• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan, Peraturan, dan Keinginan Politik

Kebijakan terkait Stunting

Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Kabupaten Bondowoso. Pada tahun 2017, prevalensi stunting mencapai 38% pada balita, tertinggi di Provinsi Jawa Timur dan merupakan salah satu dari 100 wilayah lokus stunting yang ditetapkan pemerintah pusat pada tahun 2017.(93)Pemerintah Kabupaten Bondowoso menetapkan 10 desa lokus stunting yakni Desa Cindogo, Tegalmijin, Sumber Tengah, Gadingsari, Baratan, Walindowo, Bandilan, Penanggungan, Wonokerto, dan Sumber Wringin.

Untuk mengatasi permasalahan stunting, Pemerintah Bondowoso telah melakukan berbagai strategi dengan melibatkan multisektor dan intervensi terintegrasi, melakukan intervensi gizi spesifik dan sensitif, serta melakukan advokasi pada berbagai pihak untuk memastikan kedua intervensi ini dapat berjalan. Beberapa kegiatan yang didokumetasikan terkait pencegahan stunting adalah penyelenggaraan sosialisasi pendidikan keluarga pada 1000 HPK, integrasi program/kegiatan penurunan stunting yang dikoordinir oleh Bappeda dengan melibatkan berbagai seksi di Dinas Kesehatan. Integrasi program sensitif dengan melibatkan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DPPKB), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Dinas Ketahanan Pangan Masyarakat, dan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR).

Pencarian dokumen kebijakan lokal terkait stunting hanya menghasilkan berita terkait adanya komitmen pencegahan stunting yang ditandatangani oleh seluruh OPD termasuk kejaksaan negeri, TNI dan Polri pada tanggal 19 Februari 2019.(94)Pencegahan stunting dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan bersama dengan OPD lainnya dengan mengunakan dana alokasi khusus (DAK) non-fisik tahun 2019 yang bersumber dari APBN, yang kegiatannya meliputi pemantauan status gizi baduta di 10 desa yang menjadi lokus stunting.(95)

Tabel 8. Dokumentasikebijakan terkait stunting di Kabupaten Bondowoso No. Dokumen Kebudayaan Kabupaten Bondowoso tentang Pendidikan Keluarga

2. Perawatan dan pengasuhan anak pada 1000 HPK

3. Implementasi pendidikan keluarga pada 1000 HPK di daerah

4. Pembulatan dan rencana tindak lanjut Bahan sebagai sumber belajar yang digunakan adalah:

1. Buku menyambut lahirnya buah hati 2. Buku pengasuhan anak usia 0-12

5. Implementasi program pendidikan keluarga pada 1000 HPK

Integrasi program spesifik dalam rangka penurunan stunting di Kabupaten Bondowoso tahun 2018:

1. Peningkatan dan pemeliharaan kesehatan ibu, anak, remaja, dan lansia (Penanggung jawab Sie Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat)

2. Penanggulangan kurang energi protein (KEP), anemia gizi besi, gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY), kurang vitamin A dan kekurangan zat mikro lainnya (Penanggung jawab Sie Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat)

3. Pemanfaatan bantuan operasional kesehatan (BOK) puskesmas dan kabupaten (Penanggung jawab Sie Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat dan Puskesmas)

Bappeda

No. Dokumen

Kebijakan Isi Aktor

4. Pemanfaatan dana jaminan persalinan (jampersal) (Penanggung jawab Sie Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat)

5. Program Baduta 2.0 TA 2018 (Penanggung jawab DC GAIN)

6. Penyelenggaraan penyehatan lingkungan (Penanggung jawab Sie Kesling Kejora)

7. Peningkatan survailans dan imunisasi 8. Peningkatan promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat (Penanggung jawab Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat)

Integrasi program sensitivedalam rangka penurunan stunting di Kabupaten Bondowoso Tahun 2018:

1. Pelayanan kontrasepsi dan pembinaan keluarga (Penanggung jawab DPPKB) 2. Pendidikan keluarga (Penanggung

jawab Dinas Pendidikan dan Kebudayaan)

