• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Putusan Hakim Berdasarkan Prinsip Keadilan

Dalam dokumen TESIS. Oleh. DANIEL CENDRICO /M.Kn (Halaman 136-145)

BAB IV PENERAPAN PRINSIP KEADILAN, KEPASTIAN

B. Analisis Putusan Hakim Berdasarkan Prinsip Keadilan

Konsep keadilan hukum dalam menganalisis putusan hakim sejalan dengan konsep keadilan yang dipakai dalam penelitian ini yakni mengacu pada teori keadilan yang bersifat korektif dari aristoteles, dimana dalam kaitaannya dengan permasalahan pembagian harta pailit menjadi ranah atau wilayah hukum di pengadilan dan secara otomatis juga hakim memiliki peranan penting dalam menciptakan keadilan hukum itu sendiri bagi para pihak.231

Pertimbangan hukum oleh hakim dalam keputusanannya terhadap pokok perkara pengadilan niaga, kasasi sampai dengan tingkat banding diatas dapat disimpulkan beberapa poin penting yaitu :

1. Hakim dalam pertimbangan hukumnya berpedoman kepada asas keadilan dan keseimbangan yang disertai alasan penerapan asas tersebut dengan alasan pertimbangan pada pembagian harta pailit,Kreditor preferen sudah memperoleh aset bebas dan ditambah persentase dari fidusia dengan porsi 50% (lima puluh persen) sedangkan kreditor Separatis memperoleh fidusia dengan porsi yang lebih kecil dari 50% (lima puluh persen)dan tidak memperoleh aset bebas.

2. Pertimbangan hakim dalam hal peran kreditor preferen dan kreditor separatis selama keberlangsungan usaha debitor.PerananKreditor Separatis dalam hal ini dianggap memiliki peran yang lebih besar sebagai investor dan secara otomatis pula banyak pekerja yang dipekerjakan oleh Kreditor Separatis, oleh sebab itu hakim berpandangan porsi dari Kreditor Separatis harus tetap ada.

231E. Sumaryono. Op.Cit., hal. 10.

3. Pertimbangan hakim yang mengacu kepada Pasal 1131 KUHPerdata , Undang undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan dan Undang undang Jaminan Fidusia terdapat kesamaan kedudukan sebagai kreditor yang harus didahulukan yang diatur dalam masing-masing Undang-undang tersebut.

Oleh sebab itu hakim memandang perselisihan dalam perkara ini termasuk kedalam ruang lingkup kepailitan, maka majelis hakim akan mempertimbangkannya dengan menggunakan Undang-undang No.37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

4. Hakim mempertimbangkan seharusnya jika mengacu kepada Pasal 138 Undang undang kepailitan maka eksekusi jaminan fidusia harus didahulukan terlebih dahulu untuk mendapatkan pembayaran utang terlebih dahulu baru apabila terdapat sisa dapat dibagikan kepada kreditor-kreditor lainnya, karena pada dasarnya benda jaminan fidusia status hukumnya berada pada kekuasaan penerima fidusia

5. Ditingkat kasasi hakim juga berpendapat jika pemberian saldo harta debitor sudah dilakukan berdasarkan asas keadilan dan keseimbangan

6. Ditingkat peninjauan kembali hakim juga sama berpandangan jika pemberesan harta telah sesuai dengan asas keadilan dan keseimbangan dengan membagi saldo harta debitor pailit kepada kreditor pajak lebih besar yaitu 62,5% (enam puluh dua koma lima persen) dari hasil pemberesan harta pailit dan sisanya dibagi secara berkeadilan.

Menganalisis dari sisi peranan seorang Hakim dalam membuat suatu keputusan di pengadilan, Hakim mempunyai tugas untuk menemukan hukum

yang tepat. Hakim dalam menemukan hukum,232 tidak cukup hanya mencari dalam Undang-undang saja, sebab kemungkinan Undang-undang tidak mengatur secara jelas dan lengkap, sehingga hakim harus menggali nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat. Idealnya dalam upaya menerapkan kepastian hukum, putusan hakim harus sesuai tujuan dasar dari suatu pengadilan, mengandung kepastian hukum sebagai berikut :

a. melakukan solusi autoritatif, artinya memberikan jalan keluar dari masalah hukum yang dihadapi oleh para pihak (penggugat dan tergugat);

b. efisiensi artinya dalam prosesnya harus cepat, sederhana, biaya ringan;

c. sesuai dengan tujuan undang undang yang dijadikan dasar dari putusan hakim tersebut;

d. mengandung aspek stabilitas yaitu dapat memberikan rasa tertib dan rasa aman dalam masyarakat;

e. mengandung equality yaitu memberi kesempatan yang sama bagi pihak yang berperkara.233

