• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesimpulan

Dalam dokumen TESIS. Oleh. DANIEL CENDRICO /M.Kn (Halaman 20-156)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

2015 dan jawaban alasan peninjauan kembali tanggal 18 Mei dihubungkan dengan pertimbangan Judex Juris dalam hal ini Mahkamah Agung tidak ditemukannya

19Ibid.

20Tentang pertimbangan Hakim Mahkamah Agung dalam Putusan Nomor 511 K/Pdt.Sus-Pailit/2014.

suatu kekilafan dan ataupun kekeliruan yang nyata dimana dalam pemberesan harta pailit tidak mencukupi untuk membayar semua hutang debitor maka pembagian dilakukan sesuai dengan asas keadilan dan keseimbangan.21

Mengacu pada gugatan kreditor pajak secara jelas kreditor pajak mengkehendaki seluruh piutang yang ditagih untuk dilunasidari harta pailit tanpa memperhitungkan keberadaan kreditor lainseperti kreditor Separatis dan kreditor lainnya, sementara itu apabila seluruh piutang kreditor pajak dipenuhi maka dalam hal ini akan berpotensi menyebabkan ketidakadilan bagi kreditor separatis dimana harta debitor pailit tadi tidak cukup menutupi piutang kreditor lain.

Berkaitan dengan hal inilah yang menjadi alasan untuk memilih judul

“Analisis Terhadap Kedudukan Piutang Pajak Sebagai Kreditor Preferen Berhadapan Dengan Kreditor Separatis dalam Pembayaran Utang Harta Pailit (Studi Putusan Pengadilan Niaga Nomor: 57/PDT.SUS-RENVOI PROSEDUR/2011/PN.NIAGA. JKT.PST)”

B.Perumusan Masalah

1. Bagaimana pengurusan dan pemberesan pembagianboedel pailit terhadap kedudukan kreditor Pajak sebagai kreditor preferen berhadapan dengan kreditor separatis dalam hukumkepailitan ?

2. Apakah penerapan asas proporsionalitas(Pari Passu Prorata Parte) dalam pembagian harta pailit terhadap piutang pajak tumpang tindih dengan Undang Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan?

21Tentang pertimbangan Hakim Mahkamah Agung dalam Putusan Nomor 72 PK/Pdt.Sus-Pailit.2015.

3. Bagaimana penerapan asas kepastian hukum, keadilan dan kemanfaatan dalam perkara Pengadilan Niaga Nomor: 57/Pdt.Sus-renvoi prosedur/2011/Pn.Niaga.Jkt.Pst?

C.Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan penelitian dalam penulisan tesis ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk menganalisis dan mengetahuibagaimana proses pemberesan pelunasan piutang terhadap kedudukan Kreditor Pajak selaku Kreditor Preferen dan Kreditor Separatis dalam Undang Undang Kepailitan.

2. Untuk menganalisis dan mengetahui apakah penerapan asas proporionalitas dalam kepailitan terjadi tumpang tindih atau tidak dengan Undang Undang Nomor28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.

3. Untuk menganalisis dan mengetahui bagaimana penerapan asas keadilan dan kemanfaatan bagi para kreditor yang berperkara dalam Perkara Pengadilan Niaga Nomor: 57/Pdt.Sus-renvoi prosedur/2011/Pn.Niaga.Jkt.Pst

D. Manfaat Penelitian

Adapun Manfaat yang didapat dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut

1. Manfaat Teoretis

Secara teoretis hasil penelitan ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi perkembangan ilmu hukum khususnya didalam bidang hukum kepailitan dan untuk mengetahui bagaimana penyelesaian pembagian harta pailit terhadap kedudukan hukum kreditor preferen dan kreditor separatis dalam hal pelunasan

utang debitor pailit serta memberikan manfaat terhadap aturan hukum yang mengatur tentang utang pajak oleh debitor pasca debitor pailit.

