BAB IV PENERAPAN PRINSIP KEADILAN, KEPASTIAN
C. Analisis Kepastian Hukum dalam Putusan Nomor 57/Pdt.Sus
Sebagaimana diketahui keadilan, kepastian hukum dan kemanfatan hukum merupakan nilai dasar dari hukum atau dengan kata lain merupakan ide hukum atau cita hukum yang merupakan gagasan, karsa, cipta dan pikiran berkenaan dengan persepsi makna hukum.246Kepastian hukum merupakan ciri yang tidak dapat dipisahkan dari hukum, terutama untuk norma hukum tertulis. Hukum tanpa nilai kepastian akan kehilangan makna karena tidak lagi dapat dijadikan pedoman perilaku bagi semua orang. Ubi jus incertum, ibi jus nullum (di mana tiada kepastian hukum, di situ tidak ada hukum).247Demikian juga halnya dalam menganisis kasus dalam Putusan nomor 57/Pdt. Sus Renvoi Prosedur/2011/
PN.Niaga Jkt.Pst.
Hukum yang baik harus memenuhi beberapa asas, menurut pendapat dari Lon Fuller dalam teori yang digunakan dan telah diuraikan dalam sub bab tentang teori penelitian ini maka mengenai asas yang harus dipenuhi oleh hukum dan bila
246Gustav Radbruch dalam Efi Laila Kholis, Putusan Mahkamah Konstitusi, (Depok: Pena Multi Media, 2008), hal. 103.
247Achmad Ali., Op.Cit., hal. 292.
tidak dipenuhi maka hukum tersebut dianggap gagal sebagai hukum. Salah satu asas yang dikemukakannya adalah tentang suatu hukum harus ada kesesuaian antara peraturan dan pelaksanaan sehari-hari dan tidak boleh menuntut suatu tindakan yang melebihi apa yang bisa dilakukan.248
Hal utama dalam kasus yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan makna kepastian hukum adalah dari penerapan norma tertulis yakni dalam kaitan ini menyangkut aturan hukum penerapan Undang-undang Kepailitan apakah telah sesuai atau tidak.
Kepastian hukum dalam putusan perkara pailit mengenai kedudukan kreditor pajak yang pada dasarnya menurut hukum positif yaitu mengacu pada Undang-undang Pajak dan Yurisprudensi hukum yang telah diuraikan pada sub bab sebelumnya yang menekankan jika pelunasan utang pajak harus didahulukan dan menurut Undang-undang Kepailitan kedudukan kreditor pajak merupakan kreditor preferen yang pelunasan utangnya harus didahulukan. Tetapi hakim dalam putusannya memiliki pandangan sendiri dengan mengabaikan segala hukum positif maupun yurisprudensi tersebut. Adapaun alasan hakim yakni mengacu kepada pembagian secara adil dengan melihat jumlah harta yang ada pada saat harta tersebut telah dikumpulkan oleh kurator dan hendak dibagi kepada masing-masing kreditor yang telah terverifikasi.
Kepastian hukum juga dapat dilihat dari hukum yang didasarkan oleh fakta yang bukan suatu perumusan tentang penilaian hakim seperti kemauan baik
248L. Fuller Lon dalam Rahaju Widjajanti., Op.Cit., hal. 11.
atau kesopanan. 249 Artinya putusan hakim Pengadilan Niaga yang mengesampingkan hukum positif dalam hal mengenai kedudukan dari kreditor pajak sebagai kreditor preferen didasarkan atas suatu fakta yaitukreditor preferen sudah memperoleh aset bebas dan ditambah persentase dari fidusia dengan porsi 50% (lima puluh persen) sedangkan kreditor Separatis memperoleh fidusia dengan porsi yang lebih kecil dari 50% (lima puluh persen) dan tidak memperoleh aset bebas. Fakta tersebut tidak dapat dipungkiri dan dapat disimpulkan pandangan hakim berdasarkan fakta yang tepat bukan berdasarkan kemauan yang disimpulkan sendiri oleh hakim.
Pandangan hakim bila dikaji juga sesuai dengan pendapat dari Lon Fuller mengenai penerapan asas yang ia kemukakan mengenai “hukum harus ada kesesuaian antara peraturan dan pelaksaanan sehari-hari dan tidak boleh menuntut suatu tindakan yang melebihi apa yang bisa dilakukan”apabila bertitik tolak pada fakta yang dihadirkan di persidangan dimana jumlah harta yang ada yaitu Kreditor Pajak memperoleh bagian sebesar Rp.2.913.199.683,- (dua milyar sembilan ratus tiga belas juta seratus sembilan puluh sembilan ribu enam ratus delapan puluh tiga rupiah) dengan rincian sebesar Rp.1.165.279.873,- (satu milyar seratus enam puluh lima dua ratus tujuh puluh sembilan ribu delapan ratus tujuh puluh tiga rupiah) dari hasil penjualan Asset bebas, dan sebesar Rp.1.747.919.810,- (satu milyar tujuh ratus empat puluh tujuh juta sembilan ratus sembilan belas ribu delapan ratus sepuluh rupiah) dari presentase penjualan harta fidusia.
