• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Efisiensi Ekonomis (Economic Efficiency)

VII. ANALISIS FUNGSI PRODUKSI

8.3. Analisis Efisiensi Ekonomis (Economic Efficiency)

Efisiensi ekonomis merupakan hasil akhir dari kombinasi antara efisiensi teknis dan efisiensi alokatif. Efek gabungan tersebut memberikan tiga pilihan yaitu : 1) efisiensi ekonomis akan tecapai jika efisiensi teknis dan efisiensi alokatif tercapai, 2) jika efisiensi teknis tidak tercapai, dan efisiensi alokatif tidak tercapai maka efisiensi ekonomis tidak tercapai, dan 3 jika efisiensi alokatif tercapai dan efisiensi teknis tercapai maka efisiensi ekonomis tetap tidak tercapai. Berdasarkan tabel dibawah sebaran efisiensi teknis semuanya dibawah 0.7, jadi tidak ada petambak yang tercapai secara efisiensi ekonomis. Ketidak tercapaian efisiensi ekonomis kontribusi dari efisiensi alokatif yang sangat tinggi, sedangkan dari aspek efisiensi teknis sebetulnya sudah tercapai pada petambak sewa dan pemili-garap dan serta sebagian petambak bagi-hasil. Dengan tidak tercapainya efisiensi ekonomi, maka keuntungan maksimal yang didapatkan petambak tidak tercapai. Hal ini karena banyaknya biaya yang dikeluarkan oleh petambak yang tidak seimbang dengan kinerja input yang bisa mencapai optimal. Untuk meningkatkan efisiensi ekonomis salah satu cara yang harus dilakukan petambak adalah menurunkan jumlah input produksi terutama jumlah tenaga kerja. Perbedaan tinggi rendah nya tingkat efisiensi ekonomis hanya tingkat relatif antara petambak satu dengan yang lainnya yang seluruhnya dalam kondisi tidak efisien secara ekonomis.

Table 31. Sebaran Efisiensi Ekonomis Petambak Responden

Efisiensi Ekonomis

Interval Sewa Bagi hasil Milik

Jumlah % Jumlah % Jumlah %

0.01-0.10 0.00 0.11-0.20 25 71.43 0.00 0.21-0.30 5 14.29 31 88.57 0.31-0.40 5 14.29 4 11.43 4 13.33 0.41-0.50 0.00 14 46.67 0.51-0.60 9 30.00 0.61-0.70 3 10.00 0.71-0.80 0.81-0.90 0.91-1.00 Jumlah 35 100 35 100 30 100 Rata-rata 0.208 0.208 0.482 Maksimum 0.353 0.353 0.636 Minimum 0.159 0.159 0.317

Pada petambak sewa rata-rata efisiensi ekonomi 0.208 dengan tingkat efisiensi ekonomis tertinggi 0.353 dan terendah 0.159. Bagi petambak efsiensi

ekonomis tinggi mereka sudah bida mengelola kegiatan usaha dengan mengefisienkan 20 persen sumberdaya faktor produksi dan biaya yang dikeluarkan. Sedangakan bagi petambak dengan efisiensi ekonomis rendah, masih bisa menurunkan efisiensi 23 persen dengan cara meningkatkan strategi manajerial penggunaan input dan pengelolaan pengeluaran biaya terlebih dalam biaya tenaga kerja.

Table 32. Sebaran Efisiensi Biaya Petambak Responden

Efisiensi Biaya

Sewa Bagi hasil Milik

Frequency % Frequency % Frequency %

0.0-1.0 1.1-2.0 12 40.00 2.1-3.0 4 11.43 4 11.43 17 56.67 3.1-4.0 1 2.86 31 88.57 1 3.33 4.1-5.0 5 14.29 5.1-6.0 21 60.00 6.1-7.0 4 11.43 Jumlah 35 100.00 35 100.00 30 100.00 Rata-rata 5.07 3.29 2.14 Maximum 6.27 3.94 3.16 Minimum 2.83 2.54 1.57