2. Secara praktis

Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan,saran ataupun informasi yang berguna bagi para pihak baik itu perorangan ataupun badan hukum maupun pejabat yang berwenang khususnya dalam penanganan harta pailit yang melibatkan kedudukan kreditor pajak selaku kreditor preferen yang harus didahulukan sementara harta debitor pailit tidak cukup melunasi seluruh utang dan secara praktis memberikan manfaat terhadap kedudukan utang pajak setiap wajib pajak yang harus terus ditagih sebab kegunaan pajak dipergunakan untuk membiayai pembangunan suatu negara.

E.Keaslian Penelitian

Berdasarkan informasi dan penelusuran pada kepustakaan,khusunya di lingkungan Perpustakaan Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, telah ditemukan beberapa judul tesis dan skripsi yang berkaitan dengan kepailitan, antara lain yaitu :

1. Nama : Dian Puspita Sari Siregar

NIM : 087005087/HK

Program Studi : Program Magister Ilmu Hukum

Judul Tesis :Hak Eksekutorial Kreditor Preferen Dalam Kepailitan Debitor

Perumusan masalah : a. Bagaimana kedudukan kreditor preferen dalam kepailitan ?

b.Bagaimana akibat hukum putusan pailit terhadap objek Hak Tanggungan?

c.Bagaimana kreditor preferen dapat

melakukan eksekusi terhadap harta pailit?

2. Nama : Herlina Sihombing

NIM : 047011029

Program Studi : Program Magister Kenotariatan

Judul Tesis :Kedudukan Kreditor Separatis Ditinjau dari Undang-Undang Kepailitan Dikaitkan

dengan Undang-Undang Hak Tanggungan

Perumusan masalah : a. Bagaimanakah pengaruh kepailitan terhadap objek Hak Tanggungan dalam

praktek pelaksanaan eksekusi?

b.Bagaimana Undang-undang Kepailitan memberikan jaminan kepastian hukum terhadap pelunasan piutang

kreditor separatis yang dijamin dengan Hak Tanggungan dari Debitor yang dinyatakan pailit?

3. Nama : Zulfikar

NIM : 077011075

Program Studi : Program Magister Kenotariatan

Judul Tesis :Efektifitas Perlindungan Hukum Terhadap Para Kreditor Dalam Hukum Kepailitan

Perumusan masalah :a.Bagaimana golongan kreditor dalam hukum kepailitan ?

b.Bagaimana kedudukan para kreditor dalam hukum kepailitan?

c.Bagaimana efektivitas perlindungan hukum terhadap para kreditor dalam hukum kepailitan ?

4. Nama : Utan Utomo

NIM : 027011077

Program Studi : Program Magister Kenotariatan Judul Tesis :Analisis Utang pada beberapa Putusan

Perkara Kepailitan pada Pengadilan Niaga dan Mahkamah Agung

Perumusan masalah :a. Mengapa terjadi penafsiran utang dalam perkara kepailitan pada masa berlakunya UU No 4 Tahun 1998 ?

b. Bagaimana hakim menafsirkan utang dalam perkara kepailitan pada masa

berlakunya UU No 4 Tahun 1998?

F.Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori

Teori adalah untuk menerangkan dan menjelaskan gejala spesifik untuk proses tertentu terjadi,22dan suatu teori harus diuji dengan menghadapkan pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidak benarannya. 23 Kerangka teori merupakan landasan dari teori atau dukungan teori dalam membangun atau memperkuat kebenaran dari permasalahan yang dianalisis.Kerangka teori dimaksud adalah kerangka pemikiran atau butir butir pendapat,teori,tesis,sebagai pegangan baik disetujui atau tidak disetujui.24

Bagi suatu penelitian,teori dan kerangka teori mempunyai kegunaan.Kegunaan tersebut paling sedikt mencakup hal hal sebagai berikut:25 a. teori tersebut berguna untuk lebih mempertajam fakta;

b. teori sangat berguna di dalam klasifikasi fakta;

c. teori merupakan ikhtiar dari hal-hal yang diuji kebenaranya.

