruh Board Governance terhadap Firm Value dengan CSD sebagai variabel mediasai 0,068 (signifikan menurun). Hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa

Governace terhadap Firm Value dengan demikian hipotesis 4c

diterima.

• Nilai signifikansi PROP_KA dalam analisis pengaruh Board Governance terhadap CSD secara langsung sebesar 0,031, CSD

berpengaruh positif signifikan terhadap Firm Value sedangkan signifikansi PROP_KA hasil analisis pengaruh Board Governance terhadap Firm Value dengan CSD sebagai variabel mediasai 0,544 (tidak signifikan). Hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa PROP_KA mediasai secara sempurna (perfect mediation) pengaruh

Board Governace terhadap Firm Value, dengan demikian hipotesis 4d

diterima.

Hipotesis 4e KOMP_KA dalam pengaruh Board Governance terhadap

CSD nilai signifikasinya 0,117 (tidak signifikan) sehingga jelas tidak

memediasi pengaruh Board Governance terhadap Firm Value.

Kesimpulan.

Kesimpulan yang dapat diambil dari analisis pengaruh board governance terhadap firm value adalah bahwa, proporsi komisaris independen, dan size komite audit mampu menjadi variabel yang berfungsi sebagai mekanisme perusahaan guna mendorong manajemen untuk meningkatkan firm value. Temuan ini memberikan bukti bahwa sebuah konsep (dalam hal ini CG dimana dalam penelitian ini difokuskan dalam Board Governance) dapat secara langsung mempengaruhi firm value artinya, Board Governance memiliki peran secara langsung dalam meningkatkan firm value.

Dapat disimpulkan pula, bahwa motivasi, tekanan dan dorongan yang diakibatkan oleh board governance dalam hal ini proporsi komisaris independen, dan size komite audit terhadap majemen berpengaruh meningkatkan firm value. Adanya dua proksi yang berpengaruh ini, menunujukkan bahwa hasil penelitian ini medukung teori agensi dimana kontrol dari board governance diperlukan guna meningkatkan firm value.

Hasil analisis pengaruh board governance terhadap CSD menunjukkan unsur board governance yang signifikan dalam mendorong, menyarankan, memotivasi serta mengontrol manajemen dalam mempraktikkan CSD adalah dewan komisaris, komite audit dan komite audit independen. Adanya tiga proksi yang berpengaruh signifikan, menunujukkan bahwa hasil penelitian medukung teori agensi dimana kontrol dari board governance diperlukan guna meningkatkan praktik CSD.

Hasil analisis yang menguji pengaruh CSD terhadap firm value,

menunjukkan bahwa CSD berpengaruh terhadap firm value. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan adanya indikasi bahwa CSD medapatkan perhatian dari para pelaku pasar modal dalam merespon saham perusahaan terbukti. Hasil tersebut medukung teori agensi dimana ketika asimetri informasi semakin sedikit semakin meningkatkan kepercayaan prinsipal terhadap agen serta dapat meningkatkan firm value.

Hasil analisis yang menguji apakah CSD memediasi pengaruh board

parsial pengaruh SIZE_KA (Size Komite Audit) serta memediasai secara sempurna SIZE_DK (Size Dewan Komisaris), dan PROP_KA (Proporsi Komite Audit Independen) terhadap firm value. Artinya bahwa CSD memediasai pengaruh board governance terhadap firm value. Temuan ini mendukung logika berfikir bahwa sebuah konsep bisnis (dalam hal ini CG yang dalam penelitian ini difukuskan pada board governance) dapat berpengaruh terhadap firm value dimediasi oleh pelaksanaan prinsip dari konsep tersebut (dalam hal ini prisnsip tranfaransi dari CG) yang dalam penelitian ini difokuskan pada CSD. Memperhatikan temuan pertama dan terakhir dalam kesimpulan ini maka dapat pula disimpulkan bahwa Board Governance dapat secara langsung maupun dimediasi CSD dalam pengaruhnya terhadap firm value.

Dua dari lima proksi Board Governance yang membuktikan pengaruh langsung terhadap firm value serta tiga dari lima proksi Board Governance yang pengaruhnya dimediasai CSD, mengindikasikan bahwa pengaruh langsung Board

Governance terhadap CSD menjadi lebih kuat jika Board Governance telah

membuktikan dengan menjalankan prinsip-prinsipnya, dalam hal ini transfaransi dimana dalam penelitian ini difokuskan pada CSD.

Saran

Adapun saran yang peneliti rekomendasikan untuk penelitian mendatang adalah:

1. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dalam kondisi kesadaran praktik

CSD yang sama dimana tingkat yang rendah maupun kesadaran praktik CSD yang tinggi, dengan menggunakan alat ukur yang berbeda baik untuk

penghitungan firm value maupun pengukuran CSD. Hasil temuan diharapkan dapat mendukung temuan ini atau bahkan menolak. Hal ini dapat memperluas kajian serta temuan tentang pengaruh Board Governance, CSD maupun firm value.

2. CSD merupakan salah satu pelaksanaan prinsip transfaransi yang luas. Luasnya prinsip transfaransi membuka peluang dikembangkan penelitian mendatang pada pengungkapan-pengungkapan baik mandatory disclosure maupun voluntary disclosure lainnya dalam posisi sebagai mediasi.

3. CG merupakan sebuah konsep yang luas. Penelitian ini fokus pada Board

Governance sebagai salah satu bagian dari CG oleh sebab itu, penelitian

mendatang dapat mengembangkan pada proksi CG yang lain.

Implikasi

Hasil penelitian ini menunjukkan adanya implikasi, baik implikasi praktis, implikasi teoritis.