3. Program penataan administrasi kependudukan (Penanggung jawab Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil)

4. Program pencatatan sipil (Penanggung jawab Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil)

5. Diversifikasi dan ketahanan pangan masyarakat (Penanggung jawab Dinas Ketahanan Pangan Masyarakat)

6. Program pengelolaan keciptakaryaan (Penanggung jawab DPUPR)

Integrasi program spesifik dalam rangka penurunan stunting tahun 2019

1. Peningkatan dan Pemeliharaan Kesehatan Ibu,anak, remaja dan lansia (Penanggung jawab Sie Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat)

2. Penanggulangan kurang energi protein (KEP), anemia gizi besi, gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY), kurang vitamin A, dan kekurangan zat mikro lainnya (Penanggung jawab Sie Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat)

3. Pemanfaatan BOK puskesmas dan kabupaten (Penanggung jawab Sie Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat)

Bappeda

No. Dokumen

Kebijakan Isi Aktor

4. Pemanfaatan dana jampersal (Penanggung jawab Sie Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat)

5. DAK Fisik Penugasan TA 2019 (Penanggung jawab Sie Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat)

6. Program BAduta 2.0 TA 2018 (DC GAIN) 7. Penyelenggaraan penyehatan lingkungan (Penanggung jawab Sie Kesling Kejora)

8. Peningkatan survailans dan imunisasi 9. PAUD (Penanggung jawab Dinas

Pendidikan dan Kebudayaan)

Integrasi program sensitif dalam rangka penurunan stunting tahun 2019:

1. Pelayanan kontrasepsi dan pembinaan keluarga (Penanggung jawab DPPKB) 2. Pendidikan keluarga (Penanggung

jawab Dinas Pendidikan dan Kebudayaan)

3. Program penataan administrasi kependudukan (Penanggung jawab Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil)

4. Program pencatatan sipil (Penanggung jawab Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil)

5. Diversifikasi dan ketahanan pangan masyarakat (Penanggung jawab Dinas Ketahanan Pangan Masyarakat)

Telah dilakukan program untuk menangani stunting di 10 desa lokus stunting Kabupaten Bondowoso tahun 2018. Bentuk kegiatan sebagai berikut.

1. Desa Cindogo Kecamatan Tapen kegiatan yang dilakukan adalah pemberian makanan tambahan, penyuluhan dan pelatihan bidang kesehatan (insentif kader), pembangunan MCK

2. Desa Tegalmijin Kecamatan Grujugan, kegiatan yang dilakukan adalah 10 unit jambanisasi (outdoor), 1 unit sumur bor dan 2 unit penampungan air, pemberian makanan tambahan balita, pemberian makanan tambahan remaja, pemberian makanan tambahan lansia, perkembangan kesehatan ibu hamil dan menyusui, pembayaran honor kader, pembelian alat timbang dan ukur tinggi bayi

3. Desa Sumber Tengah Kecamatan Binaka, kegiatan yang dilakukan adalah penyelenggaraan posyandu

Bappeda

No. Dokumen

Kebijakan Isi Aktor

(makanan tambahan, kelas bumil, lansia dan insentif, pembangunan/

rehabilitasi/peningkatan/pengadaan sarana/prasarana

posyandu/polindes/PKD,

pembangunan/rehabilitasi/peningkata n fasilitas jamban umum/MCK umum dll).

