III. KERANGKA PEMIKIRAN
3.2. Konsep Efisiensi, Efisiensi Teknis, Ekonomis dan Alokatif
Menurut Vachozka dan Vachal (2011) dalam literature ekonomi, konsep efisiensi didefinisikan secara komperhensif yang ddikenal dengan efisiensi ekonomi. Efisiensi ekonomi adalah suatu kondisi dimana sumberdaya dapat dikerahkan secara optimal dalam sistem ekonomi tertentu. Vochozka (2008) membagi konsep efisiensi dengan berbagai pengukuran diantaranya sebagai berikut : 1 ) Kriteria efisiensi adalah berorientasi output maksimum (atau kombinasi output). 2) Kriteria efisiensi adalah jumlah minimum masukan (biaya) pada tingkat output tertentu (atau kombinasi input dan faktor harga. 3) Kriteria efisiensi adalah memenuhi kondisi keberadaan sistem tertentu. Turunan-turunan efisiensi ini dikembangkan menjadi berbagai ukuran efisiensi yang bisa dilihat pada Gambar 1. Efisiensi teknis merupakan turunan dari efisiensi yang berorientasi terhadap input dimana banyak dikembangkan oleh Farrell (1957).
Efisiensi teknis murni dalam ekonomi adalah tidak adanya pemborosan input (Hassan, 2005). Pendekatan pengukuran efisiensi diukur dengan paramerik- ekonomitrik dan non-parametrik. Pendekatan parametrk dikembangkan oleh Farrel (1957); Aigner, et al., (1977); Broeck (1997). Sedangkan pendekatan non- parametrik banyak dikembangkan oleh Cooper, et al., (2006).
Gambar 8. Klasifikasi Efisiensi Sumber : Vochozka and Vachal (2011)
Suatu metode produksi dapat dikatakan lebih efisien dari metode lainnya jika metode tersebut menghasilkan output yang lebih besar pada tingkat korbanan yang sama. Suatu metode produksi yang menggunakan korbanan yang paling kecil, juga dikatakan lebih efisien dari metode produksi lainnya, jika menghasilkan nilai output yang sama besarnya. Tujuan produsen untuk mengelola usahataninya adalah untuk meningkatkan produksi dan keuntungan. Asumsi dasar dari efisiensi adalah untuk mencapai keuntungan maksimum dengan biaya minimum. Kedua tujuan tersebut merupakan faktor penentu bagi produsen dalam pengambilan keputusan untuk usahataninya. Dalam pengambilan keputusan usahatani, seorang petani yang rasional akan bersedia
Economical Efficiency
Output oriented efficiencies Input oriented efficiencies
Other kinds of efficiencies
Parreto efficiencies Kaldor-Hicks efficiencies Production efficiency Production consume efficiencies Transaction efficiencies Distribuitive efficiencies Technical efficiency Pure-Technical efficiency Scale efficiency transaction x- efficiency Production x- efficiency Efficiencies of financial markets Other kinds of efficeincies x efficiency
menggunakan input selama nilai tambah yang dihasilkan oleh tambahan input tersebut sama atau lebih besar dengan tambahan biaya yang diakibatkan oleh tambahan input itu. Efisiensi merupakan perbandingan output dengan input yang digunakan dalam suatu proses produksi.
Menurut Kumbakhar dan Lovell (2000), produsen dikatakan efisien secara teknis jika dan hanya jika tidak mungkin lagi memproduksi lebih banyak output dari yang telah ada tanpa mengurangi sejumlah output lainnya atau dengan menambah sejumlah input tertentu. Petani yang efisien secara teknis adalah petani yang menggunakan lebih sedikit input dari petani lainnya untuk memproduksi sejumlah ouput pada tingkat tertentu atau petani yang dapat menghasilkan output yang lebih besar dari petani lainnya dengan menggunakan sejumlah input tertentu (Debertin, 1986). Pada saat produsen telah menggunakan sumberdayanya pada tingkat produksi tetapi kurang bisa ditingkatkan, berarti efisiensi teknis tidak tercapai karena adanya faktor-faktor penghambat tetapi banyak faktor yang mempengaruhi tidak tercapainya efisiensi teknis di dalam fungsi produksi. Penentuan sumber dari inefisiensi teknis ini tidak hanya memberikan informasi tentang sumber potensial dari inefisiensi, tetapi juga saran bagi kebijakan yang harus diterapkan atau dihilangkan untuk mencapai tingkat efisiensi total (Bakhshoodeh and Thomson, 2001).
Forsund, Lovell dan Schmidt (1980) berpendapat bahwa inefisiensi biasanya berkaitan dengan faktor-faktor yang berhubungan dengan praktek manajemen pertanian. Faktor-faktor tersebut meliputi pendidikan, ukuran keluarga dan komposisi, pengalaman, kedekatan dengan pasar dan akses kredit. Pendidikan, yang secara langsung berkaitan dengan kemampuan manajemen yang memadai (Nyemeck, et al., 2003);. Tian dan Wan, 2000); (Weir, 1999); (Weir dan Knight, 2000). Pendidikan meningkatkan kemampuan rumah tangga untuk memanfaatkan teknologi yang sudah ada dan dapat mencapai tingkat efisiensi yang lebih tinggi (Battese dan Coelli, 1995). Praktisnya dalam penelitian sering menggunakan faktor pendidikan kepala rumah tangga sebagai proxy untuk keterampilan manajemen dan usia kepala rumah tangga sebagai proxy untuk pengalaman (Kalirajan dan Shand, 1997).
