• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Penelitian

Dalam dokumen TESIS. Oleh. DANIEL CENDRICO /M.Kn (Halaman 38-0)

BAB I PENDAHULUAN

G. Metode Penelitian

Pada penelitian hukum ini menjadikan ilmu hukum sebagai landasan ilmu pengetahuan induknya. Menurut Soejono Soekanto, yang dimaksud dengan penelitian hukum adalah “kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode,sistematika,dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau segala hukum tertentu dengan jalan menganalisanya.”47Metode ( Inggris : method, Latin : Methodus, Yunani : methodos – meta berarti sesudah, di atas, sedangkan hodos, berarti suatu jalan, suatu cara).48Metode merupakan suatu cara atau jalan sehubungan dengan upaya ilmiah maka metode menyangkut masalah cara kerja yaitu cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadisasaran ilmu yang bersangkutan.49Jadi metode penelitian yaitu cara-cara ilmiah atau alat

44Undang Undang No 37 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang pasal 1 angka 5

45Undang Undang No 37 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang pasal 1 angka 8

46Kartini Muljadi, Actio Paulina dan Pokok-pokok tentang Pengadilan Niaga, (Bandung : Alumni 2001), hal. 300.

47Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta:Universitas Indonesia, 1986), hal. 43.

48Johnny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, cet IV, (Jawa Timur:

BayuMedia Publishing, 2008), hal. 25.

49Husin Sayuti, Pengantar Metodologi Riset, (Jakarta: CV. Fajar Agung, 1989), hal. 32.

tertentu yang digunakan untuk mengujisuatu kebenaran untuk memecahkan permasalahan yang ada dan turut menentukan hasil yangakan diperoleh. Menurut Sugiyono defenisi metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.50 Supaya mendapat hasil yang lebih maksimal maka peneliti melakukan penelitian hukum dengan menggunakan metode sebagai berikut:

1.Jenis Penelitian

Jenis Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian yuridis normatif.Jenis penelitian hukum normatif atau metode penelitian hukum kepustakaan adalah metode atau cara yang dipergunakan di dalam penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka yang ada.51

Tahapan pertama penelitian hukum normatif adalah penelitian yang ditujukan untuk mendapatkan hukum obyektif (norma hukum), yaitu dengan mengadakan penelitian terhadap masalah hukum. Tahapan kedua penelitian hukum normatif adalah penelitian yang ditujukan untuk mendapatkan hukum subjektif (hak dan kewajiban).52 Masalah hukum yang berkaitan dengan tesis ini berhubungan dengan pembagian harta atau boedel pailit dengan demikian hukum objektif akan dikaji lebih jauh khususnya dan penerapan hukum normatif akan ditinjau lebih mendalam untuk mendapatkanhubungan hukum hak dan kewajiban subjektif yaitu kreditor preferen dan kreditor separatis.

50Metode Penelitian Kuntitatif, Kualitatif dan R&D, Bandung: PT Alfabet, 2016, hal. 2.

51Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, Cetakan ke – 11. (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2009), hal. 13-14.

52Hardijan Rusli, “Metode Penelitian Hukum Normatif: Bagaimana?”, Law Review Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan, Volume V No. 3 Tahun 2006, hal. 50

.Penelitian hukum normatif atau kepustakaan tersebut mencakup Penelitian terhadap asas asas hukum yang berkaitan dengan penerapannya terhadap subjek hukum kepailitan, sistematika pembagian harta pailit, penerapan undang-undang ditinjau dari taraf sinkronisasi vertikal dan horizontal.

2.Sifat penelitian

Sifat penelitian yang digunakan dalam penulisan tesis ini yaitu bersifat deskiptif analitis. Deskriptif maksudnya untuk mengetahui gambaran secara menyeluruh dan sistematis mengenai peraturan yang dipergunakan yang berkaitan dengan masalah yang dikaji. Analitis adalah mengungkapkan karakteristik objek dengan cara mengurai dan menafsirkan fakta fakta tentang pokok persoalan yang diteliti. Jadi penelitian ini mengungkapkan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan objek penelitian,53yang berkaitan dengan kedudukan kreditor preferen dan kreditor separatis terhadap hutang pajak dalam pelunasan hutang harta pailit.