249Achmad Ali., Op.Cit., hal. 292.
Fakta diatas apabila mengacu kepada ketentuan hukum yakni ketentuan pasal 138 Undang-undang No.37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang jo pasal 27 Undang-undang No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia di atas, seharusnya kreditor pajak mendahulukan TENNANT METALS Pty Ltd selaku kreditor separatis untuk mendapat pembayaran piutangnya dari hasil lelang atau penjualan benda yang menjadi agunan fidusia tersebut, baru apabila terdapat sisa dapat dibagikan kepada kreditor-kreditor lainnya, karena pada dasarnya benda jaminan fidusia status hukumnya berada pada kekuasaan penerima fidusia, berdasarkan pertimbangan di atas, maka seharusnya dalam hal ini kurator yang telah menerapkan asas keadilan dan keseimbangan dalam membuat daftar pembagian harta pailit dari PT.YINCHENINDO MINING INDUSTRY menurut pendapat Majelis beralasan dan dapat diterima.
Disisi lain jika melihat isi gugatan dari kreditor pajak dalam hal ini, menuntut bagian lebih yakni mendahulukan/ mengutamakan pelunasan/melunasi Utang Pajak sebesar Rp.90.717.108.949,- (sembilan puluh milyar tujuh ratus tujuh belas juta seratus delapan ribu sembilan ratus empat puluh sembilan rupiah), pendahuluan utang pajak yang sebesar itu tentunya bila dikaji dari proses kepailitan di pengadilan niaga tidak dapat begitu saja diterapkan, sebab ada proses dalam kepailitan yang dilaksanakan sesuai dengan kondisi, aturan dan fakta yang muncul di pengadilan. Seperti halnya di pengadilan diketahui bahwa faktanya jumlah boedel pailit secara keseluruhan yang ada adalah berjumlah Rp.4.701.119.492 (empat milyar tujuh ratus satu juta seratus sembilan belas ribu
empat ratus sembilan puluh dua rupiah), ditambah lagi dalam Undang-Undang Kepailitan, fee dari kurator harus dibayar terlebih dahulu dengan mengambil dari boedel pailit.250 Aturan mengenai fee kurator ini menandakan jika dalam pelaksanaannya pembagiannya terdapat aturan yang dilaksanakan sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku dan tuntutan dari kreditor pajak yang menuntut bagian lebih tidak sesuai sebab dalam faktanya di persidangan terbukti jumlah boedel harta pailit tidak mencapai jumlah yang dituntut, selain itu hal yang utama dalam pembagian boedel pailit oleh kurator adalah dilaksanakan denganberdasarkan kedudukan kreditor yang menganut asas proporsionalitas dimana tersirat tujuan dari kepailitan ini merupakan perwujudan dari asas jaminan sebagaimana ditentukan dalam ketentuan Pasal 1131 dan 1132 KUH Perdata.
Dengan demikian dapat disimpulkan dari sisi kepastian hukum yang melekat dalam kasus melibatkan kreditor pajak dan kreditor separatis selayaknya sudah tercipta kepastian hukum, sebab aturan hukum didalam proses persidangan telah dilaksanakan sebagaimana mestinya, tanpa mengecualikan atau mengesampingkan fakta-fakta yang terjadi dilapangan dan aturan hukum yang ada, meskipun memang pada dasarnya setiap kreditor di pengadilan selalu memiliki dasar dalil hukum yang sesuai menurut undang-undang untuk melakukan pembelaan di muka pengadilan akan tetapi untuk menguatkan dalil hukum tersebut harus juga didasarkan pada kondisi dan situasi yang tepat, sebab apabila dalil gugatan atau pembelaan tidak berada didalam kondisi yang tepat tentunya kepastian hukum tidak akan tercipta dan secara otomatis keadilan hukum
250Pasal 18 ayat (5) Undang-Undang Kepailitan yang menyatakan bila Biaya dan imbalan jasa harus didahulukan atas semua utang yang tidak dijamin dengan agunan .
akan bermakna adil bagi kreditor pajak tetapi nantinya tidak akan adil bagi kreditor separatis, oleh sebab itu agar makna kepastian hukum dapat tercipta maka harus ada kesesuaian hukum yang ada dengan pelaksanaan sehari-hari yang didasari dengan fakta yang ada dilapangan.
D. Kemanfaatan Bagi Kreditor Pajak Dan Kreditor Separatis Terhadap