Hakim dalam membuat putusan tidak hanya melihat kepada hukum (system denken) tetapi juga harus bertanya pada hati nurani dengan cara memperhatikan keadilan dan kemanfaatan ketika putusan itu telah dijatuhkan (problem denken). Akibat putusan hakim yang hanya menerapkan pada hukum tanpa menggunakan hati nuraninya akan berakibat pada kegagalan menghadirkan keadilan dan kemanfaatan, meskipun putusan hakim (vonnis) sejatinya diadakan untuk menyelesaikan suatu perkara atau sengketa dalam bingkai tegaknya hukum dan keadilan.234

232Bambang Sutiyoso, Impelementasi Gugatan Legal Standing dan class Action dalam Praktek Peradilan di Indonesia, Jurnal hukum Ius Quia Iustum, Vol.26 No 11 Mei 2004, (Yogyakarta: FH UII), hal. 77.

233Fence M Wantu, Mewujudkan Kepastian Hukum, Keadilan dan Kemanfaatan dalam Putusan Hakim di Peradilan Perdata, Jurnal Dinamika Hukum Vol 12 No 3 September 2012, (Gorontalo:Universitas Negeri Gorontalo, 2012), hal. 483.

234HM Soerya Respationo, Putusan Hakim: Menuju Rasionalitas Hukum Refleksi dalam Penegakan Hukum, Jurnal Hukum Yustisia, No.86 Mei- Agustus 2013,( Surakarta :Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta) , hal. 43.

Adil pada hakekatnya bermakna menempatkan sesuatu pada tempatnya dan memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya, yang didasarkan pada suatu asas bahwa semua orang sama kedudukannya di muka hukum (equality before the law). Penekanan yang lebih cenderung kepada asas keadilan dapat berarti harus mempertimbangkan hukum yang hidup dalam masyarakat, yang terdiri dari kebiasaan dan ketentuan hukum yang tidak tertulis. Hakim dalam alasan dan pertimbangan hukumnnya harus mampu mengakomodir segala ketentuan yang hidup dalam masyarakat berupa kebiasaan dan ketentuan hukum yang tidak tertulis, manakala memilih asas keadilan sebagai dasar memutuskan perkara yang dihadapi.235

Hukum bersifat dinamis, maka oleh karena itu hakim sebagai penegak hukum hanya memandang kodifikasi sebagai suatu pedoman agar ada kepastian hukum, sedangkan didalam putusan hakim harus juga mempertimbangkan dan mengingat perasaan keadilan yang hidup dalam masyarakat. Tugas penting dari hakim ialah menyesuaikan undang-undang dengan hal-hal nyata di masyarakat.

Apabila undang-undang tidak dapat di jalankan menurut arti katanya, hakim harus menafsirkannya. Dengan kata lain, apabila undang-undang tidak jelas, hakim wajib menafsirkan sehingga ia dapat membantu suatu keputusan yang adil dan sesuai dengan maksud hukum, yaitu mencapai kepastian hukum. Oleh karena itu, orang dapat mengatakan menafsirkan undang-undang adalah kewajiban hukum dari hakim.236

235Fence M Wantu, Op.Cit., hal 485.

236H.Boy Nurdin, Kedudukan Dan Fungsi Hakim Dalam Penegakan Hukum Di Indonesia, (Bandung:Alumni, 2012) hal. 98-99.

Salah satu metode penafsiran yang berkaitan dengan tugas hakim adalah Penafsiran a contrario yaitu suatu cara penafsiran undang-undang yang didasarkan pada perlawanan pengertian antara soal yang dihadapi dan soal yang diatur dalam suatu pasal undang-undang. Dengan berdasarkan perlawanan pengertian (peringkaran) itu ditarik kesimpulan, bahwa soal yang dihadapi itu tidak diliputi oleh pasal yang termaksud atau dengan kata lain berada diluar pasal tersebut.237

Menganalisis pertimbangan hakim di tingkat pengadilan niaga yang berpandangan membagi harta pailit sesuai dengan nilai proporsional maka dalam hal ini dapat dikatakan hakim dalam melaksanakan kewenangannya menggunakan metode penafsiran a contrario, sebab pada dasarnya didalam Pasal 21 ayat (1), ayat (2), ayat (3) dan ayat (3A) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata CaraPerpajakan sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 (UU KUP)dikatakan

“Negara memiliki hak mendahului khususnya terhadap utang pajak”,

Dengan demikian seharusnya hakim dapat langsung berpedoman pada Undang-undang Pajak, tetapi hakim justru berpandangan lain sebab dalam hal ini perkara yang dihadapi tidak sesuai dengan penerapan pasal tersebut. Senada menurut Erintuah Damanik selaku Hakim Pengadilan Negeri di Kota Medan, ia menyikapi kasus ini harus berujung pada sikap dan hati nurani hakim harus memberikan putusan seadil-adilnya. putusan seadil-adilnya tersebut harus mengingat pula adat kebiasaan, yurisprudensi, ilmu pengetahuan dan akhirnya