3.Sumber Data

Pengumpulan data adalah bagian penting dalam suatu penelitian karena dengan pengumpulan data akan diperoleh data yang diperlukan untuk selanjutnya dianalisis sesuai kehendak yang diterapkan.Dalam penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data kepustakaan. 54 Penelitian kepustakaan dilakukan dengan cara menghimpun data dengan melakukan penelaahan bahan kepustakaan

53Zainuddin Ali, Metode Penelitian hukum, (Jakarta : Sinar Grafika,2009) , hal. 105.

54Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian hukum,Suatu Pengantar, (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2003), hal. 10.

atau data sekunder yang meliputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tertier.55

Data Sekunder diperoleh melalui studi pustaka atau literatur, data sekunder tersebut meliputi:

a. Bahan Hukum Primer ,yang merupakan bahan hukum yang mengikat berupa peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan ,yang antara lain dari:

1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgelijk Wetboek);

2) Undang undang No 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

3) Putusan Nomor 57/PDT.SUS RENVOI PROSEDUR/2011/PN.NIAGA JKT.PST

4) Undang Undang No 16 tahun 2009 tentang ketentuan dan tata cara perpajakan

b. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder merupakan bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer sebagaimana yang terdapat dalam kumpulan pustaka yang bersifat sebagai penunjang dari bahan hukum primer yang terdiri dari :

1) Buku-buku;

2) Jurnal-jurnal;

3) Majalah-majalah;

4) Artikel-artikel media;

5) Dan berbagai tulisan lainnya.

c. Bahan Hukum Tersier atau bahan non hukum,yaitu berupa kamus,ensiklopedia dan lain lain.56

55Soejono Soekanto dan Sri Manudji, Op.Cit, hal. 38.

56Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, (Jakarta:Pustaka Pelajar) hal. 156-159.

4. Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Di dalam penelitian, pada umumnya dikenal tiga jenis alat pengumpulan data yakni studi dokumen, pengamatan dan pedoman wawancara. Ketiga teknik pengumpulan data tersebut dapat dipakai secara bersamaan ataupun sendiri-sendiri.57Untuk memperoleh data sekunder yang berupa bahan bahan hukum primer, sekunder dan tersier peneliti akan menggunakan teknik pengumpulan data berupa studi dokumen/ kepustakaan atau penelitian kepustakaan (library research) dan penelitian lapangan (field research).

Penelitian kepustakaan dilakukan untuk mengumpulkan data sekunder melalui pengkajian terhadap peraturan perundang-undangan,literatur literatur,tulisan tulisan para pakar hukum,bahan kuliah yang berkaitan dengan penelitian ini.58 Sedangkan penelitian lapangan menurut Moh Nazir dalam bukunya berjudul Metode Penelitian adalah :“Penelitian lapangan yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara mendatangi langsung tempat yang menjadi objek penelitian.”59

Berdasarkan metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini, maka alat pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut:

a. Studi dokumen, yaitu dengan meneliti dokumen-dokumen yaitu tentang hukum kepailitan. Dokumen ini merupakan sumber informasi yang penting.

b. Pedoman wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara (interview guide). Wawancara dilakukan terhadap informan dengan menggunakan

57Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Universitas Indonesia Press: Jakarta, 1986), hal. 21.

58Riduan,Metode & Teknik Menyusun Tesis, (Bandung : Bina Cipta, 2004), hal. 97.

59Mohammad Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2005), hal.65.

pedoman wawancara bebas dan mendalam (depth interview). Informan yang akan diwawancarai dalam penelitian ini adalah hakim pada Pengadilan Niaga dan Kurator swasta di.Medan.

5.Analisis Data

Analisis data merupakan proses mengorganisasikan dan mengurai data ke dalam pola,kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesa kerja seperti yang disarankan data.60Analisa data yang digunakan dalam penelitian tesis ini adalah analisa data kualitatif. Penelitian dengan analisis data kualitatif adalah penelitian yang tidak mengadakan perhitungan.61Contoh penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif adalah pengamatan dan studi kasus.62

Studi kasus merupakan suatu gambaran hasil penelitian yang mendalam dan lengkap sehingga dalam informasi yang disampaikannya tampak hidup sebagaimana adanya, bersifat grounded atau berpijak sesuai kenyataan yang ada sesuai dengan kejadian yang sebenarnya. Penelitian dengan studi kasus menyajiikan informasi yang terfokus dan berisikan pernyataan-pernyataan yang terfokus dan disajikan dengan bahasa biasa bukan dengan bahasa teknis.63 Kemudian dilakukan dengan penarikan kesimpulan deduktif.Penarikan kesimpulan deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa

60Lexi J Maleonf, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung:Remaja Rosdakarya,1993), hal . 103.

