TESIS
Oleh
DANIEL CENDRICO 157011183/M.Kn
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2018
TESIS
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara
Oleh
DANIEL CENDRICO 157011183/M.Kn
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2018
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. Sunarmi ,SH, MHum Anggota : 1. Dr Dedi Harianto, SH, MHum
2. Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, M.Hum 3. Dr. Edy Ikhsan, SH., MA
4. Dr. Utary Maharany Barus, SH., MHum
Nim : 157011183
Program Studi : Magister Kenotariatan FH USU
Judul Tesis : ANALISIS TERHADAP KEDUDUKAN PIUTANG
PAJAK SEBAGAI KREDITOR PREFEREN BERHADAPAN DENGAN KREDITOR SEPARATIS DALAM PEMBAYARAN UTANG HARTA PAILIT (STUDI PUTUSAN PENGADILAN NIAGA NOMOR:
57/PDT.SUS-RENVOI PROSEDUR/2011/PN. NIAGA.
JKT.PST)
Dengan ini menyatakan bahwa Tesis yang saya buat adalah asli karya saya sendiri bukan Plagiat, apabila dikemudian hari diketahui Tesis saya tersebut Plagiat karena kesalahan saya sendiri, maka saya bersedia diberi sanksi apapun oleh Program Studi Magister Kenotariatan FH USU dan saya tidak akan menuntut pihak manapun atas perbuatan saya tersebut.
Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan dalam keadaan sehat.
Medan,
Yang membuat Pernyataan
Nama : DANIEL CENDRICO Nim : 157011183
membagi sesuai dengan bagian yang dituntut oleh kreditor hingga diselesaikan dengan proses renvoi prosedur di Pengadilan Niaga. Dalam kasus ini kreditor pajak yang kedudukannya sebagai kreditor preferen yang harus didahulukan haknya, sementara disisi lain terdapat kreditor separatis yang juga memiliki hak atas harta pailit sehingga menurut kurator membagi sesuai porsi bagiannya masing-masing sesuai dengan jumlah harta pailit yang ada merupakan cara yang tetap dan adil terhadap para kreditor. Berdasarkan uraian tersebut maka penelitian selanjutnya akan dikaji dan dibahaslebih jauh mengenai perumusan dan pemberesan harta pailit, dan potensi terjadinya tumpang tindih penerapan asas proporsionalitas yang dianut dalam Undang-Undang Kepailitan apabila berhadapan Undang-undang Pajak dalam hal terjadi pembagian harta pailit serta menganalisis penerapan asas keadilan dan asas kemanfaatan dalam perkara yang telah masuk dalam Pengadilan Niaga tersebut
Metode penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian yuridis normatif dan sifat penelitian deskriptif analitis, pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data sekunder berupa bahan primer, sekunder dan tertier sebagai data utama. Data-data yang diperoleh kemudian diolah,dianalisis dan ditafsirkan secara logis,sistematis dengan menggunakan metode berpikir deduktif.
Dari hasil penelitian diketahui pengurusan dan pemberesan harta pailit terhadap kedudukan kreditor pajak merupakan kreditor yang harus didahulukan terlebih dahulu pembayarannya sisanya kemudian diberikan kepada kreditor separatis, dari sisi penerapan asas proporsionalitas berhadapan dengan Undang- undang Pajak terhadap pembagian harta pailit yang tidak cukup berpotensi terjadi tumpang tindih sebab di satu sisi menurut Undang-Undang Pajak utang pajak tersebut harus didahului disisi lain asas proporsionalitas mengutamakan pembagian yang proporsional oleh sebab itu menyikapi hal ini dapat dipakai penerapan asas hukum lex spesialis derogat legi generali sebab bila utang pajak merupakan objek yang masuk dalam ranah kepailitan maka penerapannya harus sesuai dengan aturan yang ada dalam hukum kepailitan. Putusan pengadilan dapat disikapi telah memenuhi asas keadilan dan memberi manfaat bagi para pihak yang berperkara, keadilan tersebut dapat dilihat dengan pembagian oleh hakim sesuai dengan asas proporsionalitas yang memandang hak kreditor separatis juga harus dipenuhi meskipun dihadapkan pada kreditor pajak yang haknya harus didahulukan, dari sisi kemanfaatan telah memberikan manfaat dalam menagih utang pajak pasca debitor pailit meski tidak dapat ditagih seluruhnya tetapi melalui putusan pengadilan sudah memberikan kepastian hukum bagi para pihak.
Kata Kunci : kreditor preferen, kreditor separatis, kreditor pajak
case has to be settled through renvoi procedure in the Commercial Court. In this case, tax creditor as the preferred creditor should be prioritized although there is also the secured creditor who has his own right on bankruptcy property so that the curator should distribute it fairly. Therefore, it is necessary to analyze how to handle the distribution of bankruptcy property, the potency of the overlap in implementing the principle of proportionality as it is stipulated in Law on Bankruptcy when it is related to Tax Law in distributing bankruptcy property, and it is also necessary to analyze the implementation of the principle of justice and the principle of utility in the case which is in the proceeding of the Commercial Court.
The research used juridical normative and descriptive analytical method.
The data were gathered by using secondary data which were obtained from primary, secondary, and tertiary materials. The gathered data were analyzed logically, systematically, and deductively.
The result of the research showed that the organization and the settling of bankruptcy property related to the position of tax creditor, the preferred creditor should be prioritized and the remaining payment is then paid to the secured creditor. Viewed from the application of the principle of proportionality related to Tax Law in distributing bankruptcy property, it will not have the overlap because according to Tax Law, the tax payable should be prioritized. Besides that, the principle of proportionality prioritizes proportional distribution; therefore, legal principle of ‘lex spesialis derogat legi generali’ can be applied because when tax payable is the object of bankruptcy, its implementation should be in line with the Law on Bankruptcy. The Court’s Verdict has met the principle of justice and given the benefit for litigants since the judge, according to the principle of proportionality, considers that secured creditor also has the right on the bankruptcy property. Viewed from its utility, the verdict has given the benefit in dunning the tax payable in the post-debtor’s bankruptcy. Even though not the whole tax payable can be billed, at least the court’s verdict has given legal certainty to the litigants.
Keywords: Preferred Creditor, Secured Creditor, Tax Payable
menyelesaikan tesis ini.
Tesis Yang Penulis Selesaikan Ini Berjudul “Analisis Terhadap Kedudukan Piutang Pajak Sebagai Kreditor Preferen Berhadapan Dengan Kreditor Separatis dalam Pembayaran Utang Harta Pailit (Studi Putusan
Pengadilan Niaga Nomor: 57/PDT.SUS-RENVOI
PROSEDUR/2011/PN.NIAGA. JKT.PST)”.
Penulisan tesis ini merupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Kenotariatan (M.Kn) Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis berharap agar semua pihak dapat memberikan saran, pendapat dan kritikan yang sifatnya membangun demi menghasilkan sebuah karya ilmiah yang lebih baik lagi.
Tesis ini dapat terselesaikan tidak terlepas dari banyak pihak yang telah memberikan bantuan, dukungan, ataupun semangat kepada penulis. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Prof. Dr. Runtung, SH.,M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. Dr. Budiman Ginting, SH., M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas SumateraUtara.
3. Dr. T. Keizerina Devi A., S.H., C.N., M.Hum., selaku Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
4. Dr. Edy Ikhsan, S.H., M.A., selaku Sekretaris Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
5. Prof. Dr. Sunarmi ,SH, MHum, selaku Ketua Komisi Pembimbing.
6. Dr. Dedi Harianto, SH, MHum, selaku Anggota Komisi Pembimbing.
7. Dr. T. Keizerina Devi, A, SH, CN, MHum, selaku Anggota Komisi Pembimbing.
8. Dr. Edy Ikhsan, SH, MA, selaku Dosen Penguji.
penulis Snowy Cendrica, dan pacar Sheila Wiyasih Elang atas dukungan dan semangat yang selalu diberikan kepada penulis.
12. Seluruh teman-teman Stambuk 2015 yang tidak dapat diucapkan satu per satu.
13. Dan kepada seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan tesis ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Akhir kata, semoga penulisan tesis ini dapat bermanfaat bagi kita semua yang membaca.
