Sebagai bagian dari intervensi gizi spesifik penurunan stunting, pelaksanaan IMD dan pemberian ASI ekslusif merupakan hal yang penting untuk memastikan asupan gizi yang adekuat bagi bayi. Salah satu upaya untuk meningkatkan perilaku pemberian ASI adalah melalui penerapan 10 LMKM di fasilitas kesehatan.(45) Terkait dengan hal tersebut, BFHI yang mana 10 LMKM merupakan komponen bagiannya, telah diimplementasikan lebih dari 152 negara di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Implementasi BFHI di Indonesia dikaitkan dengan upaya mewujudkan hak bayi untuk mendapatkan ASI eksklusif.
Hal ini telah diatur dalam berbagai regulasi pada tataran undang-undang, hak bayi untuk mendapatkan ASI eksklusif dan hak wanita untuk menyusui anaknya telah diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan serta Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Sementara undang-undang lainnya bersifat umum, Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 memiliki pengaturan yang lebih detail tentang ASI eksklusif, termasuk sanksi pidana bagi orang maupun korporasi yang sengaja menghalangi pemberian ASI eksklusif.(21,81–83)
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan merupakan regulasi yang tidak secara spesifik mengatur tentang ASI eksklusif, melainkan mengatur mengenai pelabelan dan iklan makanan dan minuman secara keseluruhan. Aspek terkait ASI terutama secara eksplisit disebutkan pada Bab III Pasal 47 Ayat 4 yaitu mengatur mengenai pelarangan iklan pangan bagi bayi kurang dari satu tahun di media massa kecuali media cetak khusus kesehatan setelah mendapat persetujuan Menteri Kesehatan.
Iklan tersebut juga mewajibkan pencantuman peringatan bahwa makanan tersebut bukanlah pengganti ASI.(84) Regulasi yang khusus mengatur tentang ASI eksklusif adalah Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif. Peraturan pemerintah tersebut secara lebih mendetail mengatur tentang peran dan dukungan keluarga, masyarakat, pemerintah daerah, dan pemerintah terhadap pemberian ASI eksklusif. Regulasi tersebut juga mengatur kewajiban dari tempat kerja dan tempat sarana umum untuk mendukung program ASI eksklusif dan kewajiban fasilitas-fasilitas kesehatan untuk mendukung program pemberian ASI eksklusif berdasarkan atas 10 LMKM.(22)
Selain undang-undang dan peraturan pemerintah, terdapat regulasi yang dikembangkan pada tingkat kementerian. Surat Keputusan Menteri Kesehatan Tahun 2004 No. 450/MENKES/SK/VI/2004 tentang Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi di Indonesia menginstruksikan staf layanan kesehatan harus menginformasikan kepada semua Ibu yang baru melahirkan untuk memberikan ASI eksklusif dengan rujukan pada sepuluh langkah untuk keberhasilan pemberian ASI.(85) Regulasi lainnya adalah Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 603/MENKES/SK/VII/2008 tentang Pemberlakuan Pedoman Pelaksanaan Program Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi. Dalam Keputusan Menteri Kesehatan tersebut tercantum 10 langkah perlindungan ibu dan bayi secara terpadu dan paripurna.(86) Secara umum, 10 langkah dalam Program Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi memiliki lingkup yang luas, yang tidak hanya mencakup pemberian ASI dan IMD, melainkan juga mengatur tentang persalinan bersih dan aman, jejaring rujukan, perawatan metode kangguru untuk bayi dengan berat badan lahir rendah, imunisasi dan tumbuh kembang, keluarga berencana serta audit maternal perinatal.(86) Namun, kebijakan tersebut hanya mengatur penyelenggaraan 10 LMKM dalam konteks rumah sakit dan belum mencakup fasilitas kesehatan lain yang juga menyediakan layanan persalinan, seperti klinik bersalin swasta, puskesmas dan bidan praktik mandiri.