61Soejono dan H. Abdurrahman, Metode Penelitian : Suatu Pemikiran dan Penerapan, ( Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hal. 26.

62Burhan Ashshofa, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1996), hal. 20-22.

63Ibid.,

umum atau teori menuju pada hal hal yang khusus atau kenyataan64, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini dengan diawali dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat sehingga diharapkan akan memberikan solusi atas pemasalahan dalam penelitian ini.

64Pupu Saeful Rahmat,” Jurnal Penelitian Kualitatif”, Equilibrium vol.5 no.9 diakese dari http://yusuf.staff.ub.ac.id/files/2012/11/Jurnal-Penelitian-Kualitatif.pdf pada tanggal 09 April 2017.

BAB II

PENGATURAN PENGURUSAN DAN PEMBERESAN HARTA PAILIT TERHADAP KREDITOR PAJAK SEBAGAI KREDITOR PREFEREN BERHADAPAN DENGAN KREDITOR SEPARATIS DALAM HUKUM

KEPAILITAN

A. Kedudukan Harta dan Utang Debitor Pasca Putusan Pailit

1. Tinjauan umum kekuatan hukum putusan pailit berkaitan dengan pemberesan harta pailit debitor

Meninjau putusan pailit tidak terlepas dengan pengadilan dimana daerah tempat kedudukan hukum debitor. Setiap permohonan pernyataan pailit harus diajukan ke pengadilan yang daerah hukumnya meliputi daerah tempat kedudukan hukum debitor, dengan ketentuan bahwa :65

a. Jika debitor telah meninggalkan wilayah NKRI, pengadilan yang berwenang adalah pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan hukum terakhir debitor.

b. Jika debitor adalah Persero suatu Firma, maka pengadilan yang berwenang adalah pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan Firma tersebut.

c. Jika debitor tidak bertempat kedudukan dalam wilayah NKRI tetapi menjalankan profesi atau usahanya dalam wilayah NKRI, maka pengadilan yang berwenang adalah pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan hukum kantor pusat debitor menjalankan profesi atau usahanya di wilayah NKRI.

d. Jika debitor merupakan badan hukum pengadilan di mana badan hukum tersebut memiliki kedudukan hukumnya sebagaimana dimaksud dalam anggaran dasarnya.

Ketentuan mengenai pengadilan yang berwenang diatas sejalan dengan ketentuan pasal 118 HIR yang menyatakan bahwa forum pihak yang digugatlah yang berhak memeriksa. Ini untuk memberikan keleluasaan bagi pihak tergugat

65Munif Rochmawanto, Upaya Hukum Dalam Perkara Kepailitan, Jurnal Independent Vol.

3 Nomor 2, hal. 32.

untuk membela diri.66Suatu putusan memiliki kekuatan hukum tertentu yang diatur oleh undang-undang dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata antara lain :

a. Kekuatan mengikat sebagaimana dalam Pasal 1917 KUH Perdata yaitu putusan memiliki kekuatan mengikat kedua belah pihak yang berperkara. Suatu putusan pengadilan dimaksudkan untuk menyelesaikan suatu persoalan atau sengketa dan menetapkan hak atau hukumnya. Jika pihak yang bersangkutan menyerahkan dan mempercayakan sengketanya kepada pengadilan atau hakim untuk diperiksa atau diadili, hal ini mengandung pihak-pihak yang bersangkutan akan tunduk dan patuh pada putusan yang dijatuhkan. Putusan yang telah dijatuhkan itu haruslah dihormati oleh kedua belah pihak. Salah satunya pihak tidak boleh bertindak bertentangan dengan putusan.67