Medan, 23 April 2018 Penulis,
DANIEL CENDRICO
Nama : Daniel Cendrico
Tempat/TanggalLahir : Medan/ 23 Januari 1993
Alamat : Jl. Gurami No.6 Medan
JenisKelamin : Laki - Laki
II. PENDIDIKAN
Taman Kanak-kanak : PerguruanSutomo (1996-1998) SekolahDasar : Perguruan Sutomo(1998-2004) Sekolah Menengah Pertama : Perguruan Sutomo(2004-2007) Sekolah Menengah Atas : Perguruan Sutomo (2007-2010) Pendidikan Strata-1 : Fakultas HukumUniversitas Sumatera
Utara (2010-2014)
Pendidikan Strata-2 : Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (2015-2018)
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR... iii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... iv
DAFTAR ISI ... v
BAB I PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Perumusan Masalah ... 9
C. Tujuan Penelitian ... 10
D. Manfaat Penelitian ... 10
E. Keaslian Penelitian... 11
F. Kerangka Teori dan Konsepsi... 14
1. Kerangka Teori ... 14
2. Konsepsi... 24
G. Metode Penelitian... 26
BAB II PENGATURAN PENGURUSAN DAN PEMBERESAN HARTA PAILIT TERHADAP KREDITOR PAJAK SEBAGAI KREDITOR PREFEREN BERHADAPAN DENGAN KREDITOR SEPARATIS DALAM HUKUM KEPAILITAN ... 33
A. Kedudukan Harta Untuk Melunasi Utang Debitor Pasca Putusan Pailit... 33
B. Tugas Dan Wewenang Kurator Dalam Kepailitan ... 48
C. Pengaturan Pengurusan Dan Pemberesan Dalam Pembagian Harta Pailit ... 55
D. Kendala Yang Dihadapi Oleh Kurator Dalam Proses Pemberesan Pembagian Harta Pailit ... 78
A. Tinjauan Umum Tentang Penerapan Undang-Undang Pajak
Berkaitan Dengan Utang Pajak ... 85
B. Kedudukan Utang Pajak Dalam Kepailitan ... 92
C. Analisis Penerapan Asas Proporsionalitas Dalam Kepailitan Terhadap Pembagian Utang Pajak ... 98
BAB IV PENERAPAN PRINSIP KEADILAN, KEPASTIAN HUKUM DAN KEMANFAATAN DALAM PUTUSAN NOMOR 57/ PDT.SUS RENVOI PROSEDUR/2011/PN.NIAGA JKT.PST... 114
A. Analisis Putusan Nomor 57/Pdt.Sus Renvoi Prosedur/2011/ PN.Niaga Jkt.Pst Tentang Gugatan Kreditor Pajak Berhadapan Dengan Kreditor Separatis ... 114
B. Analisis Putusan Hakim Berdasarkan Prinsip Keadilan ... 124
C. Analisis Kepastian Hukum dalam Putusan Nomor 57/Pdt.Sus Renvoi Prosedur/2011/ PN.Niaga Jkt.Pst ... 133
D. Kemanfaatan bagi Kreditor Pajak dan Kreditor Separatis terhadap Putusan Nomor 57/Pdt.Sus Renvoi Prosedur/2011/ PN.Niaga Jkt.Pst ... 138
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 142
A. Kesimpulan ... 142
B. Saran ... 144
DAFTAR PUSTAKA ... 146
BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Sejalan dengan perkembangan perdagangan yang semakin cepat dan meningkat dalam skala yang lebih luas dan global permasalahan utang piutang perusahaan semakin rumit dan membutuhkan aturan hukum yang efektif.
Akibatnya akademisi, pengacara, dan berbagai kalangan mulai melirik kembali ketentuan yang mengatur tentang kepailitan yakni Undang-Undang Nomor 37 tahun 2004. Mulai dilakukan kegiatan-kegiatan dalam bentuk seminar, lokakarya, dan penelitian yang khusus membahas hukum kepailitan serta aspek hukum lain yang memiliki kaitan yang erat dengan kepailitan terutama dari segi ekonomi.
Perkembangan perekonomian global membutuhkan aturan Hukum Kepailitan yang mampu memenuhi kebutuhan hukum para pelaku bisnis dalam penyelesaian utang piutang mereka. Globalisasi hukum mengikuti globalisasi ekonomi, dalam arti substansi berbagai undang-undang dan perjanjian-perjanjian menyebar melewati batas batas negara.1
Di Indonesia pengaturan hukum khususnya tentang kepailitan sebenarnya telah ada tetapi masih mengadopsi Undang-Undang Kepailitan warisan Belanda yang lebih ditujukan untuk menampung kasus-kasus perusahaan perdagangan sederhana, yang umumnya masih dalam bentuk perorangan. Sehingga yang dicakup hanyalah kepailitan pedagang. Belum berkembangnya kultur perusahaan
1Sunarmi,Hukum Kepailitan, (Medan : USU Press, 2009), hal. 1.
di Indonesia berpengaruh terhadap penyelesaian Kepailitan yang lebih mempergunakan pendekatan personal.2
Menjawab kebutuhan yang besar dan sifatnya mendesak untuk secepatnya mewujudkan sarana hukum bagi penyelesaian yang cepat, adil, terbuka, dan efektif guna menyelesaikan utang piutang perusahaan yang besar pengaruhnya terhadap perekonomian nasional dan dalam kerangka penyelesaian akibat akibat gejolak moneter yang terjadi sejak pertengahan tahun 1997, khususnya terhadap masalah utang piutang dikalangan dunia usaha nasional maka pemerintah menyempurnakan pengaturan hukum kepailitan warisan Belanda dengan melahirkan Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 1998 yang kemudian dikuatkan menjadi Undang-Undang No. 4 Tahun 1998 yang saat ini telah dirubah menjadi Undang-Undang No. 37 Tahun 2004.
Penggunaan hukum kepailitan merupakan tindakan hukum yang terakhir yang dapat dilakukan apabila langkah-langkah yang berupa perdamaian ataupun restrukturisasi utang ternyata telah gagal dilaksanakan. Undang-Undang Kepailitan khususnya tidak membicarakan persoalan mengenai apakah debitor dapat dimintai pertanggung jawaban atas kekayaan finansialnya. Undang-Undang Kepailitan berbicara secara netral tentang kepailitan yang menyangkut debitor yang berada dalam keadaan berhenti membayar.3Apabila hanya seorang kreditor yang ingin mengajukan gugatan atau piutang-piutang yang belum dibayar, maka
2Retnowulan Sutantio, Kesiapan Dunia Usaha Menghadapi Berlakunya Perpu No. 1 Tahun 1998 tentang Kepailitan, Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional RUU tentang kepailitan diselenggarakan oleh BPHN – Dep.Keh. bekerjasama dengan ELIPS Project, Jakarta, Tgl. 27-28 juli 1998 dalam Sunarmi, Prinsip Keseimbangan Dalam Hukum Kepailitan Di Indonesia Edisi 2, (Jakarta:SoftMedia,2010)., hal. 6.
3Ibid., hal. 5.
kreditor akan mengajukan gugatan itu melalui Pengadilan Negeri dengan alasan melakukan wanprestasi. Namun, bila kreditor terdiri atas beberapa orang.
Tuntutan dapat diajukan melalui lembaga hukum kepailitan yang akan berakibat sangat berat terhadap kedudukan hukum Debitor dalam bidang harta kekayaan.4
Umumnya Undang-Undang Kepailitan berkaitan dengan utang debitor dan piutang atau tagihan kreditor.5Lembaga Hukum Kepailitan merupakan perangkat yang disediakan oleh hukum untuk menyelesaikan utang piutang diantara debitor dan para kreditornya. 6 Akibat hukum kepailitan terhadap debitor pailit mengakibatkan terjadinya sita umum atas kekayaan debitor, hakikat dari sita umum bahwa kepailitan adalah menghentikan aksi terhadap perebutan harta pailit oleh para kreditornya serta menghentikan lalulintas transaksi terhadap harta pailit oleh debitor yang kemungkinan akan merugikan para kreditornya.7 Terhitung sejak putusan pernyataan pailit diucapkan, debitor tidak lagi berwenang melakukan pengurusan dari segala perbuatan hukum atas harta kekayaan yang termasuk dalam kepailitan dan demi hukum kepengurusan tersebut beralih kepada kurator.8
Kurator merupakan salah satu pihak yang cukup memegang peranan dalam suatu proses perkara pailit. Pengangkatan kurator berdasarkan pada putusan pernyataan pailit, dalam arti bahwa dalam putusan pernyataan pailit harus
4Ibid., hal 13.
5Sutan Remy Syahdeini, Pengertian Utang Dalam Kepailitan, (Jurnal Hukum Bisnis, Volume 7, Januari 2002), hal. 46.
6Jerry Hoff, Indonesian Bankruptcy Law, (Jakarta:Intermasa, 2001), hal. 230.
7Hadi Shubban, Hukum Kepailitan, (Jakarta:Kencana, 2009), hal.164.