Menjawab permasalahan diperlukan landasan teoritis yang relevan dengan permasalahan yang dibahas,kerangka teori yang digunakan sebagai pisau analisis dalam penulisan ini adalah menggunakan kesatuan dari penerapan teori Keadilan, Kepastian Hukum dan Kemanfaatan.Dianalisa dari gugatan kreditor preferen Kantor Pelayanan Pajak yang mengatakan haknya dalam pembagian harta harus didahulukan dan gugatan tersebut didasari dengan berbagai dasar hukum menurut ketentuan undang-undang yang menguatkan kedudukan kreditor preferen harus

22J.J.J M Wuisman,dengan penyunting M.Hisman.Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial,Jilid 1 (Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1996),hal. 203.

23Ibid, hal. 216.

24M.Solly Lubis,Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung : Mandar Maju, 1994),hal. 80.

25Soerjono Soekanto,Pengantar Penelitian Hukum,(Jakarta: UI Press, 1981),hal.121.

diutamakan seperti dasar hukum yang dikatakan dalam Undang-Undang Hukum Perdata dan Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009.

Pasal 1137 KUHPerdatamengatakan“Hak didahulukan milik negara, kantor lelang dan badan umum lain yang diadakan oleh penguasa, tata tertib pelaksanaannya, dan lama jangka waktunya, diatur dalam berbagai undang-undang khusus yang berhubungan dengan hal-hal itu.” Sedangkan dalam Undang-Undang Perpajakan dikatakan“Negara mempunyai hak mendahulu untuk utang pajak atas barang-barang milik Penanggung Pajak”

Dasar hukum yang dikemukakan kreditor preferen diatas apabila dihubungkan dengan Undang-Undang Kepailitan dapat menimbulkan potensi terjadi tumpang tindih atau ketidakharmonisasian undang-undang. Sebab dalam Undang-Undang Kepailitan jelas menganut asas proporsional dan keadilan dimana dalam pembagian harta kepailitan tidak boleh hanya didasarkan kepentingan sepihak saja melainkan pembagian harus adil.Sementara di satu sisi Undang-Undang Perpajakan menilai bahwa hak kreditor preferen harus didahulukan.

Tanpa adanya harmonisasi sistem hukum, akan memunculkan keadaan tidak dapat menjamin kepastian hukum yang dapat menimbulkan gangguan dalam kehidupan bermasyarakat, ketidaktertiban dan rasa tidak dilindungi. Dalam perspektif demikian masalah kepastian hukum akan dirasakan sebagai kebutuhan

yang hanya dapat terwujud melalui harmonisasi sistem hukum.26Oleh sebab itu dalam hal ini harus dipandang lebih mendalam terhadap kajian penerapan undang undang dilapangan.

Penerapan undang-undang tersebut harus didukung sejumlah bukti dan fakta serta asas-asas hukum yang dalam hal ini tentu harus berpihak kepada masing masing pihak. Sehingga penerapan undang-undang tersebut tidak dipandang sebagai penerapan cacat hukum melainkan penerapan tersebut merupakan cerminan kepastian hukum bagi para pihak. Oleh sebab itu penerapan undang-undang dalam tesis ini akan tidak terlepas dari konsep keadilan, kepastian hukum dan kemanfaatan untuk melihat sejauhmana penerapan asas tersebut dapat ditegakkan tanpa memandang undang-undang sebagai sesuatu yang konkrit harus dilaksanakan.

Konsep teori keadilan yang dipakai adalah konsep keadilan dari Aristoteles. Aristoteles mengembangkannya dari analisa ilmiah atas prinsip-prinsip rasional dengan latar belakang model-model masyarakat politik dan undang-undang yang telah ada. 27 Doktrin-doktrin Aristoteles tidak hanya meletakkan dasar-dasar bagi teori hukum, tetapi juga kepada filsafat barat pada umumnya. Kontribusi Aristoteles bagi filsafat hukum adalah formulasinya terhadap masalah keadilan, yang membedakan antara : keadilan “distributif”

dengan keadilan “korektif” atau “remedial” yang merupakan dasar bagi semua pembahasan teoritis terhadap pokok persoalan. Keadilan distributifmengacu

26Kusnu Goesniadhie, (Harmonisasi Hukum Dalam Persfektif perundang-undangan; Lex Specialis Suatu Masalah), (Surabaya : JP Books, 2006), hal. 100.