4. Desa Gadingsari Kecamatan Binakal, kegiatan yang dilakukan adalah penyelenggaraan posyandu (makanan tambahan, kelas bumil, lansia, insentif),

pembangunan/rehabilitasi/peningkata n/pengadaan sarana/prasarana posyandu/polindes/PKD

5. Desa Baratan Kecamatan Binakal, kegiatan yang dilakukan adalah penyelenggaraan posyandu (makanan tambahan, kelas bumil, lansia, insentif), Pembangunan/ rehabilitasi/

peningkatan/ pengadaan sarana/

prasarana posyandu/polindes/PKD 6. Desa Walidowo Kecamatan Prajekan,

kegiatan yang dilakukan penyelenggaraan pos kesehatan desa/polindes desa, penyelenggaraan posyandu, penyuluhan dan pelatihan bidang kesehatan, pengasuhan bersama atau bina keluarga balita, pengadaan sarana dan prasarana kesehatan, pembangunan/

rehabilitasi/ peningkatan fasilitasi jamban umum/MCK umum dll

7. Desa Bandilan Kecamatan Prajekan, kegiatan yang dilakukan yaitu pembangunan/rehabilitas/peningkata n fasilitas jamban umum/ MCK umum dll dan penyelenggaraan posyandu 8. Desa Penanggungan Kecamatan

Maesan, kegiatan yang dilakukan penyelenggaraan posyandu (makan tambahan, kelas bumil, lamsia, insentif), honor kader posyandu, PPKBD dan sub-PPKBD, pemberian makanan tambahan (balita, bumil, gizi buruk dan lansia), pembangunan fasilitas jamban umum/MCK umum (2 unit), pembangunan fasilitas jamban keluarga (18 unit)

9. Desa Wonokerto Kecamatan Klabang, kegiatan yang dilakukan PMT balita, PMT lansia, PMT posyandu, pemulihan gizi (stunting), kelas ibu hamil, kelas lansia, Insentif kader posyandu balita dan lansia, insentif PPKBD dan sub

No. Dokumen

Kebijakan Isi Aktor

PPKBD, penyuluhan dan pelatihan bidang kesehatan, mobil pelayanan kesehatan desa, rehabilitasi MCK umum, pembangunan MCK, dan jambanisasi

10. Desa Sumber Wringin Kecamatan Sumber Wringin, kegiatan yang dilakukan

pembangunan/rehabilitasi/peningkata n fasilitas jamban umum/MCK umum, pemeliharaan sambungan air bersih ke rumah tangga (pipanisasi), penyelenggaraan posyandu (makanan tambahan kelas ibu hamil dan kelas lansia).

Berdasarkan hasil wawancara mendalam yang dilakukan, mekanisme aksi penurunan stunting di Kabupaten Bondowoso saat ini telah dilaksanakan dan telah dilakukan pula proses pengorganisasian yang baik dengan dilakukannya penandatanganan komitmen bersama oleh Bupati Bondowoso dengan pemerintah provinsi hingga seluruh kecamatan dalam mencegah dan menurunkan stunting.

Menurut petunjuk teknis mekanisme aksi penurunan stunting, aksi integrasi merupakan pendekatan intervensi yang dilakukan secara terkoordinir, terpadu, dan bersama-sama sehingga institusi penanggung jawab aksi integrasi harus melibatkan lintas sektor dalam perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan kegiatan. Dengan jelasnya pembagian peran dan tanggung jawab antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, sampai dengan pemerintahan di tingkat desa maka kedepannya proses mekanisme aksi penurunan stunting dapat dilaksanakan dengan sunguh-sungguh oleh seluruh jajaran pemerintah daerah Kabupaten Bondowoso.

Sebelum mencapai komitmen bersama, mekanisme aksi penurunan stunting di wilayah Bondowoso melalui tahapan analisis situasi. Dalam tahap analisis situasi ini dilakukan proses untuk mengidentifikasi sebaran prevalensi stunting dalam wilayah kabupaten/kota, situasi ketersediaan program, dan praktik manajemen layanan saat ini, untuk memahami permasalahan rendahnya integrasi intervensi gizi prioritas pada sasaran prioritas (rumah tangga 1000 HPK).