Peraturan menteri yang mengatur secara spesifik mengenai penerapan 10 LMKM adalah Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Nomor 3 Tahun 2010 tentang Penerapan Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui. Dalam Pasal 6 Peraturan Menteri tersebut dimuat mengenai kewajiban fasilitas layanan kesehatan untuk menyelenggarakan 10 LMKM sesuai dengan perkembangan kebutuhan, prioritas ibu dan bayi, serta tenaga kesehatan yang ada.(87) Peraturan menteri tersebut juga telah mencantumkan pasal tentang penerapan 10 LMKM pada ibu dan bayi yang mengalami gangguan kesehatan. Peran dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dinas terkait, masyarakat serta kepala daerah juga dibahas dalam peraturan tersebut.(87) Peraturan menteri tersebut memiliki ruang lingkup pengaturan yang lebih luas, yaitu telah mengatur penyelenggaraan 10 LMKM di seluruh fasilitas layanan kesehatan yang melayani persalinan. Namun, kebijakan tersebut belum mengatur secara spesifik tentang mekanisme monitoring dan evaluasi serta penghargaan dan sanksi bagi implementasi 10 LMKM.
Komitmen untuk meningkatkan keberhasilan menyusui di Indonesia juga diwujudkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No:
237/MENKES/SK/IV/1997 tentang Pemasaran Pengganti ASI mengatur peredaran, label, larangan iklan, informasi dan edukasi, larangan promosi susu formula oleh sarana pelayanan kesehatan, hal-hal yang dilarang dalam pemasaran, pembinaan dan pengawasan.(88) Keputusan menteri tersebut juga merupakan salah satu upaya untuk mengaplikasikan International Code of Marketing of Breast-milk Substitutes.
Regulasi lainnya yang terkait dengan upaya meningkatkan keberhasilan menyusui adalah Peraturan Bersama 3 Menteri (Menteri Pemberdayaan Wanita dan Perlindungan Anak, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta Menteri Kesehatan) No. 48/MEN.PP/XII/2008,PER.27/MEN/XII/2008 dan 1177/MENKES/PB/XII/2008 tentang Pemberian ASI Selama Waktu Kerja di Tempat Kerja. Dalam peraturan bersama tersebut telah diatur peran lintas sektor dalam mendukung pemberian ASI pada ibu bekerja.(89) Upaya untuk mendukung keberhasilan menyusui melalui penyediaan lingkungan yang mendukung juga diatur melalui surat yang diterbitkan oleh Menteri Kesehatan No.
872/MENKES/XI/2006 tentang Kriteria dan Fasilitas dari Ruang Menyusui dan Permenkes RI Nomor 15 Tahun 2013 tentang tata cara penyediaan fasilitas khusus menyusui dan/atau memerah air susu ibu.(90,91) Adapun isi detail regulasi tersebut dapat dilihat dibawah ini.
Tabel 5. Dokumentasi regulasi nasionalterkait 10 LMKM
No. Regulasi Isi
1 Undang-Undang Dasar Negara RI
Tahun 1945 Pasal 28B, Ayat 2
Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan dikriminasi.
2 Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 237/MENKES/SK/IV/1997 tentang Pemasaran Pengganti ASI
Mengatur peredaran, label, larangan iklan, informasi dan edukasi, larangan promosi susu formula oleh sarana pelayanan kesehatan, hal-hal yang dilarang dalam pemasaran, pembinaan dan pengawasan.
3 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia
Pasal 49, Ayat 2
Wanita berhak untuk mendapatkan perlindungan khusus dalam pelaksanaan pekerjaan atau profesinya terhadap hal-hal yang dapat mengancam keselamatan dan atau kesehatannya berkenaan dengan fungsi
reproduksi wanita.
Penjelasan: “fungsi reproduksi wanita”
termasuk kesempatan untuk menyusui anak-anak mereka.