Implikasi Teoritis

Penelitian ini menemukan bahwa CSD memediasi pengaruh Board

Governance ke firm value, meskipun mediasinya tidak terjadi pada semua

proksi Board Governance. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh Board

Governance terhadap firm value tidak hanya terjadi secara langsung tetapi

dari hasil penelitian ini perlu pengembangan dengan penelitian lebih lanjut baik pada variabel mediasi yang sama (CSD) maupun variabel mediasi yang berbeda. Penelitian lanjutan dimaksudkan untuk lebih memastikan apakah pengaruh Board Governance tehadap firm value dimediasi oleh

CSD maupun pengungkapan yang lain atau variabel yang bukan

pengungkapan lainnya.

Implikasi Praktis.

Penelitian ini memberikan konfirmasi bahwa CSD memediasi pengaruh Board Governance terhadap firm value. Berarti pula bahwa

Board Governance saja tidak cukup untuk meningkatkan firm value. Oleh

karena itu adalah penting bagi perusahaan dalam hal ini pemilik, manajemen, dewan komisari dan komite audit untuk memperhatikan CSD dalam rangka mencapai tujuan strategis perusahaan yaitu firm value yang optimal. Penelitian ini juga mengkonfirmasi bahwa teori agensi sesuai digunakan untuk menjadi dasar dalam penelitian sosial.

Implikasi Penelitian Selanjutnya

Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dalam kondisi yang sama dimana tingkat kesadaran CSD yang rendah maupun dalam kondisi yang berbeda dimana tingkat kesadaran CSD sudah baik, dengan menggunakan alat ukur yang berbeda atau sama untuk firm value maupun CSD. Hasilnya kemungkinan mendukung temuan ini atau bahkan menolak. Hal ini dapat memperluas kajian serta temuan tentang Board Governance, CSD maupun

firm value

REFERENSI

Achmad, T., 2012. Dewan Komisaris dan Transparansi: Teori Keagenan atau Teori Stewardship, Jurnal Keuangan dan Perbankkan. 16 (1) 1-12.

Adams, C.A; Hill, W.Y., dan Robert, C.B., 1995, Environmental, employee and

ethical reporting in Europe. AACA. London.

Adam, C.A., 2004. ‘The Ethical, Social and Environmental Reporting- Performance Portrayal Gap’,Acounting, Auditing and Acountability Journal. 17 (5): 731-757

Alipour, M., 2013. "An investigation of the association between ownership structure and corporate performance: Empirical evidence from Tehran Stock Exchange (TSE)", Management Research Review, 36 (11): 1137 - 1166

Alreck, P.L. dan Settle, R.B. 1995. The survey research handbook. Second Edition, Boston: Irwin.

Amaratunga, R.D.G., Baldry, D., Sarsha, M., dan Newton, D. R., 2002. Qualitatif

and quantitative research in the buitl environment: Aplication of “mixed” research approach, International Journal of Productivity and Performance

Management, 51 (1) 17-31.

Andayani, W; Atmini, S., dan Mwangi, J.K., 2008. Corporate Social

Responsibility, Good Governance and the Intelectual Property: An

Exsternal Strategy of the Mangement to Increase the Company’s Value. National Conference on Management Research. Makasar.

Anggraeni, F. dan Retno, R. 2006. Pengungkapan informasi sosial dan faktor- faktor yang mempengaruhi pengungkapan informasi sosial dalam laporan keuangan tahunan (studi empiris pada perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta), Makalah disampaikan pada Simposium

Nasional Akuntansi IX, Padang, 23-26 Agustus 2006.

Arens, A.A., Elder, R.J., dan Beasley, M.S., 2002. Auditing and Assurance

Service, 12 th Edition., Prentice Hall, by Person Education, Inc.

Ballou, B; Heitger, D.L., dan Landes, C. E., 2006. ‘The Future of Corporate Sustainability Reporting’,Journal of Accountancy. 202 (6): 65-74.

Barney, J.B., 1990. The debate between traditional management theory and organizational economics Subtantive differences or intergroup conflict?,

Academy of Management Review. 15:382-393.

Belkaoui, A. dan Karpik, P. G., 1989. Determinants of The Corporate Decision To Disclose Social Information, Accounting, Auditing and Accountability

Journal (2): 36-51.

Berle , A. A. dan Means, G. C. 1934. The Modern Corporation and Privat

Property, Originally Publised in 1932. New editiond-second printing 1997,

Transaction Publisher, New Jersey.

Beasley, M., S. dan Salterio, S. 2001. The Relationship Between Board Characteristics and Voluntary Improvements in Audit Committee Composition and Experience. Woking Paper. North Carolina State University-Queen's University - School of Business. http://ssrn.com/abstract=272590

Blair, M. 1995. “Ownership and control: Rethinking Corporate Governance for the Twenty-First Century”, Brookings, Washington.

Burrell, G. Dan G. Morgan., 1979. Social Paradigms and Organisational

Analysis: Elememnt of The Sociology of Corporate Life. Heinemann

Bursa Malaysia. 2006. CSR frameworks for Malaysian PLCs.

www.bursamalysia.com. Oktober,10.2012.

Cadbury, A., 1999. What Are the Trends in Corporate Governance? How will they Impact Your Company? Long Range Planning. 32 (1): 12-19.

Carcello, J. V., dan Neal. T. L., 2002. Disclousure in audit committee

characteristics report. Accounting Horizon 16 (4): 291-304.

Carroll, A. B. 1983. Corporate social responsibility: Will industry respon to cut-

Dalam dokumen KAJIAN ANALISIS USAHA TANI INTEGRASI P (Halaman 188-200)