TE diperkirakan akan meningkat dengan usia sebagai pengalaman petani keuntungan, pada tingkat penurunan sebagai petani menjadi tua. Akses ke sumber daya (input khusus tenaga kerja dan dibeli) merupakan salah satu alasan untuk jenis perilaku, karena sangat berpengaruh terhadap waktu aplikasi dari
input dan pelaksanaan praktik usaha tani. Tepat waktu penerapan input dan pelaksanaan manajemen diharapkan dapat meningkatkan efisiensi. Rumah tangga muda kekurangan sumber daya dan tidak mungkin dapat menerapkan masukan atau menerapkan usaha tani tertentu praktek dalam waktu. Sebaliknya, rumah tangga tua cenderung lebih efisien karena mereka memiliki lebih banyak pendapatan dan aset, yang mereka gunakan untuk membeli input dan menerapkannya dalam waktu dan untuk menyewa tenaga kerja dan mampu menerapkan praktek agronomi dalam waktu. Faktor lain yang menjelaskan hubungan kuadratik antara usia dan efisiensi mencerminkan akses ke informasi. Lansia petani cenderung tidak memiliki kontak dengan ekstensi dan program pelatihan, dan Oleh karena itu kecil kemungkinannya untuk mengadopsi praktek- praktek baru dan input modern (Hussain, 1989). Daryanto (2000) memasukan aspek social-ekonomi yang diasumsikan mempengaruhi efek inefisiensi. Faktor umur petani, pengalaman dan pendidikan petani berpengaruh terhadap efisiensi teknis petani (Akinbode, et al., 2011), (Carambas, 2011). Faktor kelembagaan seperti akses terhadap kredit, dan partisipasi dalam kelompok pendidikan berpengaruh dalam efek inefisiensi petani (Idiong, 2007). Inefisiensi produksi pertanian telah dikaitkan dengan ketidaksempurnaan dalam pasar kredit dan modal (Adesina dan Djato, 1996). Pendapatan (income) dari non-pertanian dapat merangsang investasi pertanian dan meningkatkan produktivitas pertanian dan efisiensi (Hazell dan Hojjati, 1994). Menurut Reardon, et al., (1994) pendapatan non-farm berdampak positif pada produktivitas pertanian jika pasar kredit tidak berfungsi. Aspek pengalaman usaha berkaitan juga dalam pengambilan keputusan usaha (Obwana, 2006) termasuk keterampilan dalam manajerial usaha .manajerial usaha (Rougoor et. al., 1998; Johansson, 2007).
Manajemen usaha dalam usaha petani garam berperan dalam mengelola produksi garam tiap fasenya, mulai dari perencanaan, pengorganisasian usaha, pengendalian dan evaluasi uasaha. Faktor manajerial dalam usaha garam yaitu mengelola pengaturan alur air (irigasi) dan petak lahan garam. Pengelolaan saluran primer sebagai saluran pada sungai yang menyalurkan air laut menuju area tambak garam dan pengelolaan saluran sekunder. Pengelolaan saluran sekunder adalah lokasi penampungan air muda, dicirikan terdapat pintu air sebagai pengatur debet air laut ketika pasang. Pengelolaan saluran tersier sebagai saluran yang mengalirkan air muda menuju meja peminihan, ditandai keberadaan kincir angin sebagai pemompa air. Faktor produksi lain yaitu
penggunaan ramsol sebagai bahan aditif yang bertujuan untuk mempercepat proses pemuaian air tua menjadi Kristal garam dan menambah berat garam (Dirjen KP3K-KKP, 2011).
Efisiensi alokatif menujukkan hubungan biaya dan output. Efisiensi alokatif tercapai jika perusahaan tersebut mampu memaksimalkan keuntungan yaitu menyamakan nilai produk marginal setiap faktor produksi dengan harganya. Sebuah usahatani berhasil mencapai efisiensi alokatif jika dalam mencapai keuntungannya harus mengalokasikan biaya secara minimum dari input yang ada (Myint and Kyi, 2005). Lebih lanjut studi tentang perilaku petani dan efisiensi alokasi sumber daya dalam sistem pertanian tradisional dikembangkan oleh Schultz (1964) yang menyatakan bahwa petani sebagai pengusaha dalam waktu pendek tidak dapat signifikan meningkatkan produksi pertanian. Teknologi yang ada dianggap terlalu rendah untuk mendorong produksi (Sahota, 1968). Menurut Ellis (1993) pada tahun 1960-an dan 1970-an tingkat efisiensi alokatif petani sangat rendah oleh kerana itu rekayasa perubahan harga input produksi dan harga output pertanian dipercaya dapat mengubah metode produksi dan pengembangan inovasi. Dengan demikian kebijakan seperti subsidi harga pupuk dan skema kredit yang dipromosikan pada 1980-an dilakukan diberbagai negara dengan tujuan untuk merangsang adopsi teknologi (Ellise and Freeman, 2004).
Penurunan produktifitas dikaitkan dengan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, produktivitas pertanian rendah, efisiensi rendah dan sumber daya terdegradasi seperti lahan tercemar (Bruntland, 1987), kegagalan pasar (Holden dan Binswanger, 1998), penggunaan input yang tidak baik, kebijakan pemerintah yang tidak memberikan kontribusi terhadap harga input froduksi dan infrastruktur (Craig, et al., 1997), lingkungan sosial ekonomi yang tidak menguntungkan, kebijakan yang tidak menguntungkan, kendala biofisik, dan praktek manajemen lahan (Binswanger dan Townsend, 2000). Intensifikasi pertanian dikaitkan dengan meningkatnya tekanan penduduk, dimana tanah akan lebih intensif diusahakan melalui penggunaan tenaga kerja yang berlimpah dalam produksi (Ruttan, 1984).