237Ibid, hal. 103.

pendapat hakim sendiri ikut menentukan dan untuk itu perlu diadakannya penafsiran hukum oleh sebab itu dalam kasus ini memang perlu penafsiran hukum, penafsiran hukum juga harus digali dari maksudpembuat undang-udang tidak boleh langsung menafsirkan begitu saja dari kata yang dibaca, melainkan dari asas-asas yang dianut dalam undang-undang yang bersangkutan selain itu hakim harus mencari sejarah atau makna yang lebih dalam dari kata-kata tersebut. 238 Melihat pembagian yang proporsional pada putusan tersebut sebenarnya sudah dapat mencerminkan tugas seorang hakim berusaha menciptakan rasa keadilan hukum. Hakim dalam menjatuhkan putusan dengan membagi harta pailit secara seimbang juga mencerminkan hakim menggunakan hati nurani, bukan hanya kepada menerapkan hukum sesuai undang undang saja, akan tetapi menerapkan sesuai dengan nilai nilai yang dianggap layak dan wajar untuk menciptakan rasa keadilan itu sendiri.239

Rasa hati nurani hakim tersebut dapat dilihat saat hakim melihat Kreditor Separatis merupakan kreditor yang dalam pelaksanaan usaha merupakan investor atau pihak yang mendukung usaha dari Debitor sehingga mampu memberikan penghidupan berupa lapangan pekerjaan bagi para pekerja sebelum ia pailit sehingga hakim memandang rasa keadilan dalam hal ini harus seimbang. Memang undang-undang mengatakan hak kreditor preferen harus didahulukan dan diistimewakan maka dari itu harus dilihat alasan didahulukan itu mengapa dan alasannya apa dan apabila kreditor yang bersangkutan merujuk kepada

undang-238Wawancara dengan Bapak Erintuah Damanik hakim Pengadilan Niaga selaku Hakim Pengadilan Negeri Medan Kelas I –A Khusus pada tanggal 25 september 2017.

239Wawancara dengan Bapak Erintuah Damanik hakim Pengadilan Niaga selaku Hakim Pengadilan Negeri Medan Kelas I –A Khusus pada tanggal 25 september 2017.

undang yang menguatkan tentang hak kreditor preferen maka hakim harus melihat dan harus dapat menempatkan pasal dalam undang-undang yang dituju tersebut sebagai pertimbangan dengan melihat situasi perkara yang tengah dihadapi dan tidak boleh berpotensi menimbulkan ketidakadilan maka hakim dapat menerapkan pasal tersebut dan sebaliknya juga jika hakim menanggap pasal ini diterapkan justru akan menimbulkan ketidakadilan maka hakim dapat menggunakan metode penafsiran. Dalam hal ini tentunya harus diperhatikan juga kedudukan kreditor lain yang secara kedudukannya juga memiliki hak atas harta pailit tersebut, dan jika memang tetap harus didahulukan harus dipertimbangkan kembali apakah dalam hal ini akan merugikan kreditor lain atau tidak, atau apakah dapat menyebabkan ketidakadilan atau tidak, banyak pertimbangan yang harus dikaji oleh hakim sebelum pada akhirnya harus memutuskan sebuah perkara.240

Ditinjau dari pembelaan kreditor pajak dalam dalil gugatannya yang memakai dasar hukum yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor 070 PK/PDT.SUS/2009 Perkara Peninjauan Kembali Perdata Khusus antara KPP Pratama Jakarta Tanah Abang Dua melawan Kurator PT.Artika Optima Inti (dalam pailit) dan PT.Bank Mandiri (Persero) Tbk, yang pada dasarnya mendahulukan kepentingan Kantor pajak dalam pelunasan utang.

Tentang yurisprudensi dikatakan keputusan hakim yang berisikan suatu pertimbangan pertimbangan hukum sendiri berdasarkan kewenangan yang diberikan kepadanya yang kemudian menjadi dasar putusan Hakim lainnya di kemudian hari untuk mengadili perkara yang memiliki unsur-unsur yang sama,

240Wawancara dengan Bapak Erintuah Damanik hakim Pengadilan Niaga selaku Hakim Pengadilan Negeri Medan Kelas I –A Khusus pada tanggal 25 september 2017.

dan selanjutnya putusan hakim tersebut menjadi sumber hukum di Pengadilan.