8J. Andy Hartanto, Hukum Jaminan dan Kepailitan, (Surabaya:LaksBang Justitia Surabaya,2015), hal. 72.
dinyatakan adanya pengangkatan kurator.9Berdasarkan Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (UUK dan PKPU) , maka yang dapat bertindak sebagai kurator sebagaimana diatur dalam Pasal 70 adalah:
1. Balai harta peninggalan 2. Kurator lainya10
Mengingat beratnya tugas yang ditanggung oleh kurator dalam melakukan pengurusan dan pemberesan harta pailit, maka seorang kurator harus selalu berhubungan dengan hakim pengawas untuk melakukan komunikasi dan konsultasi atau sekedar mendapat masukan. Hal ini dilakukan untuk mencapai tujuan keberhasilan dari suatu pernyataan pailit, karenanya hakim pengawas dan kurator harus saling berhubungan sebagai mitra kerja.11
Secara tegas disebutkan dalam Undang undang Nomor 4 Tahun 1998 bahwa dalam hal kepailitan maupun PKPU dikabulkan, maka harus ditunjuk Hakim Pengawas yang akan mengawasi pelaksanaan tugas pengurusan dan pemberesan harta pailit oleh Kurator dan tugas pengawasan atas pelaksanaan tugas pengurusan dan pengalihan hak-hak debitor atas harta debitor yang dilakukan oleh pengurus bersama-sama dengan debitor.12
9Ivida Dewi Amrih Suci, Hak Kreditor Separatis Dalam Mengeksekusi Benda Jaminan Debitor Pailit, (Yogyakarta:Laksbang Pressindo, 2011), hal. 79.
10Jerry Hoff, Undang Undang Kepailitan di Indonesia (Idonesian Bankruptcy Law), diterjemahkan oleh Kartini Muljadi, (Jakarta:Tatanusa, 2000), hal. 65.
11Imran Nating, Peran dan Tanggung Jawab Kurator dalam Pengurusan Dan Pemberean Harta Pailit, (Jakarta :Raja Grafindo Persada, 2004), hal. 102.
12Seminar Sehari Revitalisasi,Tugas dan Wewenang Kurator/Pengurus, Hakim Pengawas dan Hakim Niaga dalam Rangka Kepailitan, (Jakarta : Pusat Pengkajian Hukum, 2004), hal. 56.
Selanjutnya langkah pertama yang harus dilakukan oleh Kurator setelah putusan pailit dalam proses pengurusan dan penguasaan harta pailit adalah mengumumkan kepailitan dalam berita Negara Republik Indonesia serta dalam sekurang kurangnya 2 (dua) surat kabar harian yang ditetapkan oleh hakim pengawas. Makna diharuskan kepailitan diumumkan adalah untuk diketahui para kreditor dari si pailit tersebut.13
Penggolongan kreditor dalam kepailitan ada 3 (tiga) yakni kreditor preferen, kreditor separatis dan kreditor konkuren. Kreditor preferen adalah kreditor yang karena sifat utangnya mempunyai kedudukan istimewa dan mendapat hak untuk memperoleh pelunasan lebih dahulu dari penjualan harta pailit, kreditor separatis adalah kreditor pemegang hak jaminan kebendaan yang dapat bertindak sendiri sedangkan Kreditor Konkuren dikenal juga dengan istilah kreditor bersaing, kreditor konkuren memiliki kedudukan yang sama dan hak memperoleh hasil penjualan harta kekayaan debitor setelah sebelumnya dikurangi dengan kewajiban membayar piutang kepada para kreditor pemegang jaminan dan para kreditor dengan hak istimewa secara proporsional menurut perbandingan besarnya piutang masing-masing kreditor konkuren tersebut ( berbagi secara pari passu prorata parte).14
Tahap selanjutnya adalah mengadakan rapat verivikasi untuk mencocokkan utang utang debitor pailit sebagai penentuan klasifikasi tentang tagihan tagihan yang masuk terhadap harta pailit, yang diklasifikasikan menjadi daftar piutang diakui, piutang yang di ragukan atau sementara diakui maupun
13Hadi Suhubban, Op.Cit, hal. 135.
14J. Andy Hartanto, Op.Cit., hal.146.
piutang yang dibantah yang akan menentukan pertimbangan dan urutan hak masing masing kreditor.15Dalam praktiknya tidak jarang muncul bantahan atas tagihan salah satu calon kreditor.Oleh karena itu hakim pengawas dalam hal ini berusaha mendamaikan. Apabila tidak berhasil maka dalam kepailitan oleh hakim pengawas persoalan tersebut diserahkan kepada majelis hakim untuk diputuskan.
Gambaran lebih lanjut dalam hal initerdapat kasusdalam putusan Pengadilan Niaga Nomor 57/PDT.Sus-Renvoi Prosedur/2011/PN.Niaga.Jkt.Pst yang menjadi bahan kajian dalam tesis ini yangmengangkat permasalahan yaitu kurator yang ditugaskan hakim pengawas dalam membereskan harta pailit tidak menemui kesepakatan dengan kreditor pailit terhadap pembagian harta pailit debitor. Kreditor pailit bertindak selaku kreditor pajak merasa hak dari pembagian harta pailit yang dibagi oleh kurator tidak sesuai, hak kreditor pajak seharusnya diutamakan terlebih dahulu atas hak hak kreditor lain.Karena tidak meemui titik kesepakatanmaka dalam hal ini hakim pengawas menunjuk penyelesaian sengketa untuk dibawa ke Pengadilan Niaga. Putusan yang masuk ke Pengadilan Niaga dinamakan Renvoi Prosedur.
Kronologi permasalahan dimulai dari pembagian harta Pailit dari PT.
Yinchenindo Minang Industry. Hakim pengawas segera menunjuk kurator untuk melakukan pengurusan dan pembagian harta debitor pailit sesuai dengan bagian masing masing yang menurut hakim pengawas telah melaksanakannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku, akan tetapi Kreditor Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing tidak puas dan mengajukan keberatanatas hasil
15Hadi Shubban, Op.Cit., hal. 139.
pembagian harta pailit tersebut.16Hakim pengawas kemudian menerima surat keberatan dari Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Dua No.S- 4964/WPJ.07/KP.03/2014, Alasan Kreditor Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing karena utang pajak harus didahulukan dari pembagian harta pailit.
Keberatan Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Dua (KPP) adalah atas daftar pembagian PT. Yinchenindo Mining Industry dimana jumlah pelunasan utang yang diminta tidak sesuai dengan hitungan dari kreditor yang bersangkutan. 17 Penjelasan mengenai total piutang sebesar lebih kurang Rp.90.000.000.000,- (sembilan puluh milyar rupiah)yang ditagih akan tetapi yang didapat hanya sebesar lebih kurang Rp.2.000.000.000,- (dua milyar rupiah) dan pembagian selebihnya diberikan kepada kepada kreditor separatis sebesar lebih kurang Rp.1.500.000.000,- (satu milyar lima ratus juta rupiah) hal inilah yang menjadi dasar gugatan kreditor pailit KPP.
Kedudukan kurator menurut kreditor pajak dalam menjalankan tugasnya membagi harta pailit termasuk perbuatan pelanggaran dan perlawanan terhadap undang-undang sebab dalam hal ini Hakim Pengawas PT. Yinchenindo Mining Industry (dalam pailit) yang menyetujui Penyusunan Daftar Pembagian tidak sesuai dengan undang-undang dan merupakan perbuatan melawan hukum yang berpotensi merugikan negara/pendapatan pajak sebesar Rp.87.778.909.266.18
Pelunasan sisa tunggakan pajak yang sebesar lebih kurang Rp.80.000.000.000.- (delapan puluh milyar rupiah) dari total tunggakan Rp.
16Tentang putusan perkara antara Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Penanaman Modal Asing Dua dengan Kurator PT Yunchenindo Mining Industry (dalam pailit) dalam Putusan Pengadilan Niaga Nomor : 57/ PDT. SUS- RENVOI PROSEDUR /2011 /PN.NIAGA.JKT.PST.
17Ibid.
18Ibid.
90.000.000.000,- (sembilan puluh milyar rupiah)disebutkan diatas juga merupakan tanggung jawab kurator setelah terjadi pembagian harta boedel pailit dimana KPP mendapat sebesar lebih kurang Rp. 2.000.000.000 (dua milyar rupiah). Menurut penggugat apabila harta pailit/boedel tidak cukup maka berdasarkan ketentuan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2000 (UUPPSP) Tentang Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa. Kurator dalam hal ini sebagai Wakil PT. Yinchenindo Mining Industry (dalam Pailit) dapat dimintai pertanggungjawaban secara pribadi dan/atau secara renteng terhadap pelunasan sisa piutang pajak yang tidak dilunasi kurator.19
Ketidakpuasan dari KPP setelah hakim membatalkan gugatan penggugat di Pengadilan Niaga, KPP mengajukan banding ke tingkat kasasi, dalam pertimbangan hukumnya Mahkamah Agung memiliki pandangan yang sama dengan hakim pada tingkat pengadilan niaga.Pertimbangan Hakim terhadap Putusan Pengadilan Negara Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 57/Pdt.Sus- Renvoi Prosedur/2011/PN.Niaga.Jkt Pst tanggal 7 Juli 2014 tidak bertentangan dengan hukum sehingga permohonan kasasi tetap menguatkan putusan Pengadilan Niaga, dan setelah pada tingkat kasasi juga ditolak maka upaya hukum terakhir yang dilakukan dengan peninjauan kembali.20
Peninjauan kembali hakim pada kesimpulannya juga tetap menguatkan Putusan Mahkamah Agung, hakim menilai peninjauan kembali tanggal 7 Mei 2015 dan jawaban alasan peninjauan kembali tanggal 18 Mei dihubungkan dengan pertimbangan Judex Juris dalam hal ini Mahkamah Agung tidak ditemukannya
19Ibid.