b. Suatu putusan dikatakan memiliki kekuatan pembuktian karena putusan itu sifatnya akte autentik. Sebab dibuat dalam bentuk tertulis oleh Hakim yang diberi wewenang oleh undang-undang memutus suatu perkara. Putusan pun dapat dijadikan alat bukti oleh pihak yang berperkara sepanjang mengenai peristiwa yang telah ditetapkan dalam putusan. Karena putusan Hakim adalah pembentukan hukum in concreto, maka peristiwa yang telah ditetapkan dianggap benar dan telah memperoleh kekuatan bukti sempurna. Kekuatan bukti sempurna berlaku antara para pihak yang berperkara dan juga terhadap pihak ketiga, namun terhadap peristiwa lain hanya mempunyai kekuatan bukti bebas atau persangkaan saja.68

c. Kekuatan eksekutorial/kekuatan untuk dilaksanakan, Putusan hakim yang sudah tetap dan memiliki kekuatan pasti akan memiliki kekuatan untuk dilaksanakan terhadap pihak yang dinyatakan kalah dalam perkara dan dilakukan secara sukarela. Namun kenyataannya dapat dipaksakan dengan bantuan kekuatan umum terhadap pihak yang tidak menataatinya secara sukarela. Kekuatan ini dinamakan kekuatan eksekutorial.69

Menurut R. Soeroso, dalam bukunya yang berjudul Praktik Hukum Acara Perdata: Tata Cara Dan Proses Persidangan menyebutkan bahwa didalam struktur peradilan umum di Indonesia terbagi atas 3 (tiga), yaitu :70

66Ibid.

67Rocky Marbun, Kamus Hukum Lengkap, (Jakarta: VisiMedia, 2012), hal. 155.

68Sunarto, Peran aktif hakim dalam perkara perdata, (Jakarta: Kencana, 2014) hal. 212.

69Ibid.

70R.Soeroso, Praktek Hukum Acara Perdata:Tata Cara Dan Proses Persidangan, (Jakarta, Sinar Grafika, Edisi 4, 2001), hal. 5-6.

a. Pengadilan Negeri merupakan Pengadilan tingkat pertama yang memiliki wewenang mengadili semua perkara baik perkara pidana atau perdata;

b. Pengadilan Tinggi atau Pengadilan tingkat banding yang juga merupakan pengadilan tingkat kedua;

c. Mahkamah Agung yang merupakan Pengadilan tingkat terakhir dan bukan merupakan pengadilan tingkat ketiga. Perkara-perkara ini merupakan perkara yang dimintakan Kasasi dan yang diperiksa adalah penerapan hukumnya saja.

Selain itu Mahkamah Agung juga memiliki wewenang untuk melakukan Peninjauan Kembali terhadap kasus-kasus yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

Putusan yang dikeluarkan oleh pengadilan tersebut dapat diajukan upaya hukum. Upaya hukum dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu upaya hukum biasa dan upaya hukum luar biasa (istimewa). Upaya hukum biasa adalah upaya hukum yang digunakan untuk putusan yang belum berkekuatan hukum tetap dan pada dasarnya dapat menangguhkan eksekusi (dengan pengecualian adanya putusan yang dapat dilaksanakan terlebih dahulu atau uitvoerbaar bij voorad) . Terhadap Upaya Hukum Biasa mencakup:71

a. Perlawanan/Verzet;

b. Banding yang dilaksanakan oleh Pengadilan Tinggi;

c. Kasasi yang dilaksanakan oleh Mahkamah Agung.

Upaya hukum luar biasa merupakan pengecualian dari upaya hukum biasa.

Upaya ini diajukan terhadap putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, dimana upaya hukum biasa tidak memungkinkan lagi untuk dilakukan. Upaya hukum luar biasa terdiri dari Kasasi demi kepentingan hukum dan Peninjauan Kembali (PK).72

71Upaya Hukum dalam Hukum Acara perdata, Artikel Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan, diakses dari website resmi https:// www. djkn. kemenkeu.

go.id/artikel/baca/2296/Upaya-Hukum–dalam-Hukum-Acara-Perdata.html pada tanggal 13 Maret 2018.

72Panduan Bantuan Hukum Indonesia, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007), hal. 252.

Kasasi demi kepentingan hukum hanya dapat diajukan oleh Jaksa Agung.