27E. Sumaryono, Etika dan Hukum : Relevansi Teori Hukum Kondrat Thomas Aquinas, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hal. 10.

kepada pembagian barang dan jasa kepada setiap orang sesuai dengan kedudukannya dalam masyarakat, dan perlakuan yang sama terhadap kesederajatan dihadapan hukum (equality before the law).28

Keadilan korektif berfokus pada pembetulan sesuatuyang salah. Jika suatu pelanggaran dilanggar atau kesalahan dilakukan, maka keadilan korektif berusaha memberikan kompensasi yang memadai bagi pihak yang dirugikan; jika suatu kejahatan telah dilakukan maka hukuman yang sepantasnya perlu diberikan kepadasi pelaku. Bagaimanapun ketidakadilan mengakibatkan terganggunya kesetaraan yang sudah mapan atau telah terbentuk. Keadilan korektif bertugas membangun kembali kesetaraan tersebut. Dari uraian ini nampak bahwa keadilankorektif merupakan wilayah peradilan sedangkan keadilan distributif merupakanbidangnya pemerintah.29

Relevansi teori keadilan dari Aristoteles jika dipandang dari keadilandistributive antara kedudukan kreditor separatis dan kreditor preferen adalah masing masing kreditor memiliki kedudukan yang sama sederajat dimata hukum sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1132KUHPerdata telah mengisyaratkan bahwa setiap kreditor memiliki kedudukan yang sama terhadap kreditor lainnya,Pendapatan penjualan benda-benda itu dibagi-bagi menurut keseimbangan yakni besar kecilnya piutang masing-masing kecuali jika ditentukan lain oleh undang-undang karena memiliki alasan-alasan yang sah untuk didahulukan dari para kreditor-kreditor lainnya.

28Ibid., hal. 10.

29Carl Joachim Friedrich, Filsafat Hukum : Perspektif Historis, (Bandung: Nuansa dan Busamedis, 2004), hal. 25.

Pengeculian yang dikatakan pada pasal 1132 KUHPerdata dapat diartikan jika terdapat aturan lain yang mengatur mengenai kedudukan kreditor lebih diutamakan maka aturan itu dapat diberlakukan. Pemberlakuan itu harus sesuai dengan alasan alasan yang sah untuk didahulukan. Pemahaman dari isi pasal 1132 KUHPerdata dapat ditarik kesimpulan tentang kedudukan kreditor itu sama dan pembagian dilakukan sesuai dengan keseimbangan masing masing para pihak kreditor yang berhak. Akan tetapi jika ada aturan hukum khusus yang mengatur tentang kedudukan salah satu kreditor diutamakan maka undang-undang yang dimaksud tersebut harus dijalankan/didahulukan. Dengan demikian undang undang yang mengatur tentang hak istimewa kreditor preferen dalam hal ini dapat dilaksanakan. Akan tetapisebelum undang undang itu dilaksanakanpasal 1132 KUHPerdata mengatakan “ harus sesuai dengan alasan-alasan yang sah untuk didahulukan”

Mencari makna kata “alasan-alasan yang sah untuk didahulukan”tidak ada dijelaskan dalam penjelasan undang-undang, akan tetapi pengertian “alasan”

secara umum mengandung arti proses penyampaian kesimpulan dari data. Alasan terdiri dari bukti, tuntutan, dan pemikiran yang membenarkan gerakan dari data menuju kesimpulan.30

Makna kata “alasan alasan” jika dikaitkan dengan penerapan kedudukan kreditor preferen dalam perkara pembagian harta pailit dapat didahulukan atau tidak tentu harus melalui tahapan lebih lanjut melalui proses bukti seperti apakah dalam proses kepailitan kreditor preferentersebuttelah sesuai kapasitasnya sebagai

30Curtis dan B Floyd, Komunikasi Bisnis dan Profesional, (Bandung: Remaja Rosdakarya 1996),hal. 295.