No. Regulasi Isi 4 Peraturan Pemerintah RI Nomor
69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan
Pasal 47 Ayat 4 yaitu mengatur mengenai pelarangan iklan pangan bagi bayi kurang dari satu tahun di media massa kecuali media cetak khusus kesehatan setelah mendapat persetujuan Menteri Kesehatan. Iklan tersebut juga mewajibkan pencantuman peringatan bahwa makanan tersebut bukanlah pengganti ASI.
5 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan
Pasal 83
Pekerja/buruh perempuan yang anaknya masih menyusu harus diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan selama waktu kerja.
6 Keputusan Menteri Kesehatan Tahun 2004 No.
450/MENKES/SK/VI/2004 tentang Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi di Indonesia
Menetapkan pemberian ASI eksklusif di Indonesia hingga usia 6 (enam) bulan, dan dianjurkan untuk diteruskan hingga usia 2 (dua) tahun bersama dengan makanan pendamping.
Staf layanan kesehatan harus menginformasikan kepada semua ibu yang baru melahirkan untuk memberikan ASI Eksklusif dengan rujukan pada “10 (sepuluh) langkah untuk keberhasilan pemberian ASI”
7 Keputusan Menteri Kesehatan No. 872/MENKES/XI/2006 tentang
Kriteria dan Fasilitas dari Ruang Menyusui
Kriteria dan fasilitas dari ruang menyusui
8 Peraturan Bersama 3 Menteri (Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta Menteri Kesehatan) – No.
48/
MEN.PP/XII/2008,
PER.27/MEN/XII/2008 dan 1177/MENKES/PB/XII/2008 Tentang Pemberian Air Susu Ibu Selama Waktu Kerja di Tempat Kerja
Pasal 3 (Kewajiban dan Tanggung Jawab) Ayat 1
Menteri Pemberdayaan Wanita dan Perlindungan Anak bertanggung jawab untuk:
a. Membekali dengan pengetahuan dan memberikan pemahaman pada para pekerja/buruh wanita tentang arti penting pemberian ASI untuk pertumbuhan anak dan kesehatan dari kaum ibu yang bekerja.
b. Menginformasikan pada para pengusaha atau manajemen perusahaan di tempat kerja tentang kondisi-kondisi yang diperlukan untuk memberikan kesempatan pada para pekerja/buruh wanita untuk memerah ASI nya selama jam kerja di tempat kerja.
Pasal 3 ayat 2
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi bertanggungjawab untuk:
a. Mendorong para pengusaha/serikat pekerja/serikat buruh untuk mengatur prosedur pemberian ASI dalam peraturan perusahaan atau Kesepakatan Kerja Bersama, dengan merujuk pada undang-undang ketenagakerjaan di Indonesia.
No. Regulasi Isi
b. Mengkoordinasikan sosialisasi pemberian ASI di tempat kerja.
Pasal 3 ayat 3
Menteri Kesehatan bertanggungjawab untuk:
a. Menyelenggarakan pelatihan dan menyediakan staf yang terlatih baik dalam hal pemberian ASI.
b. Memberikan dan menyebarkan seluruh jenis bahan-bahan komunikasi, informasi, dan pendidikan tentang manfaat dari memerah ASI
9 Kepmenkes RI Nomor
603/MENKES/SK/VII/2008 Tentang Pemberlakuan Pedoman Pelaksanaan Program Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi
Rumah sakit diharuskan melaksanakan 10 langkah perlindungan ibu dan bayi secara terpadu dan paripurna, dalam rangka menurunkan AKI dan AKB di Indonesia.
Pelaksanaan Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi harus dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan.