Proses ini sebagai dasar perumusan rekomendasi kegiatan yang harus dilakukan untuk meningkatkan integrasi intervensi gizi prioritas bagi rumah tangga 1000 HPK. Ketersediaan program yang dimaksud adalah program-program pokok

(kunci) untuk menyediakan intervensi gizi prioritas, seperti program kesehatan ibu dan anak (KIA), program konseling gizi, program air minum dan sanitasi, program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dan program perlindungan sosial yang pendanaannya bersumber dari APBN, APBD provinsi, APBD kabupaten/kota termasuk DAK, dan dana desa. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan di beberapa dinas, saat ini telah disepakati sebanyak 19 desa fokus stunting yaitu Desa Pakisan, Desa Grujugan Lor, Desa Pejaten, Desa Dawuhan, Desa Pengarang, Desa Karangmelok, Desa Wonokusumo, Desa Sukowono, Desa Tamanan, Desa Kalianyar, Desa Mengen, desa Jambesari, Desa Kalianyar Ijen, Desa Tamansari, Desa Wonosuko, Desa Maskuning kulon, Desa Sukosari, Desa Gunung Anyar, dan Desa Patemon untuk melaksanakan intervensi penurunan stunting hingga tahun 2020, seperti kutipan wawancara berikut.

“.... untuk yang di 2019, baru saja hari selasa kemarin tanggal 19 maret 2019, ada penandatanganan komitmen bersama. Jadi itu dilakukan oleh Bupati, forkopimda, lalu seluruh camat. Itu penandatanganan komitmen bersama dalam pencegahan dan penanggulangan stunting.” (D3, Bondowoso)

“.... Hari ini kita ini sudah sampai kepada eee analisa sudah selesai, termasuk penetapan untuk tahun 2020, desa mana saja sudah kita tetapkan, ada 19 desa. Kemudian yang kedua ada RTL itu tindak lanjut, itu juga sudah kita lakukan, termasuk komitmen dengan pak Bupati. Jadi 19 desa itu komitmen dengan pak Bupati, untuk mau intervensi ke stunting itu.” (B1, Bondowoso)

Penyelenggaraan intervensi penurunan stunting terintegrasi merupakan tanggung jawab bersama lintas sektor dan bukan tanggung jawab salah satu institusi saja. Untuk itu, diperlukan sebuah tim lintas sektor sebagai pelaksana aksi integrasi. Menurut petunjuk teknis mekanisme aksi penurunan stunting, keanggotaan tim lintas sektor tersebut sekurang-kurangnya mencakup instansi yang menangani kesehatan, pertanian, ketahanan pangan, kelautan dan perikanan, pendidikan, perindustrian, sosial, agama, komunikasi dan informasi, pekerjaan umum/cipta karya/perumahan dan pemukiman, pemberdayaan masyarakat desa, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, kependudukan catatatan sipil dan keluarga berencana, dan pengawasan obat dan makanan. Untuk di wilayah Bondowoso, terdapat beberapa OPD yang diikutkan dalam mekanisme aksi, diantaranya adalah Bappeda, Dinas Kesehatan, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Dinas Sosial, Dinas PPKB, Dinas Ketahanan dan Perikanan, serta Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.

Setiap OPD yang dilibatkan dalam mekanisme aksi ini memiliki perannya masing-masing dimana di tingkat pemerintah kabupaten Bondowoso yang menjadi penanggung jawabdari mekanisme aksi integrasi pencegahan stunting adalah Bappeda. Bappeda berperan untuk melaksanakan koordinasi antar-OPD dan bertanggung jawab untuk mengawal kegiatan mekanisme aksi stunting di setiap wilayah kabupaten/kota. Hal tersebut ditunjukkan dari kutipan wawancara berikut.

“... kalau kami kan punya 2 fungsi ya di Bappeda itu, fungsi sebagai perangkat daerah selaku badan perencanaan pembangunan. Fungsi yang kedua adalah selaku koordinator.

Koordinator itu tugasnya ya salah satunya eee... mengintegrasikan beberapa program yang ada di perangkat daerah. Kalau selaku fungsi perangkat daerah, eee kami punya program rencana aksi daerah penurunan stunting di 2019 ini. Kemarin kita sudah quorum, quorum untuk dalam rangka pencegahan stunting ini. Jadi saya kumpulkan seluruh perangkat daerah, dinas pendidikan, KB, DPMD, PUPR, Perkim ya yang ada kaitannya dengan ini, dinas pertanian, saya kumpulkan semua. Saya inventarisir, kira-kira program kegiatan apa yang ada di perangkat daerah itu yang bisa kita integrasikan ke stunting.”