kreditor yang layak untuk didahulukan dan dalam hal ini tentu harus diperhitungkan bagaimana korelasi terhadap jumlah harta yang dibagi terhadap kreditor separatis apakah pembagiannya telah sesuai dan tidak melanggar hak dari keditor separatis dan kreditor lainnya. Tentunyaperan hakim dalam hal ini menjadi sangat besar untuk menentukan apakah alasan tersebut telah tepat dan sesuai untuk diterapkan untuk menciptakan rasa keadilan. Apabila telah tepat dan sesuai untuk diterapkan maka hakim akan membuat keputusan kedudukan hak kreditor preferen untuk didahulukan dalam pemberesan harta pailit.

Melalui pemahaman diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan jika dalam penerapan teori keadilan bersifat distributifdalam penerapannyapemerintah menciptakan keadilan hukum salah satunya dengan membuat produk hukum undang-undang yaitu hukum positif yang berlaku saat ini. Dalam kaitannya dengan tesis ini maka hukum positif yang dimaksud adalah Undang-Undang Kepailitan.

Segala hal yang berhubungan dengan hukum pengaturan hak dan kewajiban harus dipandang sama dan diberlakukan sesuai dengan hukum yang berlaku. Akan tetapi dalam penerapannya terkadang cenderung tidak sesuai dalam mengartikankalimat dalam pasal yang dimaksud dan cenderung memaksakan perintah dari pasal tersebutsebagai sesuatu yang mutlak dan harus dilaksanakan, padahal jika mengacu pada teori keadilan yang bersifar distirbutif maka produk hukum tidak hanya dipandang dari isi undang-undang yang mutlak harus dilaksanakan tetapi harus dikaitkan juga dari sisi alasan-alasan yang mendukung untuk dilaksanakannya undang-undang tersebut, terlepas apakah sesuai atau tidak

pada akhirnya harus ditemukan perlakuan yang sama terhadap kesederajatan dihadapan hukum (equality before the law).

Relevansi teori keadilan jika dipandang dari keadilan korektifterhadapkedudukan kreditor preferen dan kreditor separatis dapat dipandang dari perkara pailit yang terjadi dan akhirnya menimbulkan piutang yang harus dibayarkan oleh debitor pailit dan kurator bertugas membereskan serta mengatur pembagian budel/harta pailit. Dalam hal ini pemerintah telah menyediakan wadah untuk mengambil ahli kekuasaan atas harta pailit milik debitor melalui lembaga kepailitan dan dalam pelaksanaannya kurator akan berusaha bertindak dengan seadil-adilnya untuk memberikan dan membagi harta sesuai dengan hak mereka masing-masing. Disiniperan kurator dalam membagi harta pailit untuk memberikan rasa keadilan dan kesetaraan bagi kreditor preferen dan kreditor separatis. Akan tetapi rasa keadilan tersebut oleh salah satu pihak tidak dapat memuaskan kreditor preferen sehingga kreditor preferen melakukan upaya untuk mencari keadilan, menuntut haknya yang dinilai tidak sesuai.

Pemerintah dalam hal ini tetap menyediakan wadah bagi kreditor preferen melalui LembagaPengadilan Niaga yang bertugas memeriksa dan memutus perkara pailit sebagai jalan bagi para pihak untuk menuntut keadilan yang mereka anggap tidak sesuai.

MenurutGustav Radbruch dalam idee des recht hukum harus memenuhi 3 (tiga) asas yaitu “Ajaran Cita Hukum (Idee des Recht) menyebutkan adanya tiga unsur cita hukum yang harus ada secara proporsional, yaitu kepastian hukum (rechtssicherkeit), keadilan (gerechtigkeit) dan kemanfaatan

(zweckmasigkeit)”.Hukum adalah segala yang berguna bagi rakyat, sebagai bagian dari cita hukum (idéedes recht), keadilan dan kepastian hukum membutuhkan pelengkap yaitu kemanfaatan.31

