• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Pustaka dan Pengembangan Hipotesis

Dalam dokumen KAJIAN ANALISIS USAHA TANI INTEGRASI P (Halaman 66-68)

TOTAL ASSETS TURN OVER TERHADAP RETURN ON INVESTMENT

IMPLEMENTASI RULES AND DISCRETION POLICY DALAM PENGELOLAAN SEKTOR MONETER DI INDONESIA

2. Kajian Pustaka dan Pengembangan Hipotesis

Keinginan konsumen membeli produk bajakan tidak lepas dari keyakinan mereka terhadap suatu produk. ‘The Theory of Planned Behavior’ (Ajzen and Fishbein 1980, p.16) merupakan pengembangan the Theory of Reason

Action dengan memperhitungkan control perilaku (perceived behavioral control) sebagai sebuah determinan untuk menyatakan kecenderungan melakukan sebuah perilaku dan melaksanakan perilaku tersebut. Theori ini menyebutkan bahwa kecenderungan perilaku seseorang dipandang sebagai fungsi dari tiga faktor: sikap seseorang terhadap perilakunya, sikap seseorang terhadap norma subjektifnya dan sikap seseorang terhadap control perilakunya. Dalam hubungannya dengan penelitian ini, sikap seseorang untuk melakukan tindakan merefleksikan sikap konsumen membeli produk bajakan, sikap terhadap norma subjekif merefleksikan sikap patuh hukum seseorang, kesadaran adanya fungsi control dalam bertindak merefleksikan penghayatan beragama konsumen, kecenderungan seseorang untuk melakukan sebuah tindakan merefleksikan kecenderungan konsumen melakukan pembelian produk bajakan, dan melaksanakan sebuah tindakan merefleksikan melakukan pembelian produk bajakan.

2.1 Aspek Ketaatan Beragama

Penghayatan keberagamaan dapat didefinisikan sebagai kepercayaan kepada Tuhan yang diikuti dengan komitmen menjalankan prinsip-prinsip ajaran Tuhan (McDaniel & Burnett 1990; and Vitell, Paolillo & Singh 2005). Penghayatan keberagamaan ini diketahui memiliki pengaruh yang signifikan terhadap sikap dan perilaku seseorang. Sikap dan perilaku ini dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Tuhan yang terinternalisasi secara konsistensesuai dengan harapan-harapan yang telah dijanjikan dalam konsep berketuhanan (Weaver & Agle 2002). Menurut Alport (1950) motivasi manusia mehayati keagamaannya dapat di bedakan dalam dua sisi, penghayatan agama secara ekstrinsik dan penghayatan agama secara intrinsic. Secara ekstrinsik, penghayatan keagamaan manusia masih dalam level attributif, yaitu memandang agama sebagai sebuah symbol dan menggunakannya kepentingan hidupnya. Sedangkan secara intrinsic, pengahayatan keagamaan manusia dengan

memandang agama sebagai ‘the way of life’ (Aport & Ross 1967; and Vitell, Paolillo & Sink 2005). Temuan

Vitell & Paolillo (2003) menyebutkan juga bahwa penghayatan beragama secara intrinsic menjadi determinan keyakinan konsumen, tetapi beragama secara ekstrinsik tidak memiliki hubungan dengan keyakinan konsumen. Keyakinan dan perilaku dalam berbagai situasi dalam muncul menjadi intuisi seseorang.

Functionalist Theory dalam sosiologi mencatat bahwa agama dengan normanya dapat mengurangi konflik dan memperkuat sangsi terhadap perilaku antisocial (Vitell, Paolillo & Singh 2005). Karenanya para pendukung teori fungsional ini mengatakan bahwa penghayatan beragama menjadi determainan yang sangat kuat terhadap tata nilai (values) kita daripada predictor yang lain (Huffman 1988). Sehingga sangatlah penelitian ini ingin menguji hubungan penghayatan beragama sebagai fungsi kontrol dalam bertindak dan dalam berniat melaksanakan pembelian produk bajakan.

H1a: Semakin tinggi ketaatan beragama maka semakin rendah niat membeli software bajakan. H1b: Semakin tinggi ketaatan beragama maka semakin rendah niat membeli CD musik bajakan.

H2a: Semakin tinggi ketaatan beragama maka semakin tinggi perasaan bersalah karena membeli software bajakan.

H2b: Semakin tinggi ketaatan beragama maka semakin tinggi perasaan bersalah karena membeli CD musik bajakan.

2.2 Sikap terhadap patuh hukum dan sikap terhadap pembelian produk bajakan

Keinginan membeli produk bajakan merupakan perilaku yang non-normatif. Sikap Konsumen terhadap perilaku non-normatif berbeda dengan kejahatan khusus (Cordell et al. 1996). Perilaku non-normatif meliputi kejahatan

menghitung jumlah uang yang harus dibayar atau membiarkan kesalahan harga produk yang seharusnya lebih mahal (Jolson 1974). Keterlibatan konsumen dalam perdagangan produk bajakan disuport oleh moral competency theory (Kohlberg (1976) yang menyebutkan bahwa perilaku seseorang dikendalikan oleh sense keadilan yang bersifat subjektif. Selanjutnya, menggunakan the attitude model of legal socialization, Emler & Reicher (1987) sudah menemukan hubungan secara umum antara sikap terhadap otoritas institusional dan perilaku yang baik terhadap peraturan institusional. Model ini mengklarifikasi hirarki dari dampak hubungan antara sikap dan perilaku dalam kawasan hukum (Cordell et al 1996).