Upaya hukum luar biasa ini dapat diajukan atas semua keputusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap, kecuali terhadap putusan Mahkamah Agung ( dalam tingkat kasasi). Artinya terhadap putusan pengadilan negeri dan pengadilan tinggi yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap dapat diajukan Permohonan Kasasi Demi Kepentingan Hukum. Permohonan kasasi demi kepentingan hukum hanya dapat diajukan satu kali saja oleh Jaksa Agung kepada Mahkamah Agung Republik Indonesia. Hukuman yang dijatuhkan tidak boleh lebih berat dari hukuman semula yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Hal ini dimaksudkan semata-mata membuka kemungkinan bagi perubahan atas putusan pengadilan di bawah keputusan Mahkamah Agung, yang dirasakan kurang tepat oleh Jaksa Agung, sedangkan untuk permohonan Peninjauan Kembali hanya dapat dilakukan sebanyak satu kali. Peninjauan Kembali dapat dimintakan atas putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap di semua tingkat pengadilan, seperti Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung.73

Berbeda dengan Hukum Acara Kepailitan yang diatur dalam Undang-Undang No. 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, upaya hukum yang dapat dilakukan oleh pihak yang kalah dalam perkara kepailitan adalah Kasasi kepada Mahkamah Agung sesuai dengan ketentuan Pasal 11 ayat (1) yang mengatakan bahwa “Upaya hukum yang dapat

73Ibid.

diajukan terhadap putusan atas permohonan pernyataan pailit adalah kasasi ke Mahkamah Agung”74

Lilik Mulyadi, dalam bukunya yang berjudul Perkara Kepailitan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) Teori dan Praktik : Dilengkapi Putusan Putusan Pengadilan Niaga, mengatakan bahwa:

“Putusan Hakim dalam perkara Kepailitan apabila dilihat dalam perspektif normatif yaitu Pasal 8 ayat (7) dan Pasal 16 Undang-undang No. 37 Tahun 2004 yang mengisyaratkan bahwa terhadap Putusan Majelis Hakim Pengadilan Niaga mempunyai kekuatan dapat dilaksanakan terlebih dahulu. Pengaturan dapat dilaksanakan terlebih dahulu ini hakikatnya berorientasi kepada lembaga uitvoerbaar bij voorad atau putusan serta-merta sebagaimana dikenal dalam hukum acara perdata.”75

Pada asasnya, putusan kepailitan adalah serta merta dan dapat dijalankan terlebih dahulu meskipun terhadap putusan tersebut masih dilakukan suatu upaya hukum lebih lanjut. Akibat-akibat putusan pailit secara mutatis mutandis berlaku walaupun sedang ditempuh upaya hukum lebih lanjut. Kurator yang didampingi oleh hakim pengawas dapat langsung menjalankan fungsinya untuk melakukan pengurusan dan pemberesan pailit, sedangkan apabila putusan pailit dibatalkan sebagai akibat adanya upaya hukum tersebut, segala perbuatan yang telah dilakukan oleh kurator sebelum atau pada tanggal kurator menerima pemberitahuan tentang putusan pembatalan maka tetap sah dan mengikat bagi debitor.76

74Pasal 11 ayat (1) Undang-undang No 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

75Lilik Mulyadi, Perkara Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) Teori dan Praktik : Dilengkapi Putusan-Putusan pengadilan Niaga, (Bandung : Alumni, 2010),hal. 153-154.

76M. Hadi Shubhan, Op.Cit., hal 162-163.

Sebagaimana telah diterangkan bahwa ratio legis dari pemberlakuan putusan pailit secara serta-merta adalah bahwa kepailitan pada dasarnya sebagai alat untuk mempercepat likuidasi terhadap harta-harta debitor untuk digunakan sebagai pembayaran utang-utangnya. Demikian pula kepailitan adalah sarana untuk menghindari perebutan harta kekayaan debitor pailit dari eksekusi yang tidak legal dari para kreditor serta menghindari dari perlombaan memperoleh harta kekayaan debitor dimana akan berlaku siapa cepat akan dapat dan kreditor yang datang terlambat tidak akan kebagian harta kekayaan tersebut dan juga untuk menghindari penguasaan harta kekayaan debitor dari kreditor yang memiliki kekuatan baik kekuatan fisik maupun kekuasaan sehingga kreditor yang lemah tidak kebagian harta kekayaan debitor tersebut.77

Disamping itu pula, pemberlakuan putusan pailit secara serta merta tidak memiliki impikasi negatif yang dalam berkaitan dengan pemberesan harta kekayaan untuk membayar utang-utang kreditor terhadap debitor. Apabila putusan pailit sudah dijalankan serta merta dan ada sebagain kreditor yang sudah terlanjur dibayar utang-utangnya, kemudian putusan pailit tersebut ternyata dibatalkan dalam suatu upaya hukum, maka debitor juga tidak dalam posisi dirugikan, karena baik dalam status pailit maupun tidak pailit suatu utang haruslah tetap dibayar.78