Kepastian hukum merupakan ciri yang tidak dapat dipisahkan dari hukum, terutama untuk norma hukum tertulis. Hukum tanpa nilai kepastian akan kehilangan makna karena tidak lagi dapat dijadikan pedoman perilaku bagi semua orang. Ubi jus incertum, ibi jus nullum (di mana tiada kepastian hukum, di situ tidak ada hukum).32

Ada empat hal yang berhubungan dengan makna kepastian hukum yaitu:33 a. Hukum itu Positif artinya bahwa ia adalah perundang undangan (gesetzliches

Recht)

b. Hukum itu didasarkan pada fakta (tatsachen),bukan suatu perumusan tentang penilaian yang nanti akan dilakukan oleh hakim,seperti kemauan baik atau kesopanan.

c. Fakta itu harus dirumuskan dengan cara yang jelas sehingga menghindari kekeliruan dalam pemaknaan,disamping itu juga mudah dijalankan.

d. Hukum Positif itu tidak boleh sering dirubah.

Menurut Lon Fuller dalam bukunya the Morality of Law mengajukan 8 (delapan) asas yang harus dipenuhi oleh hukum, yang apabila tidak terpenuhi, maka hukum akan gagal untuk disebut sebagai hukum, atau dengan kata lain harus terdapat kepastian hukum. Kedelapan asas tersebut adalah sebagai berikut :34

31Fence M Wantu,Antinomi Dalam Penegakan Hukum Oleh Hakim, Jurnal Berkala Mimbar Hukum, Vol. 19, (Yogyakarta: Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, 2007), hal.

395.

32.Sudikno Mertokusumo dalam H. Salim Hs, Perkembangan Teori Dalam Ilmu Hukum, (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2010) , hal. 82

33 Achmad Ali, Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicialprudence),termasuk interperetasi Undang undang (Legisprudence), (Jakarta:Kencana,2012), hal. 292

34L. Fuller Lon, The Morality of Law, New Haven, Connecticut: Yale University Press.

1964, pp. Vii. 202 dalam Enny Rahaju Widjajanti, Jurnal Perlindungan Hukum Terhadap

a. Suatu sistem hukum yang terdiri dari peraturan-peraturan, tidak berdasarkan putusan-putusan sesat untuk hal-hal tertentu;

b. Peraturan tersebut diumumkan kepada publik;

c. Tidak berlaku surut, karena akan merusak integritas sistem;

d. Dibuat dalam rumusan yang dimengerti oleh umum;

e. Tidak boleh ada peraturan yang saling bertentangan;

f. Tidak boleh menuntut suatu tindakan yang melebihi apa yang bisa dilakukan;Tidak boleh sering diubah-ubah;

g. Harus ada kesesuaian antara peraturan dan pelaksanaan sehari-hari.

Penerapan kepastian hukum terhadap penerapan Undang-undang Kepailitan maupun Undang-undang tentang Pajak apabila mengacu pada pendapat dari Lon Fuller salah satunya adalah dalam kajian penelitian tesis ini berkaitan dengan suatu peraturan tersebut harus ada kesesuaian antara peraturan dengan pelaksanaan sehari hari artinya apabila dihubungkan dengan kasus penelitian ini maka untuk menganalisis kepastian hukum penerapan tersebut harus dilihat dari putusan hakim mengenai pandangan hakim terhadap sisi penerapan undang-undang kepailitan maupun dari sisi undang-undang-undang-undang pajak apakah penerapan tersebut telah mencerminkan nilai kepastian hukum atau tidak dan suatu makna kepastian hukum tersebut harus dapat mencerminkan suatu fakta yang dirumuskan dengan jelas khususnya fakta-fakta sesuai dengan apa yang ada didalam persidangan tersebut.