Dengan alasan di atas, dikaitkan dengan studi sebelumnya seperti Kohlberg (1976), Emler & Reicher (1987), Cordell et al. (1996) dan Chan et al. (1998), penelitian ini mengindikasikan bahwa sikap terhadap patuh hukum mempengaruhi secara signifikan partisipasi konsumen di dalam perdagangan produk bajakan. Oleh karena itu, hipotesis sikap patuh hukum akan memprediksi keinginan membeli produk bajakan akan diuji.

H3a: Semakin tinggi sikap patuh hukum konsumen maka semakin rendah niat konsumen membeli software bajakan.

H3b: Semakin tinggi sikap patuh hukum konsumen maka semakin rendah niat konsumen membeli CD musik bajakan.

H4a: Semakin tinggi sikap respek konsumen terhadap aspek legalitas produk bajakan maka semakin rendah niat konsumen membeli software bajakan.

H4b: Semakin tinggi sikap respek konsumen terhadap aspek legalitas produk bajakan maka semakin rendah niat konsumen membeli CD musik bajakan.

2.3 Niat Beli dan Perasaan Paska Beli

Semakin banyak kesempatan konsumen mengevaluasi produk bajakan, semakin besar niat konsumen membeli produk bajakan (Nia dan Zaichkowsky, 2000; Cordell, Wongtada, dan Kieschnick, 1996). Disisi lain, ketika mereka jadi membeli produk bajakan tersebut, penelitian sebelumnya mengatakan bahwa pasca-pembelian produk bajakan ada sebagian konsumen yang memiliki perasaan negatif bersalah, tidak etis, dan ilegalitas yang terkait dengan persepsi dan sikap terhadap produk-produk palsu (Chakraborty et al.1997; Chakraborty, Allred, dan Bristol, 1996), Akibatnya, diharapkan bahwa semakin besar persepsi konsumen tentang produk palsu, semakin sedikit responden akan merasa bersalah.

H5a: Semakin besar niat konsumen membeli software bajakan maka semakin rendah perasaan bersalah paska pembeliannya.

H5b: Semakin besar niat konsumen membeli CD musik bajakan maka semakin rendah perasaan bersalah paska pembeliannya.

Gambar 1. Kerangka Konseptual Penelitian 3. Metode Penelitian

3.1 Type and Source of Data

Data primer yang akan dikumpulkan merupakan representasi dari kelompok mahasiswa. Data akan di kumpulkan Ketaatan Beragama

Perasaan Paska Beli Niat Beli

Produk Bajakan

Respek pada Aspek Legalitas Produk

Bajakan Sikap Patuh Hukum

mahasiswa ekonomi strata satu tingkat akhir. Sampel akan di ambil secara simple convenience sampling karena populasi dari konsumen yang menjadi objek penelitian ini bersifat homogen 12 pada setiap populasinya, sehingga setiap elemen didalam populasi dapat dikenal dan memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai respondent (Sekaran, 2000). Adapun dalam melakukan estimasi pada study awal ini teknik pengujian yang dilakukan yaitu menggunakan analisis model jalur (path model) dengan menggunakan aplikasi Smart PLS sebagai alat analisis untuk melakukan prediksi awal atas studi yang dilakukan. Dalam proses estimasi model yang dilakukan pada studi awal ini metode umum yang digunakan dalam membentuk model jalur yang digunakan secara teknis berupa hubungan konstruk laten yang terdiri dari beberapa indikator pengukuran. Total jumlah responden yang diperoleh sebanyak 152 responden, namun data yang bisa di gunakan untuk analisis sebanyak 128 buah, sisanya rusak karena tidak lengkap dan salah pengisian. Data yang telah diuji validitas dan reliabilitas lalu selanjutnya diolah menggunakan Structural Equation Modelling (SEM) untuk uji hipotesis.

3.2 Survey Instrument

Kuesioner disusun dengan skala likert yang diadaptasi dari Vitell (2005), Huffman (1988), Keller (1989), Muncy dan Vitell (1992), Phau dan Teah (2009), Ang et al. (2001), De Matos et al. (2007), Maldonado dan Hume (2005), dimana bahasa inggris yang digunakan sebagai bahasa dalam kuesioner. Akan tetapi, kuesioner yang dipakai dalam penelitian ini disusun dalam bahasa Indonesia untuk memperjelas pemahaman bagi responden. Kuesioner disusun dalam 10 bagian, termasuk di dalamnya bagian yang memuat informasi demografi responden. Deskripsi skala pengukuran, jumlah item pertanyaan dan reliabilitas item ditunjukkan pada Tabel 1. Keseluruhan item dalam instrument penelitian diukur menggunakan 7 skala likert, dengan 1 merepresentasikan “sangat rendah” dan 7 merepresentasikan “sangat tinggi.”

Dalam dokumen KAJIAN ANALISIS USAHA TANI INTEGRASI P (Halaman 66-68)