Kepatuhan hakim dalam mengutip hukum yurisprudensi yang memiliki nilai kepastian, kemanfaatan, dan keadilan hukum akan dapat melahirkan situasi hukum dimana masyarakat percaya atas putusan hakim dan percaya atas wibawa lembaga peradilan, karena terhindarnya perbedaan putusan hakim

“Disparitas”dalam perkara yang sama.241

Terhadap pertimbangan hakim memang sebenarnya dapat mengacu kepada yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor 70 dengan mendahulukan kepentingan kantor pajak dalam pelunasan utang akan tetapi kembali lagi pada sikap hakim yang tidak pertimbangan hakim sendiri dengan tidak ada menyinggung mengenai yurisprudensi Mahkamah Agung tersebut. Dengan kata lain hakim dalam putusan ini mengenyampingkan yurisprudensi tersebut. Timbul pertanyaan apakah diperbolehkan hakim untuk mengenyampingkan yurisprudensi yang telah ada dalam membuat putusan. Menjawab hal tersebut maka dalam hal ini dapat dilihat dari sistem hukum yang dianut oleh suatu negara.Dalam sistem hukum Common Law, hakim terikat pada precedent atau putusan mengenai perkara yang serupa dengan yang akan diputus. Hakim harus berpedoman pada putusan-putusan pengadilan terdahulu apabila ia dihadapkan pada suatu persitiwa, sehingga dianut asas “binding precedent.” Sedangkan, di Indonesia yang menganut sistem hukum Civil Law, putusan pengadilan bersifat “persuasive precedent.” Jadi, putusan itu

241 H.M Fauzan, Kaidah Penemuan Hukum Yurisprudensi Bidang Hukum Perdata,(Jakarta:Prenadamedia Group, 2014), hal. 10.

tidak mempunyai kekuatan mengikat, tetapi hanya sebagai kekuatan yang meyakinkan.242

Pengertian kedua istilah dalam Black Law’s Dictionary binding precedent dan persuasive precedent yaitu binding precedent adalah preseden yang harus diikuti oleh pengadilan. Misalnya, pengadilan di tingkat bawah terikat pada putusan pengadilan di atasnya dalam satu yuridiksi yang sama sedangkan persuasive precedent adalah preseden yang boleh diikuti atau ditolak oleh pengadilan tetapi bisa dihormati dan digunakan secara hati-hati sebagai pertimbangan.243

Pertimbangan hakim sebenarnya menjadikan yurisprudensi sebagai acuan saja buat hakim dalam membuat suatu keputusan disebabkan yurisprudensi tersebut dianggap memiliki kesamaan terhadap perkara yang sama, bukan mengikuti yurisprudensi tersebut, hakim dapat menjadikan yurisprudensi tersebut sebagai bahan pertimbangan.244

Ditambah lagi menurut Jimly penegasan bahwa

“kebebasan dalam melaksanakan wewenang yudisial bersifat mutlak karena tugas hakim adalah menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila sehingga putusannya mencerminkan rasa keadilan rakyat Indonesia, sebagaimana kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan yang diatur dalam Pasal 24 ayat (1) UUD 1945.”245

242Wawancara dengan Bapak Erintuah Damanik hakim Pengadilan Niaga selaku Hakim Pengadilan Negeri Medan Kelas I –A Khusus pada tanggal 25 september 2017.

243klinik hukum mengenai perbedaan sifat mengikat antara preseden dengan yurisprudensi diakses melalui media elektoronik yaitu melalui hukumonline.com ,http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl1679/perbedaan-sifat-mengikat-antara-preseden-dengan-yurisprudensi pada tanggal 07 September 2017.

244Wawancara dengan Bapak Erintuah Damanik hakim Pengadilan Niaga selaku Hakim Pengadilan Negeri Medan Kelas I –A Khusus pada tanggal 25 september 2017.

245Bachtiar, Mahkamah Konstitusi Pada Pengujian UU Terhadap UUD, (Jakarta:Raih Asa Sukses, 2015), hal. 96-97.

Pertimbangan hakim tersebut diatas dikaitkan dengan teori keadilan dari Aristoteles mengenai keadilan yang bersifat distributiv dimana keadilan mengacu kepada kedudukan yang adil terutama dalam pembagian harta pailit sesuai dengan kedudukannya masing-masing. Penerapan asas keadilan ini bukan hanya ditempatkan kepada kurator saja akan tetapi ditempatkan juga dalam proses hakim membuat keputusan sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya tentang pembagian harta debitor pailit sesuai dengan porsi yang seimbang.

C. Analisis Kepastian Hukum dalam Putusan Nomor 57/Pdt.Sus Renvoi

Dalam dokumen TESIS. Oleh. DANIEL CENDRICO /M.Kn (Halaman 136-145)