10 langkah perlindungan ibu dan bayi secara terpadu dan paripurna:
1. Ada kebijakan tertulis tentang manajemen yang mendukung pelayanan kesehatan ibu dan bayi termasuk pemberian ASi eksklusif dan perawatan metode kangguru untuk bayi BBLR
2. Menyelenggarakan pelayanan antenatal termasuk konseling kesehatan maternal dan neonatal
3. Menyelenggarakan persalinan bersih dan aman serta penanganan pada bayi baru lahir dengan IMD dan kontak kulit ibu-bayi
4. Menyelenggarakan pelayanan obstetrik dan neonatal emergensi komprehensif 5. Menyelenggarakan pelayanan adekuat
untuk nifas, rawat gabung termasuk membantu ibu menyusui yang benar, dan pelayanan neonatus sakit
6. Menyelenggarakan pelayanan rujukan dua arah dan membina jejaring rujukan pelayanan ibu danbayi dengan sarana kesehatan lain
7. Menyelenggarakan pelayanan imunisasi bayi dan tumbuh kembang
8. Menyelenggarakan pelayanan keluarga berencana termasuk pencegahan dan penanganan kehamilan yang tidak diinginkan serta kesehatan reproduksi lainnya
9. Menyelenggarakan audit maternal perinatal rumah sakit secara periodik dan tindak lanjut
10. Memberdayakan kelompok pendukung ASI dalam menindaklanjuti pemberian ASI eksklusif dan PMT
No. Regulasi Isi 10 Undang-Undang Kesehatan No.
36 Tahun 2009 Pasal 128, ayat 1
Setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, kecuali atas indikasi medis.
Pasal 128, ayat 2
Selama pemberian air susu ibu, pihak keluarga, Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus.
Pasal 128, ayat 3
Penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diadakan di tempat kerja dan tempat sarana umum.
Pasal 129, ayat 1
Pemerintah bertanggung jawab menetapkan kebijakan dalam rangka menjamin hak bayi untuk mendapatkan ASI secara eksklusif Pasal 200, Pasal 201 ayat 1, Pasal 201 ayat 2 Sanksi pidana yang dikenakan kepada setiap orang atau korporasi yang dengan sengaja menghalangi program pemberian ASI eksklusif
11 Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Nomor 3 Tahun 2010 tentang Penerapan Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui
10 LMKM Pasal 6
Fasilitas pelayanan kesehatan dalam menyelenggarakan penerapan 10 LMKM dilakukan sesuai dengan perkembangan kebutuhan, prioritas ibu dan bayi, serta tenaga kesehatan yang ada
Pasal 7
Dalam hal ibu dan bayi mengelami gangguan kesehatan, maka pelaksanaan 10 LMKM disesuaikan dengan kondisi ibu dan bayi dengan memperhatikan kebutuhan dan kepentingan terbaik bagi ibu dan bayi
Pasal 8
Unit yang menangani pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak serta dinas terkait dan masyarakat dapat melakukan sosialisasi dan diseminasi penerapan 10 LMKM
Pasal 9
Gubernur & Bupati/Walikota dapat melakukan pembinaan atas pelaksanaan 10 LMKM masing-masing di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat provinsi dan kabupaten/kota
No. Regulasi Isi 12 Peraturan Pemerintah Nomor 33
Tahun 2012 Tentang Pemberian ASI Eksklusif
Pasal 30 (Tempat Kerja dan Tempat Sarana Umum)
Ayat 1 dan 2
Tempat kerja dan tempat sarana umum harus mendukung program ASI eksklusif yang sesuai dengan ketentuan di tempat kerja yang mengatur hubungan kerja antara pengusaha dan pekerja atau melalui perjanjian bersama antara serikat pekerja/ serikat buruh dengan pengusaha
Pasal 30 ayat 3
Pengurus tempat kerja dan penyelenggara tempat sarana umum harus menyediakan fasilitas khusus untuk menyusui dan/atau memerah ASI sesuai dengan kondisi kemampuan perusahaan
Pasal 33
Fasilitas-fasilitas kesehatan harus mendukung program pemberian ASI eksklusif, berdasarkan atas “10 (sepuluh) langkah menuju kesuksesan pemberian ASI”
Pasal 34
Pengurus tempat kerja wajib memberikan kesempatan kepada ibu yang bekerja untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayi atau memerah ASI selama waktu kerja di tempat kerja
Pasal 35
Pengurus tempat kerja dan penyelenggara tempat sarana umum wajib membuat peraturan internal yang mendukung keberhasilan program pemberian ASI eksklusif
13 Permenkes RI Nomor 15 Tahun 2013 tentang Tata Cara
Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui dan/atau Memerah ASI
Pasal 3
Pengurus tempat kerja dan penyelenggara tempat sarana umum harus mendukung program ASI eksklusif melalui:
a. penyediaan fasilitas khusus untuk menyusui dan/atau memerah ASI;
b. pemberian kesempatan kepada ibu yang bekerja untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayi atau memerah ASI selama waktu kerja di tempat kerja;
c. pembuatan peraturan internal yang mendukung keberhasilan program pemberian ASI eksklusif; dan
d. penyediaan tenaga terlatih pemberian ASI.
