Berdasarkan hasil review yang dilakukan keberhasilan pelaksanaan 10 LMKM didukung oleh berbagai aspek yakni adanya kebijakan terkait 10 LMKM di faskes, faktor lingkungan dan adanya dorongan kebijakan global. Program 10 LMKM merupakan salah satu langkah dalam meningkatkan keberhasilan program ASI ekslusif.
Adanya berbagai kebijakan 10 LMKM di layanan kesehatan (rumah sakit, puskesmas) seperti standar prosedur operasional (SPO) telah membantu dalam proses pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi kegiatan 10 LMKM.SOP juga mengatur penyediaan fasilitas seperti ruangan yang nyaman untuk melakuan IMD, media untuk pendidikan kesehatan ibu menyusui, pemberian kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan dan pendidikan berkelanjutan baik formal maupun informal bagi petugas agar pelaksanaan manajemen laktasi dapat dijalankan dengan maksimal.(72) Petugas kesehatan (perawat, bidan) juga berperan dalam memberikan motivasi agar memberikan ASI ekslusif pada bayi dan pemberian edukasi maupun edukasi terkait IMD kepada ibu.(73) Faktor pendorong lainnya adalah pemberian motivasi bagi petugas kesehatan dalam pelaksanaan program 10 LMKM (khususnya di puskesmas). Motivasi yang diberikan berupa adanya penghargaan bagi petugas, feedback (umpan balik) yang cepat dari Dinas Kesehatan untuk memberikan solusi apabila terdapat masalah dalam pelaksanaan program ASI ekslusif dan membantu bagaimana caranya agar mencapai target, serta pelatihan manajemen laktasi secara berkesinambungan dan merata ke seluruh bidan yang bekerja di puskesmas.(74,75)
Faktor lingkungan mempunyai peran yang sangat penting dalam upaya keberhasilan 10 LMKM. Keluarga seperti orang tua, saudara, dan suami memiliki peranan dalam mendukung ibu untuk memberikan ASI ekslusif bagi anak, suami memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung ibu untuk memberikan ASI kepada anak. Ibu yang suaminya mendukung pemberian ASI ekslusif berpeluang memberikan ASI ekslusif 2 kali daripada ibu yang suaminya kurang mendukung pemberian ASI eksklusif. Adanya dukungan dari masyrakat merupakan faktor lingkungan mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan 10 LMKM. Salah satunya adalah adanya dukungan masyarakat berupa KPASI. Ibu yang mendapatkan dukungan KPASI sebagian besar memberikan ASI secara ekslusif. Partisipasi masyarakat dalam mendukung ASI ekslusif juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan program menyusui. Masyarakat perlu dilibatkan dalam perencanaan program ASI ekslusif melalui peningkatan kerjasama dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, karang taruna untuk menyosialisasikan ASI ekslusif.(76–79)Dukungan dari masyarakat seperti adanya AIMI yang secara aktif melakukan kampanye pentingnya memberikan ASI serta mensosialisasikan keberhasilan menyusui melalui sosial media (Facebook) merupakan faktor lain yang mendukung ibu dalam memberikan ASI. Terdapat hubungan yang positif antara peranan media komunikasi facebook AIMI terhadap persepsi ibu menyusui dalam melaksanakan program.(80)
Aspek lainnya adalah komitmen global Millennium Development Goals (MDGs) (terutama Goal 4 & 5), yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian bayi(AKB) dan angka kematian ibu (AKI) serta Innocenti Declaration, International Code of Marketing of Breast-milk Substitutes, BFHI. Hal ini mendorong organisasi internasional untuk juga menerapkan implementasi 10 LMKM sebagai upaya penurunan AKI dan AKB. Untuk Kabupaten Probolinggo dan Bondowoso, USAID merupakan mitra pembangunan internasional (MPI) yang memiliki peran yang besar dalam terbentuknya regulasi tentang persalinan bersih dan aman, inisiasi menyusui dini dan pemberian ASI eksklusif di Probolinggo.
Program USAID- KINERJA bertujuan membantu pemerintah daerh meningkatkan tata kelola dalam penyediaan layanan publik di Indonesia, termasuk dalam tata kelola IMD dan ASI eksklusif.