20Tentang pertimbangan Hakim Mahkamah Agung dalam Putusan Nomor 511 K/Pdt.Sus- Pailit/2014.
suatu kekilafan dan ataupun kekeliruan yang nyata dimana dalam pemberesan harta pailit tidak mencukupi untuk membayar semua hutang debitor maka pembagian dilakukan sesuai dengan asas keadilan dan keseimbangan.21
Mengacu pada gugatan kreditor pajak secara jelas kreditor pajak mengkehendaki seluruh piutang yang ditagih untuk dilunasidari harta pailit tanpa memperhitungkan keberadaan kreditor lainseperti kreditor Separatis dan kreditor lainnya, sementara itu apabila seluruh piutang kreditor pajak dipenuhi maka dalam hal ini akan berpotensi menyebabkan ketidakadilan bagi kreditor separatis dimana harta debitor pailit tadi tidak cukup menutupi piutang kreditor lain.
Berkaitan dengan hal inilah yang menjadi alasan untuk memilih judul
“Analisis Terhadap Kedudukan Piutang Pajak Sebagai Kreditor Preferen Berhadapan Dengan Kreditor Separatis dalam Pembayaran Utang Harta Pailit (Studi Putusan Pengadilan Niaga Nomor: 57/PDT.SUS-RENVOI PROSEDUR/2011/PN.NIAGA. JKT.PST)”
B.Perumusan Masalah
1. Bagaimana pengurusan dan pemberesan pembagianboedel pailit terhadap kedudukan kreditor Pajak sebagai kreditor preferen berhadapan dengan kreditor separatis dalam hukumkepailitan ?
2. Apakah penerapan asas proporsionalitas(Pari Passu Prorata Parte) dalam pembagian harta pailit terhadap piutang pajak tumpang tindih dengan Undang Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan?
21Tentang pertimbangan Hakim Mahkamah Agung dalam Putusan Nomor 72 PK/Pdt.Sus- Pailit.2015.
3. Bagaimana penerapan asas kepastian hukum, keadilan dan kemanfaatan dalam perkara Pengadilan Niaga Nomor: 57/Pdt.Sus-renvoi prosedur/2011/Pn.Niaga.Jkt.Pst?
C.Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian dalam penulisan tesis ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk menganalisis dan mengetahuibagaimana proses pemberesan pelunasan piutang terhadap kedudukan Kreditor Pajak selaku Kreditor Preferen dan Kreditor Separatis dalam Undang Undang Kepailitan.
2. Untuk menganalisis dan mengetahui apakah penerapan asas proporionalitas dalam kepailitan terjadi tumpang tindih atau tidak dengan Undang Undang Nomor28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
3. Untuk menganalisis dan mengetahui bagaimana penerapan asas keadilan dan kemanfaatan bagi para kreditor yang berperkara dalam Perkara Pengadilan Niaga Nomor: 57/Pdt.Sus-renvoi prosedur/2011/Pn.Niaga.Jkt.Pst
D. Manfaat Penelitian
Adapun Manfaat yang didapat dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut
1. Manfaat Teoretis
Secara teoretis hasil penelitan ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi perkembangan ilmu hukum khususnya didalam bidang hukum kepailitan dan untuk mengetahui bagaimana penyelesaian pembagian harta pailit terhadap kedudukan hukum kreditor preferen dan kreditor separatis dalam hal pelunasan
utang debitor pailit serta memberikan manfaat terhadap aturan hukum yang mengatur tentang utang pajak oleh debitor pasca debitor pailit.
2. Secara praktis
Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan,saran ataupun informasi yang berguna bagi para pihak baik itu perorangan ataupun badan hukum maupun pejabat yang berwenang khususnya dalam penanganan harta pailit yang melibatkan kedudukan kreditor pajak selaku kreditor preferen yang harus didahulukan sementara harta debitor pailit tidak cukup melunasi seluruh utang dan secara praktis memberikan manfaat terhadap kedudukan utang pajak setiap wajib pajak yang harus terus ditagih sebab kegunaan pajak dipergunakan untuk membiayai pembangunan suatu negara.
E.Keaslian Penelitian
Berdasarkan informasi dan penelusuran pada kepustakaan,khusunya di lingkungan Perpustakaan Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, telah ditemukan beberapa judul tesis dan skripsi yang berkaitan dengan kepailitan, antara lain yaitu :
1. Nama : Dian Puspita Sari Siregar
NIM : 087005087/HK
Program Studi : Program Magister Ilmu Hukum
Judul Tesis :Hak Eksekutorial Kreditor Preferen Dalam Kepailitan Debitor
Perumusan masalah : a. Bagaimana kedudukan kreditor preferen dalam kepailitan ?
b.Bagaimana akibat hukum putusan pailit terhadap objek Hak Tanggungan?
c.Bagaimana kreditor preferen dapat
melakukan eksekusi terhadap harta pailit?
2. Nama : Herlina Sihombing
NIM : 047011029
Program Studi : Program Magister Kenotariatan
Judul Tesis :Kedudukan Kreditor Separatis Ditinjau dari Undang-Undang Kepailitan Dikaitkan
dengan Undang-Undang Hak Tanggungan
Perumusan masalah : a. Bagaimanakah pengaruh kepailitan terhadap objek Hak Tanggungan dalam
praktek pelaksanaan eksekusi?
b.Bagaimana Undang-undang Kepailitan memberikan jaminan kepastian hukum terhadap pelunasan piutang
kreditor separatis yang dijamin dengan Hak Tanggungan dari Debitor yang dinyatakan pailit?
3. Nama : Zulfikar
NIM : 077011075
Program Studi : Program Magister Kenotariatan
Judul Tesis :Efektifitas Perlindungan Hukum Terhadap Para Kreditor Dalam Hukum Kepailitan
Perumusan masalah :a.Bagaimana golongan kreditor dalam hukum kepailitan ?
b.Bagaimana kedudukan para kreditor dalam hukum kepailitan?
c.Bagaimana efektivitas perlindungan hukum terhadap para kreditor dalam hukum kepailitan ?
4. Nama : Utan Utomo
NIM : 027011077
Program Studi : Program Magister Kenotariatan Judul Tesis :Analisis Utang pada beberapa Putusan
Perkara Kepailitan pada Pengadilan Niaga dan Mahkamah Agung
Perumusan masalah :a. Mengapa terjadi penafsiran utang dalam perkara kepailitan pada masa berlakunya UU No 4 Tahun 1998 ?
b. Bagaimana hakim menafsirkan utang dalam perkara kepailitan pada masa
berlakunya UU No 4 Tahun 1998?
F.Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori
Teori adalah untuk menerangkan dan menjelaskan gejala spesifik untuk proses tertentu terjadi,22dan suatu teori harus diuji dengan menghadapkan pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidak benarannya. 23 Kerangka teori merupakan landasan dari teori atau dukungan teori dalam membangun atau memperkuat kebenaran dari permasalahan yang dianalisis.Kerangka teori dimaksud adalah kerangka pemikiran atau butir butir pendapat,teori,tesis,sebagai pegangan baik disetujui atau tidak disetujui.24
Bagi suatu penelitian,teori dan kerangka teori mempunyai kegunaan.Kegunaan tersebut paling sedikt mencakup hal hal sebagai berikut:25 a. teori tersebut berguna untuk lebih mempertajam fakta;
b. teori sangat berguna di dalam klasifikasi fakta;
c. teori merupakan ikhtiar dari hal-hal yang diuji kebenaranya.
Menjawab permasalahan diperlukan landasan teoritis yang relevan dengan permasalahan yang dibahas,kerangka teori yang digunakan sebagai pisau analisis dalam penulisan ini adalah menggunakan kesatuan dari penerapan teori Keadilan, Kepastian Hukum dan Kemanfaatan.Dianalisa dari gugatan kreditor preferen Kantor Pelayanan Pajak yang mengatakan haknya dalam pembagian harta harus didahulukan dan gugatan tersebut didasari dengan berbagai dasar hukum menurut ketentuan undang-undang yang menguatkan kedudukan kreditor preferen harus
22J.J.J M Wuisman,dengan penyunting M.Hisman.Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial,Jilid 1 (Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1996),hal. 203.
23Ibid, hal. 216.