Sedangkan kemanfaatan dapat diartikan sebagai kebahagiaan (happiness).Baik buruknya suatu hukumbergantung pada apakah hukum itu memberikan kebahagiaan atau tidak pada manusia.Hukum yang baik adalah hukum yang dapat memberi manfaat kepada setiap subjek hukum. Hukum sudah dapat dikategorikan baik apabila mampu memberikan kebahagiaan kepada bagian

Masyarakat Yang Diwajibkan Memubat Surat Pernyataan Pengalihan Hak Atas Tanah Yang Terkena Rencana Jalan Di Kota malang, Malang: Fakultas hukum, 2016 hal. 12

terbesar masyarakat. Masyarakat mengharapkan manfaat dalam pelaksanaan dan penegakan hukum. Hukum adalah untuk manusiamaka pelaksanaan hukum atau penegakan hukum harus memberi manfaat atau kegunaan bagi masyarakat.Pelaksanaan dan penegakan hukum harus dapat menghindarkan timbulnya kerusuhan di dalam masyarakat.Hukum yang baik adalah hukum yang membawa kemanfaatan bagi manusia. Kemanfaatan disini dapat juga diartikan dengan kebahagiaan. Masyarakat akan mentaati hukum tanpa perlu dipaksa dengan sanksi apabila memang masyarakat merasakan manfaat.35

Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (UUK dan PKPU) khususnya yang berkenaan dengan pembagian harta pailit menyangkut hak dari kreditor preferen dan kreditor separatis mengatur tentang proses pemberesan harta pailit oleh kurator yang ditunjuk oleh majelis pengawas, para kreditor diberikan jaminan kepastian hukum untuk mendapatkan perlindungan haknya tanpa adanya paksaan untuk menerima pembagian tersebut sesuai dengan porsi yang ditetapkan oleh kurator. Artinya jika kreditor merasa tidak puas akan pembagian harta yang dilakukan oleh kurator, undang-undang tidak memaksakan kehendaknya tetapi cenderung memberikan kebebasan bagi kreditor yang merasa tidak adil untuk menuntut haknya sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku, hal ini tercermin dalam Pasal 127 ayat 1 mengatakan :36

“Dalam hal ada bantahan sedangkan Hakim Pengawas tidak dapat mendamaikan kedua belah pihak,sekalipun perselisihan tersebut telah diajukan ke pengadilan,

35Ibid., hal. 395.

36Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Pasal 127 ayat (1).

Hakim Pengawas memerintahkan kepada kedua belah pihak untuk menyelesaikan perselisihan tersebut di pengadilan.”

Unsur kemanfaatan dapat dilihat sebagai suatu hal yang bermanfaat bagi para pihak dan dalam kasus perkara pailit di tingkat Pengadilan Niaga Nomor 57 / PDT . Sus - Renvoi Prosedur/ 2011 / PN. Niaga. Jkt. Pst) sebagaimana tuntutandari kreditor preferen hingga Peninjauan Kembali untuk menuntut haknya yang dianggap tidak sesuai, dan dalam hal ini tentu dapat bermanfaatan untuk diketahui oleh masyarakat umum (terbuka) untuk mengetahui proses perkara pailit khususnya terhadap kedudukan kreditor preferen dan kreditor separatis dalam hak untuk memperoleh pembagian harta debitor pailit. .

2. Konsepsi

Konsepsi adalah suatu bagian penting dari teori. Peranan konsepsi dalam penelitian ini untuk menghubungkan teori dan observasi antara abstraksi dan kenyataan.Konsep diartikan sebagai kata yang menyatu abtraksi yang di generalisasikan dari hal hal yang khusus yang disebut dengan defenisi operasional.37

Kerangka konsepsi merupakan gambaran bagaimana hubungan antara konsep yang akan diteliti. Salah satu cara untuk menjelaskan konsep-konsep tersebutadalah dengan membuat definisi. Definisi merupakan suatu pengertian yang relatif lengkap tentang suatu istilah dan definisi bertitik tolak pada referensi. Berikut ini diuraikan beberapa konsep/definisi/pengertian yang dijumpai dalam tesis ini yaitu:

37Sumadi Surya Brata, Metodologi Penelitian , (Jakarta: Raja Grafindo Persada,1998) ,

37Sumadi Surya Brata, Metodologi Penelitian , (Jakarta: Raja Grafindo Persada,1998) ,

Dalam dokumen TESIS. Oleh. DANIEL CENDRICO /M.Kn (Halaman 20-156)