Tabel 4. Rangkuman faktor penghambat dan pendukung pelaksanaan 10 LMKM Tingkat Sosio-politik
Aspek Faktor penghambat Faktor Pendukung
Dukungan
• Lemahnya dukungan berupa monitoring dan evaluasi dari pihak otoritas di level lokal dan nasional
• Lemahnya arahan dari
pemerintah terkait penerapan 10 LMKM
• Pemberian ASI eksklusif menjadi prioritas strategi di
• Terdapat hubungan yang positif antara peranan media komunikasi facebook AIMI terhadap persepsi ibu menyusui
• Akreditasi atau label BFHI untuk fasilitas kesehatan
• Adanya kepedulian para praktisi, akademisi dan LSM dalam penerapan 10 LMKM Kebijakan
tentang ASI • Masih terbatasnya kebijakan tertulis tentang BFHI dan 10 LMKM
• Kebijakan yang tidak sesuai dengan kondisi suatu daerah dan waktu yang terkini
• Lemahnya pelaksanaan kebijakan
• Adanya terjemahan atau turunan kebijakan atau SPO terkait BFHI dan 10 LMKM di fasilitas kesehatan
Integrasi
program • Peranan lintas sektor yang belum optimal dalam mendukung keberhasilan program ASI esksluif
• Buruknya komunikasi dan koordinasi antar OPD terkait Keberadaan
industri susu formula
• Agresifnya marketing susu formula ke fasilitas kesehatan
sosio-ekonomi • Tingkat sosial-ekonomi dan status gizi masyarakat
• 10 LMKM sulit dilaksanakan di rumah sakit umum, karena keterbatasan sumber daya Tingkat Organisasional
Aspek Faktor penghambat Faktor Pendukung
Kepemimpinan dalam
pelaksanaan BFHI
• Lemahnya fungsi manajemen program di pelayanan
kesehatan
• Lemahnya dukungan
administrasi, karena 10 LMKM bukan menjadi prioritas
• Tidak adanya pemimpin atau koordinator yang jelas dalam
Budaya
organisasi • Fasilitas kesehatan lebih fokus pada pengobatan atau
perawatan dibandingkan promosi kesehatan
• Rendahnya patient-centered approach
• Lemahnya komunikasi dan koordinasi antar-unit dan ruangan di fasilitas kesehatan
• Banyak bayi yang biasanya diberikan ASI, juga diberikan susu formula
• Hanya sebagian kecil ibu yang melaporkan diberikan
kesempatan untuk rawat gabung
• Praktik permberian ASI melalui botol dot masih saja dilakukan di sebagian besar rumah sakit
• Fasilitas kesehatan tidak mampu memberikan rujukan yang tepat untuk dukungan ASI eksklusif selain konsultan laktasi yang ada di rumah sakit
• Dukungan pelayanan kesehatan (rumah sakit, puskesmas) seperti
mengupayakan adanya SPO
SDM dan
sumber dana • Keterbatasan sumber daya yang dimiliki oleh pelayanan kesehatan (rumah sakit) khususnya pendanaan untuk pelatihan dan pengadaan media penyuluhan
• Perpindahan petugas yang telah dilatih tentang ASI
• Kurang masksimalnya
pelatihan atau orientasi pada petugas kesehatan yang baru
• Tidak memiliki pendekatan komprehensif dalam
peningkatan kapasitas dan skill untuk petugas kesehatan terkait ASI ataupun 10 LMKM
• Petugas kesehatan termasuk perawat juga merasa tidak memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan asuhan laktasi pada ibu-ibu pascapersalinan
• Penghargaan bagi petugas kesehatan untuk
meningkatkan motivasi
• Peningkatan kuantitas dan kualitas petugas kesehatan terkait 10 LMKM
Audit dan mekanisme umpan balik
• Aktifitas monitoring dan evaluasi dari awal memang tidak didesain
• Tidak adanya sumber daya untuk melakukan monitoring dan pencatatan data
pelaksanaan 10 LMKM
• Pembuatan dan diseminasi laporan pencapaian ASI eksklusif untuk masyarakat
Infrastruktur • Tidak adanya ruang rawat gabung
• Keterbatasan ruangan, sehingga memulangkan ibu pasca persalinan lebih cepat
• Penyediaan ruang laktasi di fasilitas kesehatan
• Situasi dan lingkungan yang
• Rumah sakit menyediakan susu formula secara gratis atau subsidi
• Promosi perusahaan susu formula mempengaruhi sikap petugas kesehatan
• Pemutusan kerjasama dengan industri susu formula
• Menghilangkan dan tidak menerimalagi sebagai
Tipe Individu Aspek Faktor penghambat Faktor Pendukung Petugas
kesehatan
Pengetahuan dan
keterampilan
• Hanya sebagian kecil petugas kesehatan
menerapkan 10
keluarga Pengetahuan • Rendahnya pengetahuan ibu
• Ketidaknyamanan
• Segera mengirim bayi yang berada di NICU