(B1, Bondowoso)

Dalam melaksanakan aksi penurunan stunting, Dinas Kesehatan berperan menjadi leading sector yang akan melaksanakan berbagai intervensi gizi spesifik, yang kemudian akan dibantu oleh dinas-dinas lainnya dalam intervensi gizi sensitif. Dalam proses pelaksanaan mekanisme aksi ini, Bappeda mengundang OPD terkait untuk mengadakan rapat koordinasi bersama-sama dimana setiap OPD akan membahas program apa saja yang dapat dilakukan OPD terkait untuk mengatasi masalah stunting pada 10 desa fokus stunting. Hal tersebut terlihat dalam kutipan wawancara berikut ini.

“... kalau prosesnya ketika rakor kami sampaikan bahwa ternyata stunting itu kan tidak hanya masalah di sektor kesehatan saja. Tetapi juga ada kaitannya dengan sektor lain.

Kami sampaikan paparan jadi kalau sektor lain itu beberapa hal yang berkaitan dengan terjadinya stunting. darisana kan mereka bisa membaca,” oh teryata kegiatan ini ada di OPD saya. Nah dengan ada di OPD saya, berarti saya harus menganggarkan lewat dana yang ada di OPD saya”, jadi seperti itu. Jadi kita apa namanya, berikan informasi apa saja kaitannya.” (K3, Bondowoso)

“.... kalau saya masuk di sensitifnya jadi pendukung yang masuk spesifiknya paling banyak itu dinkes, dinkes itu leading sektornya penanggungjawabnya dibantu oleh Bapeda, Bapenas ya dan juga OPD-OPD yang lain. (PK1, Bondowoso)

“.... kemarin itu dari setiap OPD ditanyain peran sertanya apa selama ini untuk penanganan stunting untuk dari dinas ya sebatas melaksanakan sosialisasi tadi. Kemudian dari dinas lain, dinas lain itu apa kayak gitu. (DD1, Bondowoso)

Saat ini Kabupaten Bondowoso telah sampai pada aksi #2 yaitu penyusunan rencana kegiatan, namun belum mulai dirampungkan karena masih menunggu hasil dari rekomendasi beberapa OPD karena adanya data di lapangan yang belum lengkap sehingga belum dapat merekomendasikan prioritas kegiatan yang dapat dilakukan oleh OPD bersangkutan serta pemetaan masalah untuk menentukan intervensi yang tepat dilakukan di masing-masing wilayah terjangkit stunting.

“.... ya ini kita kan sedang menyusun rencana aksi daerah itu, kan kita inventarisir. Apa saja sih permasalahannya, kemudian kita petakan. Dari pemetaan itu kan nanti ketemu.

Kecamatan ini oh strategi programnya harus ini, kan tidak sama. Permasalahan stunting ini tidak bisa disamakan. Jadi masih menunggu beberapa OPD lagi yang masih harus membuat prioritas kegiatan.”(B1, Bondowoso)

“.... kalau rencana kan memang kita masih ini ya berupaya untuk itu tadi eee kita masih ada ini sih sepertinya, agenda untuk rakor lagi, Jadi memang tempo hari ketika provinsi datang kemari, itu mintanya gini, jadi paling tidak di 10 desa yang diprioritaskan, di jejerkan, permasalahannya tu apa sih sebenernya. Nah itu yang kita tuntaskan terlebih dahulu sebenernya seperti itu. Nanti kalau sudah ada pemetaannya ketemu permasalahannya apa, harapannya memang kita bisa mengatasi. Rencananya sih begitu.”