Battese and Coelli (1995) mengembangkan nilai efisiensi biaya (cost efficiency) dari pendekatan dual cost frontier. Dengan cara membandingkan antara biaya antar petambak dengan biaya petambak yang minimum dihasilkan berbagai perbedaan antara petambak. Berdasarkan tabel di bawah ini dapat terlihat tingkat pengeluaran biaya yang masih besar dan tidak efisien pada petambak sewa dengan rata-rata efisiensi biaya 5.07. Sejumlah 29 persen petambak sewa sudah melakukan efisiensi biaya usaha 79 persen (1-5.07/2.83) dari rata-rata efisiensi yang ada pada petambak sewa. Sedangkan 79 persen petambak sewa masih melakukan pemborosan (1-6.27/5.07). atau 23 persen dari petambak sewa yang paling tinggi melakukan pemborosan Sedangkan 88 persen petambak bagi-hasil melakukan pemborosan pemakaian input sebesar (1- 3.29/2.54) atau 28 persen. Pada 96 persen petambak pemlik-garap tingkat pemborosan biaya mencapai 47 persen. Faktor biaya tenaga kerja merupakan salah satu faktor penyebab besarnya tingkat pemborosan yang dilakukan oleh petambak. Hal ini dapat diartikan juga bahwa usaha garam rakyat bersifat padat karya. Begitupun hasil penelitian Dia, et al., (2010) pada petambak jagung

ditemukan 40 persen petambak melakukan pemborosan biaya usaha tani jagung di Adamawa Nigeria karena berlebihnya penggunaan tenaga kerja, penggunaan benih dan pupuk.

Fenomena efisiensi teknis yang tinggi namun efisiensi alokasi dan ekonomi yang rendah dapat dijelaskan pada Gambar 29. Titik A, B dan C berada pada fungsi produksi frontier yang sama sehingga titik tersebut dapat dikatakan telah efisien secara teknis. Namun pada titik A, dan C belum mencapai efisiensi alokasi sedangkan pada titik B telah terjadi efisiensi secara alokasi karena pada titik B terjadi persinggungan antara kurva fungsi produksi frontier dengan garis rasio harga input-outputnya (Px/Py).

Keuntungan maksimum tercapai saat produk marjinal (PM) sama dengan rasio harga input-output (Px/Py). Jika kondisi actual berada pada titik A maka agar

tercapai efisiensi alokasi penggunaan input x harus ditambah dari X1 ke X 2

sehingga akan tercapai keuntungan maksimum. Demikian pula jika kondisi ada pada titik C, maka agar tercapai efisiensi alokasi penggunaan input harus dikurangi dari X1 ke X 2 sehingga akan tercapai keuntungan maksimum. Dengan

mengalokasikan input secara tepat sesuai dengan harga inputnya maka akan berdampak pada peningkatan efisiensi alokasi. Peningkatan efisiensi alokasi akan menyebabkan penurunan biaya sehingga keuntungan petani akan meningkat (Ellis, 2003).

Gambar 29. Kondisi Produksi yang Efisien Secara Teknis dan Inefisien Secara Alokatif X3 X2 X 1 A B C Y X Px/Py F(Xi,β)

Selain penggunaan input yang berlebihan atau kurang, penyebab rendahnya efisiensi alokasi yaitu informasi harga input dan output yang tidak sempurna yang biasanya terjadi pada sektor pertanian sehingga keragaman harga input dan output tidak cukup digambarkan oleh harga rata-rata. Jika harga input transparan dan petambak menikmati harga murah atau disubsidi maka dapat meningkatkan efisiensi alokasi, sehingga dampaknya dapat menghemat biaya dan meningkatnya keuntungan.

Tabel 33. Analisis Finansial Usaha Garam (Jika terjadi penurunan penggunaan bahan bakar 30 persen)

Kelompok Sewa Bagi Hasil Pemilik

Rataan ukuran lahan (ha) 1.35 1 0.7

Produksi (ton) 65.33 60 49.8

Harga Jual maksimum (Rp/kg) 475.13 469 430

Biaya ( dalam juta)

Sewa Lahan 2 2 2

Tenaga Kerja 22.3 20.48 16.45

Bahan Bakar 1.246 0.861 0.315

Peralatan 1.9 1.5 0.5

Total Biaya 27.446 24.841 19.265

Revenue (dalam juat)

Total Pendapatan 31.04 28.14 21.41

Laba/rugi 3.594 3.299 2.145

B/C 1.13 1.13 1.11

Salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi alokatif adalah dengan cara menurunkan harga input produksi jika harga pasar input mahal (Ellis, 2003), dan menurunkan kuantitas penggunaan input jika terjadi pemborosan dilihat dari perhitungan nilai produk marjinal dan biaya korbanan (Tabel 24). Jika dilakukan simulasi penurunan terhadap tingkat penggunaan input bahan bakar sebagai biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan air laut maka tingkat pendapatan petambak sewa akan meningkat. Berdasarkan Tabel 29 jika terjadi pengurangan terhadap bahan bakar 30 persen, maka biaya yang dikeluarkan oleh masing petambak menurun dan dampaknya keuntungan meningkat pada harga asumsi rata-rata yang diterima oleh masing-masing petambak (Rp 475 petambak sewa, Rp 459 petambak bagi-hasil dan Rp 430 petambak pemilik-garap).