Uraian diatas dapat diambilkesimpulan jika pada putusan perkara kepailitan di pengadilan niaga yang diputus oleh hakim merupakan putusan yang berkekuatan hukum tetap dan kurator dapat langsung ditunjuk untuk melakukan proses pengurusan dan pemberesan harta pailit. Sementara itu dalam proses

77Ibid

78Ibid.

pengurusan dan pemberesan harta pailit berjalan dan nantinya ada pihak yang tidak puas dengan putusan hakim maka pihak yang tidak puas tersebut dapat mengajukan banding ke tingkat kasasi dan dari putusan kasasi tersebut membatalkan putusan pengadilan niaga.Putusan kasasi apabila dimenangkan oleh pihak penggugat maka dalam hal ini tidak serta merta berpotensi merugikan para pihak khususnya para kreditor pailit sebab pada intinya dalam proses kepailitan yang difokuskan adalah tetap kepada pembayaran utang-utang yang harus dibayarkan dan debitor bukan dalam posisi yang dirugikan justru pihak yang berutang.

2. Akibat hukum putusan pailit terhadap status hukum debitor pailit

Debitor pailit merupakan subjek hukum dalam kepailitan. Istilah subyek hukum berasal dari bahasa Belanda yaitu rechtsubject atau law of subject dari bahasa Inggris. Secara umum rechtsubject diartikan sebagai pendukung hak dankewajiban yaitu manusia dan badan hukum.79

Menurut Sudikno Mertokusumo, subyek hukum adalah “segala sesuatu yang dapat memperoleh hak dan kewajiban dari hukum”. Pendapat yang hampir sama dikemukakan oleh Subekti yang menyatakan bahwa subyek hukum adalah

“pembawa hak atau subyek dalam hukum, yaitu orang”80Dengan demikian subyek hukum adalah segala sesuatu yang memiliki kewenangan hukum, penyandang hak dan kewajiban dalam perbuatan hukum.

79Titik Triwulan Tutik, Hukum Perdata dalam Sistem Hukum Indonesia, (Jakarta: Prenada Media Group, 2008), hal. 40.

80Subekti, Pokok pokok Hukum Perdata, (Jakarta: Pembimbing Masa, 1996), hal. 19.

Adapun subjek hukum dalam kepailitan yaitu pemohon pailit, debitor pailit, hakim pengawas, kurator dan kreditor. Mengenai subjek pemohon pernyataan pailit diatur dalam Pasal 2 ayat (1) sampai ayat (5) Undang-undang No. 37 Tahun 2004 sebagai berikut:

a. Debitor yang mempunyai dua atau lebih kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan Pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih kreditornya.

b. Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat juga diajukan oleh Kejaksaan untuk kepentingan Umum.

c. Dalam hal Debitor adalah Bank, permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Bank Indonesia.

d. Dalam hal Debitor adalah Perusahaan Efek, Bursa Efek, Lembaga kliring dan Penjamin, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Badan Pengawas Pasar Modal.

e. Dalam hal Debitor adalah Perusahaan Asuransi, Perusahaan Reasuransi, Dana Pensiun, atau Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang kepentingan publik, permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Menteri Keuangan

Debitor pailit merupakan pihak yang memohonkan atau dimohonkan pailit ke pengadilan yang berwenang. Syarat menjadi debitor pailit adalah debitor yang mempunyai dua atau lebih kreditor dan tidak membayar sedikitnya satu utang yang telah jatuh tempo dan dapat dilakukan penagihan. Seorang debitor mengajukan permohonan pailit atas dirinya sendiri. Jika debitor masih terikat dalam pernikahan yang sah, permohonan hanya dapat diajukan atas persetujuan suami atau istri yang menjadi pasangannya.81Pihak yang dimohonkan pailit dalam hal ini dapat perorangan, perusahaan bukan badan hukum dan perusahaan

81Undang Undang Nomor 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban

81Undang Undang Nomor 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban

Dalam dokumen TESIS. Oleh. DANIEL CENDRICO /M.Kn (Halaman 38-0)