(K3, Bondowoso)

“.... Sejauh ini, masing-masing yang melakukan itu dikumpulin, kegiatan kita dikonvergensikan. Dan untuk konvergensi ini memang butuh leading dan leadingnya tu ada di Bappeda, Untuk ditiap-tiap OPD ini sudah ada konvergensinya kegiatannya kemarin kita sudah memilah-memilah data-data sudah menganalisis data yang bulan timbang kita petakan, dari beberapa OPD seperti ketahanan pangan berapa yang miskin, berapa jamkesmas, kemudian saran dari PUPR perkim perumahan ya berapa yang sudah punya air bersih di sejajarkan perdesa kemudian muncul data itu, ternyata semua desa memang hampir semua ada kasus stuntingnya. selanjutnya ya menentukan kegiatan apa aja yang bisa kita buat sama-sama lintas aparat.” (K2, Bondowoso)

Selain itu bagi beberapa OPD, masih terdapat beberapa kendala dalam integrasi rencana kegiatan yang dilakukan, diantaranya yaitu sulit mengumpulkan OPD terkait lainnya untuk melaksanakan rapat koordinasi, maupun hambatan berupa pendapat dari informan bahwa program yang dikerjakan oleh masing-masing OPD belum disusun berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi stunting di daerah. Selain itu, kesan ego sektoral masing-masing OPD yang merasa stunting hanya menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan saja, masih ditemukan dalam beberapa kutipan berikut.

“.... kalau analisis programnya kalau sejauh ini eee... kita itu kelemahannya masih berdiri sendiri. Jadi seharusnya sih itu kan memang di analisa ya, jadi kalau misalnya capaian sanitasinya bagaimana, nah apakah berpengaruh dengan tingkat sanitasi yang rendah.

Apakah di daerah itu, memang hal tersebut yang menyebabkan stuntingnya tinggi, dan faktor-faktor lainnyamasih belum. Jadi memang butuh sebenarnya ya, dijejerkan, lalu dipetakan, apakah saling berpengaruh tiap faktor, nah itu belum. (K3, Bondowoso)

“.... Iya sampai yang 2019 ini sebenarnya OPD terkait atau masing-masing instansi itu sudah punya juga kegiatan-kegiatannya masing-masing, tapi kan ini yang perlu juga konvergensi maksudnya diselaraskan agar bagaimana, kamu berperan apa, kamu akan melakukan apa, ini jelas biar tidak terpetak-petakkan.” (K2, Bondowoso)

“.... untuk mengumpulkan rakor saja sudah susah ya, apalagi mau menyusun sama-sama program dari nol, jadi ya kita jalankan program yang sudah ada saja dulu. Sebenarnya kan kalo stunting itu kan leading sektornya kan memang dinas kesehatan ya. kita ini hanya sebagai penunjang. Jadi status gizinya kayak apa bisa di ee ibu hamil ini status kehamilannya seperti apa itu kan yang bener-bener tahu kan dinas kesehatan.” (DD1, Bondowoso)

Terkait dengan stunting, terdapat beberapa program yang telah dijalankan oleh masing-masing OPD sesuai dengan tupoksinya (daftar kegiatan yang telah dikerjakan masing-masing OPD akan ditampilkan pada tabel dibawah), dimana hambatan yang dialami paling banyak dari sektor kesehatan, karena sebagai pelaksana yang memiliki cukup banyak program untuk dikerjakan, capaian beberapa program, salah satunya seperti pemberian TTD belum dapat maksimal dilakukan serta sistem monitoring dan evaluasi yang belum maksimal. Hal tersebut dapat terlihat dari kutipan wawancara berikut.

“.... iya itu juga masih kurang ya kami, evaluasinya hanya dari laporan capaian saja, seharusnya kan ada analisanya ya, Cuma kami sebatas kenapa capaian ini rendah, RTL nya masih sulit kayaknya diadakan, misal harus diapakan yang rendah itu.” (K4, Bondowoso)

“.... yang masih kurang itu pemberian tablet tambah darah ke ibu hamil itu, kalau secara kabupaten sih kita sudah mencapai target, tapi kalau dilihat, ada beberapa puskesmas yang masih rendah capaiannya, dan itu nanti kita evaluasi lagi.”(K3, Bondowoso)

Jika dilihat dalam aspek sumber daya keuangan maupun sumber daya manusia, beberapa dinas lainnya juga masing mengakui kekurangan petugas atau permasalahan terkait kurangnya dana untuk melaksanakan program di lapangan. Hal tersebut terlihat dari kutipan wawancara oleh tiga dinas berbeda berikut.