24M.Solly Lubis,Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung : Mandar Maju, 1994),hal. 80.
25Soerjono Soekanto,Pengantar Penelitian Hukum,(Jakarta: UI Press, 1981),hal.121.
diutamakan seperti dasar hukum yang dikatakan dalam Undang-Undang Hukum Perdata dan Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009.
Pasal 1137 KUHPerdatamengatakan“Hak didahulukan milik negara, kantor lelang dan badan umum lain yang diadakan oleh penguasa, tata tertib pelaksanaannya, dan lama jangka waktunya, diatur dalam berbagai undang- undang khusus yang berhubungan dengan hal-hal itu.” Sedangkan dalam Undang- Undang Perpajakan dikatakan“Negara mempunyai hak mendahulu untuk utang pajak atas barang-barang milik Penanggung Pajak”
Dasar hukum yang dikemukakan kreditor preferen diatas apabila dihubungkan dengan Undang-Undang Kepailitan dapat menimbulkan potensi terjadi tumpang tindih atau ketidakharmonisasian undang-undang. Sebab dalam Undang-Undang Kepailitan jelas menganut asas proporsional dan keadilan dimana dalam pembagian harta kepailitan tidak boleh hanya didasarkan kepentingan sepihak saja melainkan pembagian harus adil.Sementara di satu sisi Undang-Undang Perpajakan menilai bahwa hak kreditor preferen harus didahulukan.
Tanpa adanya harmonisasi sistem hukum, akan memunculkan keadaan tidak dapat menjamin kepastian hukum yang dapat menimbulkan gangguan dalam kehidupan bermasyarakat, ketidaktertiban dan rasa tidak dilindungi. Dalam perspektif demikian masalah kepastian hukum akan dirasakan sebagai kebutuhan
yang hanya dapat terwujud melalui harmonisasi sistem hukum.26Oleh sebab itu dalam hal ini harus dipandang lebih mendalam terhadap kajian penerapan undang undang dilapangan.
Penerapan undang-undang tersebut harus didukung sejumlah bukti dan fakta serta asas-asas hukum yang dalam hal ini tentu harus berpihak kepada masing masing pihak. Sehingga penerapan undang-undang tersebut tidak dipandang sebagai penerapan cacat hukum melainkan penerapan tersebut merupakan cerminan kepastian hukum bagi para pihak. Oleh sebab itu penerapan undang-undang dalam tesis ini akan tidak terlepas dari konsep keadilan, kepastian hukum dan kemanfaatan untuk melihat sejauhmana penerapan asas tersebut dapat ditegakkan tanpa memandang undang-undang sebagai sesuatu yang konkrit harus dilaksanakan.
Konsep teori keadilan yang dipakai adalah konsep keadilan dari Aristoteles. Aristoteles mengembangkannya dari analisa ilmiah atas prinsip- prinsip rasional dengan latar belakang model-model masyarakat politik dan undang-undang yang telah ada. 27 Doktrin-doktrin Aristoteles tidak hanya meletakkan dasar-dasar bagi teori hukum, tetapi juga kepada filsafat barat pada umumnya. Kontribusi Aristoteles bagi filsafat hukum adalah formulasinya terhadap masalah keadilan, yang membedakan antara : keadilan “distributif”
dengan keadilan “korektif” atau “remedial” yang merupakan dasar bagi semua pembahasan teoritis terhadap pokok persoalan. Keadilan distributifmengacu
26Kusnu Goesniadhie, (Harmonisasi Hukum Dalam Persfektif perundang-undangan; Lex Specialis Suatu Masalah), (Surabaya : JP Books, 2006), hal. 100.
27E. Sumaryono, Etika dan Hukum : Relevansi Teori Hukum Kondrat Thomas Aquinas, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hal. 10.
kepada pembagian barang dan jasa kepada setiap orang sesuai dengan kedudukannya dalam masyarakat, dan perlakuan yang sama terhadap kesederajatan dihadapan hukum (equality before the law).28
Keadilan korektif berfokus pada pembetulan sesuatuyang salah. Jika suatu pelanggaran dilanggar atau kesalahan dilakukan, maka keadilan korektif berusaha memberikan kompensasi yang memadai bagi pihak yang dirugikan; jika suatu kejahatan telah dilakukan maka hukuman yang sepantasnya perlu diberikan kepadasi pelaku. Bagaimanapun ketidakadilan mengakibatkan terganggunya kesetaraan yang sudah mapan atau telah terbentuk. Keadilan korektif bertugas membangun kembali kesetaraan tersebut. Dari uraian ini nampak bahwa keadilankorektif merupakan wilayah peradilan sedangkan keadilan distributif merupakanbidangnya pemerintah.29
Relevansi teori keadilan dari Aristoteles jika dipandang dari keadilandistributive antara kedudukan kreditor separatis dan kreditor preferen adalah masing masing kreditor memiliki kedudukan yang sama sederajat dimata hukum sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1132KUHPerdata telah mengisyaratkan bahwa setiap kreditor memiliki kedudukan yang sama terhadap kreditor lainnya,Pendapatan penjualan benda-benda itu dibagi-bagi menurut keseimbangan yakni besar kecilnya piutang masing-masing kecuali jika ditentukan lain oleh undang-undang karena memiliki alasan-alasan yang sah untuk didahulukan dari para kreditor-kreditor lainnya.
28Ibid., hal. 10.
29Carl Joachim Friedrich, Filsafat Hukum : Perspektif Historis, (Bandung: Nuansa dan Busamedis, 2004), hal. 25.
Pengeculian yang dikatakan pada pasal 1132 KUHPerdata dapat diartikan jika terdapat aturan lain yang mengatur mengenai kedudukan kreditor lebih diutamakan maka aturan itu dapat diberlakukan. Pemberlakuan itu harus sesuai dengan alasan alasan yang sah untuk didahulukan. Pemahaman dari isi pasal 1132 KUHPerdata dapat ditarik kesimpulan tentang kedudukan kreditor itu sama dan pembagian dilakukan sesuai dengan keseimbangan masing masing para pihak kreditor yang berhak. Akan tetapi jika ada aturan hukum khusus yang mengatur tentang kedudukan salah satu kreditor diutamakan maka undang-undang yang dimaksud tersebut harus dijalankan/didahulukan. Dengan demikian undang undang yang mengatur tentang hak istimewa kreditor preferen dalam hal ini dapat dilaksanakan. Akan tetapisebelum undang undang itu dilaksanakanpasal 1132 KUHPerdata mengatakan “ harus sesuai dengan alasan-alasan yang sah untuk didahulukan”
Mencari makna kata “alasan-alasan yang sah untuk didahulukan”tidak ada dijelaskan dalam penjelasan undang-undang, akan tetapi pengertian “alasan”
secara umum mengandung arti proses penyampaian kesimpulan dari data. Alasan terdiri dari bukti, tuntutan, dan pemikiran yang membenarkan gerakan dari data menuju kesimpulan.30
Makna kata “alasan alasan” jika dikaitkan dengan penerapan kedudukan kreditor preferen dalam perkara pembagian harta pailit dapat didahulukan atau tidak tentu harus melalui tahapan lebih lanjut melalui proses bukti seperti apakah dalam proses kepailitan kreditor preferentersebuttelah sesuai kapasitasnya sebagai
30Curtis dan B Floyd, Komunikasi Bisnis dan Profesional, (Bandung: Remaja Rosdakarya 1996),hal. 295.
kreditor yang layak untuk didahulukan dan dalam hal ini tentu harus diperhitungkan bagaimana korelasi terhadap jumlah harta yang dibagi terhadap kreditor separatis apakah pembagiannya telah sesuai dan tidak melanggar hak dari keditor separatis dan kreditor lainnya. Tentunyaperan hakim dalam hal ini menjadi sangat besar untuk menentukan apakah alasan tersebut telah tepat dan sesuai untuk diterapkan untuk menciptakan rasa keadilan. Apabila telah tepat dan sesuai untuk diterapkan maka hakim akan membuat keputusan kedudukan hak kreditor preferen untuk didahulukan dalam pemberesan harta pailit.
Melalui pemahaman diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan jika dalam penerapan teori keadilan bersifat distributifdalam penerapannyapemerintah menciptakan keadilan hukum salah satunya dengan membuat produk hukum undang-undang yaitu hukum positif yang berlaku saat ini. Dalam kaitannya dengan tesis ini maka hukum positif yang dimaksud adalah Undang-Undang Kepailitan.