Pasal 4
Selain dukungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2), penyelenggara tempat sarana umum berupa fasilitas pelayanan kesehatan, harus membuat kebijakan yang
No. Regulasi Isi
berpedoman pada 10 (sepuluh) langkah menuju keberhasilan menyusui
Secara umum, kebijakan terkait 10 LMKM saat ini belum mampu secara efektif menciptakan demand bagi penyelenggaraan 10 LMKM oleh fasilitas kesehatan. Meskipun secara normatif 10 LMKM dianggap penting, kebijakan tersebut terkesan “tidak harus” dilaksanakan dan dievaluasi. Kurang tegasnya kebijakan dapat berimplikasi terhadap implementasi kebijakan yang kurang optimal. Strategi untuk mengatasi kesenjangan dalam kebijakan 10 LMKM antara lain adalah dengan menjadikan implementasi 10 LMKM sebagai salah satu komponen penilaian dalam akreditasi fasilitas layanan kesehatan. Strategi tersebut akan dapat menciptakan kebutuhan bagi fasilitas layanan kesehatan untuk melaksanakan 10 LMKM. Selain itu, 10 LMKM dapat diintegrasikan dalam standar pelayanan minimal bidang kesehatan kabupaten/kota pada standar pelayanan kesehatan ibu hamil, bayi baru lahir dan balita sehingga dapat mendorong Dinas Kesehatan dan instansi terkait untuk mendukung ketersediaan sumber daya, memonitor serta mengevaluasi secara berkala implementasi 10 LMKM.
Hasil kajian terhadap kebijakan nasional terkait 10 LMKM juga menunjukkan bahwa kebijakan 10 LMKM dapat menjadi bagian dari upaya intervensi gizi spesifik dalam upaya pencegahan stunting yang berfokus pada promosi ASI eksklusif. Kebijakan pencegahan stunting pada 1000 HPK membuat intervensi gizi spesifik berfokus pada ibu menyusui bayi berusia 0-23 bulan atau hingga bayi mendapatkan ASI lanjutan dan makanan pelengkap. Kebijakan intervensi gizi spesifik lainnya melingkupi suplementasi gizi makro dan mikro seperti tablet tambah darah (TTD), vitamin A, taburia, fortifikasi, kampanye gizi seimbang, obat cacing dan penanganan kekurangan gizi. Hal ini sejalan dengan kerangka konsep WHO tentang konteks, penyebab dan konsekuensi stunting yang menekankan pada perlunya kerjasama multi sektor seperti sektor ekonomi, pendidikan, sosial budaya, pertanian, sistem pangan dan lingkungan dan kesehatan lingkungan. Akar penyebab stunting menurut kerangka konsep WHO ini adalah terletak pada aspek diluar kesehatan.(92) Sementara itu, kebijakan 10 LMKM hanya berfokus pada kelompok sasaran bayi usia 0-6 bulan, terlalu spesifik dan berfokus pada kemampuan teknis petugas kesehatan dalam mendorong ibumemberikan IMD dan ASI ekslusif.