“.... kalo menurut saya belum. Iya karena misalnya di saya ini kan menangani stunting sedangkan dalam 1 tahun yang saya tangani sebenarnya bukan hanya stunting ada hal-hal lain kenakalan remaja, narkoba kayak itu di bagian saya juga, pendidikan masyarakat.”(DD1, Bondowoso)

“Hambatannya banyak mbak, satu, sumber yang kita ambil itu biasanya jauh dari perkampungan itu menjadi pendanaannya lebih besar seperti itu tapi anggaran kita di kabupaten itu tidak hanya terfokus pada program ini saja, menyebar entah pada sarana jalan, juga pembangunan-pembangunan gedung negara. Dari faktor pendanaan juga jadi kendala itu kita sampaikan juga ke pusat juga ke provinsi memang kendalanya ada disana.” (PAB1, Bondowoso)

“.... kalau hambatannya gini ya, dinas kami ini tidak memiliki tenaga penyuluh lapangan jadi kami ee memanfaatkan tenaga penyuluh milik dinas pertanian, kadang kita sulit untuk berkoordinasi ya dari sisi sdm seperti itu. Kemudian kalau dari sisi anggaran ee.. anggaran juga terbatas mbak ee... jadi anggaran terutama yang dari APBD kabupaten itu untuk menstimulan kelompok-kelompok itu terbatas jadi tidak semua kelompok itu kita tangani jadi hanya mungkin tahun ini ada hanya bisa 8 kelompok. Padahal yang masuk 2020 lokasi stunting di bonowoso itu ada 19 lokasi dan itu lokasinya ada yang daerah terpencil.” (DS1, Bondowoso)

Meskipun demikian secara garis besar untuk pendanaan sesungguhnya tidak ada perubahan dari anggaran yang sudah berjalan di tahun-tahun sebelumnya mengingat program yang dijalankan saat ini merupakan program dasar yang merupakan kewajiban masing-masing OPD untuk melaksanakan dan tidak terdapat program inovasi baru, seperti kutipan wawancara berikut.

“.... iya, kan APBD tu ditetapkan 1 bulan sebelum pelaksanaan pelaksanaan tahun anggaran kan. Jadi ya mungkin nanti di BAK baru. Tapi kan sudah ada gitu lo, sudah ada.

Ya selain APBD, kan ada dana desa. Karena yang lebih tahu kan desa. Sebenarnya kan di desa itu mulai tahun 2015 itu sudah ada, kayak PMT, jambanisasi, air bersih itu ada gitu lo. Jadi sebenarnya ini program-program yang memang sudah rutin dijalankan.” (B1, Bondowoso)

Selain belum rampung dalam penyusunan rencana kegiatan, OPD terkait belum menentukan bentuk monitoring dan evaluasi yang tepat untuk semua rencana kegiatan yang telah disusun agar kemudian kegiatan monitoring dan evaluasi program tidak berjalan sendiri-sendiri juga. Hal tersebut tercermin dalam kutipan wawancara berikut.

“... untuk sementara ini belum belum ada monitoring belum mengarah kesitu. Tapi ke depannya mungkin kita mengarah kesitu. Karena memang awal kegiatan ini baru 2018 kemarin. Karena kita belum monitoring, kita juga belum punya daftar umpan balik dari

“... untuk sementara ini belum belum ada monitoring belum mengarah kesitu. Tapi ke depannya mungkin kita mengarah kesitu. Karena memang awal kegiatan ini baru 2018 kemarin. Karena kita belum monitoring, kita juga belum punya daftar umpan balik dari