Segala hal yang berhubungan dengan hukum pengaturan hak dan kewajiban harus dipandang sama dan diberlakukan sesuai dengan hukum yang berlaku. Akan tetapi dalam penerapannya terkadang cenderung tidak sesuai dalam mengartikankalimat dalam pasal yang dimaksud dan cenderung memaksakan perintah dari pasal tersebutsebagai sesuatu yang mutlak dan harus dilaksanakan, padahal jika mengacu pada teori keadilan yang bersifar distirbutif maka produk hukum tidak hanya dipandang dari isi undang-undang yang mutlak harus dilaksanakan tetapi harus dikaitkan juga dari sisi alasan-alasan yang mendukung untuk dilaksanakannya undang-undang tersebut, terlepas apakah sesuai atau tidak
pada akhirnya harus ditemukan perlakuan yang sama terhadap kesederajatan dihadapan hukum (equality before the law).
Relevansi teori keadilan jika dipandang dari keadilan korektifterhadapkedudukan kreditor preferen dan kreditor separatis dapat dipandang dari perkara pailit yang terjadi dan akhirnya menimbulkan piutang yang harus dibayarkan oleh debitor pailit dan kurator bertugas membereskan serta mengatur pembagian budel/harta pailit. Dalam hal ini pemerintah telah menyediakan wadah untuk mengambil ahli kekuasaan atas harta pailit milik debitor melalui lembaga kepailitan dan dalam pelaksanaannya kurator akan berusaha bertindak dengan seadil-adilnya untuk memberikan dan membagi harta sesuai dengan hak mereka masing-masing. Disiniperan kurator dalam membagi harta pailit untuk memberikan rasa keadilan dan kesetaraan bagi kreditor preferen dan kreditor separatis. Akan tetapi rasa keadilan tersebut oleh salah satu pihak tidak dapat memuaskan kreditor preferen sehingga kreditor preferen melakukan upaya untuk mencari keadilan, menuntut haknya yang dinilai tidak sesuai.
Pemerintah dalam hal ini tetap menyediakan wadah bagi kreditor preferen melalui LembagaPengadilan Niaga yang bertugas memeriksa dan memutus perkara pailit sebagai jalan bagi para pihak untuk menuntut keadilan yang mereka anggap tidak sesuai.
MenurutGustav Radbruch dalam idee des recht hukum harus memenuhi 3 (tiga) asas yaitu “Ajaran Cita Hukum (Idee des Recht) menyebutkan adanya tiga unsur cita hukum yang harus ada secara proporsional, yaitu kepastian hukum (rechtssicherkeit), keadilan (gerechtigkeit) dan kemanfaatan
(zweckmasigkeit)”.Hukum adalah segala yang berguna bagi rakyat, sebagai bagian dari cita hukum (idéedes recht), keadilan dan kepastian hukum membutuhkan pelengkap yaitu kemanfaatan.31
Kepastian hukum merupakan ciri yang tidak dapat dipisahkan dari hukum, terutama untuk norma hukum tertulis. Hukum tanpa nilai kepastian akan kehilangan makna karena tidak lagi dapat dijadikan pedoman perilaku bagi semua orang. Ubi jus incertum, ibi jus nullum (di mana tiada kepastian hukum, di situ tidak ada hukum).32
Ada empat hal yang berhubungan dengan makna kepastian hukum yaitu:33 a. Hukum itu Positif artinya bahwa ia adalah perundang undangan (gesetzliches
Recht)
b. Hukum itu didasarkan pada fakta (tatsachen),bukan suatu perumusan tentang penilaian yang nanti akan dilakukan oleh hakim,seperti kemauan baik atau kesopanan.
c. Fakta itu harus dirumuskan dengan cara yang jelas sehingga menghindari kekeliruan dalam pemaknaan,disamping itu juga mudah dijalankan.
d. Hukum Positif itu tidak boleh sering dirubah.
Menurut Lon Fuller dalam bukunya the Morality of Law mengajukan 8 (delapan) asas yang harus dipenuhi oleh hukum, yang apabila tidak terpenuhi, maka hukum akan gagal untuk disebut sebagai hukum, atau dengan kata lain harus terdapat kepastian hukum. Kedelapan asas tersebut adalah sebagai berikut :34
31Fence M Wantu,Antinomi Dalam Penegakan Hukum Oleh Hakim, Jurnal Berkala Mimbar Hukum, Vol. 19, (Yogyakarta: Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, 2007), hal.
395.
32.Sudikno Mertokusumo dalam H. Salim Hs, Perkembangan Teori Dalam Ilmu Hukum, (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2010) , hal. 82
33 Achmad Ali, Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicialprudence),termasuk interperetasi Undang undang (Legisprudence), (Jakarta:Kencana,2012), hal. 292
34L. Fuller Lon, The Morality of Law, New Haven, Connecticut: Yale University Press.
1964, pp. Vii. 202 dalam Enny Rahaju Widjajanti, Jurnal Perlindungan Hukum Terhadap
a. Suatu sistem hukum yang terdiri dari peraturan-peraturan, tidak berdasarkan putusan-putusan sesat untuk hal-hal tertentu;
b. Peraturan tersebut diumumkan kepada publik;
c. Tidak berlaku surut, karena akan merusak integritas sistem;
d. Dibuat dalam rumusan yang dimengerti oleh umum;
e. Tidak boleh ada peraturan yang saling bertentangan;
f. Tidak boleh menuntut suatu tindakan yang melebihi apa yang bisa dilakukan;Tidak boleh sering diubah-ubah;
g. Harus ada kesesuaian antara peraturan dan pelaksanaan sehari-hari.
Penerapan kepastian hukum terhadap penerapan Undang-undang Kepailitan maupun Undang-undang tentang Pajak apabila mengacu pada pendapat dari Lon Fuller salah satunya adalah dalam kajian penelitian tesis ini berkaitan dengan suatu peraturan tersebut harus ada kesesuaian antara peraturan dengan pelaksanaan sehari hari artinya apabila dihubungkan dengan kasus penelitian ini maka untuk menganalisis kepastian hukum penerapan tersebut harus dilihat dari putusan hakim mengenai pandangan hakim terhadap sisi penerapan undang- undang kepailitan maupun dari sisi undang-undang pajak apakah penerapan tersebut telah mencerminkan nilai kepastian hukum atau tidak dan suatu makna kepastian hukum tersebut harus dapat mencerminkan suatu fakta yang dirumuskan dengan jelas khususnya fakta-fakta sesuai dengan apa yang ada didalam persidangan tersebut.
Sedangkan kemanfaatan dapat diartikan sebagai kebahagiaan (happiness).Baik buruknya suatu hukumbergantung pada apakah hukum itu memberikan kebahagiaan atau tidak pada manusia.Hukum yang baik adalah hukum yang dapat memberi manfaat kepada setiap subjek hukum. Hukum sudah dapat dikategorikan baik apabila mampu memberikan kebahagiaan kepada bagian
Masyarakat Yang Diwajibkan Memubat Surat Pernyataan Pengalihan Hak Atas Tanah Yang Terkena Rencana Jalan Di Kota malang, Malang: Fakultas hukum, 2016 hal. 12
terbesar masyarakat. Masyarakat mengharapkan manfaat dalam pelaksanaan dan penegakan hukum. Hukum adalah untuk manusiamaka pelaksanaan hukum atau penegakan hukum harus memberi manfaat atau kegunaan bagi masyarakat.Pelaksanaan dan penegakan hukum harus dapat menghindarkan timbulnya kerusuhan di dalam masyarakat.Hukum yang baik adalah hukum yang membawa kemanfaatan bagi manusia. Kemanfaatan disini dapat juga diartikan dengan kebahagiaan. Masyarakat akan mentaati hukum tanpa perlu dipaksa dengan sanksi apabila memang masyarakat merasakan manfaat.35
Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (UUK dan PKPU) khususnya yang berkenaan dengan pembagian harta pailit menyangkut hak dari kreditor preferen dan kreditor separatis mengatur tentang proses pemberesan harta pailit oleh kurator yang ditunjuk oleh majelis pengawas, para kreditor diberikan jaminan kepastian hukum untuk mendapatkan perlindungan haknya tanpa adanya paksaan untuk menerima pembagian tersebut sesuai dengan porsi yang ditetapkan oleh kurator. Artinya jika kreditor merasa tidak puas akan pembagian harta yang dilakukan oleh kurator, undang-undang tidak memaksakan kehendaknya tetapi cenderung memberikan kebebasan bagi kreditor yang merasa tidak adil untuk menuntut haknya sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku, hal ini tercermin dalam Pasal 127 ayat 1 mengatakan :36
“Dalam hal ada bantahan sedangkan Hakim Pengawas tidak dapat mendamaikan kedua belah pihak,sekalipun perselisihan tersebut telah diajukan ke pengadilan,
35Ibid., hal. 395.
36Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Pasal 127 ayat (1).
Hakim Pengawas memerintahkan kepada kedua belah pihak untuk menyelesaikan perselisihan tersebut di pengadilan.”
Unsur kemanfaatan dapat dilihat sebagai suatu hal yang bermanfaat bagi para pihak dan dalam kasus perkara pailit di tingkat Pengadilan Niaga Nomor 57 / PDT . Sus - Renvoi Prosedur/ 2011 / PN. Niaga. Jkt. Pst) sebagaimana tuntutandari kreditor preferen hingga Peninjauan Kembali untuk menuntut haknya yang dianggap tidak sesuai, dan dalam hal ini tentu dapat bermanfaatan untuk diketahui oleh masyarakat umum (terbuka) untuk mengetahui proses perkara pailit khususnya terhadap kedudukan kreditor preferen dan kreditor separatis dalam hak untuk memperoleh pembagian harta debitor pailit. .
2. Konsepsi
Konsepsi adalah suatu bagian penting dari teori. Peranan konsepsi dalam penelitian ini untuk menghubungkan teori dan observasi antara abstraksi dan kenyataan.Konsep diartikan sebagai kata yang menyatu abtraksi yang di generalisasikan dari hal hal yang khusus yang disebut dengan defenisi operasional.37
Kerangka konsepsi merupakan gambaran bagaimana hubungan antara konsep-konsep yang akan diteliti. Salah satu cara untuk menjelaskan konsep- konsep tersebutadalah dengan membuat definisi. Definisi merupakan suatu pengertian yang relatif lengkap tentang suatu istilah dan definisi bertitik tolak pada referensi. Berikut ini diuraikan beberapa konsep/definisi/pengertian yang dijumpai dalam tesis ini yaitu:
37Sumadi Surya Brata, Metodologi Penelitian , (Jakarta: Raja Grafindo Persada,1998) , hal. 3.
a. Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan Debitor Pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh Kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas38.
b. Kreditor adalah orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau Undang Undang yang dapat ditagih di muka pengadilan39
c. Kreditor Preferen adalah kreditor yang dalam hal sifat piutangnya oleh undang undang diistimewakan untuk didahulukan pembayarannya.40
d. Kreditor Separatis adalah berkonotasi pemisahan karena kedudukan kreditor tersebut memang dipisahkan dari kreditor lainnya dimana ia dapat menjual sendiri dan mengambil sendiri dari hasil penjualan yang terpisah dengan harta pailit pada umumnya.41
e. Debitor adalah orang yang mempunyai utang karena perjanjian atau undang- undang yang pelunasannyadapat ditagih di muka pengadilan42
f. Debitor pailit adalah debitor yang sudah dinyatakan pailit dengan putusan Pengadilan.43
g. Kurator adalah Balai Harta Peninggalan atau orang perseorangan yang diangkat oleh Pengadilan untukmengurus dan membereskan harta Debitor Pailit di bawah pengawasan Hakim Pengawas44
38Undang Undang No 37 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang pasal 1 angka 1
39Undang Undang No 37 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang pasal 1 angka 2
40Munir Fuady, Hukum Pailit Dalam Teori dan Praktek, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2002), hal. 103.
41Ibid., hal. 105.
42Undang Undang No 37 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang pasal 1 angka 3
43Undang Undang No 37 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang pasal 1 angka 3
h. Hakim Pengawas adalah hakim yang ditunjuk oleh Pengadilan dalam putusan pailit atau putusan45
i. Asas Proporsionalitas (pari prorata parte) adalah harta kekayaan tersebut merupakan jaminan bersama untuk para kreditor dan hasilnya harus dibagikan secara proporsional antara mereka, kecuali jika antara para kreditor itu ada yang menurut undang-undang harus didahulukan dalam menerima pembayaran tagihannya.46
G. Metode Penelitian
Pada penelitian hukum ini menjadikan ilmu hukum sebagai landasan ilmu pengetahuan induknya. Menurut Soejono Soekanto, yang dimaksud dengan penelitian hukum adalah “kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode,sistematika,dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau segala hukum tertentu dengan jalan menganalisanya.”47Metode ( Inggris : method, Latin : Methodus, Yunani : methodos – meta berarti sesudah, di atas, sedangkan hodos, berarti suatu jalan, suatu cara).48Metode merupakan suatu cara atau jalan sehubungan dengan upaya ilmiah maka metode menyangkut masalah cara kerja yaitu cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadisasaran ilmu yang bersangkutan.49Jadi metode penelitian yaitu cara-cara ilmiah atau alat
44Undang Undang No 37 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang pasal 1 angka 5
45Undang Undang No 37 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang pasal 1 angka 8
46Kartini Muljadi, Actio Paulina dan Pokok-pokok tentang Pengadilan Niaga, (Bandung : Alumni 2001), hal. 300.
47Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta:Universitas Indonesia, 1986), hal. 43.
48Johnny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, cet IV, (Jawa Timur:
BayuMedia Publishing, 2008), hal. 25.
49Husin Sayuti, Pengantar Metodologi Riset, (Jakarta: CV. Fajar Agung, 1989), hal. 32.
tertentu yang digunakan untuk mengujisuatu kebenaran untuk memecahkan permasalahan yang ada dan turut menentukan hasil yangakan diperoleh. Menurut Sugiyono defenisi metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.50 Supaya mendapat hasil yang lebih maksimal maka peneliti melakukan penelitian hukum dengan menggunakan metode sebagai berikut:
1.Jenis Penelitian
Jenis Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian yuridis normatif.Jenis penelitian hukum normatif atau metode penelitian hukum kepustakaan adalah metode atau cara yang dipergunakan di dalam penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka yang ada.51
Tahapan pertama penelitian hukum normatif adalah penelitian yang ditujukan untuk mendapatkan hukum obyektif (norma hukum), yaitu dengan mengadakan penelitian terhadap masalah hukum. Tahapan kedua penelitian hukum normatif adalah penelitian yang ditujukan untuk mendapatkan hukum subjektif (hak dan kewajiban).52 Masalah hukum yang berkaitan dengan tesis ini berhubungan dengan pembagian harta atau boedel pailit dengan demikian hukum objektif akan dikaji lebih jauh khususnya dan penerapan hukum normatif akan ditinjau lebih mendalam untuk mendapatkanhubungan hukum hak dan kewajiban subjektif yaitu kreditor preferen dan kreditor separatis.
50Metode Penelitian Kuntitatif, Kualitatif dan R&D, Bandung: PT Alfabet, 2016, hal. 2.
51Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, Cetakan ke – 11. (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2009), hal. 13-14.
52Hardijan Rusli, “Metode Penelitian Hukum Normatif: Bagaimana?”, Law Review Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan, Volume V No. 3 Tahun 2006, hal. 50
.Penelitian hukum normatif atau kepustakaan tersebut mencakup Penelitian terhadap asas asas hukum yang berkaitan dengan penerapannya terhadap subjek hukum kepailitan, sistematika pembagian harta pailit, penerapan undang-undang ditinjau dari taraf sinkronisasi vertikal dan horizontal.
2.Sifat penelitian
Sifat penelitian yang digunakan dalam penulisan tesis ini yaitu bersifat deskiptif analitis. Deskriptif maksudnya untuk mengetahui gambaran secara menyeluruh dan sistematis mengenai peraturan yang dipergunakan yang berkaitan dengan masalah yang dikaji. Analitis adalah mengungkapkan karakteristik objek dengan cara mengurai dan menafsirkan fakta fakta tentang pokok persoalan yang diteliti. Jadi penelitian ini mengungkapkan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan objek penelitian,53yang berkaitan dengan kedudukan kreditor preferen dan kreditor separatis terhadap hutang pajak dalam pelunasan hutang harta pailit.
3.Sumber Data
Pengumpulan data adalah bagian penting dalam suatu penelitian karena dengan pengumpulan data akan diperoleh data yang diperlukan untuk selanjutnya dianalisis sesuai kehendak yang diterapkan.Dalam penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data kepustakaan. 54 Penelitian kepustakaan dilakukan dengan cara menghimpun data dengan melakukan penelaahan bahan kepustakaan
53Zainuddin Ali, Metode Penelitian hukum, (Jakarta : Sinar Grafika,2009) , hal. 105.
54Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian hukum,Suatu Pengantar, (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2003), hal. 10.
atau data sekunder yang meliputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tertier.55
Data Sekunder diperoleh melalui studi pustaka atau literatur, data sekunder tersebut meliputi:
a. Bahan Hukum Primer ,yang merupakan bahan hukum yang mengikat berupa peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan ,yang antara lain dari:
1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgelijk Wetboek);
2) Undang undang No 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
3) Putusan Nomor 57/PDT.SUS RENVOI PROSEDUR/2011/PN.NIAGA JKT.PST
4) Undang Undang No 16 tahun 2009 tentang ketentuan dan tata cara perpajakan
b. Bahan Hukum Sekunder
Bahan hukum sekunder merupakan bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer sebagaimana yang terdapat dalam kumpulan pustaka yang bersifat sebagai penunjang dari bahan hukum primer yang terdiri dari :
1) Buku-buku;
2) Jurnal-jurnal;
3) Majalah-majalah;
4) Artikel-artikel media;
5) Dan berbagai tulisan lainnya.
c. Bahan Hukum Tersier atau bahan non hukum,yaitu berupa kamus,ensiklopedia dan lain lain.56
55Soejono Soekanto dan Sri Manudji, Op.Cit, hal. 38.
56Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, (Jakarta:Pustaka Pelajar) hal. 156-159.
4. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Di dalam penelitian, pada umumnya dikenal tiga jenis alat pengumpulan data yakni studi dokumen, pengamatan dan pedoman wawancara. Ketiga teknik pengumpulan data tersebut dapat dipakai secara bersamaan ataupun sendiri- sendiri.57Untuk memperoleh data sekunder yang berupa bahan bahan hukum primer, sekunder dan tersier peneliti akan menggunakan teknik pengumpulan data berupa studi dokumen/ kepustakaan atau penelitian kepustakaan (library research) dan penelitian lapangan (field research).
Penelitian kepustakaan dilakukan untuk mengumpulkan data sekunder melalui pengkajian terhadap peraturan perundang-undangan,literatur literatur,tulisan tulisan para pakar hukum,bahan kuliah yang berkaitan dengan penelitian ini.58 Sedangkan penelitian lapangan menurut Moh Nazir dalam bukunya berjudul Metode Penelitian adalah :“Penelitian lapangan yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara mendatangi langsung tempat yang menjadi objek penelitian.”59
Berdasarkan metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini, maka alat pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut:
a. Studi dokumen, yaitu dengan meneliti dokumen-dokumen yaitu tentang hukum kepailitan. Dokumen ini merupakan sumber informasi yang penting.
b. Pedoman wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara (interview guide). Wawancara dilakukan terhadap informan dengan menggunakan
57Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Universitas Indonesia Press: Jakarta, 1986), hal. 21.
58Riduan,Metode & Teknik Menyusun Tesis, (Bandung : Bina Cipta, 2004), hal. 97.
59Mohammad Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2005), hal.65.
pedoman wawancara bebas dan mendalam (depth interview). Informan yang akan diwawancarai dalam penelitian ini adalah hakim pada Pengadilan Niaga dan Kurator swasta di.Medan.
5.Analisis Data
Analisis data merupakan proses mengorganisasikan dan mengurai data ke dalam pola,kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesa kerja seperti yang disarankan data.60Analisa data yang digunakan dalam penelitian tesis ini adalah analisa data kualitatif. Penelitian dengan analisis data kualitatif adalah penelitian yang tidak mengadakan perhitungan.61Contoh penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif adalah pengamatan dan studi kasus.62
Studi kasus merupakan suatu gambaran hasil penelitian yang mendalam dan lengkap sehingga dalam informasi yang disampaikannya tampak hidup sebagaimana adanya, bersifat grounded atau berpijak sesuai kenyataan yang ada sesuai dengan kejadian yang sebenarnya. Penelitian dengan studi kasus menyajiikan informasi yang terfokus dan berisikan pernyataan-pernyataan yang terfokus dan disajikan dengan bahasa biasa bukan dengan bahasa teknis.63 Kemudian dilakukan dengan penarikan kesimpulan deduktif.Penarikan kesimpulan deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa
60Lexi J Maleonf, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung:Remaja Rosdakarya,1993), hal . 103.
61Soejono dan H. Abdurrahman, Metode Penelitian : Suatu Pemikiran dan Penerapan, ( Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hal. 26.
62Burhan Ashshofa, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1996), hal. 20- 22.
63Ibid.,
umum atau teori menuju pada hal hal yang khusus atau kenyataan64, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini dengan diawali dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat sehingga diharapkan akan memberikan solusi atas pemasalahan dalam penelitian ini.
64Pupu Saeful Rahmat,” Jurnal Penelitian Kualitatif”, Equilibrium vol.5 no.9 diakese dari http://yusuf.staff.ub.ac.id/files/2012/11/Jurnal-Penelitian-Kualitatif.pdf pada tanggal 09 April 2017.
BAB II
PENGATURAN PENGURUSAN DAN PEMBERESAN HARTA PAILIT TERHADAP KREDITOR PAJAK SEBAGAI KREDITOR PREFEREN BERHADAPAN DENGAN KREDITOR SEPARATIS DALAM HUKUM
KEPAILITAN
A. Kedudukan Harta dan Utang Debitor Pasca Putusan Pailit
1. Tinjauan umum kekuatan hukum putusan pailit berkaitan dengan pemberesan harta pailit debitor
Meninjau putusan pailit tidak terlepas dengan pengadilan dimana daerah tempat kedudukan hukum debitor. Setiap permohonan pernyataan pailit harus diajukan ke pengadilan yang daerah hukumnya meliputi daerah tempat kedudukan hukum debitor, dengan ketentuan bahwa :65
a. Jika debitor telah meninggalkan wilayah NKRI, pengadilan yang berwenang adalah pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan hukum terakhir debitor.
b. Jika debitor adalah Persero suatu Firma, maka pengadilan yang berwenang adalah pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan Firma tersebut.
c. Jika debitor tidak bertempat kedudukan dalam wilayah NKRI tetapi menjalankan profesi atau usahanya dalam wilayah NKRI, maka pengadilan yang berwenang adalah pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan hukum kantor pusat debitor menjalankan profesi atau usahanya di wilayah NKRI.
d. Jika debitor merupakan badan hukum pengadilan di mana badan hukum tersebut memiliki kedudukan hukumnya sebagaimana dimaksud dalam anggaran dasarnya.
Ketentuan mengenai pengadilan yang berwenang diatas sejalan dengan ketentuan pasal 118 HIR yang menyatakan bahwa forum pihak yang digugatlah yang berhak memeriksa. Ini untuk memberikan keleluasaan bagi pihak tergugat
65Munif Rochmawanto, Upaya Hukum Dalam Perkara Kepailitan, Jurnal Independent Vol.
3 Nomor 2, hal. 32.
untuk membela diri.66Suatu putusan memiliki kekuatan hukum tertentu yang diatur oleh undang-undang dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata antara lain :
a. Kekuatan mengikat sebagaimana dalam Pasal 1917 KUH Perdata yaitu putusan memiliki kekuatan mengikat kedua belah pihak yang berperkara. Suatu putusan pengadilan dimaksudkan untuk menyelesaikan suatu persoalan atau sengketa dan menetapkan hak atau hukumnya. Jika pihak yang bersangkutan menyerahkan dan mempercayakan sengketanya kepada pengadilan atau hakim untuk diperiksa atau diadili, hal ini mengandung pihak-pihak yang bersangkutan akan tunduk dan patuh pada putusan yang dijatuhkan. Putusan yang telah dijatuhkan itu haruslah dihormati oleh kedua belah pihak. Salah satunya pihak tidak boleh bertindak bertentangan dengan putusan.67
b. Suatu putusan dikatakan memiliki kekuatan pembuktian karena putusan itu sifatnya akte autentik. Sebab dibuat dalam bentuk tertulis oleh Hakim yang diberi wewenang oleh undang-undang memutus suatu perkara. Putusan pun dapat dijadikan alat bukti oleh pihak yang berperkara sepanjang mengenai peristiwa yang telah ditetapkan dalam putusan. Karena putusan Hakim adalah pembentukan hukum in concreto, maka peristiwa yang telah ditetapkan dianggap benar dan telah memperoleh kekuatan bukti sempurna. Kekuatan bukti sempurna berlaku antara para pihak yang berperkara dan juga terhadap pihak ketiga, namun terhadap peristiwa lain hanya mempunyai kekuatan bukti bebas atau persangkaan saja.68
c. Kekuatan eksekutorial/kekuatan untuk dilaksanakan, Putusan hakim yang sudah tetap dan memiliki kekuatan pasti akan memiliki kekuatan untuk dilaksanakan terhadap pihak yang dinyatakan kalah dalam perkara dan dilakukan secara sukarela. Namun kenyataannya dapat dipaksakan dengan bantuan kekuatan umum terhadap pihak yang tidak menataatinya secara sukarela. Kekuatan ini dinamakan kekuatan eksekutorial.69
Menurut R. Soeroso, dalam bukunya yang berjudul Praktik Hukum Acara Perdata: Tata Cara Dan Proses Persidangan menyebutkan bahwa didalam struktur peradilan umum di Indonesia terbagi atas 3 (tiga), yaitu :70
66Ibid.
67Rocky Marbun, Kamus Hukum Lengkap, (Jakarta: VisiMedia, 2012), hal. 155.
68Sunarto, Peran aktif hakim dalam perkara perdata, (Jakarta: Kencana, 2014) hal. 212.
69Ibid.
70R.Soeroso, Praktek Hukum Acara Perdata:Tata Cara Dan Proses Persidangan, (Jakarta, Sinar Grafika, Edisi 4, 2001), hal. 5-6.